Mysterious Man

Mysterious Man
Akan Melindunginya



Sheryn kembali masuk ke dalam ruangan khusus untuk pegawai setelah meminta temannya untuk melayani Melvin dan Stein. Dia menyandarkan tubuhnya di balik pintu sambil memejamkan matanya. Hanya mendengar suara yang mirip dengannya sudah berhasil mengacaukan hatinya.


Dia sudah berjanji untuk tidak mengingat nama itu lagi setelah dia pergi meninggalkannya tanpa kabar di saat dia terpuruk. Saat mendengar langkah kaki mendekati pintu, Sheryn melangkah ke depan dan tepat saat itu juga pintu terbuka.


"Sheryn, kau kenapa?"


Julian merasa heran saat melihat Sheryn tadi meninggalkan meja Melvin dan Stein dan berjalan cepat masuk ke dalam ruangan khusus pegawai. Sebab itulah dia pergi menyusul Sheryn.


Sheryn menoleh pada managernya. "Tidak ada apa-apa, Manager. Aku akan kembali bekerja." Saat Sheryn akan melangkah, ponselnya yang ada di sakunya bergetar, "Manager Julian, bolehkah aku mengangkat telpon sebentar?" ijin Sheryn.


Julian mengangguk. "Ya. Aku akan kembali ke depan."


Sheryn meraih ponselnya dan langsung mengangkat telponnya. "Halo." Sheryn menjawab dengan cepat.


"Siapa kau bilang?" Sheryn bertanya pada orang di sebrang telpon dengan dahi mengerut.


"Aku akan segera kesana." Sheryn mematikan telponnya lalu berjalan keluar untuk mencari managernya.


"Manager, bolehkah aku ijin pulang cepat?" tanya Sheryn.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Julian dengan penasaran saat melihat wajah cemas Sheryn.


"Iyaa, aku harus ke rumah sakit. Aku akan menceritkannya nanti."


Julian mengangguk. "Baiklah. Biar aku antar ke rumah sakit. Lebih cepat jika naik mobil dibandingkan kalau kau naik bis."


Sheryn berpikir sejenak. Yang dikatakan managernya ada benarnya. Dia sedang terburu-buru dan harus segera tiba di rumah sakit.


"Baiklah. Maaf karena sudah merepotkanmu."


"Tidak masalah. Ayo." Julian berjalan lebih dulu dan diikuti oleh Sheryn dari belakang setelah dia mengambil tasnya.


Di dalam cafe, Melvin dan Stein melihat Sheryn keluar bersama dengan Julian. Karena penasaran, Melvin langsung berdiri. "Ayo pergi."


Stein mengeluarkan uang di meja lalu mengikuti bosnya berjalan ke arah parkiran. Melvin menyuruhnya mengikuti mobil yang dinaiki oleh Sheryn sampai pada akhirnya tiba di rumah sakit.


"Apa yang dia lakukan di sini?" tanya Melvin ketika melihat Sheryn memasuki rumah sakit setelah turun dari mobil.


"Apa perlu saya selidiki, Tuan Muda?" tanya Stein.


"Tidak perlu. Aku akan mengeceknya sendiri."


Melvin turun dari mobil diikuti oleh Stein dan 4 orang pengawal di belakangnya.


******


Sheryn berjalan cepat menuju salah satu ruangan di rumah sakit itu dengan terburu-buru. Dia langsung membuka ruangan itu dan mendapati seorang wanita dan pria sedang berdiri di dekat ranjang pasien. Sheryn dengan cepat menghampiri wanita itu dan menoleh pada pria yang ada di samping kirinya itu dengan wajah marah.


"Apa kau tidak dengar apa yang aku katakan padamu? Sudah beberapa kali aku bilang, jangan pernah ijinkan siapapun untuk masuk ke sini. Aku membayarmu dengan sangat mahal untuk menjaganya agar tidak ada yang mendekatinya," ucap Sheryn dengan suara tinggi


Pria yang mengenakan setelah jas berwarna hitam itu membunguk dengan wajah bersalah. "Maafkan saya, Nona. Dia memaksa untuk masuk."


"Lain kali jangan pernah ijinkan siapapun untuk masuk ke sini tanpa seijinku. Siapapun itu!" ujar Sheryn dengan wajah marah.


Sheryn tertawa sinis kemudian tatapannya berubah menjadi dingin. "Aku yang akan merawatnya. Aku justru takut dia tidak akan pernah bangun, jika kau yang merawatnya."


