
Jessica tengah menunduk dengan berbagai pikiran di kepalanya. Ia terlihat tidak bersemangat sambil menatap pergelangan tangannya yang telah di perban.
Pikirannya pun tiba-tiba kembali teringat saat dirinya melihat Jack dan Alice yang berciuman beberapa hari yang lalu.
Seketika wanita itu kembali merasakan sesak di hatinya. Ia merasa kesal dan marah jika mengingat kembali adegan panas itu. Wanita itu lebih memilih di tampar ratusan kali daripada harus melihat pria yang ia cintai berciuman dengan wanita lain.
Bahkan saat dirinya dan Jack masih berhubungan pun, ia tidak pernah bisa menyentuh bibir pria itu. Bibir yang selalu ia inginkan untuk menyentuh bibirnya..
Jessica mengepalkan tangannya kuat dan kembali menjadi emosional. Matanya mulai berkaca-kaca dan tangannya tanpa ia sadari telah meremas luka goresan di pergelangan tangannya sampai kembali mengeluarkan darah.
Tanpa gadis itu sadari, seorang pria telah berdiri tidak jauh darinya dengan tatapan dinginnya..
Perlahan Jessica pun meremas rambutnya dan tanpa sengaja mengangkat wajahnya hingga membuat ia menatap kearah Jack yang berdiri tidak jauh dari tempat tidurnya.
Seketika wanita itu terbelalak terkejut saat melihat Jack. Ia perlahan mengerjapkan matanya dan berharap yang ia lihat itu bukanlah sebuah halusinasi..
Jack perlahan melangkah semakin dekat kearah Jessica. Ia berdiri di hadapan wanita itu dengan tatapan yang masih sedingin es,
"Ja.. Jack??" sahutnya pelan.
Jack terdiam sejenak dan menatap pergelangan tangan Jessica yang terlihat kembali mengeluarkan darah dari perbannya. Pria itu menghela nafasnya pelan dan menatap kembali Jessica,
"Apa yang kau lakukan??" tanyanya dingin.
Jessica menyentuh pergelangan tangannya dan menunduk dengan air mata yang tertahan. Ia menggigit bibirnya pelan agar tidak menangis.
Wanita itu pun hanya dapat tersenyum dengan perasaan miris,
"Seperti yang kau lihat..." ucapnya pelan.
"Mungkin aku sudah mulai bosan untuk hidup" lanjutnya.
"Atau...." ucapnya lagi terputus.
"Atau aku merasa tidak ada gunanya lagi untuk hidup" lanjutnya dengan nada suara yang bergetar.
Jack menanggapi jawaban Jessica dengan dingin. Pria itu terlihat mencoba untuk sabar menghadapi sikap Jessica yang sudah di luar batas itu..
"Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan orang tuamu dan Sherly saat melihatmu seperti ini??" tanya Jack sedikit tajam.
"Sebenarnya apa yang membuatmu menjadi seperti ini?? Apa yang ada dalam pikiranmu??" tanya Jack lagi tidak habis pikir.
Jessica semakin menundukkan wajahnya dan terlihat memeras selimutnya sambil menahan tangis. Ia tersenyum sinis dan menahan tangisnya,
"Menurutmu?? Mengapa aku bisa menjadi seperti ini??" tanyanya balik sambil mengangkat wajahnya untuk menatap Jack.
"Apakah kau bisa membayangkan, bagaimana perasaan seseorang yang harus kehilangan orang yang ia cintai, dan secara tiba-tiba orang yang kau cintai itu telah memiliki kekasih lain secepat itu, lalu melihatnya bermesraan dengan kekasih barunya di depan matamu??" tanyanya tajam.
"Bukankah itu rasanya sangat sakit??" ucapnya lagi dengan suara yang bergetar.
Jessica menatap Jack dan tidak bisa lagi menahan air matanya. Wanita itu mulai menangis dalam diam,
"Kau tidak tau bagaimana rasanya ketika seseorang yang kau cintai tiba-tiba meninggalkanmu dan memilih wanita lain" rintihnya.
Jack terdiam sejenak mendengarkan perkataan Jessica. Ia membiarkan wanita itu untuk mengeluarkan segala yang ada di dalam hatinya terlebih dahulu agar membuatnya merasa lebih baik.
Jessica kembali menangis untuk beberapa saat.. Dan, Jack hanya diam membiarkan wanita itu untuk meluapkan segala emosinya.
Sedangkan di balik pintu, Sherly terlihat menguping pembicaraan Jessica dan Jack. Ia merasakan sesak di hatinya mendengar sang kakak menangis. Walaupun sebenarnya ia sangat ingin mengusir Jack agar kakaknya tidak kembali bersedih, tetapi.. ia mengurungkan niatnya dan membiarkan kedua orang itu untuk saling bicara.
