Mysterious Man

Mysterious Man
Mengatakan Yang Sebenarnya



"Yaa, aku Melvin. Aku dan Melvin idiot, orang yang sama. Nama asliku adalah Melvin Anderson."


"Jadi, selama ini kau menipuku? Kau sengaja menyembunyikan dirimu agar aku terlihat bodoh?"


Wajah Sheryn terlihat dingin dan kecewa. Pria yang sangat dia khawatirkan selama ini justru menipunya mentah-mentah. Tidak ada satu hari pun dia lewatkan tanpa memikirkannya, tetapi pria itu justru datang dengan banyak kebohongan setelah meninggalkannya begitu saja selama setahun lamanya.


"Sheryn, aku...." Saat Melvin akan maju menghampiri Sheryn, tangan Sheryn lebih dulu terangkat dan mengarahkan telapak tangannya pada Melvin, memberikan kode untuk tidak mendekatinya, "tetap di tempatmu," ujar Sheryn dengan wajah dingin seraya mundur beberapa langkah.


Melihat sikap dingin Sheryn padanya, sorot mata Melvin berubah menjadi kecewa. Dia ingin menjelaskan semuanya, tapi kata-kata yang akan dia ucapkan seolah tertahan di tenggorokannya.


"Semenjak kapan ingatanmu kembali?" Sikap Sheryn terlihat sangat dingin dan itu membuat hati Melvin seperti tercubit.


"Sheryn, aku tidak bermaksud menipumu. Aku hanya takut kau...."


"Semenjak kapan ingatanmu kembali Melvin Anderson?" tanya Sheryn dingin dengan sorot mata yang terlihat mulai memerah.


Karena Sheryn tidak mau mendengarkan penjelasannya, Melvin akhirnya menjawab pertanyaan Sheryn. "3 bulan setelah aku kembali ke negara H," jawab Melvin akhirnya.


Mendengar itu, Sheryn tersenyum dengan wajah dinginnya. "Jadi, alasan kenapa kau tidak pernah mencariku karena ingatanmu sudah kembali? Kau tidak mau berhubungan dengan wanita miskin seperti aku karena kau berasal dari keluarga tersohor di negara H?"


"Sheryn, bukan seperti itu. Kau salah paham padaku, au tidak langsung kembali karena...."


"Melvin Anderson, hubungan kita berakhir sampai di sini. Perjanjian yang sudah kita sepakati, sudah tidak berlaku lagi. Aku harap jangan pernah menggangguku lagi. Hutang budiku padamu, akan aku balas suatu hari nanti." Setelah mengatakan itu, Sheryn langsung pergi dengan langkah cepat, tapi berhasil disusul oleh Mevin.


"Sheryn, kau mau ke mana?" Melvin menahan lengan Sheryn agar dia berhenti.


"Apa masih tidak jelas apa yang aku katakan padamu? Aku tidak mau melihatmu lagi."


Melvin terlihat sangat kecewa mendengar ucapan Sheryn. "Sheryn, bukankah kau sudah memaafkanku? Tadi pagi, kau bilang kita akan tinggal bersama selamanya dan...."


"Itu sebelum aku tahu kau sudah menipuku." Sheryn menghempaskan tangan Melvin lalu berkata, "jika tidak mau aku membencimu, jangan ikuti aku lagi."


Raut wajah Melvin langsung menengang dan tubuhnya terasa kaku. Dia sudah tidak berusaha lagi untuk menghentikan Sheryn. Dia hanya diam seraya memandang kepergiannya.


Tidak lama berselang, Stein masuk dan menghampiri Melvin yang nampak masih berdiri dengan aura tubuh yang menakutkan. "Tuan Muda, ap...."


"Suruh pengawal untuk mengikuti Sheryn ke mana pun dia pergi, jangan sampai mereka kehilangan jejaknya," potong Melvin cepat seraya menoleh pada asistennya.


"Baik, Tuan Muda."


Stein meriah ponsel lalu menghubungi seseorang. Setelah selesai, Stein kembali memasukkan ponselnya ke dalam sakunya. Baru dia akan berbicara, Melvin sudah pergi meninggalkannya. Disaat seperti ini, Stein tidak berani menyusul bosnya setelah melihat aura bosnya yang nampak menakutkan.


Stein lebih memilih untuk menunggu bosnya di ruang keluarga sampai bosnya memberikan pertintah untuknya. Setelah duduk di sofa, Stein kembali mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang. "Apa kau berhasil mengikuti, Nona Sheryn?"


Terdengar jawaban dari sebarang sana. "Bagus, kabari aku ke mana dia pergi. Awasi terus Nona Sheryn. Kalau sampai kalian kehilangan jejak Nona Sheryn, maka hidup kalian juga akan berakhir." Setelah berbicara di telpon, Stein memeriksa isi ponselnya lalu mengetik sesuatu.


*********


Malam harinya, Melvin baru keluar dari kamarnya setelah berpakaian rapi. Dia turun ke bawah untuk menemui asistennya. Setibanya di bawah, ternyata Stein sedang tertidur di sofa. Melvin kemudian membangunkannya. "Maaf, Tuan Muda. Saya tertidur." Stein segera berdiri dan merapikan pakaiannya.


