Mysterious Man

Mysterious Man
Rache



"Apa yang membawamu kemari??" tanyanya lagi.


Jessica pun perlahan menatap bingkisan di tangannya dan meletakkannya di atas meja Jack,


"Selamat ulang tahun.." ucap Jessica dengan suara yang sedikit bergetar.


Jack terdiam seketika sambil menatap kado yang di berikan Jessica padanya,


"Mungkin ini sudah terlambat.. Tetapi, aku tetap harus memberikan kado ini padamu, karena... kado ini sudah aku persiapkan dari satu bulan yang lalu" ucapnya pelan.


"Kuharap.. Kau tidak menolaknya" lanjutnya lagi sambil menatap wajah Jack dalam.


Jack pun akhirnya hanya dapat menghela nafasnya dan mengambil kado yang di berikan Jessica itu,


"Terimakasih" ucap Jack pelan.


Jessica tersenyum pelan melihat Jack yang mengambil kado darinya. Setidaknya, pria itu tidak membuatnya malu dan masih peduli padanya, pikir wanita itu dalam hatinya.


Jessica menunduk sejenak dan menatap kembali kearah Jack. Ia menghela nafasnya dan memberanikan diri untuk kembali berbicara,


"Jack.. Bolehkah, aku bertanya sesuatu padamu??" tanyanya tiba-tiba.


Jack terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan..


Jessica kembali menghela nafasnya dan menatap Jack dalam,


"Mengapa.. Kau memilih mengakhiri hubungan kita??" tanyanya berani.


Jack menatap Jessica dan menghela nafasnya pelan,


"Bukankah aku sudah mengatakannya padamu saat itu??" tanyanya balik.


Mata Jessica mulai berkaca-kaca..


Wanita itu mencoba untuk tersenyum di hadapan pria yang di cintainya itu,


"Apa hanya karena itu??" tanyanya lagi dengan penuh keraguan.


"Mengapa kau tidak bisa memberiku kesempatan??" lanjutnya.


Jack kembali menatap wanita itu dan menggeleng pelan,


"Aku tidak bisa.." jawab Jack serius.


Jessica tersenyum miris dengan mata yang berkaca-kaca mendengar jawaban Jack,


"Apa.. Apa karena kau telah memiliki wanita lain??" tanyanya lagi tiba-tiba.


Jack menatap wanita itu dan menegakkan tubuhnya,


"Sebenarnya apa yang kau inginkan Jessica??" tanya Jack.


Jessica menatap pria itu dalam dan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku blazer coklatnya,


"Ini.." ujarnya sambil menunjukkan sebuah kalung yang sangat familiar di mata Jack.


Jack sedikit terkejut dan menatap kearah Jessica dengan tatapan seriusnya,


"Darimana kau mendapatkan kalung itu??" tanya Jack dingin.


Jessica tersenyum miris melihat reaksi Jack yang berubah dingin padanya setelah melihat kalung yang ia keluarkan,


"Kau menjatuhkan kalung ini saat terakhir kali kita bertemu di ruanganmu.. Apa ini milikmu??" tanyanya terdiam sejenak.


"Atau.. milik seorang wanita yang membuat hubungan kita berakhir??" lanjutnya tajam.


Jack menatap Jessica dengan tatapan datarnya,


"Kalung itu milikku" jawabnya.


Ia pun hendak mengambil kalung itu dari tangan Jessica, namun.. Jessica kembali menjauhkannya dari Jack,


"Jadi.. kalung ini benar milik seorang wanita yang membuat hubungan kita berakhir??" tanyanya lagi dengan tatapan sedihnya.


Jack menghela nafasnya dengan sedikit kasar melihat tingkah Jessica,


"Jessica, hubungan kita berakhir bukan karena ada wanita lain atau apapun itu. Hubungan kita berakhir karena memang aku tidak bisa mencintaimu" jawab Jack serius.


Pria itu berdiri dari duduknya dan menatap Jessica dengan tatapan seriusnya,


"Berhenti berpikir bahwa ada wanita lain yang membuat hubungan kita berakhir.. Hubungan kita berakhir karena aku memang bukan seseorang yang tepat untukmu. Aku tidak pernah mencintaimu.. Aku tidak ingin membohongimu lagi dan memberikanmu harapan yang semu" ucapnya.


Jessica seketika menunduk dan tidak bisa lagi menahan air matanya mendengar ucapan Jack,


"Kau pantas untuk bahagia Jessica.. bersama seseorang yang juga mencintaimu.. Dan, itu bukanlah aku" lanjut Jack.


Jessica semakin terisak dalam diam.. Hatinya terasa sangat hancur mendengar ucapan Jack. Ia pun menahan tangisannya dan menatap Jack kembali,


"Bagaimana jika seluruh kebahagianku itu hanya ada padamu??" tanyanya dalam.


"Bagaimana.. jika aku tidak dapat menemukan seseorang yang bisa membuatku bahagia seperti saat aku bersamamu??" tanyanya lagi.


Jack seketika terdiam dan mengalihkan tatapannya sejenak dari Jessica. Ia menutup matanya dan kembali menatap wanita itu,


"Kau pasti akan menemukannya suatu saat nanti. Kau pasti akan menemukan seseorang yang membuatmu lebih bahagia di bandingkan denganku" ujarnya pelan.