Setelah Jessica mulai sedikit tenang, Jack pun menatap wanita itu dengan tatapan seriusnya,
"Sekarang biarkan aku yang berbicara.." ucap Jack yang membuat Jessica terdiam dan menunduk.
"Bukankah kau sudah sangat tau bagaimana perasaanku padamu sebelumnya?? Dan bukankah kau juga sudah sangat tau, berapa kali aku ingin hubungan kita untuk di akhiri??" tanyanya dingin yang membuat Jessica kembali menangis dalam diam.
"Terakhir kali saat aku menemui ayahmu pun, bukankah kau juga mendengar pembicaraan kami??" tanyanya yang membuat Jessica tidak dapat berkata-kata lagi.
"Hubungan kita sejak awal sudah menjadi sebuah kesalahan.. Bukankah menurutmu seharusnya aku saat itu tidak membalas pernyataan cinta darimu??" lanjutnya.
Jessica tidak dapat menjawab pertanyaan Jack dan semakin menunduk dalam dengan perasaan sakit. Jack menghela nafasnya dan kembali menatap Jessica,
"Sekarang berhentilah berpikir dan beranggapan bahwa aku mengakhiri hubungan kita karena Alice. Sebelum aku menyatakan perasaanku pada Alice pun, hubungan kita telah selesai Jessica.." ucapnya.
Jessica terlihat masih tersedu dan menangis dalam diam. Hatinya sesak.. sangat sesak dan sakit mendengar semua ucapan Jack.
Jack melangkah mendekati Jessica dan menatapnya dengan tatapan yang sedikit melembut,
"Kau adalah wanita yang baik Jessica.. Sangat baik.." ucap Jack yang membuat Jessica menatap kearahnya dengan berlinang air mata.
"Kuakui banyak sekali hal-hal yang positif yang bisa aku jadikan pelajaran saat bersama denganmu.. Tapi.. sayangnya sekeras apapun aku memberimu kesempatan, hatiku tidak pernah bisa terbuka" lanjutnya.
"Kau berhak untuk bahagia dengan seseorang yang juga mencintaimu, tidak seperti aku.. Jika hubungan kita terus berlanjut, maka itu sama saja kita saling membohongi perasaan masing-masing, dan.. bukankah sangat lelah menjalani hubungan seperti itu??" ucap Jack lagi.
Jessica pun mulai berhenti menangis dan terdiam sambil menunduk. Wanita itu terlihat sudah lelah dan menyerah dengan keadaan. Apakah ia harus menerima semua keadaan ini sekarang?? pikirnya sedih.
Wanita itu pun perlahan mengangkat wajahnya dan menghapus air matanya. Ia menatap kearah Jack dan tersenyum pelan,
"Mungkin kau benar..." ucapnya yang membuat Jack menatap kearahnya dalam diam.
"Aku juga lelah menjadi seperti ini.. Aku lelah mengharapkan balasan cinta dari seseorang yang tidak bisa mencintaiku.." lanjutnya bergetar.
"Mungkin aku harus bisa menerima semuanya dengan lapang dada" ucapnya lagi.
Ia pun menarik nafasnya pelan dan menghembuskannya secara perlahan. Lalu wanita itu pun menatap Jack dan tersenyum lembut,
"Mulai hari ini.. Aku akan belajar melupakanmu, dan mulai menghargai diriku sendiri" ucapnya pelan.
Jack pun menghela nafasnya lega dan mengangguk pelan menanggapi ucapan wanita itu,
"Kau harus melakukan itu.. Hidupmu sangat berharga" balas Jack.
Jessica pun tersenyum pelan dan menatap pria di depannya dengan tatapan dalamnya. Ia pun perlahan mengangkat tangannya dan mengulurkan sebelah tangannya pada Jack,
"Walaupun kita tidak bisa bersama sebagai sepasang kekasih.. Tapi, maukah kau.. menjadi temanku??" tanyanya penuh harap.
Jack terdiam sejenak sambil menatap tangan Jessica yang terulur kearahnya. Pria itu pun perlahan mengangkat tangannya dan balas menjabat tangan Jessica,
"Tentu saja" jawab Jack dengan wajah datarnya seperti biasa.
Setidaknya sekarang Jessica mulai menerima keadaan dan tidak menyalahkan apapun lagi atas berakhirnya hubungan mereka. Mungkin berteman akan jauh lebih baik, pikirnya.
Jessica pun menjabat tangan pria itu dan tersenyum padanya. Mungkin berteman dengan Jack sekarang adalah pilihan yang tepat.. Setidaknya ia masih bisa dekat dengan pria itu dan selalu berada di sekitarnya.
Dan, siapa tau..
Perasaan Jack padanya bisa berubah kembali... pikirnya masih berharap dalam hati.
Bersambung..
Halo, jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya untuk mendukung cerita ini βΊοΈ
Jangan tanya, author sedang nge blank sama cerita ini, duh.. kapan beresnya π₯²
Oh iya, kalau baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktu ππ