Mysterious Man

Mysterious Man
Penyesalan



Mandy melangkah menaiki lantai atas dan berhenti di salah satu kamar yang tertutup. Ia dapat memastikan bahwa itu adalah kamar yang di tempati Alice.


Wanita paruh baya itu terdiam sejenak dan menghela nafasnya pelan. Ia tidak yakin Alice mau membuka pintu dan berbicara dengannya, tetapi.. bagaimanapun juga ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Alice. Ia ingin gadis itu memaafkannya dan mau memulai lembaran baru bersamanya.


Ia ingin putri satu-satunya itu dekat dengannya dan mau berbicara dengannya. Bagaimanapun Alice adalah putrinya. Ia ingin sekali menjalin hubungan antara ibu dan anak yang sesungguhnya dengan sang putri.


Mandy akui, ia dulu tidak peka dan selalu memprioritaskan pekerjaannya di bandingkan Alice. Ia ingin meminta maaf, dan.. ia sangat berharap Alice mau memaafkannya.


Wanita paruh baya itu menghela nafasnya dan mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kamar Alice,


Tok!


Tok!


"Alice.. Ini ibu.." sahutnya pelan.


"Bolehkah ibu masuk??" tanyanya.


Tidak ada jawaban apapun dari dalam dan pintu pun tidak terbuka. Mandy menunduk pelan sambil mencoba menunggu. Ia pun kembali mengetuk pintu dan menyahut pelan,


"Alice.. Bolehkah ibu masuk?? Ada yang ingin ibu bicarakan denganmu" sahutnya lagi.


Namun sayangnya tetap sama, tidak ada sahutan dari dalam. Mandy kembali menunduk dengan mata yang mulai berkaca-kaca,


"Ibu tau.. Ibu memiliki banyak kesalahan padamu di masa lalu.. Ibu tau.. Ibu bukanlah seorang ibu yang baik untukmu" ucapnya bergetar.


"Maafkan ibu Alice.. Maaf karena ibu terlalu mementingkan pekerjaan ibu dan hanya memiliki sedikit waktu untukmu" lanjutnya pelan.


Air matanya mulai terjatuh membasahi pipi. Mandy menggigit bibirnya dan merasakan hatinya bagai di cabik-cabik..


Ia mengutuk dirinya sendiri, apakah ia begitu tidak berguna sebagai seorang ibu sampai putrinya sangat enggan untuk berbicara dengannya?? pikirnya sedih.


Apakah Alice begitu membencinya sampai ia tidak mau mendengarkannya??


Apakah putrinya itu memiliki sakit hati yang teramat dalam pada dirinya?? pikirnya lagi.


Mandy mulai menangis sambil menyentuh pintu di depannya,


"Ibu memang pantas mendapatkan perlakuan seperti ini darimu... Ibu.. Ibu memang bukanlah ibu yang baik untukmu.." rintihnya.


"Maafkan ibu Alice.. Maafkan ibu.." rintihnya lagi.


Dari dalam kamarnya, terlihat Alice tengah menyandarkan tubuhnya di balik pintu dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Gadis itu menyentuh dadanya yang terasa sesak saat ini. Di satu sisi ia ingin membuka pintu dan berbicara dengan ibunya. Tetapi.. disisi lain, sakit hatinya begitu mendominasi dan membuatnya enggan untuk berbicara dengan sang ibu.


Banyangan-bayangan masa lalunya seketika terlintas di pikirannya..


Ia ingat bagaimana saat ia meminta orang tuanya untuk hadir ketika dirinya akan tampil menyanyi di sekolah. Tetapi, mereka langsung menolaknya dan tanpa mau sedikitpun meluangkan waktu untuk melihat penampilannya.


Alice juga ingat di setiap hari ulang tahunnya, orang tuanya tidak pernah ada dan bahkan tidak mengucapkan selamat ulang tahun untuknya..


Alice bahkan berpikir mungkin kedua orang tuanya tidak ingat sama sekali tanggal berapa ia lahir.


Apa mereka begitu tidak menginginkan dirinya di hidup mereka?? Apa pekerjaan mereka begitu penting daripada dirinya??


Alice juga masih mengingat saat dirinya sengaja tidak pulang ke rumah sampai larut malam. Ia sengaja berdiam diri di sekolah saat dirinya berusia 11 tahun sampai malam.


Saat itu hujan turun lebat dan petir menyambar dengan kencang. Ia menyesali tindakan bodohnya saat itu. Ia melakukan hal itu agar orang tuanya mencemaskannya dan mau menjemput atau mencarinya.


Tetapi sayangnya, sampai malam pun orang tuanya sama sekali tidak muncul. Ia pun akhirnya di jemput oleh sopirnya yang telah mencari dirinya selama seharian itu.