Jessica menggigit bibirnya untuk menahan tangisannya. Ia tersenyum miris dan kembali menunduk,


"Apa.. Gadis itu adalah Alice??" tanyanya tiba-tiba yang membuat Jack sedikit terkejut.


Jessica kembali mengangkat wajahnya dan menatap Jack sambil menunjuk kalung yang masih berada di tangannya,


"Apakah wanita yang membuatmu meninggalkanku adalah Alice??" ucap Jessica lagi tajam.


Jack hanya terdiam mendengarkan ucapan Jessica sambil menghela nafasnya,


"Apakah Alice telah menggoda mu dan membuatmu meninggalkan aku??" ucap Jessica lagi tajam.


Jack menghela nafasnya kasar dan menatap Jessica dengan tatapan dinginnya,


"Harus berapa kali aku katakan bahwa perpisahan kita bukan di sebabkan oleh wanita lain??" tanya Jack tajam.


Ia melangkah pelan mendekati Jessica dengan tatapan yang membuat Jessica menciut seketika. Jack memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan berdiri tepat di hadapan wanita itu.


Jack seketika merebut kalung yang berada di tangan Jessica dan menatapnya tajam,


"Jangan bawa-bawa Alice dalam masalah ini!" ucapnya memperingati.


Jessica hanya terdiam tak berkutik sambil menatap sorot mata Jack yang menakutkan. Namun, ia berusaha untuk tetap berdiri tegak di tempatnya sambil balas menatap mata Jack dengan berani,


"Jadi.. Benar kau telah memiliki hubungan dengan Alice??" tanyanya lagi.


Jack menatap Jessica dalam diam dan langsung membalikkan tubuhnya untuk kembali duduk di kursi miliknya,


"Mengapa kau bisa berpikir seperti itu?? Berhubungan ataupun tidak, kurasa kau tidak perlu tau bukan??" tanyanya balik.


Pria itu pun menghela nafasnya dan kemabli menatap berkas-berkas di mejanya,


"Apa kau sudah selesai?? Bisakah kau meninggalkan ruanganku sekarang?? aku sedang sibuk" ucap Jack lagi yang langsung mengambil beberapa berkas di atas mejanya untuk kembali di periksa.


Jessica pun menatap Jack untuk beberapa saat dan menghapus air matanya. Setelah itu ia pun meninggalkan ruangan Jack tanpa berkata sepatah katapun lagi.


Jack menatap kepergian Jessica dan menghela nafasnya dalam..




Hari sudah menunjukkan pukul 11.45 siang. Alice memijat sedikit pundaknya yang terasa pegal karena sudah beberapa jam berkutat dengan berkas-berkas yang harus ia susun.



Alice berpikir, berkas yang harus dia susun tidaklah begitu banyak. Tetapi, ternyata berkas-berkas ini sangatlah banyak per setiap tahunnya dan tidak cukup waktu baginya untuk menyelesaikan semua ini sampai jam istirahat.



Alice meregangkan otot-ototnya dan memilih untuk beristirahat sejenak..



Namun, tiba-tiba pintu ruangan pun terbuka dan memperlihatkan Jessica yang masuk ke dalam dengan tatapan dinginnya.



Alice seketika duduk tegak dan menatap kearah Jessica.


Jessica menatap Alice dengan tajam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.



Dalam pikirannya, ia ingin sekali mencabik-cabik wajah Alice saat ini juga dengan tangannya. Namun, wanita itu menahan amarahnya dan memasang senyumannya pada gadis itu,



"Apa kau sudah selesai??" tanyanya.



Alice seketika menatap berkas-berkas yang masih berantakan di mejanya dan menggeleng pelan,



"Belum" jawabnya pelan.



Jessica menatap meja Alice dan menghela nafasnya,



"Kukira kau bekerja cukup cepat.. Sepertinya masih ada banyak berkas yang belum disusun.." ujarnya.



Jessica pun menatap jam di pergelangan tangannya,



"Sebentar lagi akan masuk jam istirahat. Bisakah... Kau menyelesaikannya terlebih dahulu sebelum istirahat?? Aku benar-benar butuh berkas-berkas itu selesai sekarang juga" ujarnya dengan wajah bersalah.



Alice terdiam sesaat dan akhirnya hanya dapat menghela nafasnya pelan sambil mengangguk dengan terpaksa. Jessica pun tersenyum melihat jawaban gadis itu,



"Terimakasih.. Aku akan kembali lagi nanti" ucapnya lalu berlalu keluar ruangan itu.



Saat di luar ekspresi Jessica pun berubah menjadi dingin. Wanita itu menatap pintu ruangan di belakangnya sambil mengepalkan tangannya.



Sebenarnya dia sangat ingin menampar wajah Alice dan meluapkan emosinya. Tapi, Jessica bukanlah tipikal wanita yang mudah meluapkan amarah seperti itu.



Ia akan memberi pelajaran pada seseorang yang telah merebut kekasihnya dengan cara yang elegan dan tidak disadari. Walaupun Jack tidak mengatakan langsung bahwa ia memiliki hubungan dengan Alice, tetapi Jessica yakin, mereka berdua telah menjalin sebuah hubungan.



Lagipula jika ia langsung memberi pelajaran pada Alice, sudah pasti gadis itu akan mengadu pada Jack dan membuat hubungannya dan Jack semakin merenggang..



Ia akan membuat Jack membenci Alice dan membuat pria itu kembali bersamanya, tekadnya dalam hati.



Bersambung..



Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊


Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺



Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..


Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