Mysterious Man

Mysterious Man
Amnesia



"Dokter, tolong periksa kembali pria itu," ucap Sheryn setelah dia berada di depan meja dokter Pras. Dokter yang tadi memeriksa Melvin.


"Apakah dia sudah sadar?" tanya Dokter Pras.


"Sudah, tapi aku merasakan ada yang aneh padanya. Dia seperti...." Sheryn menggantungkan ucapannya tidak sanggup mengatakannya.


"Seperti apa?" Dokter Pras menatap bingung pada Sheryn.


"Lebih baik Dokter lihat sendiri." Sheryn hanya takut salah bicara, maka dari itu dia memutuskan untuk tidak menjelaskannya.


"Baiklah." Dokter Pras berdiri lalu berjalan menuju ranjang Melvin bersama dengan Sheryn.


Saat mereka berdua tiba di ranjang Melvin, mereka melihat kalau Melvin sedan duduk diam tanpa melakukan apapun. Tatapannya tertuju ke satu titik dengan tatapan kosong.


"Nona, silahkan urus administrasinya dulu, aku akan memeriksanya kembali."


Sheryn menoleh pada Melvin sejenak kemudian mengangguk lalu berjalan keluar IGD. Dia berjalan meninggalkan ruangan IGD dengan langkah cepat. Dia bahkan tidak mengenal pria itu sama sekali, tapi kenapa dia mau bersusah payah untuk mengurus keperntingan pria yang bahkan tidak tahu jati dirinya.


Kalau dulu saat dia masih menjadi nona muda dari keluarga kaya, dia tidak akan mau direpotkan hal seperti. Selalu ada yang akan mengurus untuknya, tapi saat ini, dia mau direpotkan oleh pria yang tidak di kenal, meskipun dalam kondisi keuangan yang bisa dikatakan hanya cukup untuk dirinya sendiri, dia mau melakukan demi pria itu.


Bukankah dia memiliki hati yang mulai? Tidaaaak. Dia bahkan tidak tahu apa alasanya menolong pria itu. Iba, mungkin saja, tapi dia tidak punya waktu untuk memikirkan nasih orang lain, di saat nasibnya sendiri saja menyedihkan.


Nona muda dan ahli waris sah dari keluarga terpandang di negaranya, kini itu sudah tidak ada artinya baginya. Ada orang lain yang sedang menikmati apa yang seharusnya menjadi miliknya.


Saudara tirinya dan ibu tirinya, suatu saat dia akan membalas permbuatan mereka berdua dan mengambil semua yang menjadi miliknya. Itu adalah janji Sheryn ketika dia diasingkan keluarga negeri oleh ayahnya sendiri.


Untuk itulah dia berusaha berjuang untuk bertahan hidup di negeri orang, meskipun harus hidup menderira. Karena saat ayahnya mengirim dirinya ke luar negeri, dia tidak pernah lagi mendapatkan uang dari ayahnya. Bahkan komunikasi saja seolah ditutup.


Sangat sulit baginya untuk menghubungi ayahnya. Bahkan paspornya saja ditahan oleh ayahnya saat dia tiba di negeri orang agar dia tidak bisa kembali tanpa seijin ayahnya. Saat dia mengingat kehidupan sebelum ibunya meninggal dan sekarang, dia merasa kalau takdir sedang mempermainkannya.


Selama hidup dia tidak pernah menyusahkan hidup orang lain, kecuali orang itu sendiri mencari masalah dengannya. Bagaimana bisa dia mendapatkan nasib yang begitu buruk, sementara ibu tiri dan saudara tirinya yang jahat dan memiliki hati busuk justru mendapatkan kehidupan yang baik dan nyaman.


Tidak adil... itu yang di rasakan Sheryn saat dia harus hidup menderita. Meksioun begitu dia harus tetap bertahan dengan tujuan suatu hari nanti dia akan pulang untuk mengembalikan kehidupannya dulu.


Selesai mengurus administrasinya, Sheryn kembali ke ruangan IGD untuk bertemu dengan dokter. "Bagaimana Dokter keadaannya?" Sheryn menghampiri dokter Pras yang sedang melakukan pemeriksaan pada Melvin.