"Antarkan aku menemui Laura. Di mana kau membuat janji dengannya?"


"Di restoran Waldorf, Tuan Muda."


"Baiklah, segera hubungi Laura. Aku ingin bertemu dengannya sekarang."


"Ke mana perginya Sheryn?" Melvin akhirnya membuka suara setelah terdiam selama sepuluh menit.


"Ke rumah sakit, Tuan Muda. Nona Sheryn berada di sana sejak pergi dari mansion Anda."


Mendengar itu, wajah Melvin menjadi dingin dan aura tubuhnya menjadi mengerikan.


Harry... Harry. Kenapa aku jadi bodoh? Tentu saja dia akan ke sana. Pria yang dia cintai dari dulu adalah Harry. Itu sebabnya dia gunakan kesalahanku untuk bisa lepas dariku. Sheryn ternyata kau mencemaskan Melvin idiot karena kau kasihan padanya. Bodohnya aku karena sempat mengira kalau kau pernah mencintaiku, padahal kau hanya iba melihat kondisiku yang bodoh dan idiot.


Dengan wajah dinginya, Melvin kembali bertanya. "Apakah sudah ada tanda-tanda dia akan bangun?"


"Belum ada, Tuan Muda." Stein menampilkan wajah ragu sejenak sebelum kembali membuka mulutnya. "Apa yang harus saya lakukan terhadap nona Sheryn, Tuan Muda?"


Tatapan Melvin terlihat sedingin es untuk beberapa sesaat. "Biarkan dia menenangkan diri dulu. Dia akan semakin marah kalau aku mengganggunya."


Selesai mengucapkan itu, pintu diketuk dan tidak lama berselang pintu terbuka. "Tuan Anderson. Maaf karena sudah membuatmu menunggu."


Laura tersenyum lebar seraya berjalan masuk ke dalam. Malam ini, dia sengaja berpenampilan sangat cantik dan seksi untuk menarik perhatian Melvin. Bahkan dress yang dia kenakan sangat ketat dan pendek, serta berkerah rendah sehingga memperlihatkan belahan da-danya.


"Kami juga belum lama datang, Nona Laura." Yang menjawab bukan Melvin, melainkan Stein. "Silahkan duduk, Nona Laura." Stein berdiri lalu mengarahkan tangannya di kursi tepat di depan Melvin.


"Terima kasih." Laura tersenyum sangat manis kemudian menarik kursinya setelah itu menatap penuh kekagumam pada pria tampan berkacamata hitam yang duduk di depannya.


Setelah Stein keluar dari ruangan itu, Melvin baru berbicara. "Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Melvin langsung pada intinya. Dia terlihat tidak mau berbasa-basi dengan Laura.


Senyum di wajah Laura seketika memudar saat melihat sikap dingin Melvin. "Begini, aku dengar kau menginginkan saham Aric yang sudah dijual padaku."


"Lalu?" tanya Melvin dengan acuh tak acuh.


"Aku akan menjualnya padamu, bukan hanya milik Aric juga milikku, tapi ada syaratnya."


Wajah Melvin terlihat datar dengan sorot mata tidak terbaca. Dia terlihat berpikir selama beberapa saat kemudian berkata, "Apa syaratnya?"


"Berkencanlah denganku."


Melvin mencibir dengan wajah dinginnya. "Aku tidak tertarik denganmu, Laura. Orang yang aku cintai adalah Sheryn. Bukankah aku sudah pernah mengenalkan Sheryn sebagai calon istriku padamu?" Ada nada ejekan dalam ucapan Melvin.


"Aku tahu, tapi aku tahu tidak yakin jika kau cukup dengan satu wanita. Aku tidak keberatan menjadi yang kedua." Laura terlihat berdiri lalu menghampiri Melvin kemudian duduk di pangkuannya seraya mengalungkan kedua tangannya di leher Melvin.


"Asal kau tahu, aku lebih berpengalaman dari pada Sheryn. Aku bisa menyenangkanmu dan menghangatkan ranjangmu kapanpun kau mau. Aku jamin kau tidak akan kecewa denganku," bisik Laura dengan nada sensual.


Laura tidak tahu, disaat dia sedang berbisik, mata Melvin berkilat, wajah Melvin menggelap dan auranya tubuhnya menjadi dingin.


Setelah Laura selesai berbisik. Melvin juga mendekatkan mulutnya di telinga Laura. "Tapi sayangnya, aku tidak suka dengan barang murah sepertimu, Laura." Selesai mengucapkan itu, Melvin memegang lengan Laura dan menjauhkan tubuh Laura darinya hingga hampir membuatnya terjatuh.


Setelah Melvin terbebas dari Laura, Melvin lalu berdiri seraya menatap Laura dengan wajah mencibir. "Meskipun di dunia ini sudah tidak ada wanita lain, aku tetap tidak akan memilihmu. Wanita sepertimu bukan seleraku."


Selesai mengatakan itu, Melvin berjalan keluar dari ruangan itu tanpa menoleh sedikitpin pada Laura.


Kita lihat saja nanti, tuan Anderson. Aku akan mendapatkammu dengan cara apapun. Aku sudah pernah mendapatkan Harry, jadi aku pasti juga bisa mendapatkanmu.


Bersambung...