
Melvin menatap wajah Sheryn dengan seksama lalu tersenyum. "Kau akan tidur di sini. Selama kau tinggal di mansion ini, kau akan tidur bersamaku di kamar ini sampai kau resmi menjadi istriku."
Iris hitam milik Sheryn melebar setelah mendengar ucapan Melvin.
"Tapi kita...."
"Aku ingin segera memiliki penerus, Sheryn," tambah Melvin lagi.
"Apa kau bilang?"
Melvin terkekeh saat melihat reaksi Sheryn yang nampak membelalakkan matanya. "Aku hanya bercanda, Sayang," tambah Melvin lagi seraya tersenyum.
"Melvin...! Beraninya kau mengerjaiku!" pekik Sheryn seraya memukul bahu dan dada Melvin secara brutal. Meskipun tidak sakit, Melvin terlihat berlari untuk menghindari pukulan Sheryn, tetapi Sheryn terus mengejarnya karena merasa kesal.
"Maafkan aku, Sheryn."
Melvin masih terlihat menghindari pukul Sheryn dengan berlari kecil hingga akhirnya dia menjatuhkan diri ke tempat tidur dan menarik tangan Sheryn hingga dia juga ikut terjatuh dan menimpa tubuhnya. Sheryn pun langsung terdiam dengan wajah terkejut ketika Melvin justru mengunci tubuhnya dengan cara menyatukan kedua tangannya di belakang tubuh Sheryn.
Mereka pun bertatapan selama beberapa detik tanpa berkata apapun. "Melvin, lepaskan aku!" Sheryn berusaha melepaskan diri, tapi tidak bisa.
"Jangan bergerak, Sayang. Kau bisa membangunkannya nanti."
Tentu saja Sheryn mengerti maksud dari perkataan Melvin. "Dasar mesum!" Sheryn kembali memberikan pukulan bertubi-tubi di dada Melvin.
"Aaww, sakit... Sayaang." Melvin terlihat meringis serta merintih seraya mengerutkan wajahnya.
"Maafkan aku, Melvin. Maafkan aku. Aku tidak sungguh-sungguh memukulmu tadi." Wajah Sheryn terlihat sangat panik, "katakan padaku, mana yang sakit?" tanya Sheryn lagi seraya meletakkan tangannya di dada Melvin, "apa ini yang sakit? Atau ini?" Sheryn menunjukkan beberapa bagian dada Melvin yang tadi sempat dia berikan pukulan bertubi-tubi.
Melvin meraih tangan Sheryn lalu meletakkanya ke satu titik. "Di sini yang sakit. Hatiku sakit setiap melihatmu sangat peduli dengan Harry." Melvin tersenyum tipis setelah itu.
"Melvin!" Sheryn kembali memukul dadanya karena ternyata ditipu lagi.
Melvin justru tersenyum dan membiarkan Sheryn menumpahkan kekesalannya. "Sheryn, malam ini tidurlah di sini. Aku akan meminta pelayan untuk membersihkan kamar untukmu besok pagi."
Sheryn akhirnya berhenti. "Sudah aku bilang, aku tidak akan melakukan apapun kecuali kau yang menginginkannya," goda Melvin seraya tersenyum jail padanya.
Sheryn mendengus. "Bangunlah. Aku takut hilang kendali nanti." Melvin lalu menjauhkan tangannya dari pinggang Sheryn.
Mendengar itu, Sheryn langsung menggerutu. Sedari tadi Melvin yang sudah menahan tubuhnya. "Aku sudah memintanya dari tadi, tapi kau yang yang tidak mau melepaskan aku," ucap Sheryn seraya bangkit dari tubuh Melvin.
Jika itu orang lain, kau tidak mungkin bisa lepas begitu saja Sheryn. Kau pikir mudah bagiku tidur sekamar denganmu.
*******
Pagi harinya, saat Sheryn terbangun di pagi hari, dia melihat Melvin masih tertidur di sampingnya. Sheryn memiringkan tubuhnya ke kanan dan menatap wajah Melvin dengan seksama. Wajahnya terlihat sangat tampan saat tertidur.
Kulit wajahnya pun terlihat sangat mulus dan itu membuat Sheryn merasa iri. Bahkan saat dia masih menjadi idiot dan bodoh, wajahnya masih terlihat tampan, hanya tatapannya saja terlihat kosong dan bingung.
Setelah memandang wajahnya cukup lama, perlahan Sheryn mendekatkan wajahnya pada Melvin untuk memperhatikannya dengan seksama. "Dia sangat tampan, bahkan dalam kondisi tidur sekalipun," puji Sheryn dengan wajah takjub. Perlahan tangannya terangkat dan merapihkan rambut Melvin yang ada di dahinya lalu kembali menatapnya seraya tersenyum.
"Kau harusnya melihat wajahku lebih dekat lagi Sayang agar kau bisa melihatnya dengan jelas." Selesai mengatakan itu, Melvin menarik tengkuk Sheryn lalu menyatukan bibir mereka berdua dan melu-mat bibirnya dengan lembut.
