
Malam ini Patrick terlihat sedang berada di sebuah restoran bersama Lola dan juga Mandy untuk makan malam bersama. Sayangnya Alice tidak bersama mereka karena tadi siang Alice memberitahu Mandy bahwa ia sedang bersama dengan Jack.
Mandy tidak keberatan dengan hal itu, karena mungkin Alice ingin menghabiskan waktunya bersama Jack sebelum ia berangkat besok.
Dan, saat ini ia dan Patrick juga sengaja membawa Lola untuk makan malam bersama sebelum mereka kembali besok,
"Sayang sekali Alice tidak bersama kita.. Seharusnya kau menyuruhnya kemari bersama Jack" ucap Lola pada Mandy.
Mandy menatap ibu mertuanya itu dan tersenyum pelan,
"Tadi siang Alice bilang bahwa dia dan Jack sedang berada di taman bermain pusat kota. Aku sengaja tidak mengajaknya karena mungkin Alice ingin menghabiskan waktunya bersama Jack berdua saja. Aku tidak ingin mengganggu mereka.. Bagaimanapun, Alice akan berangkat besok, jadi aku tidak ingin mengganggu waktu mereka" jawab Mandy yang diangguki oleh Patrick.
"Iya.. lagipula taman bermain pusat kota juga cukup jauh" timpal Patrick.
Lola pun hanya dapat menghela nafasnya dengan pasrah dan mengangguk.
Tiba-tiba handphone di dalam saku Patrick bergetar. Pria paruh baya itu pun mengambil handphonenya dan melihat ada panggilan dari atasannya. Dengan segera ia pun berdiri dari duduknya sambil menatap Lola dan istrinya,
"Sebentar, aku angkat telfon dulu" ucapnya sambil menunjukkan layar handphonenya pada Mandy.
Mandy pun mengangguk dan membiarkan Patrick berjalan mencari tempat untuk mengangkat panggilannya.
Lola menatap kepergian Patrick dan beralih menatap sang menantu,
"Siapa??" tanyanya.
"Ada panggilan dari atasannya" jawab Mandy sambil tersenyum pelan.
Lola pun seketika menghela nafasnya tidak suka,
"Disaat dia cuti seperti ini pun ada saja yang mengganggu" sindirnya yang hanya di tanggapi senyuman oleh Mandy.
~
Disisi lain, di sebuah restoran,
Terlihat Miranda dan juga Jessica tengah makan bersama. Mereka terlihat duduk di meja dekat balkon dan mengobrol,
"Jadi.. Bibi memohon pada gadis itu untuk meninggalkan Jack??" tanya Jessica pada Miranda.
Miranda terdiam sejenak dan mengangguk pelan. Jessica terlihat sedikit terkejut mendengar hal tersebut. Ia tidak bisa membayangkan seorang Miranda Switzer sampai harus berlutut di hadapan seorang gadis untuk memintanya meninggalkan putranya.
"Aku tidak tau cara apalagi untuk memintanya meninggalkan Jack.. Tapi, kurasa caraku kali ini mungkin akan bekerja" ucap Miranda pelan.
Jessica terlihat ragu dan berdehem pelan,
"Apa Bibi yakin??" tanyanya memastikan.
Miranda hanya terdiam dan meminum minumannya,
"Setidaknya aku telah mencoba.. Jika tidak bekerja, maka aku masih punya cara lainnya" balas Miranda.
Jessica hanya menghela nafasnya dan menatap sorot mata Miranda yang terlihat berbeda. Wanita paruh baya itu kali ini terlihat tidak terlalu berapi-api jika membicarakan tentang Alice. Biasanya, ia selalu terlihat penuh amarah dan emosional.
"Seharusnya, Bibi tidak perlu sampai seperti itu untuk membuat gadis itu berpisah dengan Jack. Mungkin Bibi bisa saja dianggap rendah oleh gadis itu karena telah berlutut di hadapannya. Lagipula.. untuk membuat aku dan Jack kembali bersama lagi sepertinya terdengar sedikit sulit.." ucap Jessica sambil menunduk sedih.
Miranda menatap wanita di depannya dan menghela nafasnya pelan,
"Aku tau.. Tapi, bukan itu masalahnya.. Walaupun kau dan Jack tidak bersama pun, setidaknya aku harus bisa membuat Jack dan gadis itu berpisah.." ucapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Jessica memperhatikan tatapan Miranda dan terdiam. Sepertinya, Miranda mempunyai alasan tersendiri untuk memisahkan Jack dan Alice, pikirnya dalam hati.
