Mysterious Man

Mysterious Man
Mon Assistant



Jessica berjalan menuju ruangan Jack dengan perasaan marah bercampur sedih. Dia merasa sakit hati mendengar bahwa Alice ditunjuk langsung oleh pria itu untuk bekerja menjadi asisten Morgan yang artinya gadis itu akan selalu berada di samping Jack juga.


Dengan langkah cepatnya, wanita itu pun berhenti tepat di depan meja Morgan yang berada tidak jauh dari ruangan Jack. Ia dapat melihat Alice yang tengah mendengarkan arahan dari Morgan.


Jessica mengepalkan tangannya kuat dan mendekati kedua orang itu..


Morgan yang menyadari kedatangan Jessica pun seketika menegakkan tubuhnya dan menunduk pelan,


"Selamat pagi Nona" sapa Morgan.


Pandangan Alice pun langsung terangkat dan mengarah langsung pada Jessica yang tengah menatapnya dengan tajam. Sudah ia duga, wanita itu pasti akan marah, pikir Alice.


"Ada apa ini?? Mengapa Alice bisa di tugaskan disini??" tanyanya tajam.


"Aku adalah pembimbing mahasiswa magang disini! Tidak ada orang yang berhak memerintahkannya bekerja selain aku!" lanjutnya tegas.


Morgan terlihat terdiam sejenak dan tersenyum pelan pada Jessica,


"Maaf Nona, tapi.. Ini perintah langsung dari Tuan Jack" ujar Morgan.


Jessica pun dengan segera melangkah kearah pintu ruangan Jack dan masuk tanpa permisi..


CKLEK!!


Wanita itu sedikit keras membuka pintu ruangan Jack sampai membuat Jack sedikit terperanjat,


"Bukankah itu tidak sopan??" tanya Jack dingin.


Jessica berdiri di depan meja Jack dengan tatapan yang sulit diartikan. Wanita itu terlihat menahan segala gejolak yang ada di dalam hatinya..


Ia pun membungkuk sedikit pada Jack,


"Maafkan aku yang telah lancang Tuan.. Tapi, aku ingin menyampaikan protes ku padaku" ucapnya.


Jack yang mengetahui apa yang akan Jessica bicarakan pun seketika menghela nafasnya pelan,


"Tuan, jika anda tidak lupa.. akulah yang menjadi pembimbing mahasiswa magang disini, yang berarti.. akulah yang berhak mengatur pekerjaan yang akan di kerjakan oleh mahasiswa magang, bukan anda" ucapnya dingin.


Jack terdiam sejenak mendengarkan ucapan Jessica. Ia pun menatap wanita itu dengan tatapan santainya,


"Memangnya kenapa?? Apa kau keberatan aku menunjuk salah satu mahasiswa magang menjadi asisten sekertaris ku??" tanyanya balik.


Jessica menggigit bibirnya untuk menahan rasa sesak di dadanya,


"Ya.. Aku keberatan" ucapnya jujur.


"Mengapa anda menunjuk Alice yang menjadi asisten Morgan?? Mengapa bukan mahasiswa yang satunya lagi??" tanyanya tajam.


Jack tidak menjawab pertanyaan Jessica dan hanya menatap wanita itu dengan tatapan datarnya. Jessica pun seketika menyeringai sinis pada Jack,


"Apa.. Karena ia kekasih anda, jadi anda menempatkannya menjadi asisten sekertaris agar anda dan kekasih anda bisa terus bersama?? Bukankah itu sangat tidak profesional???" sindirnya tajam.


Jack menghela nafasnya dan menatap Jessica dengan tajam,


"Apa itu yang kau pikirkan??" tanyanya dingin.


"Kau pikir aku orang yang tidak profesional??" tanyanya lagi.


Jack menegakkan tubuhnya dan menatap Jessica dengan tajam,


"Aku berhak menentukan siapa saja yang aku inginkan.. Dan, asal kau tau.. aku menunjuk Alice menjadi asisten Morgan karena hari ini Morgan akan bekerja setengah hari untuk menemani istrinya yang akan melahirkan.." ucap Jack.


"Aku memilih Alice juga berdasarkan nilai, ia memiliki nilai yang lebih tinggi dari mahasiswa yang bernama Irene itu. Jika nilai Irene lebih tinggi tentu saja aku akan memilihnya.. Kau pikir aku asal memilih??" lanjutnya dingin yang membuat Jessica terdiam seketika.


"Dan asal kau tau.. Mahasiswa magang itu di tugaskan di pekerjaan yang penting, yang membuat kemampuannya bertambah. Bukan bekerja menyusun berkas-berkas tidak penting di tahun-tahun lalu selama berjam-jam" ucapnya menyindir dengan tajam.


"Bahkan kau juga telah menyepelekan hak nya untuk beristirahat di waktu yang sudah di tentukan!" lanjut lagi.


Jessica masih terdiam dan menatap Jack dengan perasaan sakitnya. Ia mencoba untuk tetap berdiri tegar walaupun sebenarnya ia ingin menangis..


Wanita itu menghela nafasnya dan kembali menatap pria itu,


"Kurasa kau tau mengapa aku melakukan hal itu.." ucapnya bergetar.


