Mysterious Man

Mysterious Man
Asisten



"Alice... telah merebut Jack dari kakak!!" lanjutnya yang membuat Sherly terkejut seketika.


"Itu tidak mungkin!" ucap Sherly membantah.


"Alice bukanlah gadis seperti itu! Dia tidak mungkin merebut Kak Jack!! Kenapa kakak bisa berpikir seperti itu?? Apakah kakak punya bukti??" lanjutnya tidak percaya.


Jessica tersenyum miris mendengar ucapan sang adik. Ia pun dengan segera mengeluarkan handphonenya dan memperlihatkan foto Jack dan Alice yang di kirim oleh seseorang misterius beberapa hari lalu.


Sherly mengambil handphone sang kakak dengan jantung yang berdebar. Ia pun melihat foto-foto itu dan terkejut. Walaupun foto itu tidak jelas, tetapi Sherly cukup yakin bahwa di dalam foto itu adalah sahabatnya, Alice..


"Tidak mungkin!! Darimana kakak mendapatkan foto ini?? Bisa saja ini hanya sebuah editan" sanggah Sherly lagi.


Jessica tersenyum sinis dan menatap Sherly dengan serius,


"Mengapa kau begitu tidak percaya??" tanyanya tajam.


"Seseorang yang kau anggap baik, belum tentu ia sebaik yang kau kira! Bisa saja, ternyata ia memiliki pedang di balik punggungnya.. dan menusuk mu dari belakang" ujar Jessica dingin.


Sherly masih terlihat syok dan tidak mempercayai ucapan sang kakak,


"Tidak mungkin.." ucapnya lagi.


Jessica pun membalikkan tubuhnya dengan wajah yang menahan emosi,


"Jika kau tidak percaya.. Maka tanyakan sendiri pada sahabatmu itu!!" ujarnya tajam.


Ia pun berlalu meninggalkan sang adik yang masih berdiri terdiam dengan perasaan syok nya.


"Tidak.. Alice tidak mungkin melakukan hal seperti itu" bisiknya penuh harap.




Keesokan harinya, Alice terlihat baru masuk ke dalam Perusahaan Switzer.



Gadis itu pun berjalan kearah seorang resepsionis..


Resepsionis wanita yang mengenal Alice itu pun seketika tersenyum padanya,



"Selamat pagi.. Kau, yang bernama Alice kan??" tanyanya tiba-tiba.



Alice pun perlahan mengangguk pelan. Resepsionis itu pun seketika memberikan sesuatu pada Alice,



"Ini.. Hari ini kau akan bertugas di lantai paling atas, untuk menjadi asisten dari sekertaris Tuan Jack" ucapnya.



Alice seketika mengernyitkan keningnya,



"Asisten sekertaris??" tanyanya lagi memastikan yang langsung di beri anggukan oleh resepsionis itu.



"Iya.. Kau bisa langsung ke lantai atas dan bertemu Morgan, sekertaris dari Tuan Jack" ujarnya lagi.



Alice terlihat ragu dan masih terdiam di tempatnya. Mengapa anak magang sepertinya bisa menjadi asisten sekertaris?? pikirnya.


Apa.. Jangan-jangan ini perintah dari Jack??



Gadis itu pun menghela nafasnya dan mulai melangkah pergi menuju lantai atas..



~



Setelah berada di lantai atas, Alice pun di sambut oleh Morgan yang telah menunggunya.



Morgan tersenyum pada Alice sambil sedikit membungkukkan tubuhnya,



"Selamat pagi Nona.. Perkenalkan, aku Morgan, sekertaris dari Tuan Jack" ucapnya memperkenalkan diri.



Alice hanya mengangguk pelan pada Morgan,



"Aku ditugaskan untuk membimbing Nona hari ini.. Dan, kebetulan Nona akan menjadi asistenku, jadi.. pekerjaan Nona hari ini adalah membantu beberapa pekerjaanku" lanjut Morgan menjelaskan.



"Sebagai asisten sekertaris, otomatis pekerjaan Nona juga akan berhubungan langsung dengan Tuan Jack. Jadi.. Nona akan stand by di samping Tuan Jack untuk membantu pekerjaannya juga" lanjutnya.



Alice terdiam sejenak dan menatap kearah Morgan,



"Bukankah aku hanya karyawan magang?? Kenapa aku bisa menjadi asisten sekertaris??" tanyanya tidak mengerti.



Morgan seketika terdiam dan terlihat sedikit salah tingkah,



"Apa.. Tuan Jack yang memilihku langsung??" tanya Alice sedikit curiga.



Morgan tersenyum dengan canggung sambil menggaruk lehernya pelan,



"Ah.. Itu..." ucapnya terputus saat tiba-tiba Jack sudah berdiri di belakang Alice.



"Iya.. Itu semua permintaanku langsung" ucap Jack yang membuat Alice sedikit terperanjat dan langsung membalikkan tubuhnya menghadap pria itu.



Jack pun memasang senyuman lembutnya pada sang kekasih. Sedangkan Alice terlihat menghela nafasnya dan sedikit keberatan,



"Bisakah kita bicara??" tanya Alice memohon.



