
Miranda menatap kearah Alice yang terdiam dan berpaling tersenyum kearah Jessica,
"Kau benar.. Jack alergi kacang. Kau memang paling tau apa yang disukai dan tidak disukai oleh Jack" puji Miranda pada Jessica sambil mendelik pelan kearah Alice.
Alice terlihat sedikit terkejut dan menunduk pelan,
"Ma.. Maaf, aku tidak tau" ucapnya pelan sambil hendak kembali menyimpan kue yang diambilnya itu.
Jack seketika menahan tangan Alice dan mengambil kue itu,
"Tidak apa-apa, lagipula.. ini hanya sedikit mengandung kacang. Aku akan memakannya" ucap Jack hendak memakan kue itu.
Namun dengan cepat Jessica menggeleng kearah Jack,
"Tidak Jack! Jangan makan itu.. Kau tidak ingat terakhir kali saat kau memakan kacang??" ujarnya penuh kekhawatiran.
Jack mendelik pada Jessica dan menatapnya dengan tatapan datarnya,
"Itu karena aku memakan kacang utuh" jawabnya dingin.
Jack pun kembali hendak memakan kue nya namun, kali ini tangan Alice menahan tangan pria itu,
"Jangan Jack.. Jangan dimakan" cegah Alice pelan.
Jack menatap Alice dan terdiam sejenak. Pria itu pun menyentuh tangan Alice dan tersenyum lembut kearahnya,
"Tidak apa-apa, aku hanya alergi kacang utuh biasa" ucapnya menenangkan.
Pria itu pun dengan segera memakan kue yang di berikan oleh Alice tadi.
Jessica terlihat kecewa melihat tindakan Jack. Pria itu rela memakan kue tadi agar tidak mempermalukan Alice.
Wanita itu seketika mengepalkan tangannya dalam diam.
Alice menatap Jack dengan khawatir, dia takut jika Jack akan alergi karena memakan kue tadi. Walaupun kue itu sedikit mengandung kacang, tetapi tetap saja ia khawatir kue itu akan bereaksi pada tubuh Jack.
Jack menatap Alice dan tersenyum,
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja" ucapnya.
Alice pun menghela nafasnya pelan dan mecoba untuk tenang. Miranda menatap kearahnya dan terlihat memendam kekesalan. Namun, wanita paruh baya itu tidak mengatakan apapun.
Setelah mereka menghabisi makanannya. Mereka terlihat masih belum beranjak dari meja makan dan mengobrol ringan.
Jack terlihat hendak meminum teh nya, namun.. seketika ia merasakan sesak dan panas di dadanya. Pria itu terlihat menyentuh dadanya dan mencoba untuk menenangkan diri.
'Sial, sepertinya alerginya kambuh' pikir Jack.
Pria itu perlahan mulai berkeringat. Alice menatap kearah Jack dan melihat kening Jack yang berkeringat,
"Kau tidak apa-apa??" tanyanya pelan.
Seketika pandangan Jessica pun langsung terarah pada Jack.
Jack mencoba tersenyum dan menggeleng pelan,
"Aku tidak apa-apa" jawabnya sambil menahan sesak.
Pria itu pun berdiri dari duduknya,
"Aku.. akan ke kamar mandi sebentar" ucapnya lalu berlalu pergi.
Alice mengikuti arah perginya Jack dengan khawatir. Pria Itu jelas terlihat tidak baik-baik saja, pikirnya khawatir.
Saat Alice hendak berdiri untuk menyusul Jack, tiba-tiba Jessica pun bangkit dan menyusul Jack tanpa mengatakan apapun.
Di dalam kamar mandi, Jack terlihat membasuh wajahnya sambil menyentuh dadanya yang sesak.
'Sial, ini terjadi lagi' pikirnya kesal.
Ia kira jika memakan sedikit kacang, tubuhnya tidak akan bereaksi seperti ini lagi!
Jack perlahan keluar dari kamar mandi. Tubuhnya terlihat tidak seimbang dan hampir terjatuh. Namun, dengan cepat tiba-tiba Jessica datang dan menahan tubuhnya,
GREP!!
"Jack kau baik-baik saja???" tanyanya penuh kekhawatiran.
Jack menepis tangan Jessica dan menggeleng,
"Aku baik-baik saja" jawabnya dingin.
Jessica tidak percaya dengan ucapan Jack dan hendak kembali meraih tangan pria itu,
"Kau bohong!! Alergi mu pasti sudah kambuh.. Wajahmu memerah Jack!" ujarnya cemas.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang!!" lanjutnya lagi hendak menuntun tangan Jack.
Namun, lagi-lagi Jack menepis tangan wanita itu,
"Tidak, aku baik-baik saja" jawab Jack sambil menahan sakit.
Seketika dari arah belakang mereka, terlihat Alice berdiri disana dengan cemas melihat Jack yang terlihat tidak baik-baik saja.
