Mysterious Man

Mysterious Man
Kembali Berjumpa



“Aku berangkat dulu, Sayang,” ucap Melvin ketika sudah mencapai pintu apartemennya.


“Iyaa,” jawab Sheryn seraya memegang pintu agar tidak tertutup.


“Apa kau yakin tidak mau ikut denganku ke kantor?”


Ini yang ketiga kalinya Melvin bertanya pada Sheryn mengenai hal itu. Dia seperti tidak tega meninggalkannya sendirian di apartemen.


“Tidak. Aku di sini saja. Lagi pula, aku ingin berbelanja baju nanti siang. Aku tidak memiliki baju kerja di sini.”


Melvin baru ingat kalau besok Sheryn akan mulai bekerja di kantornya. “Aku akan meminta orang untuk menjemputmu. Nanti beritahu aku jam berapa kau akan berbelanja. Dia akan menghubungimu jika sudah sampai."


“Iya. Berangkatlah.”


Melvin meraih dompetnya dari saku kemudian mengambil satu kartu lalu memberikannya pada Sheryn. “Pakai ini untuk berbelanja nanti.”


“Tidak perlu, Melvin, aku juga....”


“Ambil jika kau masih menghargaiku sebagai kekasihmu.”


Melihat wajah Melvin yang tidak ingin dibantah, Sheryn akhirnya mengambilnnya. “Baiklah, terima kasih.”


“Jangan melihat harga jika kau menginginkan sesuatu. Aku tidak suka kau terlalu irit. Jangan membuatku terlihat seperti pria yang pelit. Aku akan memantau penggunaan kartu ini. Jika aku lihat kau hanya menghabiskan sedikit, aku akan marah. Kau akan menjadi istriku nanti. Semua yang aku miliki akan menjadi milikmu juga jadi jangan pernah berpikir kalau kau menggunakan uang orang lain.”


Melvin sudah bisa membaca pikiran Sheryn hanya melihat dari ekspresi wajahnya saja. Dia tahu kalau Sheryn pasti tidak akan memakai kartunya dengan leluasa. Maka dari itu, Melvin berkata seperti itu. Meskipun Sheryn tidak sekaya dirinya, tapi dia juga terlahir dari keluarga kaya. Mana mungkin Melvin membiarkan kekasihnya itu berhemat.


“Iyaa, aku tahu.” Tidak ada gunanya berdebat dengan Melvin, mereka hanya akan bertengkar jika dia masih menolaknya.


“Aku pergi dulu.”


Setelah kepergian Melvin. Sheryn masuk ke dalam apartemennya kembali. Siang harinya, sebelum pergi ke mall. Dia memutuskan untuk bersantai di salah satu cafe yang ada di lantai paling bawah apartemen Melvin. Dia merasa sangat bosan karena seharian dia hanya bermain ponsel dan menonton televisi.


Selesai memesan makanan dan minuman, Sheryn berjalan ke arah tempat duduk yang berada di dekat dinding kaca yang menghadap ke jalan raya. Tidak lama setelah dia duduk, pesanannya tiba.


Saat sedang menikmati makanannya, tiba-tiba terdengar suara dari sampingnya. “Ternyata kita bertemu lagi, Nona Sheryn.” Seorang pria berdiri di dekat meja Sheryn seraya menatap ke arahnya.


Sheryn menoleh dan terlihat mengingat sejenak siapa gerangan pria itu.


“Apa aku boleh duduk di sini?” tanya Pria itu lagi ketika melihat Sheryn nampak masih diam.


“Silahkan saja, kursi ini bukan milikku. Siapapun bebas untuk duduk di sini.”


Sebenarnya, Sheryn tidak suka berbasa-basi dengan orang yang tidak dikenal, tapi karena pria ini sudah menolongnya kemarin, dia menjadi sungkan padanya.


“Sepertinya kau tidak suka dengan kedatatanganku," ucap Alan dengan raut wajah kecewa.


"Jangan salah paham, aku hanya tidak suka berbasa-basi."


Alan tersenyum lalu berkata, "Aku suka wanita yang berterus terang sepertimu."