Alice sangat membenci orang tuanya sejak saat itu sampai sekarang. Terkadang ia selalu berharap ada kata maaf dari mereka dan setidaknya ada sedikit kepedulian dari mereka. Tetapi.. sayangnya hal itu tidak pernah terjadi.


Mereka bahkan jarang pulang ke rumah karena kesibukan pekerjaan mereka. Alice bahkan pernah berpikir untuk bunuh diri dan bertanya-tanya, apakah jika ia melakukan hal itu orang tuanya mulai peduli?? pikirnya.


Namun untungnya akal sehatnya masih berjalan. Alice memilih untuk melanjutkan hidupnya dan ingin menjadi orang yang sukses agar dia bisa pergi jauh dan hidup sendiri.


"Tolong berikan ibu satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya Alice.. hiks.. Maafkan ibu.. Maafkan ibu sayang hiks"


Terdengar lagi suara rintihan ibunya di balik pintu. Alice pun seketika terduduk sambil menutup telinganya dan menangis.


'Mengapa.. Mengapa baru sekarang ibu meminta maaf??' jeritnya sakit dalam hati.


Mandy masih terlihat menangis sesenggukan di balik pintu. Wanita paruh baya itu sangat berharap putrinya mau memaafkan dirinya. Tetapi.. sepertinya tidak semudah itu. Luka Alice pasti sangat teramat dalam sampai ia tidak ingin membukakan pintu untuknya dan berbicara dengannya.


Mandy mengerti perasaan gadis itu. Ia tidak akan memaksa dan akan terus berusaha sampai Alice mau memaafkannya.


Seharusnya.. saat itu ia dan Patrick tidak boleh menunda sesuatu untuk putrinya, karena.. kesalahannya teramat sangat fatal dan membuat hubungan mereka dan Alice menjadi seperti ini..


Mandy menegakkan tubuhnya dan mulai menghapus air mata di pipinya dengan pelan. Ia menatap pintu di depannya dan mencoba tersenyum,


"Baiklah.. Mungkin kau membutuhkan waktu dan tidak ingin berbicara dengan ibu saat ini. Ibu tidak akan memaksamu nak.. Yang jelas, ibu hanya ingin meminta maaf atas segala kesalahan ibu dan ayah di masa lalu" ucapnya bergetar.


"Ibu berharap.. Hubungan kita bisa segera membaik dan dekat selayaknya sebuah keluarga yang sesungguhnya.." lanjutnya sambil menahan tangis.


"Sekali lagi, maafkan ibu Alice.. Ibu hanya ingi kau tau, bahwa.. di dalam lubuk hati ayah dan ibu, kami sangat.. sangat mencintai dan menyayangimu lebih dari apapun di dunia ini" ucapnya lagi.


"Ibu berharap.. kau mau membuka hati dan memaafkan kesalahan ibu dan ayah" rintihnya lagi.


Tidak ada jawaban apapun dari dalam dan pintu masih tertutup dengan rapat. Mandy pun hanya dapat menunduk pelan dan pasrah.


Wanita paruh baya itu kembali menghapus air matanya dan membalikkan tubuhnya untuk pergi dari sana. Mandy menutup matanya sejenak dan menghela nafasnya pelan. Ia tidak akan menyerah untuk meminta maaf pada putrinya itu. Dan, jika harus bersujud di hadapan Alice, maka.. ia bersedia untuk melakukannya agar putrinya itu bisa memaafkannya.


Mandy hendak melangkah pergi meninggalkan kamar Alice dengan sedih.


Namun..


Tiba-tiba langkah wanita paruh baya itu terhenti saat ia mendengar suara pintu yang terbuka dari belakang tubuhnya.


DEG!


Dengan jantung yang berdebar, Mandy pun langsung membalikkan tubuhnya dan menatap sang putri yang tengah berdiri di depan pintu dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Mandy terpaku di tempatnya dan air matanya kembali menetes di pipinya,


"Alice.." rintihnya dalam.


Alice mengepalkan tangannya kuat dan menatap Mandy dengan air mata yang tertahan. Mandy dapat melihat mata sembab Alice yang mengartikan bahwa gadis itu habis menangis.


Alice menggigit bibirnya pelan dan menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca,


"Ibu.." rintih Alice yang membuat Mandy tak bisa lagi membendung perasaan di hatinya.


Wanita paruh baya itu dengan cepat menghampiri Alice dan memeluknya dengar erat,


GREP!


"Maafkan ibu sayang... Maafkan ibu.." ucapnya sambil tersedu.


Perlahan tangan Alice pun terangkat dan mulai membalas pelukan Mandy. Gadis itu memeluk ibunya dan meluapkan segala emosi dan perasaan yang ada di dalam hatinya sambil menangis sesenggukan..


Bersambung..


Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊


Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺


Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..


Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁


Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