
"Sheryn, tenangkan dirimu. Aku tahu kau sangat khawatir dengannya, tapi aku mohon tahan dirimu, karena saat ini, aku juga sedang menahan diriku. Aku bisa saja hilang kendali, jika kau terus bersikap seperti ini," ucap Melvin dengan suara berat dan wajah yang mengeras.
Perkataan Melvin langsung membuat Sheryn terdiam. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya karena dia berusaha untuk menahan tangisnya. Melihat itu, Melvin merengkuh tubuh Sheryn lalu memeluknya. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk marah padamu. Aku... aku...."
Aku sangat cemburu Sheryn saat melihatmu sangat mengkhawatirkan pria lain, terlebih itu Harry.
"Aku hanya tidak suka melihatmu menangis," lanjut Melvin kemudian.
Sheryn nampak masih diam, tapi air matanya sudah mengalir tanpa diiringi suara isakan. Matanya terlihat mulai sembab dan hindung memerah. Setelah beberapa saat, Melvin melepaskan pelukannya.
"Apa kau sudah tenang?" tanya Melvin lagi sambil menatap Sheryn.
Sheryn mengangguk. Melvin kemudian menoleh pada asistennya. "Carikan minum untuknya," perintah Melvin.
"Baik, Tuan Muda."
Sebelum Stein keluar, dia menghubungi beberapa pengawal yang berada di luar rumah sakit untuk masuk dan berjaga di sekitar Mevin dan Sheryn, sementara Melvin menghampiri Sheryn yang sedang berdiri di dekat kaca sambil melihat ke dalam ruangan ICU.
"Tidak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja," ucap Melvin dan direspon anggukan oleh Sheryn.
Beberapa menit kemudian, dua Dokter dan dua orang perawat keluar dari ruangan ICU. Sheryn langsung menghampiri salah satu Dokter dan bertanya. "Bagaimana keadaan kakakku?"
"Dia masih kritis. Untuk sementara waktu dia belum bisa dijenguk sampai dia melewati masa kritisnya," jawab Dokter paruh baya yang berdiri di dekat Sheryn.
Wajah Sheryn terlihat kecewa. Dia sangat mengkhawatirkan Harry, tapi dia tidak bisa menjenguknya.
"Kami mohon maaf atas kejadian yang menimpa kakakmu. Masalah ini akan segera kami laporkan pada polisi," lanjut Dokter itu lagi.
Sheryn mengangguk lemah. "Kalau begitu kami permisi."
Kedua Dokter idan perawat itu kemudian berlalu dari sana dan tepat saat itu Stein datang membawa air minum. "Ini minumlah." Melvin memberikan botol air minum yang sudah dibukanya pada Sheryn.
"Terima kasih," ucap Sheryn setelah menerima botol air minum itu.
"Sheryn, kau tunggu di sini sebentar. Aku akan menemui Dokter dulu. Aku akan segera kembali."
"Kau ingin apa?" tanya Sheryn sebelum Melvin melangkah.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Dokter mengenai Harry. Tidak akan lama," terang Melvin.
"Aku ingin ikut." Sheryn merasa penasaran apa yang ingin Melvin bicarakan, maka dari, dia ingin pergi bersamanya.
Melvin berpikir sejenak. "Kau di sini saja, aku hanya sebentar."
"Baiklah."
Melvin melangkah mendekati Stein lalu berkata, "Kau di sini saja. Jaga dia sebentar."
Stein mengangguk. "Baik, Tuan Muda."
Melvin pergi dan diikuti oleh 2 orang pengawal di belakangnya dan sisanya berjaga di dekat ruangan ICU. Melvin bukan pergi ke ruangan Dokter, melainkan ke ruangan Kepala Rumah Sakit.
"Tuan Anderson, kenapa Anda bisa ada di sini?" Direktur Rumah Sakit menyambut kedatangan Melvin dengan wajah terkejut.
"Aku ada urusan." Melvin langsung duduk di sofa sebelum dipersilahkan oleh Direktur Rumah Sakit tersebut.
"Seharusnya Anda bilang padaku kalau kau kau di rumah sakit ini jadi aku bisa menyambutmu di bawah."
Direktur Rumah Sakit itu nampak salah tingkah karena kedatangan Melvin. Sudah lama dia tidak bertemu dengan Melvin jadi dia merasa bingung dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
Melvin melepaskan kaca mata hitamnya lalu menatap Direktur Rumah Sakit itu dengan wajah santai. "Duduklah dengan nyaman. Kenapa kau tegang sekali?" ujar Melvin sambil menyandarkan tubuhnya di sofa sambil menyilangkan kakinya.
"Iyaa... aku hanya terkejut dengan kedatangan Anda."
"Aku ke sini bukan untuk berbasa-basi denganmu. Kau pasti sudah dengar kejadian di ruangan ICU tadi, bukan?"
Direktur Rumah Sakit itu mulai mengeluarkan keringat dingin. "Iyaaa, aku baru saja mendengarnya. Ada perawat dan Dokter palsu yang menyusup ke dalam ruangan ICU dan berusaha mencelakai salah satu pasien di sana."
"Pasien itu adalah keluarga dari calon istriku."
"Sepertinya keamanan rumah sakit ini mulai melemah."
