
Melihat Sheryn yang menatap khawatir pada Harry, aura di sekujur tubuh Melvin semakin dingin. Dia terus menatap Sheryn dari luar ruangan Harry dengan ekpresi mengeras kemudian beberapa detik setelah itu terlihat eskpresi mengolok diri sendiri.
Wanita yang dicintainya, mengkhawatirkan pria lain dan dia hanya bisa berdiri melihatnya tanpa bisa berbuat apa-apa. Sungguh miris.
Stein yang melihat Melvin sedari tadi terdiam, akhirnya membuka suaranya. "Tuan Muda, apa tidak sebaiknya Anda mengungkap jati diri Anda pada Nona Sheryn dan beritahu apa yang sebenarnya terjadi selama setahun kepergian Anda. Aku rasa nona Sheryn salah paham pada Anda dan mengira Anda meninggalkannya begitu saja, padahal...."
Melvin seketika menoleh pada asistennya. "Tinggalkan semua pengawal di sini untuk menjaga Sheryn dan minta mereka mengantarnya ke mansion setelah dia selesai dengan urusannya di sini."
"Tapi, Tuan Muda...."
Dengan wajah dingin, Melvin berkata lagi, "Jangan membantahku. Laksanakan saja perintahku. Aku tunggu di mobil."
Melvin pergi tanpa menoleh sedikitpun pada Sheryn. Stein terlihat menghela napas halusnya lalu menghampiri pengawal yang sedari tadi mengikuti mereka. Setelah selesai mberikan perintah, dia lalu menyusul Melvin ke mobil.
Satu jam kemudian mobil Melvin terlihat memasuki gedung perkantoran tertinggi yang ada di kota K. Baru saja turun dari mobil, dia sudah disambut oleh para petinggi serta karyawan yang ada di perusahaan tersebut.
"Selamat datang, Tuan Anderson," sapa salah satu petinggi di perusahaan tersebut ketika Melvin memasuki loby perusahaan tersebut. Semua yang sedang berbaris di dekat pintu masuk terlihat membungkuk ketika Melvin melewati mereka.
"Sambutanmu terlalu meriah, Direktur Liam. Aku ke sini hanya untuk melihat-lihat," ucap Melvin seraya terus berjalan menuju lift khusus dengan diikuti oleh Stein.
"Ini bahkan bukan apa-apa. Kami tidak tahu kalau Anda akan datang." Direktur Liam terus mengikuti langkah kaki Melvin sampai masuk ke dalam lift dengan wajah tegang dan cemas.
Melvin melirik dengan enggan ke arah Ditrektur Liam kemudian berkata dengan sinis. "Aku pikir kau tidak suka aku ke sini."
Direktur Liam menjadi pucat dan berkeringat dingin. Dia sedikit merendahkan tubuhnya ke depan dan berkata dengan hati-hati. "Mana mungkin aku tidak suka. Perusahaan ini adalah milik Anda."
Salah satu sudut bibir Melvin sedikit terangkat. Meskipun tidak terlihat oleh Direktur Liam, tapi Stein bisa melihatnya. Senyuman sinis dan mengejek.
"Tapi adikku yang sudah menguasainya selama kepergianku. Kau bahkan memihak dan mendukungnya selama aku menghilang." Nada bicara Melvin sangat datar, tapi memikiki aura penekanan dibaliknya.
Di Negara C, tepatnya di kota K, keluarga Anderson memang memiliki anak perusahaan yang dipimpin oleh adik Melvin. Perusahaan tersebut masuk daftar perusahaan terbesar di negara C. Meskipun begitu, induk perusahaannya berada di negara H yang dipimpin langsung oleh Melvin. Setelah Melvin menghilang, adik Melvin berusaha menguasai semuanya, termasuk perusahaan di negara H.
Keringat dingin di dahi Direktur Liam semakin banyak dan wajahnya semakin pucat. "Aku terpaksa melakukannya, Tuan Anderson. Aku diancam akan dipecat jika tidak mengikuti perintah tuan Alan."
"Aku tahu, karena itu kau masih bisa bertahan di sini." Melvin lalu beralih pada Direktur Liam dengan wajah datar, "segera kumpulkan semua dewan Direksi di ruang meeting. Ada ingin aku bicarakan, tapi sebelum itu, aku ingin berbicara denganmu lebih dulu."
Jemari tangan Direktur Liam mulai gemetar saat dia menyeka keringat di dahinya. Membayangkan akan berbicara dengan Tuan Anderson berdua saja membuatnya takut. "Baik, Tuan Anderson."
Setelah tiba di lantai paling atas, Melvin kembali disambut oleh wanita cantik yang menjabat sebagai sekretaris CEO. "Selama datang, Tuan Anderson." Wanita bertubuh tinggi dan berpakaian seksi itu menyapa dengan sopan ketika Melvin akan melewatinya.