Dokter itu menoleh pada Sheryn. "Ikut aku sebentar." Dokter itu berjalan menjauh dari ranjang Melvin lalu menoleh pada Sheryn.


"Sepertinya dia mengalami amnesia, tapi itu hanya dugaan sementara, aku harus melakukan pemeriksaan CT Scan dan pemeriksaan pendukung lainnya, tapi kau tahu sendiri pemeriksaan ini tidak murah, apa kau bersedia menanggung biayanya?"


Saat Sheryn mengatakan kalau dia tidak mengenal pria itu, dokter itu tentu saja harus berdiskusi dulu dengan Sheryn, bagaimana pun pemeriksaan tersebut tidak bisa dilakukan jika tidak ada yang mau menanggung biayanya.


Sheryn berpikir sejenak, dia juga tidak memiliki begitu banyak uang, tapi dia memiliki sedikit tabungan. Jika dia tetap ingin melakukan pemerisaaan itu artinya dia harus memakai semua tabungannya. Pria itu bahjan tidak mengingat siapa dirinya, itu artinya tidak ada yang bertanggung jawab mengenai pengobatannya jika dia tidak mau membayarnya.


"Aku akan menanggung semua biayanya. Dokter bisa lakukan pemeriksaan padanya."


Susah ya susah saja. Kalau uangku habis. Aku akan mencari lagi.


Dokter itu mengangguk. "Kalau begitu silahkan urus dulu pembayarannya, setelah itu baru kami lakukan pemeriksaan selanjutnya."


Sheryn mengangguk. Dia kembali berjalan menuju kasir untuk membayar tagihan lalu kembali ke ruangan IGD. Sebelum Melvin di bawah ke ruangan Radiologi, Sheryn berbicara sebentar pada Melvin. Sebelum berbicara, Sheryn memandang wajah Melvin sejenak. Wajah terlihat masih tenang dan saat menatap Sheryn.


"Melvin, aku Sheryn. Aku mengahabiskan semua tabunganku untuk pemeriksaanmu, aku harap tidak terjadi hal serius padamu. Setelah ini kau akan diperiksa, cukup ikuti apa yang dikatakan Dokter, apa kau mengerti ucapanku?" tanya Sherin sambil sedikit membungkuk menatap ke arah wajah Melvin.


Dia kemudian mengikuti kemana dokter dan perawat membawa Melvin. Saat tiba di depan ruanh Radiologi. Melvin sempat menoleh pada Sheryn. "Semua akan baik-baik saja," ucap Sheryn. Dia berpikir kalau Melvin sedikit takut untuk masuk ke dalam ruangan tersebut, maka dari itu dia menoleh padanya.


Setelah mengucapkan itu, Melvin kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Setelah pintu tertutup, Sheryn duduk bersandar di depan ruang Radiologi sambil memejamkan matanya. Setelah menunggu selama 45 menit, pintu ruangan Radiologi terbuka.


Melvin kemudian digiring ke ruangan lain untuk pemeriksaan lainnya. Sheryn kembali menunggu hingga semua pemeriksaan Melvin selesai dilakukan. "Untuk malam ini, biarkan pasien menginap di sini. Hasilnya akan keluar besok. Silahkan urus ruang rawat inap untuk pasien," ucap Dokter Pras.


Sherin kembali mengangguk dan pergi, beberapa menit kemudian dia kembali lagi ke ruangan IGD. Setelah itu, Melvin di pindahkan ke ruang perawatan. Karena uang yang terbatas, Sheryn terpaksa memilih kelas paling rendah, ruangan yang terdiri dari 6 tempat tidur dalam satu ruangan.


Di ruangan tersebut sudah terisi 3 dari 6 empat tidur yang tersedia. Setelah Melvin dipindahkan ke tempat tidur, perawat itu pun pergi. Seorang wanita paruh baya menatap ke arah Sheryn dan Melvin dengan wajah ramah.


"Nona, suamimu sakit apa?" Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh salah satu keluarga pasien yang berada di samping kanan tempat tidur Melvin.


Sheryn menoleh karena terkejut dengan pertanyaan wanita itu. Sepertinya dia salah paham terhadapnya dan Melvin. "Ibu jangan menggodanya, sepertinya mereka adalah pengantin baru," ucap anak wanita itu yang sedang terbaring di tempat tidur.