Sheryn memandang wajah pria yang duduk di depannya itu. Wajah tampan, senyumnya juga manis. Ketika berbicara juga santun. Sheryn berpikir kalau pria itu adalah pria yang baik.


"Apa kau tinggal di sini? Kau tidak mungkin kebetulan ada di sini, kan? Terlebih lagi, jika kau tidak tinggal di apartemen ini," ujar Sheryn.


Pria itu kembali tersenyum. Senyum yang mampu memikat siapa saja yang melihatnya. "Tidak, aku tidak tinggal di sini, temanku yang tinggal di sini. Kebetulan kami memang berjanji bertemu di cafe ini," terang Alan.


Sheryn membulatkan mulutnya setelah mendengar itu. "Melihat dari fitur wajahmu dan cara bicaramu, sepertinya kau bukan berasal dari negara ini. Apa kau bersal dari negara tetangga?" tebak Alan dengan yakin.


Meskipun fitur wajah serta bahasa yang mereka gunakan sama, tetapi aksen mereka memiliki sedikit perbedaan.


Sheryn tersenyum tipis lalu berkata, “Ternyata Tuan Alan memiliki penglihaatan yang jeli dan pendengaran yang bagus. Bahkan bisa menebak dengan benar.”


Alan tersenyum sebagai balasan dari pujian Sheryn. “Aku memang bukan dari negara ini, aku berasal dari negara C.”


“Tapi kau tidak terlihat berasal negaraku,” ujar Sheryn dengan wajah ragu.


“Aku memang berasal dari negara ini, hanya saja aku memiliki pekerjaan yang mengharuskan aku tinggal di negara C untuk sementara waktu,” terang Alan.


“Begitu rupanya.”


“Apa kau sudah lama tinggal di sini, Nona?” tanya Alan lagi.


“Belum, aku baru pindah ke sini.”


“Kalau kau butuh seseorang untuk menemanimu untuk berkeliling, kau bisa menghubungiku. Aku siap menunjukkan kota ini padamu.”


“Terima kasih atas tawarannya, tapi aku tidak memiliki waktu untuk berkeliling saat ini. Lagi pula, kekasihku melarangku untuk bepergian dengan orang lain. Maafkan aku,” tolak Sheryn dengan senyum sopannya.


“Jadi kau sudah memiliki kekasih?”


Sheryn mengangguk. “Benar.”


Alan tersenyum. Ekpresi wajahnya terlihat masih sama dengan sebelumnya. “Aku tidak memiliki niat jahat padamu, aku hanya ingin berteman. Aku tahu rasanya tidak memiliki teman di negara lain, pasti tidak enak. Sebab itu aku sedikit bisa memahamimu. Jika kau sungkan padaku, aku bisa mengenalkanmu dengan adikku. Aku memiliki adik perempuan, sepertinya dia beberapa tahun lebih muda darimu. Mungkin saja kalian bisa cocok sebagai teman. “


Sejujurnya, Sheryn memang selalu bersikap waspada dengan seseorang yang baru dikenalnya, terlebih lagi seorang pria. Dia dunia ini banyak sekali orang yang memakai wajah palsu untuk mengelabui orang lain.


“Mungkin lain kali. Aku sedang terburu-buru. Maaf Tuan Alan, aku harus pergi,” ucap Sheryn seraya berdiri.


“Baiklah, sampai jumpa lagi.”


*******


Melvin menatap dengan enggan wanita yang sedang duduk di hadapannya. Wanita itu adalah Veronica. Dia sengaja datang ke kantor Melvin untuk berbicara dengannya. Melvin terus mengabaikannya dan tidak pernah mau mengangkat telpon ataupun membalas pesan singkatnya. Itulah sebanya dia memberanikan diri untuk datang menemui langsung Melvin ke kantornya.


“Apa lagi yang ingin kau bicarakan denganku, Cheryl Wu?”


Veronica terlihat menghembuskan napas halusnya sebelum menjawab pertanyaan bernada dingin dari Melvin. Dia tahu kalau Melvin enggan melihatnya lama-lama.


