
Wajah Melvin semakin dingin. "Sudah aku bilang, aku mengetahui semuanya," jawab Melvin tegas, "sekarang jawab pertanyaanku dengan jujur. Apa kau masih memiliki perasaan terhadapnya? Ucapanmu yang mengatakan kalau kau menyukai pria idiot itu, apakah hanya kebohongan belaka untuk melindungi Harry dan untuk membuatku mundur?"
Wajah Sheryn langsung menegang kala mendapatkan pertanyaan dari Melvin.
Secara tidak sadar, Sheryn menelan salivanya sebelum menjawab pertanyaan Melvin. "Ak-aku tidak pernah berbohong. Ak-aku memang...."
"Memang apa?" Melvin mencubit dagu Shery lalu mengangkatnya hingga mereka bertatapan.
"Ini bukan urusanmu. Siapa yang aku sukai, itu tidak ada hubungannya denganmu," jawab Sheryn asal. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dia jawab pada tuan Anderson.
Wajah dingin Melvin berubah mengeras. "Apa kau bilang? Bukan urusanku?"
Sheryn bisa merasakan suhu di sekitar tubuhnya seketika menjadi dingin. "Kalau begitu, tidak ada gunanya aku membawa pria idiot itu kemari." Melvin menjauhkan tubuhnya dari Sheryn setelah melepaskan cubitan pada dagunya.
"Kenapa kau jadi berubah pikiran? Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk membawa Melvin ke sini? Kau tidak bisa mengingkari janjimu begitu saja," ucap Sheryn seraya mengikuti langkah kaki Melvin menuju dinding kaca kamarnya yang menghadap ke taman belakang.
"Untuk apa aku membawa pria bodoh itu jika kau saja menyukai pria lain."
Melvin terlihat memunggungi Sheryn seraya menatap lurus ke depan. Setelah terdiam beberapa saat, Melvin kembali berbicara. "Aku tahu sekarang." Melvin berbalik menghadap Sheryn lalu berkata, "kau kasihan padanya, sebab itu, kau memintaku untuk membawanya ke sini, bukan?"
Melihat Sheryn masih diam, Melvin langsung menyimpulkan kalau Sheryn ternyata hanya kasihan padanya. "Keluarlah."
"Apa?" tanya Sheryn dengan wajah bingung.
"Kembali ke kamarmu sekarang," ucap Melvin dengan dingin.
Dia harus meredakan amarah dan kecemburuannya sebelum dia hilang kendali. Sheryn satu-satunya wanita yang dengan mudah memancing emosinya. Sebelumnya, Melvin tidak pernah sepeduli ini pada wanita manapun.
Dengan wajah lesu, Sheryn berkata, "Baiklah."
Dia tahu kalau saat ini tuan Anderson sedang marah padanya. Itu sebabnya dia tidak lagi membantah ucapannya. Setelah kepergian Sheryn, Melvin menatap keluar dengan wajah dinginnya.
*******
Melvin sedang duduk di kursi kerja dengan wajah dinginnya saat Stein baru saja masuk ke dalam ruangannya. "Jadi kau sudah tahu siapa pelaku yang sudah menyebabkan ayah Sheryn meninggal?" tanya Melvin.
"Sudah, Tuan Muda. Pelakunya adalah orang yang selama ini Anda curigai," jawab Stein.
"Apa kau memiliki bukti yang kuat?"
"Tidak ada. Semua bukti sudah dilenyapkan oleh pelaku. Ini sudah lama sekali terjadi, tapi saya sedang mencari bukti rekaman CCTV yang tiba-tiba lenyap di hari meninggalnya tuan Edwin," terang Stein.
Melvin terdiam selama beberapa saat seraya berpikir. Tidak terlihat emosi apapun di sepasang iris hitam itu. "Baiklah." Melvin kemudian berdiri menuju dinding kaca ruangan kerjanya, "setelah kepergianku setahun yang lalu, apakah Sheryn pernah dekat dengan pria lain selain Harry?"