"Sheryn, kau menuduhku ingin membunuhnya?" Wanita itu merasa tersinggung dengan ucapan Sheryn.


"Yaa," jawab Sheryn dengan wajah tegas.


Wanita itu mengepalkan tangannya berusaha untuk menahan amarahnya. "Aku tidak mungkin melakukannya, Sheryn. Aku mencintainnya. Bagaimana bisa kau menuduhku seperti itu?"


"Setelah kematian ayahku, aku tidak mempercayai siapapun lagi di dunia ini. Seseorang berusaha untuk membunuhnya saat menyelidiki kematian ayahku. Kau pikir aku akan menyerahkannya padamu setelah apa yang terjadi padanya?"


"Aku tidak pernah mencelakainya, Sheryn. Bagaimana pun dia adalah suamiku. Aku tidak mungkin membunuhnya."


Wanita itu mulai terpancing amarahnya, tetapi dia masih berusaha untuk menahannya. Wanita yang sedang berbicara dengan Sheryn adalah Laura, saudara tirinya.


"Kau pikir aku percaya denganmu? Di dunia ini tidak ada satupun orang yang bisa dipercaya, terlebih lagi kau dan Aric. Akan kugunakan semua koneksiku untuk mencari tahu siapa dalang dari kematian ayahku dan yang sudah berusaha untuk membunuh Harry. Akan kupastikan orang itu mendapatkan hukuman yang setimpal." Sheryn kemudian maju mendekati Laura dengan tatapan nyalang, "jadi larilah yang jauh sebelum aku berhasil menangkapmu. Kau, Aric dan ibumu, tidak akan aku beri ampun jika terbukti kalian ada kaitannya dengan semua ini."


Alasan kenapa Sheryn bekerja dengan keras adalah untuk membayar biaya rumah sakit Harry, membayar pengawal untuk menjaganya serta untuk menyewa orang untuk menyelidiki kematian ayahnya dan mencari kelemahan Laura dan ibunya.


Laura mengangkat kepalanya dengan wajah angkuh. "Buktikan saja kalau kau bisa."


"Kau tunggu saja. Aku tidak akan melepaskan kalian," ucap Sheryn dengan tangan terkepal. "Tinggalkan tempat ini segera, atau aku akan menyuruh pengawalku untuk menyeretmu keluar dari sini."


Laura mengertakkan giginya dengan mata yang memerah. "Sheryn, kau tidak bisa menyembunyikan Harry selamanya dariku. Dia adalah suamiku, tidak akan kubiarkan kau menguasainya."


Sheryn tesenyum sinis. "Dia sudah menceraikanmu. Kau tidak memiliki hak apapun terhadapnya. Silahkan tinggalkan tempat ini dan jangan pernah berani mendatanginya lagi. Mulai sekarang, aku akan melindunginya. Tak akan kubiarkan ada yang mencelakainya lagi" ucap Sheryn dengan marah. Wajahnya memerah dan tatapan menajam.


"Sheryn, kau akan menyesalinya nanti karena sudah membuatku marah."


"Cepat pergi!" usir Sheryn sambil menunjukkan ke arah pintu keluar.


Dengan wajah penuh amarah, Laura keluar dari ruangan itu. "Jangan biarkan dia masuk lagi ke sini," ucap Sheryn pada pria yang berdiri di sampingnya.


"Baik, Nona."


Sheryn kemudian berjalan mendekati ranjang dan duduk di kursi sambil memegang tangan pria itu. "Harry, bangun... kau bilang tidak akan meninggalkan aku. Cepat buka matamu. Jangan biarkan aku sendiri." Sheryn berkata dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca.


"Kak, banguuun. Apa kau bisa mendengar suaraku? Harry Filbert, bangunlah Kak."


Dari celah pintu yang sedikti terbuka, Melvin bisa melihat Sheryn begitu mengkhawatirkan pria yang sedang terbaring di ranjang pasien itu. Hatinya terasa perih dan sakit saat melihat pemandangan itu.


"Sheryn, apa aku datang terlambat? Kau begitu membenciku dan sangat mengkhawatirkan Harry. Kenapa kau berubah seperti ini?" gumam Melvin dalam hati.


Sebelum Sheryn menyadari keberadaanya di sana, Melvin melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.


"Cari tahu apa yang sudah terjadi dengan Harry dan cari tahu juga apa saja yang sudah terjadi dengan Sheryn setelah kepergianku," perintah Melvin pada Stein sambil berjalan ke arah mobilnya.


"Baik, Tuan Muda."


Bersambung....