“Melvin, aku tahu kalau aku salah. Di masa lalu, aku memang meninggalkanmu karena kondisimu. Aku menyesal, Melvin. Saat itu, aku berpikir kalau masa depanku akan hancur jika aku masih memaksakan diri untuk menikah denganmu. Aku tidak bisa berpikir dengan benar saat itu. Orang tuaku juga tidak ingin memiliki menantu yang membuat keluarga kami malu, terlebih lagi saat itu, Alan mengambil alih semuannya. Semua dikendalikan olehnya dan dia mengambil apa yang menjadi milikmu.”


Wajah Melvin terlihat datar. Tidak ada emosi apapun di wajahnya. “Itukah sebabnya kau menjalin hubungan dengannya di belakangku saat aku tidak berdaya? Kau menghianatiku karena kau pikir aku tidak akan pernah sembuh sehingga Alan yang akan menguasai semua milikku?”


Melvin bisa melihat ada kepanikan di mata Veronica. “Aku tidak pernah berselingkuh dengannya, Melvin. Bukankah kau juga tahu kalau aku dan Alan memang dekat, kita bertiga dari dulu sangat dekat.”


Melvin tidak tahan untuk mencibir setelah mendengar sanggahan Veronica. “Cheryl Wu, aku memiliki bukti penghianatanmu dengan Alan. Aku juga pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri kau merangkul mesra Alan ketika kalian ada di negara C tepatnya di kota K. Saat itu, aku juga berada di restoran itu bersama dengan Sheryn, restoran yang ada di kota K. Kau tidak bisa mengelak lagi, Cheryl.”


Mata Veronica membulat. Dia tidak tahu kalau Melvin pernah melihatnya dengan Alan. “Melvin, waktu itu, aku....”


“Aku tidak mau mendengar alasan apapun darimu. Aku juga sudah tidak peduli lagi denganmu. Aku hanya ingin memperingatkanmu untuk terakhir kalinya, jauhi aku dan calon istriku. Seharusnya kau tahu kalau aku bukanlah pria yang murah hati. Aku memaafkanmu karena kau pernah menjadi bagian dari hidupku. Setelah ini, jika kau masih menggangguku, tidak akan ada maaf lagi bagimu. Kau seharusnya tahu apa yang bisa aku lakukan pada orang yang berani mengusik hidupku.”


Tangan Veronica gemetar ketakutan mendengar itu. Yaaa, Melvin bisa melakukan apapun yang dia mau. Tidak akan ada yang bisa menghentikannya. Bahkan keluarganya juga tidak akan bisa menyelamatkannya jika sampai dirinya bermasalah dengan Melvin.


“Baiklah. Aku janji tidak akan mengusikmu lagi. Aku hanya ingin meminta maaf padamu Melvin. Aku sungguh menyesal karena sudah menghianatimu. Apakah kita masih bisa berteman seperti dulu? Meskipun hubungan kita sudah berakhir, tapi bagaimanapun kita adalah teman lama dan sudah saling mengenal sejak dulu. Aku hanya tidak ingin bermusuhan denganmu.”


Wajah Melvin terlihat tenang dan datar seolah perkataan Veronica tidak penting baginya. “Cheryl Wu, aku tidak bisa lagi berteman denganmu. Calon istriku pecemburu berat. Aku tidak ingin dia salah paham padaku. Selagi kau tidak mengusikku, maka aku tidak akan membencimu. Hanya itu yang bisa aku lakukan untukmu.”


Veronica menunduk sejenak. Bahkan panggilan Melvin padanya sudah berubah sekarang. Dia seolah memberikan jarak pada mereka berdua. Itu artinya, Melvin sudah menganggap dirinya tidak penting lagi.


“Baiklah, aku mengerti. Sekali lagi maafkan aku, Melvin.”


Veronica akhirnya pulang dengan wajah kecewa. Awalanya dia masih berharap bisa memperbaiki hubungannya dengan Melvin, tapi ternyata sudah tidak bisa.


Bersambung....