Sheryn nampak membelalakkan matanya dan melihat Melvin masih memejamkan matanya, tetapi bibirnya terus bergerak menyapu bibirnya dengan lembut. Hanya beberapa kali luma-tan dan Melvin sudah mengakhirinya.
Sial...
"Mandilah lebih dulu. Setelah itu kita sarapan bersama di bawah," ucap Melvin setelah pagutan mereka terlepas.
Setelah Sheryn tidak terlihat lagi, Melvin menghembuskan napas halus lalu meraih ponselnya. Banyak panggilan tidak terjawab di ponselnya dan ketika melihat siapa yang menelponnya, wajah seketika menjadi dingin. Melvin termenung selama beberapa saat, setelah itu dia keluar dari kamarnya.
Baru saja dia membuka pintu, Emily terlihat sudah berdiri di depan pintu kamarnya. "Apa yang kau lakukan di depan pintu kamarku, Emily?" Melvin bertanya dengan wajah malas. Adiknya selalu saja mengganggunya.
"Di mana kak Sheryn? Apa kau tidur bersamanya?" tanya Emiliy seraya mengintip ke dalam kamar melalui celah pintu yang sedikit terbuka.
"Jangan mengusiknya, Emily. Dia akan menjadi kakak iparmu sebentar lagi."
"Apa?" pekik Emily seraya membelalakkan matanya.
"Pergilah. Dia akan malu jika tahu kau ada di depan kamarku.".
"Kak, kenapa dia bisa tidur di kamarmu? Apa kalian berdua...."
"Emiliy... pergilah. Jangan urusi urusanku.
Emily nampak kecewa, tetapi dia tidak berani membantah saat melihat wajah dingin kakaknya. "Baiklah. Aku tunggu di bawah."
Setelah kepergian adiknya, Melvin kembali masuk ke dalam kamar. Tadinya, dia akan memanggil pelayan untuk menyuruh membersihkan kamar untuk Sheryn, tetapi tidak jadi setelah melihat adiknya.
Setelah selesai mandi, Melvin mengajak Sheryn untuk sarapan di bawah. Ketika dia baru melewati ruang keluarga, seorang wanita terlihat berlari kecil ke arah Melvin dan langsung memeluknya tiba-tiba.
"Sayang, ternyata benar kau sudah pulang. Aku sangat merindukanmu. Kenapa kau tidak bilang kalau kau akan pulang ke sini?"
Tubuh Sheryn langsung membeku ketika melihat pemandangan di depannya. "Veronica, lepaskan aku. Jangan seperti ini!" Melvin mengurai pelukan wanita itu sedikit kasar sehingga membuat wanita itu sedikit bingung.
"Maafkan aku. Aku terlalu senang melihatmu. Apa kau tidak merindukan aku?" tanya Veronica seraya mengapit lengan Melvin dengan mesra. Cara bicaranya sangat anggun dan nada bicara pun sangat lembut
"Lepaskan tanganku dulu, Veronica." Bukannya menjawab, Melvin justru berusaha melepaskan pegangan tangan Veronica di lengannya setelah melihat tatapan panas dari Sheryn.
"Kenapa?" Veronica terlihat bingung dengan perubahan sikap Melvin yang tiba-tiba. Dulu, Melvin sangat lembut padanya.
"Kenapa kau bisa ada di sini?" Melvin bertanya dengan wajah heran.
"Emily yang memberitahuku," jawab Veronica dengan wajah bingung. Dia merasa sikap Melvin sedikit aneh. "Ada apa Melvin? Kenapa kau terlihat tidak suka dengan kedatanganku?"
"Veronica, kita harus bicara. Ikut aku." Melvin meraih tangan Veronica, tetapi ditepis olehnya.
"Tunggu dulu. Siapa wanita itu?" tanya Veronica dengan tatapan menyelidik. Dia melangkah mendekati Sheryn, tetapi kembali ditarik oleh Melvin.
"Akan aku beritahu, tapi kau ikut aku."
Setelah berpikir sejenak, Veronica akhirnya mengangguk. "Sheryn, kau tunggu di kamar. Kita bicara lagi nanti."
Saat Melvin dan Veronica akan pergi, Sheryn mengeluarkan suaranya. "Tunggu Melvin. Aku ingin kau bicara di depanku dan jelaskan padaku siapa wanita ini?"
Melvin dan Veronica menoleh bersamaan. "Kau mau tahu siapa aku?" Veronica mendekati Sheryn lalu mengulurkan tangannya, "kenalkan, namaku Veronica Cheryl Wu. Aku adalah tunangan Melvin."
Bagai tersambar petir di siang hari, tubuh Sheryn langsung membeku. "Tunangan?" ulang Sheryn dengan wajah tekejut.
"Iyaa, sebenarnya aku calon istrinya. Seminggu sebelum kami menikah, Melvin mengalami kecelakaan dan akhirnya pernikahan kami tertunda," terang Veronica seraya tersenyum, "sekarang aku bertanya padamu, siapa sebenarnya dirimu? Kenapa kau bisa ada di sini?"
Bersambung...