Melvin tidak menjawab dan hanya melewatinya saja dengan wajah dinginnya. Wanita yang menjabat sebagai sekretaris itu bahkan sampai menahan napas dengan wajah tegang saat Melvin melewati mejanya. Barulah ketika pintu ruangan CEO tertutup dia langsung bernapas dengan lega dan terduduk lemas.
Di dalam ruangan, Melvin dengan langkah pelan berjalan ke arah meja CEO dan meraih papan nama yang berada di meja tersebut. Yang bertuliskan "CEO Alan Anderson".
"Hanya karena menggunakan nama keluarga Anderson, dia sungguh menganggap dirinya bagian dari keluargaku," ucap Melvin seraya memegang papan nama itu dengan senyum mengejek.
Melvin lalu menoleh pada Direktur Liam yang sedang berdiri dengan menyatukan kedua tangannya di depan tubuhnya. "Direktur Liam, sekarang katakan padaku, apa masih ada orangku yang belum dipecat oleh adikku di perusahaan ini?"
Wajah Drektur Liam semakin pucat dan tangannya kembali gemetar. "Ti-tidak ada, Tuan Anderson. Se-semuanya sudah di pecat," jawab Direktur Liam terbata-bata.
"Adikku memang tidak pernah mengecewakan. Dia selalu memanfaatkan kesempatan yang ada dengan sangat baik."
Melvin berjalan memutari meja lalu duduk di kursi dengan eskpresi tidak terbaca. "Karena aku sudah kembali, maka tentukan pilihanmu, berpihak padaku atau pada adikku?"
Suara Melvin terdengar datar, tapi sorot matanya sangat tajam. "Tentu saja aku ada di pihakmu. Kau adalah pemilik sejati perusahaan ini. Aku akan tunduk pada perintahmu, Tuan Anderson," ucap Direktur Liam dengan suara gemetar.
"Bagus, jadilah mata-mataku. Laporkan semua yang dilakukan oleh Alan di perusahaan ini. Kau mengerti apa maksudku, bukan?"
"Saya mengerti, Tuan Anderson," ucap Ditektur Liam seraya merendahkan tubuhnya sedikit ke arah Melvin.
"Sekarang katakan padaku, apa yang sedang direncakan Alan di negara H?"
Direktur Liam berpikir sejenak lalu melangkah maju ke arah Melvin dan mulai berbicara Melvin dengan suara rendah.
******
"Apa dia sudah pulang?" tanya Melvin seraya berjalan masuk ke dalam mansionnya diikuti Stein di sampingnya.
"Sudah Tuan Muda. Info dari bibi Lin, nona Sheryn sedang berada di kamarnya."
Melvin menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Stein. "Baiklah. Kau boleh pergi."
"Baik, Tuan Muda."
Suasana mansion Melvin di malam hari sangat hening. Tidak ada kegiatan apapun mansion tersebut. Saat Melvin melangkah keluar dari lift menuju kamarnya, terlihat Sheryn sedang berjalan ke arahnya.
"Erson, tadi aku mencarimu. Kenapa kau pergi begitu saja?" Sheryn mengikuti langkah kaki Melvin menuju kamarnya.
"Aku ada urusan." Nada bicara Melvin terasa dingin dan sedikit acuh tak acuh.
"Kita harus bicara. Masalah tadi siang, aku harus meluruskan sesuatu denganmu."
Melvin berhenti lalu menoleh pada Sheryn. "Apa lagi yang ingin kau luruskan? Bukankah semuanya sudah jelas?"
"Sebelum aku bertemu denganmu, aku sudah berjanji padanya kalau aku akan kembali padanya kalau dia bisa membantuku menemukan pelaku pembunuh ayahku. Malam sebelum dia kecelakaan, dia bilang sudah mendapatkan buktinya, tapi dia belum memberitahuku siapa pelakunya dan esok harinya dia sudah mengalami kecelakaan. Janji itu harus aku tepati," ungkap Sheryn.
"Sejujurnya, aku tidak mempercayaimu. Setelah ayahku meninggal dan Harry mengalami kecelakaan, aku tidak bisa begitu saja mempercayai orang. Terlebih bagiku, dirimu sangat aneh. Kita belum lama mengenal, tapi kau bilang sudah menyukaiku dan terus mendekatiku. Aku tidak tahu apa maksudmu sebenarnya mendekatiku."
"Sheryn, masalah Aric, tidak cukupkah bagimu untuk mempercayaiku? Aku bahkan sudah membersihkan nama pria bodoh itu sesuai keinginanmu," ucap Melvin dengan dingin.
"Maafkan aku. Terus dikhianati orang terdekatku sehingga membuatku tidak bisa mempercayaimu dengan mudah."
Melvin menatap Sheryn dalam waktu yang lama. "Kalau begitu, tidak ada yang bisa aku lakukan lagi untuk membuatmu percaya padaku. Semuanya terserah padamu bagaimana kau menilai diriku." Melvin berjalan meninggalkan Sheryn yang nampak berdiri mematung.
Bersambung....