
Seorang gadis terlihat tengah berjalan di koridor universitas dengan tatapan datarnya. Pandangan orang-orang di sekitarnya terlihat terpesona dengan penampilan gadis itu.
Rambut panjang hitamnya terlihat di buat sedikit bergelombang. Kacamata yang biasa bertengger di matanya terlihat sudah di gantikan dengan lensa yang sesuai dengan warna matanya.
Gadis itu merasa sedikit gugup karena ia tidak terbiasa menjadi pusat perhatian. Namun, ia mencoba untuk membiasakan diri dengan perubahan itu.
'Jadi.. seperti ini rasanya menjadi pusat perhatian??' pikirnya dalam hati.
Gadis itu tersenyum dan mulai melangkah dengan percaya diri..
Terlihat beberapa gadis yang tengah berkumpul menatap kearah gadis itu,
"Hey lihat, bukankah itu gadis bermata empat yang ada di fakultas matematika??" tanya seorang gadis pada temannya.
Gadis lain pun mulai memperhatikan dan mengangguk pelan,
"Benar, itu dia. Ada apa ini, mengapa ia merubah penampilannya??" timpal yang lain dengan nada suara yang sedikit mengejek.
"Kurasa.. Dia ingin cari perhatian saja. Mungkin dia sedang mencoba menggaet seorang pria" ledek gadis yang lain dengan terkikik pelan.
Sherly yang dapat mendengar bisikan-bisikan gadis itu terlihat mengepalkan tangannya dan membalikkan tubuhnya untuk menatap sekumpulan gadis-gadis itu.
Ia mendekati mereka dan mendelik tajam,
"Jika kalian tidak bisa berkata baik untuk menghargai orang lain, lebih baik kalian diam saja!" ucapnya tajam.
Salah satu gadis menyeringai sinis dan maju ke hadapan Sherly,
"Apa kau tersinggung?? Jika yang kami ucapkan itu tidak benar seharusnya kau tidak usah ambil pusing!" balasnya.
Gadis itu memperhatikan penampilan Sherly dari atas sampai bawah dengan tatapan mencemooh,
"Apa kau pikir kau sudah seperti itik buruk rupa yang berubah menjadi seorang putri??" ledeknya lagi.
Sherly yang semakin emosi sudah tidak bisa lagi mengontrol emosinya. Ia tidak ingin menjadi gadis bodoh seperti dulu lagi yang selalu diam jika dihina dan di rendahkan.
Kakaknya sudah bersusah payah mengubah penampilannya seperti ini atas permintaannya. Ia ingin membuang image dirinya yang dulu dan berubah menjadi Sherly yang baru. Sherly yang tidak takut pada apapun dan percaya diri.
Sherly pun mendekati gadis yang menghinanya tadi dan mendorong bahunya cukup kuat sampai gadis itu terhuyung ke belakang,
BRUK!!
"Jaga ucapanmu!! Kau pikir kau siapa?? Kau bahkan jauh lebih buruk daripada aku!!" ucap Sherly tajam.
Seketika gadis yang terhuyung tadi terlihat terkejut dengan tindakan Sherly dan balas mendorong bahu Sherly juga,
"HEY!!! Beraninya kau mendorongku dasar ******!!!" ucapnya keras.
Ia pun dengan segera menyerang Sherly dan menjambak rambutnya,
"ARGHH!! RASAKAN INI!!! DASAR ITIK BURUK RUPA!!!" teriaknya.
Sherly mencoba menahan tangan gadis yang menjambaknya itu dan mendorongnya,
"MENYINGKIR DARIKU!!!" teriaknya.
Namun gadis yang menyerang itu tidak mau kalah dan dengan kuat mendorong tubuh Sherly ke belakang.
Sherly yang kehilangan keseimbangan seketika akan terjatuh. Namun.. tiba-tiba seorang pria pun mendekatinya dan menahan tubuh Sherly,
GREP!!
Sherly yang terlihat sudah menutup matanya dan pasrah untuk terjatuh, tiba-tiba membuka matanya perlahan saat ia merasakan sepasang tangan besar yang menahan tubuhnya,
DEG!!
Seketika gadis itu merasakan jantungnya berdebar dengan kencang saat ia melihat wajah Justin yang berjarak cukup dekat dengannya. Tangan pria itu merangkul tubuhnya dan menahannya agar tidak terjatuh.
Justin menatap gadis-gadis yang menyerang Sherly tadi dengan tajam,
"Apa yang kalian lakukan!!" tanyanya super dingin dan tajam.
Seketika para gadis itu terlihat salah tingkah mendengar ucapan Justin dan menunduk.