Saat melihat wajah malu dan canggung dari Sheryn, ibu itu tersenyum. "Maafkan aku Nona, aku tidak bermaksud untuk membuatmu tidak nyaman," ucap wanita itu ramah.


Sheryn mengangguk. Dia kemudian menarik tirai mengelilingi tempat tidur Melvin lalu beralih menatap Melvin yang terlihat sudah sudah memejamkan matanya. Sheryn memutuskan untuk duduk di kursi sambil memejamkan matanya.


Esok harinya, Sheryn bangun lebih dulu, sementara Melvin masih tertidur dengan wajah damainya. Sheryn kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Ketika dia kembali, Melvin terlihat sudah bangun. Sheryn tersenyum lalu duduk di sampingnya.


"Melvin, apa kau lapar?" Dari semalam, Melvin memang belum makan sama sekali.


Melvin menoleh pada pada Sheryn dengan wajah bodohnya lalu mengangguk. Sheryn kemudian mengambil makanan yang disediakan dari rumah sakit dan memberikan pada Melvin. "Makanlah."


Melvin menunduk menatap sejenak makanan yang ada di pangkuannya. "Kenapa? Apa kau tidak suka?" tanya Sheryn ketika melihat Melvin hanya memandang makanan itu dan tidak menyentuhnya.


Melvin tidak menjawab. "Makan saja yang ini dulu. Aku akan membelikanmu makanan enak nanti setelah bertemu dengan dokter," bujuk Sheryn. Dia merasa kalau Melvin tidak menyukai makanan dari rumah sakit, sebab itulah dia tidak mau menyentuhnya.


Setelah mendengar ucapan Sheryn, Melvin meraih sendok dan menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. Gerakannya pelan dan gayanya nampak elegan, sangat kontras dengan wajahnya yang terlihat seperti orang bodoh. Jika dilihat sekilas dia seperti tuan muda dari keluarga kaya raya.


Setelah Melvin selesai makan, Sheryn berpamitan sebentar pada Melvin untuk keluar. Dia harus mengisi perutnya jika tidak dia yang akan pingsan nanti.


Setelah selesai sarapan, Sheryn kembali ke ruangannya. Hari ini dia sebenarnya harus bekerja, tapi karena tidak bisa meninggalkan Melvin sendirian, Sheryn memutuskan untuk ijin tidak masuk, apalagi dia harus menunggu hasil pemeriksaan Melvin siang nanti.


Saat siang harinya, Dokter Spesialis Bedah Syaraf melakukan kunjungan kepada Melvin dan menjelaskan hasil dari pemeriksaan yang dilakukan oleh Melvin. "Nona, tuan Melvin pernah mengalami kecelakaan sebelumnya yang menyebabkan cidera pada kepala sehingga dia mengalami Amnesia. Karena kecelakan itu juga membuat tuan Melvin memiliki IQ anak berumur 7 tahun."


Sheryn nampak terkejut. Matanya membesar saat mendengar penjelasan dokter. Dia kemudian menatap ke arah Melvin yang terlihat sedang menatap lurus ke depan dengan wajah bodohnya.


Jadi, itu sebabnya dia berlaku tidak seperti pria pada umumnya dan terlihat seperti pria idiot karena dia pernah mengalami kecelakaan yang menciderai otaknya.


Setelah dokter menjelaskan semuanya pada Sheryn, dokter itu pamit dan sudah memperbolehkan Melvin pulang. "Melvin," panggil Sheryn. Dia membungkuk di depan Melvin sambil tersenyum manis.


"Apa kau mau ikut aku pulang? Sebenarnya kondisi hidupku tidak begitu baik, aku hanya tinggal di sebuah rumah sewa kecil di pinggir kota. Kalau kau tidak keberatan dengan itu, kau bisa tinggal sementara denganku sampai kita menemukan keluargamu."


Melvin menoleh pada Sheryn dan menatapnya sejenak lalu berkata, "Mau," jawab Melvin dengan wajah polosnya.


Saat Melvin berbicara, tidak ada perubahan dalam ekpresi wajahnya selain wajah yang terlihat seperti orang bodoh dan idiot.


Bersambung....