Stein tidak langsung menjawab, dia mencoba mengingat sejenak kemudian berkata, "Nona Sheryn dekat dengan Julian dan tuan Zahn. Beberapa kali tuan Zahn datang kemari untuk mengunjungi nona Sheryn. Bahkan yang membantunya untuk mendapatkan pekerjaan dan menyembunyikan keberadaan tuan Harry adalah tuan Zahn."
Meskipun Melvin terlihat tenang, tapi tubuhnya memancarkan aura yang sangat dingin. "Zahn, sepertinya dia belum menyerah sampai sekarang, tapi karena dia sudah menolong Sheryn, maka aku akan berbaik hati kali ini. Setidaknya dia juga memperlakukanku dengan baik dulu, meskipun itu karena Sheryn."
********
Setelah bersiap, Sheryn turun ke lantai bawah menggunakan lift. Di ruangan keluarga bawah, sudah ada Melvin yang menunggunya. Mereka akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Harry. Sejak pembicaraan mereka semalam, mereka belum berbicara lagi.
Sheryn menghampiri Melvin yang sedang duduk di ruang keluarga dan nampak sedang fokus pada ponselnya. "Erson, aku sudah siap."
Setelah mendengar suara Sheryn, Melvin mendongakkan kepalanya. "Baiklah. Ayo kita berangkat." Melvin memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya lalu berjalan ke arah keluar diikuti oleh Sheryn.
Setibanya di depan, Stein membukakan pintu untuk Sheryn. "Silahkan, Nona."
Sheryn mengangguk. "Terima kasih."
Setelah Sheryn masuk, Melvin menoleh pada Stein. "Jangan terlalu banyak membawa pengawal. Aku tidak mau mengundang perhatian."
Stein mengangguk. "Baik, Tuan Muda."
Stein berjalan ke arah belakang mobil yang di naiki Melvin dan Sheryn di mana terlihat banyak orang berpakaian serba hitam dan berbadan tegap sedang berdiri. Stein terlihat memberikan beberapa instuksi setelah itu kembali ke mobil.
Setengan jam berlalu, Melvin belum juga bersuara. Karena tidak tahan dengan keheningan, Sheryn akhirnya membuka suaranya. "Erson, apa kau marah padaku?" Sheryn bertanya seraya menoleh pada Melvin yang sedang duduk bersandar seraya memejamkan matanya.
"Tidak," jawab Melvin tanpa membuka matanya.
"Lalu kenapa kau diam saja? Tadi pagi, kau juga tidak terlihat di meja makan."
Saat sarapan pagi tadi, Sheryn hanya ditemani oleh pelayan saja. Pagi-pagi sekali, Melvin sudah pergi entah ke mana bersama dengan Stein. Melvin juga tidak berpamitan padanya saat pergi, padahal biasanya dia akan menghampirinya ke kamar atau setidaknya meninggalkan pesan pada pelayan sebelum pergi.
Melvin perlahan membuka matanya lalu berkata, "Aku ada urusan tadi pagi jadi tidak bisa menemanimu sarapan."
Setibanya di rumah sakit, Melvin meminta Sheryn untuk masuk lebih dulu. Dia ingin berbicara dengan Stein sebelum masuk ke dalam rumah sakit. "Stein, apa kau yakin Alan ada di negara H saat ini?"
"Iyaa, Tuan Muda. Dia bersama dengan nona Jane di sana."
"Baiklah, urus segera keberangkatanku ke negara H. Setelah urusanku selesai di negara B, aku akan kembali secepatnya ke negara H."
"Baik, Tuan Muda. Akan saya urus secepatnya."
Melvin merapihkan pakaiannya setelah itu, berkata, "Jangan membawa banyak pengawal ke dalam. Cukup bawa 4 saja, lainnya suruh berjaga di sini saja."
"Baik, Tuan Muda." Melvin melangkah masuk bersama dengan Stein dan diikuti beberpa pengawal di belakang mereka.
