Mysterious Man

Mysterious Man
Pasangan Hidup



Dari kejauhan, Sheryn mengeryit saat melihat ada sebuah mobil terparkir di depan rumahnya. Saat dia memperhatikan dengan seksama, ada seorang pria yang sedang berdiri menghadap belakang. Sheryn baru saja pulang dan diantar oleh Zahn. Setelah turun dari mobil Zahn, Sheryn segera mendekati orang tersebut.


"Tuan Pen, kenapa tidak memberitahuku kalau kau ingin ke sini?" Sheryn terlihat terkejut ketika melihat pemilik dari rumah yang di sewa sedang berdiri di depan rumahnya.


Tuan Pen menoleh lalu berbalik menghampiri Sheryn. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."


"Kalau begitu mari masuk ke dalam," ajak Sheryn dengan sopan.


Zahn yang baru saja turun dari mobilnya, kemudian menghampiri Sheryn dengan tuan Pen.


Tuan pen melambaikan tangannya tanda menolak. "Tidak perlu. Aku hanya sebentar."


Sheryn mengangguk. "Begini, masa sewamu akan berakhir 3 bulan lagi. Kau harus segera pindah setelah itu."


"Memangnya kau tidak mau menyewakan padaku lagi?" tanya Sheryn dengan dahi berkerut.


"Maaf Sheryn. Aku tidak bisa menyewakan rumah ini lagi padamu. Rumah ini akan aku jual," terang Tuan Pen.


"Tapi tuan Pen, aku tidak tahu lagi akan pindah ke mana jika kau tidak menyewakan rumah ini. Bisakah kau menjualnya setahun lagi?"


Rumah yang di sewa Sheryn adalah rumah termurah yang ada lingkungan itu. Sangat sulit mencari harga semurah itu di kota tersebut. Apalagi, Tuan Pen memperbolehkan dia untuk membayar 2 kali dan itu meringankannya. Saat ini, Sheryn tidak memiliki uang. Gajinya setiap bulan selalu habis tak tersisa, bahkan mereka selalu kekurangan.


Semenjak tinggal bersama dengan Melvin, pengeluarannya meningkat. Meskipun masa sewanya masih 3 bulan lagi habis, tetapi tetap saja dia tidak mungkin memiliki waktu untuk mencari rumah sewa dengan harga yang rendah.


"Maaf Sheryn tidak bisa. Aku sedang membutuhkan uang, jadi aku harus menjual rumah ini." Tuan Pen menampilkan wajah tidak enak pada Sheryn.


"Baiklah. Aku mengerti. Aku akan pindah setelah masa sewanya habis."


Zahn yang sedari tadi mendengar pembicaraan Tuan Pen dan Sheryn merasa iba terhadap Sheryn, tetapi dia tidak mau ikut campur dalam pembicaraan mereka.


"Baiklah, sekali lagi aku minta maaf karena tidak bisa membantumu."


Setelah kepergian tuan Pen, Sheryn dan Zahn masuk dan duduk di ruang tamu. "Sheryn, bagaimana kalau aku membantu mencarikan rumah sewa untukmu? Aku memiliki beberapa teman yang memiliki bisnis properti. Mungkin saja mereka memiliki rumah yang bisa kau sewa," tawar Zahn.


Sheryn berpikir sejenak. "Tidak perlu, aku akan mencarinya sendiri. Lagi pula, kau sudah sering membantuku. Aku tidak mau merepotkanmu."


"Aku tidak akan menawarkan bantuan kalau aku merasa direpotkan. Begini saja, aku akan tetap mencarikan rumah sewa untukmu, jika nanti tidak cocok denganmu, kau bisa menolaknya."


"Baiklah, tetapi seperti akan sulit karena aku mencari rumah yang harga sewanya sangat rendah seperti rumah ini. Aku tidak memiliki banyak uang saat ini, jadi aku hanya bisa mencari yang termurah, tidak peduli bagaimana bentuk dan jauhnya rumah itu."


Zahn tentu saja tahu maksud dari Sheryn. Awalnya, Zahn berniat mencarikan rumah sewa yang lebih baik dari yang saat ini Sheryn tempati, tapi karena Sheryn menolak, Zahn akhirnya berniat akan membeli rumah yang di sewa Sheryn saat ini diam-diam agar Sheryn tidak perlu pindah.


"Sheryn, apa kau tidak ada berpikir untuk mencari pasangan hidup agar hidupmu lebih baik?" Pertanyaan spontan dari Zahn membuat Sheryn terkejut.


Selama ini, hak itu belum pernah dia pikirkan sama sekali. Ada hal yang lebih penting yanf harus dia lakukan lebih dulu sebelum memikirkan soal pasangan hidupnya.


"Aku tidak memiliki waktu untuk mencari pasangan hidup, Zahn."