Jack menatap Jessica dingin,


"Jadi.. Siapa yang tidak profesional disini??" tanyanya menyindir.


Mata Jessica mulai berkaca-kaca, namun wanita itu mencoba untuk menguatkan dirinya dan tidak terlihat lemah di hadapan pria yang masih sangat ia cintai itu,


"Ya.. Kau benar.. Mungkin aku memang tidak profesional" ucapnya.


Ia pun dengan segera membalikkan tubuhnya dan hendak melangkah pergi. Namun, Jessica terdiam sejenak sambil membelakangi Jack,


"Lain kali.. Kau harus bertanya dulu padaku sebelum mengambil mahasiswa magangku. Kau juga harus ingat, bahwa akulah pembimbing mereka!" ujarnya tegas lalu berlalu pergi meninggalkan ruangan Jack.


Jack pun hanya menghela nafasnya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi. Sepertinya Jessica masih belum bisa menerima berakhirnya hubungan mereka dan juga hubungan barunya dengan Alice, pikir pria itu.


Disisi lain, Alice yang melihat Jessica keluar dari ruangan Jack dengan ekspresi penuh emosinya pun hanya terdiam menatap wanita itu.


Jessica melirik Alice tajam dan berlalu tanpa mengatakan sepatah katapun. Alice pun hanya bisa menghela nafasnya dengan pelan. Sepertinya.. ia harus berbicara pada Jessica dan meluruskan semuanya. Ia tidak ingin hubungan baik mereka yang dulu berakhir seperti ini..




Hari sudah menunjukkan pukul setengah 11 siang. Alice terlihat fokus mengerjakan beberapa pekerjaannya di meja Morgan.



Morgan telah izin pulang sejak pagi tadi karena istrinya akan melahirkan. Morgan juga telah memberitahu Alice apa saja yang harus ia kerjakan hari ini.



Dan, seperti yang Jack ucapkan, pria itu tidak mengistimewakan Alice sama sekali, ia memperlakukan gadis itu seperti karyawan yang lainnya. Jika ada kesalahan maka pria itu tidak akan segan-segan menegurnya, dan Alice sangat menyukai keprofesionalan Jack..



Gadis itu terlihat meregangkan sedikit tangannya dan menatap berkas-berkas yang telah selesai ia kerjakan. Pekerjaannya sudah selesai, dan saatnya ia memberikan berkas ini pada Jack dan memintanya untuk menandatanganinya.



Alice pun berdiri dari duduknya dan melangkah kearah ruangan Jack. Perlahan gadis itu mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu di depannya,





"Masuk"



Terdengar suara sahutan Jack dari dalam. Gadis itu pun terlihat sedikit gugup dan mulai melangkah masuk.



Jack terlihat masih fokus pada berkas di mejanya dan tidak melihat kearah Alice yang tengah berjalan mendekati mejanya.



Alice berdiri di depan meja Jack dan berdehem pelan,



"Tuan.. Saya ingin memberikan beberapa laporan dan juga berkas yang harus anda tanda tangani" ucap Alice pelan sambil menyimpan berkas itu di atas meja Jack.



Jack mengangkat wajahnya dan menatap Alice untuk beberapa saat. Ia mengambil berkas itu dan membacanya.



Setelah itu Jack pun menyimpan kembali berkasnya di atas meja dan menatap Alice dengan tatapan penuh artinya,



"Aku akan menandatanganinya nanti.." ucap Jack.



Pria itu pun tiba-tiba terlihat menyentuh lehernya yang terasa pegal,



"Bisakah, kau memijat leherku?? Seharian ini aku terus berkutat dengan berkas-berkas ini, dan.. leherku terasa pegal" ucapnya dengan ekspresi yang di buat selelah mungkin.



Alice terdiam sejenak dengan ragu. Jack yang menyadari hal itu pun mencoba menahan senyumnya,



"Morgan biasanya juga sering memijat bahuku.. Jadi, ini termasuk pekerjaannya" ujar Jack berbohong.



Alice pun terdiam sejenak dan mulai melangkah mendekati Jack. Pria itu menunjuk lehernya yang harus di pijat oleh Alice..



Alice pun mau tidak mau akhirnya mulai menyentuh leher Jack dan memijatnya dengan pelan dan hati-hati.



Jack tersenyum pelan melihat Alice yang begitu polos dan tidak menolak sama sekali.



Sentuhan tangan Alice yang lembut tiba-tiba membuat ekspresi Jack berubah. Pria itu seketika merasakan sengatan dari sentuhan kekasihnya itu. Tubuhnya seketika bereaksi dan terasa panas.



Sial.. Mengapa sentuhan Alice terasa membakar kulitnya dan membuatnya menginginkan lebih..



Jack yang mulai merasa panas pun seketika menarik tangan Alice dan membuat gadis itu jatuh di dalam pangkuannya,



BRUK!!



"Aakkhh!" pekik Alice terkejut.



Jack memeluk pinggang Alice dan menatap wajah kekasihnya dengan intens,



"Sekarang sudah masuk jam istirahat. Jadi... Kau bukan lagi mahasiswa magang.." ucapnya terputus.



"Tetapi.. kekasihku.." bisiknya intens dan dalam.



Bersambung..



Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊


Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺



Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..


Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