"Kuharap.. gadis itu benar-benar akan pergi dari kehidupan Jack untuk selama-lamanya" lanjut Miranda sambil mengepalkan tangannya.
Tiba-tiba seorang pria paruh baya datang mendekati mejanya dengan tatapan penuh amarah,
"Jadi.. Ini alasan mengapa putriku memutuskan untuk pergi secara tiba-tiba??" tanyanya tidak percaya dengan tatapan penuh kekecewaan.
DEG!!
Seketika Miranda pun terkejut menatap seorang pria paruh baya yang tiba-tiba berada di hadapannya. Amarah dan rasa sakit pun tiba-tiba memenuhi hatinya.
Jessica yang sama terkejut pun hanya terdiam dan menatap pria asing di depannya tanpa berkata-kata. Miranda seketika berdiri dan menatap pria di depannya dengan tajam,
"Kau!! Berani-beraninya kau muncul di hadapanku!!" ucap Miranda tajam.
Pria paruh baya yang ternyata Patrick itu masih menatap Miranda dengan tidak percaya. Ia menatap wanita di depannya dengan rasa penuh kecewa. Dia tidak menyangka Miranda melakukan hal seperti itu pada Alice,
"Kau.. Mengapa kau tega melakukan hal seperti ini pada putriku?? Apa yang pernah dia lakukan padamu sampai kau berbuat seperti ini!!" ucapnya cukup keras.
Miranda mengepalkan tangannya kuat dan menatap Jessica yang terlihat bingung bercampur takut,
"Jessica, sebaiknya kau pulang duluan. Aku masih ada urusan" ucapnya pada Jessica.
Jessica yang terlihat bingung pun perlahan mengambil tasnya dan segera bangkit sambil mengangguk pada Miranda dan bergegas pergi.
Miranda kembali menatap Patrick yang masih menatapnya dengan tajam. Wanita paruh baya itu tersenyum sinis dan mencoba menahan rasa sakit di hatinya saat menatap pria yang sempat berada di hatinya dulu,
"Berhenti berpura-pura bodoh Patrick! Bukankah kau sudah tau bahwa aku tidak merestui hubungan putrimu dan Jack?? Alasanku menyuruhnya pergi agar dia tidak lagi merayu putraku dan pergi dari hidupnya!!" balas Miranda tajam.
Patrick terlihat menyipitkan matanya dan menatap tidak habis pikir pada Miranda,
"Bukankah kau sangat tau, bahwa Jack dan Alice itu saling mencintai?? Mengapa kau tega memisahkan mereka?? Berhenti bersikap egois!" tanyanya tidak mengerti.
"Memangnya kesalahan apa yang telah Alice perbuat sampai kau begitu tidak menyukainya??" tanyanya lagi.
Miranda seketika terdiam dan menatap Patrick dengan tatapan tajamnya. Ia pun tersenyum sinis pada pria itu,
"Dia memang tidak melakukan hal apapun padaku.. Tetapi, kesalahan gadis itu hanya ada satu.." ucapnya terhenti sejenak.
"Kesalahannya adalah menjadi putrimu!" lanjutnya tajam.
Patrick menatap wanita paruh baya di depannya dengan tidak habis pikir. Ia pun menutup matanya nya sejenak dan kembali menatap Miranda yang tengah menatap dirinya dengan tatapan penuh kebencian.
Di dalam hatinya Patrick bertanya, mengapa Miranda terlihat begitu membencinya?? Ia bahkan merasa tidak pernah menyinggung ataupun membuat kesalahan pada wanita di depannya ini.
Bukankah seharusnya disini ia yang membenci wanita itu?? Jelas-jelas Miranda lah yang menghilang tanpa kabar dan tiba-tiba menikah dengan pria lain tanpa mengakhiri hubungan mereka terlebih dahulu.
Miranda terlihat membalikkan tubuhnya dan mengambil tas miliknya dengan cepat. Ia tidak tahan berlama-lama bersama seseorang yang ia benci.
Miranda pun hendak berlalu meninggalkan Patrick. Namun.. perkataan Patrick tiba-tiba membuatnya berhenti dan terdiam membeku di tempat,
"Kau memang benar-benar telah berubah.." ucap Patrick dengan rasa kecewa.
Bersambung..
Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊
Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺
Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..
Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁
Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