Jack menatap raut wajah Alice sejenak dan mengangguk pelan,



"Ayo kita masuk" ucapnya mengajak Alice untuk masuk ke dalam ruangannya.



Setelah masuk ke ruangan Jack, Alice pun langsung menatap pria itu dengan keberatan,



"Jack.. Mengapa kau menugaskan ku menjadi asisten sekertaris?? Bukankah hal ini dapat membuat kecurigaan dari orang lain?? Mereka pasti akan berpikir aneh karena mahasiswa magang sepertiku bisa menjadi wakil sekertaris mu" ucapnya protes.



Jack menatap kekhawatiran dari wajah sang kekasih dan perlahan mengangkat tangannya untuk mengusap lembut pipi Alice,




Alice pun menghela nafasnya pelan mendengar ucapan Jack,



"Tapi Jack.." ucapnya terputus saat Jack menaruh jari telunjuknya di bibir Alice dengan lembut.



"Jangan khawatirkan apapun.. Aku juga akan memberikanmu pekerjaan secara profesional, aku tidak bermaksud mengistimewakan mu atau apapun.. Aku hanya ingin kau berada di dalam jangkauanku" ucapnya.



Alice terdiam sejenak mendengar ucapan Jack. Ia menunduk sejenak sambil menggeleng pelan,



"Tapi Jack.. Hal itu dapat membuat orang lain berpikiran yang tidak-tidak" ujarnya.



"Mereka akan mulai curiga dan mengetahui tentang hubungan kita.." lanjut Alice khawatir.



Jack terdiam mendengar ucapan Alice dan menatap gadis itu dalam,



"Memang itu yang ingin aku tunjukkan pada mereka.." ucapnya terdiam sejenak.



"Aku... Ingin mereka mengetahui tentang hubungan kita. Tidak perlu ada lagi yang di tutup-tutupi" ucapnya serius.



Alice terlihat sedikit terkejut dan menggeleng pelan,



"Tidak Jack.. Ini bukan waktu yang tepat.. Lagipula, jika Jessica tau..." ucapnya terpotong saat Jack berbicara.



"Dia pasti sudah tau" ujar Jack yang membuat Alice menatapnya.



"Ibuku pasti sudah memberitahunya.." lanjut Jack.



"Jadi.. Tidak perlu ada lagi yang ditutup-tutupi" ucapnya.



Alice pun seketika terdiam dengan perasaan yang tidak menentu. Jadi.. Jessica juga sudah tau?? pikirnya sedikit khawatir.



Jika semua orang mengetahui hubungan mereka, mereka semua pasti berpikir bahwa ia telah merebut dan menggoda Jack agar pria itu mengakhiri hubungannya dengan Jessica. Dan.. Alice belum siap dengan hal itu..



Jack menakup wajah kekasihnya itu dan menatapnya lembut,



"Jangan khawatirkan apapun.. Aku ada disini.. Kita bisa melalui semua ini bersama-sama" ujarnya menatap mata Alice dalam.



Alice pun akhirnya hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Apakah semuanya akan baik-baik saja setelah ini?? pikirnya ragu.



Disisi lain,


Terlihat Jessica yang baru saja tiba di kantor dengan matanya yang masih terlihat sedikit sembab. Wanita itu tidak memperdulikan hal itu dan berjalan dengan tatapan dinginnya.



Jessica yang ramah dan murah senyum itu seperti telah hilang di telan bumi. Semua orang yang melihatnya bisa dengan sangat jelas melihat perubahan itu. Bahkan sorot matanya pun telah berubah menjadi gelap..



Jessica masuk ke salah satu ruangan dan melihat seorang staff bersama dengan Irene yang telah menunggunya.



Wanita itu menatap ke sekitar dengan tatapan tajamnya,



"Dimana mahasiswa satu lagi?? Apa dia belum datang??" tanyanya dingin setelah menyadari tidak adanya Alice di ruangan itu.



Staff wanita itu pun mendekati Jessica dengan senyuman pelannya,



"Dia sudah datang.." ucapnya terputus yang membuat Jessica sedikit mengernyitkan keningnya.



"Lalu dimana dia??" tanyanya lagi tajam.



Staff itu pun menatap Jessica dengan sedikit tersenyum,



"Mahasiswa yang bernama Alice, telah di tugaskan di lantai atas untuk menjadi asisten sekertaris Tuan Jack" ucapnya yang membuat Jessica terkejut seketika.



"Apa?? Asisten?? Siapa yang menugaskannya??" tanya Jessica mulai emosi.



Staff itu terlihat sedikit menunduk melihat ekspresi Jessica yang sedikit menyeramkan,



"Tuan.. Tuan Jack sendiri yang menugaskannya" jawab staff itu.



Jessica seketika terbelalak dengan perasaan yang kembali terasa panas dan sakit secara bersamaan.


Apa?? Jack menugaskan Alice langsung untuk menjadi asisten sekertaris nya?? pikirnya tidak rela.



Jadi.. Apa Jack akan mulai terang-terangan sekarang tentang hubungannya dan Alice?? pikirnya marah sambil mengepalkan tangannya.



Bersambung..



Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊


Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺



Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..


Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