Direktur Rumah Sakit itu menelan salivanya dengan susah payah. "Maafkan aku. Aku akan meningkatkan keamanan di ruang ICU. Ini tidak akan terjadi lagi. Aku minta maaf."
Melvin memainkan kaca mata hitamnya dengan malas. "Seharusnya memang tidak ada lain kali, jika tidak, aku akan menendangmu keluar dari sini."
Direktur Rumah Sakit yang berumur sekitar 60 tahun itu menyeka keringat dingin di dahinya dengan tangan gemetar.
"Maafkan aku, Tuan Anderson. Berikan aku satu kesempatan lagi. Aku akan mengusut tuntas masalah ini dan akan kuperketat keamanan di seluruh rumah sakit."
Melvin terdiam dengan wajah datarnya. Hanya berdiam diri saja, aura dinginnya sudah sangat terasa. "Baiklah, tapi aku ingin kau melakukan sesuatu untukku."
"Apa?"
"Pindahkan pasien bernama Harry ke suite room rumah sakit ini. Ubah ruangan itu seperti ruangan ICU di bawah dan pindahkan semua peralatan medis yang dibutuhkan oleh pasien seperti yang ada di ruang ICU. Dengan kata lain, ubah ruangan suite itu menjadi ruang ICU pribadi."
Direktur Rumah Sakit itu nampak tercengang. "Tapi Tuan Anderson, ini tidak mungkin. Kita harus mendapatkan persetujuan dulu dari ...."
"Tidak cukupkah aku sebagai pemegang saham mayoritas di rumah sakit ini? Apa aku harus mengambil alih rumah sakit ini baru kau mau melakukannya?" Meskipun nadanya datar, tapi mampu membuat Direktur Rumah Sakit itu ketar-ketir.
"Tidak perlu, tidak perlu. Aku akan melakukan apa yang kau minta."
Melvin menyunggingkan senyum tipisnya. "Bagus. Lakukan sekarang juga."
"Apa?" Direktur Rumah Sakit itu kembali terkejut.
"Kenapa? Keberatan?" tanya Melvin dengan wajah datarnya.
"Tidak, tidak. Aku akan melakukannya sekarang juga."
Direktur Rumah Sakit itu langsung meraih telpon yang ada di sampingnya lalu mengubungi seseorang. Setelah berbicara selama 5 menit, Direktur itu menutup telponnya. "Kamarnya sedang diatur."
Melvin mengangguk dengan malas. "Aku akan mendatangkan Dokter terbaik dari negara H untuk menanganinya nanti. Untuk sementara waktu, pilih 3 Dokter secara bergilir untuk memantaunya. Pilih Dokter terbaik dan atur perawat untuk bergantian untuk menjaganya. Selain Dokter dan perawat yang kau pilih. Jangan ijinkan siapapun untuk masuk ke ruangan itu."
Negara H memang lebih besar dibandingkan dengan negara C. Dokter dari sana juga sangat terkenal dengan kemampuannya. Itulah sebabnya, Melvin berencana mendatangkan Dokter dari sana.
"Baik."
Selesai berbicara dengan Direktur Rumah Sakit, Melvin kembali ke ruangan ICU. Melihat kedatangan Melvin, Sheryn langsung menghampirinya. "Tuan Anderson, apa yang sebenarnya terjadi? Mereka bilang Harry akan pindahkan ke ruangan terpisah."
Kecemburan Melvin kembali mencuat melihat kekahwatiran Sheryn. "Benar."
"Tapi kenapa?" tanya Sheryn dengan dahi berkerut.
"Ini demi keamanannya. Dia harus terpisah dari orang lain agar lebih mudah mengawasinya. Kau tenang saja. Aku akan meninggalkan 6 pengawalku untuk berjaga di depan dan di dalam ruangan untuk memastikan keamanannya. Tidak akan ada lagi yang berani mencelakainya."
Jika bukan karenamu. Aku tidak akan melakukan semua ini. Terlebih lagi untuk sainganku.
Mata Sheryn berkaca-kaca setelah mendengar penjelasan Melvin. Dia tidak menyangka orang yang selalu membuatnya kesal memiliki hati yang sangat baik. Dia bahkan melakukan yang terbaik untuk Harry.
"Aku akan menceritakannya nanti. Sekarang kita harus pulang. Sudah malam."
"Kau bisa pulang duluan. Aku akan pulang nanti."
"Tidak bisa. Kau harus pulang denganku. Mulai sekarang kau harus tinggal bersamaku."
Sheryn teperangah mendengar ucapan Melvin. "Kenapa?"
"Kau bilang orang itu mengincar Harry karena dia memiliki bukti mengenai kematian ayahmu dan bukti kejahatan mereka. Bukan tidak mungkin, kau akan menjadi target selanjutnya. Aku tidak mau mengambil resiko apapun jika bersangkutan denganmu."
"Kenapa? Kenapa kau begitu baik padaku? Kita baru saja saling mengenal, kenapa kau ingin melindungiku?"
Melvin menatap Sheryn dengan lekat. "Karena kau adalah calon istriku."
Pikiran Sheryn seketika kosong. "Haaaah?" Sheryn mengerjapkan matanya beberapa kali karena tidak mengerti maksud dari perkataan Melvin.
Bersambung....