Melvin langsung menuju ruangan Harry. Di sana dia melihat ada Sheryn sedang mengajak Harry berbicara. Melvin tidak jadi masuk, dia hanya memperhatikan Sheryn dari celah pintu yang sedikit terbuka.
"Kak, kenapa kau belum bangun juga? Kau sudah terlalu lama tidur. Aku menunggumu, Kak. Bangunlah." Sheryn berbicara dengan raut wajah sedih seraya menatap dan menggenggam tangan Harry.
"Kak, kalau kau tidak bangun, aku tidak akan ke sini lagi. Cepatlah bangun. Kau bilang ingin melindungiku. Tepati janjimu. Bangun Kak." Sheryn mulai mengguncang lengan Harry dengan pelan.
"Kalau kau terus tidur seperti ini, bagaimana bisa kau bisa membantuku menemukan pembunuh ayahku? Aku akan menepati janjiku. Aku akan kembali padamu sesuai janjiku dulu, asalkan kau bangun."
Ketika Sheryn membenamkan wajahnya di telapak tangan Harry, tiba-tiba jemari tangannya bergerak dan Sheryn langsung mengangkat kepalanya.
"Kak, aku tahu kau pasti mendengarku, bukan? Tunggu di sini. Aku akan memanggil Dokter."
Sheryn segera beranjak dari duduknya lalu memecet tombol. Karena tidak sabar, Sheryn langsung keluar dengan wajah panik dan saat di luar dia melihat Melvin sedang berdiri dengan wajah suram dan aura dinginnya.
"Erson, Harry menggerakkan tangannya, dia... dia bergerak. Aku harus memanggil Dokter." Sheryn terlihat sangat senang sekaligus panik.
Melvin tidak meresponnya, tapi saat Sheryn akan melangkah, Melvin mencekal lengannya. "Kata-katamu yang mengatakan akan kembali dengannya lagi, apakah kau serius mengatakan itu? Kalau dia bangun dan bisa mengungkapkan siapa pembunuh ayahmu, kau akan kembali padanya dan melupakan janjimu padaku?"
Aura yang dikeluarkan oleh Melvin saat ini sangat dingin dan menakutkan. Meskipun Stein tidak bisa melihat sorot mata bosnya, tapi dia tahu tahu kalau saat ini bosnya sedang marah besar.
"Erson, lepaskan aku! Aku harus memanggil Dokter," ucap Sheryn seraya menatap marah pada Melvin.
Melvin bergeming dan tidak mau melepaskan tangan Sheryn.
"Kau tidak dengar apa yang aku bilang? Lepa..."
Sebelum Sheryn menyelesaikan ucapannya, Melvin lebih dulu menoleh pada Stein. "Panggil Dokter ke sini," perintahnya dengan suara dingin.
"Baik, Tuan Muda."
Melvin kembali menatap Sheryn dengan sorot mata dingin dibalik kacamata hitamnya. "Sekarang jawab pertanyaanku tadi. Apa kau akan kembali padanya jika dia sudah bangun?"
Sheryn terjebak dengan ucapannya sendiri. Dia tidak menyangka kalau tuan Anderson mendengar ucapannya. Dia terlihat bingung dan tidak tahu harus menjawab apa. Saat dia akan menjawab, 2 orang Dokter dan perawat melewati mereka dan masuk ke dalam ruangan Harry.
"Kita bicara lagi nanti. Aku ingin melihat Harry dulu."
Sheryn melepaskan tangan Melvin yang ada di lengannya setelah itu dia masuk ke ruangan Harry meninggalkan Melvin yang berdiri dengan kaku.
"Sheryn, aku hanya meninggalkanmu selama setahun dan ternyata kau sudah banyak berubah. Kau pasti tidak tahu apa yang aku lalui selama setahun ini. Aku berjuang demi dirimu selama setahun ini untuk mengembalikan posisiku kembali agar aku bisa melindungimu, tapi ternyata kau memilih Harry."
Bersambung ..