Sherly yang masih menatap dalam wajah Justin seketika tersadar dan menegakkan tubuhnya kembali. Ia pun mencoba mengatur detak jantungnya dan merapihkan rambutnya yang terlihat sedikit berantakkan.
"Dia yang mulai menyerang ku terlebih dahulu!!" ucap gadis yang menyerang Sherly tadi.
Sherly seketika terbelalak dan menatap tajam pada gadis itu,
"Hey!! Kau dan teman-temanmu yang lebih dulu menghinaku!!" ujarnya cukup keras.
Gadis-gadis itu hendak kembali berbicara dan menyerang Sherly namun, Justin pun mengangkat tangannya untuk melerai dan meminta mereka semua diam,
Justin menghela nafasnya pelan dan kembali menatap gadis-gadis itu,
"Lebih baik kalian bubar sekarang sebelum aku melaporkan kalian!" ancamnya.
Para gadis itu pun menatap Sherly dengan tajam dan berlalu pergi. Sherly yang melihat hal itu hanya mendengus kesal pada mereka semua.
Setelah mereka bubar, Sherly pun menatap Justin dengan malu-malu,
"Ekhem... Terimakasih, telah membantuku mengusir gadis-gadis menyebalkan itu" ucapnya pelan.
Justin menatap Sherly dan memperhatikan penampilannya sekilas,
"Tidak apa-apa.. Mereka cukup mengganggu. Dan aku tidak suka ada keributan" balasnya.
Sherly pun tersenyum mendengar jawaban Justin.
Justin terdiam sejenak dan kembali menatap Sherly,
"Penampilanmu bagus" ucap Justin tiba-tiba yang membuat jantung Sherly kembali berdebar tidak karuan.
Gadis itu menatap Justin dengan pipi yang sedikit bersemu merah,
"Jangan dengarkan kata mereka. Kau cantik.. Bahkan aku sempat tidak mengenalimu tadi" ucap Justin tersenyum.
Sherly hanya tersenyum lembut dan mengangguk pelan pada Justin. Pria itu memang selalu perhatian dan baik, pikirnya.
Justin mengarahkan pandangannya ke sekitar sambil menyentuh tengkuknya,
"Oh iya.. Apa, kau bertemu dengan Alice??" tanyanya sedikit malu-malu.
Seketika senyuman Sherly pun menghilang saat Justin tiba-tiba bertanya tentang Alice padanya. Gadis itu memasang wajah dinginnya dan menggeleng,
"Tidak" jawabnya acuh.
Justin pun mengangguk pelan,
"Ah.. iya aku baru ingat.. Alice pasti sedang melaksanakan tugas magangnya" ucap Justin.
"Sudah lama aku tidak bertemu dengannya.. Aku baru kembali dari luar kota. Ini hari pertamaku kembali berkuliah" ucapnya.
Justin memang sudah izin tidak masuk kuliah selama 10 hari karena ayahnya yang sakit dan harus di rawat di luar kota.
Sherly terlihat menghela nafasnya dan menatap Justin,
"Jika kau ingin bertanya tentang Alice, jangan tanya padaku!" ucapnya dingin yang membuat Justin seketika mengernyitkan keningnya.
"Memangnya.. kenapa??" tanya pria itu tidak mengerti.
Sherly terdiam sejenak dan kembali menatap Justin dengan tatapan dinginnya,
"Aku dan Alice bukan lagi teman. Jadi.. jangan bertanya apapun tentangnya padaku!!" tegasnya lagi.
Justin semakin mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Sherly. Ada apa ini?? Apakah ada sesuatu hal yang terlewatkan olehnya?? pikirnya tidak mengerti.
Sherly hendak melangkah pergi meninggalkan Justin, namun pria itu dengan cepat menahannya,
"Tunggu!! Sebenarnya ada apa?? Apa ada masalah di antara kalian berdua??" tanyanya.
Sherly menatap tangan Justin yang menyentuhnya dan terdiam. Ia menatap Justin kembali dengan tatapan dinginnya,
"Aku tidak berteman dengan seseorang yang telah merebut kekasih kakak sahabatnya sendiri!" tegas Sherly tajam.
Ia pun melepaskan genggaman tangan Justin dan berlalu dengan perasaan yang sakit.
'Tidak bisakah kau melihatku sedikit saja?? Mengapa harus selalu gadis itu??' pikir Sherly sedih dalam hatinya.
Sementara Justin hanya terdiam di tempatnya dengan perasaan yang tidak menentu,
'Sebenarnya apa yang terjadi??' pikirnya tidak mengerti.
Bersambung..
Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊
Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺
Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..
Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁
Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