Zahn terdiam beberapa saat. "Sebaiknya kau mulai memikirkannya. Akan lebih baik kalah ada orang yang bisa kau jadikan sandaran hidupmu. Bagaimana pun wanita tidak bisa hidup sendiri, semandiri apapun wanita itu, pasti tetap membutuhkan laki-laki di sisinya."


Zahn kemudian berdiri. "Kalau begitu aku permisi. Aku masih ada urusan."


Sheryn mengangguk. "Baiklah."


Sebelum Zahn keluar, dia menoleh pada Sheryn yang sedang berdiri sambil menatap ke arahnya. "Sheryn, kapan kau memiliki waktu luang?" tanyanya.


"Aku tidak tahu. kondisi kakakku belum pulih. Memangnya ada apa?"


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Wajah Zahn terlihat serius. "Kabari aku kalau kau sudah memiliki waktu luang."


Sheryn tidak mau terlalu banyak memikirkan hal apa yang akan disampaikan oleh atasanya tersebut. "Baiklah, aku akan mengubungimu nanti."


*******


Hari ini adalah hari libur, Sheryn berencana untuk bertemu dengan Zahn di luar setelah kondisi Melvin pulih. Cidera pada punggung belakangnya sudah sembuh. Sudah dua minggu lebih dari insiden malam itu terjadi. Setiap hari Sheryn selalu pulang tepat waktu karena khawatir dengan Melvin.


Pada akhir pekan, Sheryn akan mencari pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilannya. Tapi, mulai pekan ini dia sudah berhenti dan tidak mau mencari pekerjaan sampingan lagi karena merasa lelah dan tenaga yang dia keluarkan tidak sebanding dengan hasil yang didapat. Dia sedang mencari alternatif lain untuk mendapatkan uang.


Sore ini rencananya Sheryn, Melvin dan Zahn akan pergi ke salah satu restoran yang berada di tepi pantai atas usulan Zahn. Tempat itu sengaja dia pilih karena memiliki pemandangan yang indah. Setibanya di sana. Mereka duduk tidak jauh dari bibir pantai menikmati matahari sore dengan pemandangan pantai yang indah.


Mereka terlihat menikmati beberapa hidangan yang terjadi di atas meja setelah Zahn memesan banyak makanan. Sheryn dan Zahn terlihat sesekali mengobrol, hanya Melvin saja yang diam.


"Melvin? Apa kau ingin bermain air?" Sheryn bertanya hal itu karena sedari tadi tatapan Melvin selalu tertuju pada pantai.


Melvin menoleh pada Sheryn dan menggeleng. "Temani saja dia berjalan-jalan sebentar. Mungkin kakakmu malu."


Sheryn memang sudah bercerita pada Zahn mengenai kondisi Melvin yang terlihat bodoh dan idiot. Maka dari itu, dia memaklumi kondisi Melvin yang tidak seperti pria dewasa lainnya. Dia bahkan percaya kalau Melvin adalah kakaknya.


"Baiklah, kamu tunggu di sini. Aku akan menemani Kakakmu sebentar."


Zahn mengangguk. Sheryn menarik tangan Melvin berjalan ke tepi pantai. Dari kejauhan Zahn melihat Sheryn mengajak Melvin berjalan di sekitar pantai. Setelah berjalan selama setengah jam. Melvin duduk di hamparan pasir putih bersama dengan Sheryn selama lima belas menit.


"Melvin, ayo kita kembali." Sheryn mengulurkan tangan pada Melvin untuk mengajak duduk di restoran di mana Zahn berada. Dia merasa tidak enak hati karena sudah meninggalkannya cukup lama. Padahal, mereka ke sana karena ada yang ingin dibicarakan oleh Zahn padanya.


Melvin menggeleng. Entah kenapa sedari tadi tatapannya terus tertuju pada tengah pantai. "Baiklah, kau duduk saja di sini dulu. Aku akan berbicara dengan Zahn dulu."


Melvin hanya diam tidak mengeluarkan kata-kata apapun. Sheryn akhirnya pergi menghampiri Zahn. "Sepertinya kakakmu menyukai pantai," ucap Zahn ketika Sheryn sudah duduk di depannya.


Sheryn menoleh sejenak pada Melvin. "Iyaaa, sepertinya begitu. Aku sudah lama tidak mengajaknya pergi untuk liburan karena sibuk bekerja di akhir pekan," terang Sheryn.


"Jangan terlalu bekerja keras. Uang bisa dicari, kesehatan lebih penting."


Sheryn tesenyum tipis. "Itu karena kau memiliki banyak uang. Bagi kami yang kekurangan, uang sangatlah penting. Kami membutuhkan uang untuk sekedar menyambung hidup."


Raut wajah Zahn terlihat serius. "Sheryn, menikahlah denganku. Aku akan menjamin kehidupanmu akan lebih baik jika bersamaku."


Bersambung....