Pandangan Jack pun terarah pada Alice. Pria itu seketika berjalan sambil menahan sesaknya dan menggenggam tangan Alice,
"Ikut aku" bisik Jack dan membawa Alice pergi ke lantai atas.
Alice tidak mau ambil pusing dengan tatapan Jessica tadi. Ia pun menatap Jack yang berada di depannya dan terlihat tengah menahan sakit.
Jack pun membuka salah satu pintu dan membawa Alice masuk ke dalam. Pria itu pun dengan segera menutupnya kembali dan langsung memeluk tubuh Alice dengan nafas terengahnya.
Pria itu menyandarkan kepalanya di lekukan leher Alice dengan tubuh yang cukup berkeringat. Alice yang menyadari hal itu semakin cemas dengan kondisi Jack yang terlihat kesusahan bernafas,
"Jack ada apa??? Apa kau sakit???" tanyanya panik mencoba untuk menatap wajah Jack.
Jack masih mengatur nafasnya dan menggeleng pelan,
"Aku.. aku.. tidak apa-apa" jawab Jack dengan nafas tertahan.
Alice yang semakin panik dengan segera melepaskan pelukan Jack dan menatap wajah kekasihnya itu yang terlihat sedikit pucat dan berkeringat.
Alice terbelalak dan menyentuh wajah Jack dengan khawatir,
"Kau kenapa?? Kau berkeringat Jack!" ucapnya panik.
Alice seketika teringat saat Jack memakan kue kacang tadi. Gadis itu pun terbelalak dan menatap Jack dengan panik,
"Apa ini karena kue tadi?? Apa alergi mu kambuh??" tanyanya khawatir.
Jack tidak membalas pertanyaan Alice dan kembali menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Alice.
Gadis itu terlihat semakin cemas melihat tingkah Jack,
"Kita harus ke rumah sakit Jack!!" ucapnya panik.
Jack menggeleng pelan dan semakin menenggelamkan kepalanya di leher Alice.
Alice yang semakin cemas pun mencoba untuk kembali membujuk pria itu,
"Ayo Jack, kita harus ke rumah sakit! Jangan buat aku takut seperti ini" ucapnya bergetar.
Jack mengeratkan pelukannya di pinggang Alice dan kembali menggeleng,
"Tidak.." ujarnya pelan.
"Aku tidak butuh ke rumah sakit..." bisiknya terengah.
"Aku.. aku hanya butuh dirimu" bisiknya lagi dalam.
Alice pun seketika terdiam dan masih terlihat khawatir,
"Tapi Jack.." ujar Alice terputus saat Jack mengecup lehernya pelan.
"Tolong.. biarkan seperti ini dulu untuk beberapa saat" pinta Jack dalam.
Alice pun terlihat berpikir sejenak, namun akhirnya ia memilih untuk mengikuti permintaan Jack. Ia hanya bisa menghela nafasnya pasrah dan membiarkan Jack memeluknya seperti ini.
Perlahan tangan Alice pun terangkat dan membalas pelukan Jack. Ia mengusap lembut pungung Jack untuk membantu membuat pria itu sedikit tenang.
Setelah cukup lama berpelukan dengan posisi seperti itu, nafas Jack pun perlahan mulai teratur dan tubuhnya tidak lagi berkeringat. Pria itu menjauhkan wajahnya dari lekukan leher Alice dan menatap gadis itu dalam.
Alice menatap wajah Jack dan mencoba menyentuh wajah pria itu. Ia seketika bernafas lega saat melihat nafas Jack yang tidak lagi terengah dan keringat di keningnya pun sudah menghilang,
"Apa kau merasa lebih baik??' tanyanya masih khawatir.
Jack menggenggam tangan Alice yang berada di pipinya dan tersenyum lembut sambil mengangguk,
"Aku... sudah merasa lebih baik" ucapnya pelan.
Ia menyentuh pipi Alice dengan lembut,
"Ternyata.. aku tidak perlu obat-obatan untuk menghilangkan alergiku" lanjutnya dalam.
"Terimakasih" bisiknya.
Alice membalas senyuman Jack dan mengangguk pelan,
"Syukurlah.." balasnya.
Alice pun sedikit menjauhkan wajahnya dari Jack dan seketika mengarahkan pandangannya ke sekitar. Ia baru menyadari bahwa kini mereka tengah berada di sebuah kamar yang cukup luas dan terlihat rapih.
"Ini.. kamar siapa??" tanyanya penasaran.
Jack menatap ke sekitarnya dan tersenyum pelan,
"Ini kamarku" jawabnya yang membuat Alice sedikit terkejut.
Bersambung..
Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊
Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺
Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..
Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁
Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍
Seperti biasa, otak buntu, jadi maaf kalau ceritanya makin gaje ya 🥲