Mysterious Man

Mysterious Man
Niat Busuk Laura



"Ya, kalau aku tahu dari awal, aku akan memperlakukanmu dengan baik saat kau tinggal di rumah kami."


Laura baru saja mengetahui indentias Melvin yang asli tadi sore saat tidak sengaja mendengar ucapan Sheryn yang sedang berbicara di telpon dengan seseorang ketika di rumah sakit. Sheryn sedang membeberkan identitas Melvin yang asli pada orang yang sedang dia telpon ketika dia berada di depan ruangan Harry.


"Pantas saja kau memilih Sheryn sebagai calon istrimu. Aku memang sudah curiga, bagaimana bisa Sheryn mengenalmu saat pesta waktu itu. Sebenarnya saat itu aku sedikit menyukaimu, hanya saja, aku sudah memiliki suami."


Melvin terlihat mulai muak dengan keberadaan Laura di sampingnya. "Laura, apapun yang akan kau lalukan sekarang, tidak akan ada pengaruhnya terhadapku. Aku tidak akan pernah tertarik padamu."


"Yaa, aku tahu. Aku hanya ingin menjalin pertemanan denganmu, Tuan Melvin."


Dengan wajah dinginnya, Melvin meletakkan gelasnya lalu menatap dengan enggan pada Laura. "Aku tidak mau memiliki hubungan apapun denganmu. Baik itu pertemanan atau yang lainnya."


Melvin kembali menatap ke arah depan dan mengabaikan Laura, seolah dia tidak ada di smapingnya, "lebih baik jangan ganggu aku, atau kau akan menyesal nanti," lajut Melvin lagi tanpa menoleh pada Laura.


Meskipun takut, tapi Laura tetap memaksakan diri untuk bertahan. Dia belum juga mau beranjak dari sana. "Melvin, aku tahu kau masih marah padaku. Masalah kemarin, aku sungguh minta maaf. Ini murni kesalahanku. Aku sungguh menyesali perbuatanku. Kedepannya, tidak akan terjadi lagi."


Melvin terlihat kembali menyesap minumannya dengan wajah dingin. Dia mengabaikan permintaan maaf Laura dan hanya diam saja. "Begini saja, sebagai permintaan maafku, malam ini aku akan mentraktirmu minum. Bagaimana?"


Melvin masih mengabaikan Laura dan sibuk dengan dunianya sendiri. Laura sendiri nampak tidak banyak bicara lagi. Dia hanya duduk seraya memperhatikan Melvin dan sesekali menyesap minuman yang dia pesan. Tiba saat Melvin berdiri, Laura ikut berdiri.


"Tuan Anderson, sepertinya kau mabuk. Biarkan aku mengantarmu pulang. Aku tidak melihat asistenmu di sini jadi akan lebih baik jika aku mengantarmu pulang."


Melvin menepis tangan Laura yang sudah menyentuh lengannya. "Jangan sentuh aku." Melvin berjalan ke arah pintu keluar bar dengan langkah pelan. Kepalanya terasa pusing dan pandangannya mulai berbayang.


Laura tidak menyerah begitu saja. Dia mengikuti Melvin dari belakang. "Melvin, aku hanya ingin mengantarmu pulang. Kau sedang mabuk. Bagaimana bisa kau pulang dalam keadaan seperti ini." Laura baru mau menyentuh lengan Melvin, tetapi kembali ditepis olehnya.


Tiba di loby hotel, Melvin menghentikan taksi yang kosong dan segera masuk ke dalam taksi tersebut tanpa diduga, Laura ikut masuk ke dalam taksi itu, tetapi dia duduk di depan. Melvin sepertinya tidak menyadari keberadaan Laura di dalam taksi tersebut karena setelah masuk dalam taksi dan menyebutkan tujuannya, dia langsung memejamkan matanya karena kepalanya terasa pusing.


Selama dalam perjalanan, Melvin terlihat tidak bergerak. Tiba di mansion Melvin, mata Laura membelalak ketika melihat betapa besar dan megahnya mansion milik Melvin. Supir taksi itu terlihat membangunkan Melvin beberapa kali hingga Melvin membuka matanya lalu turun dari taksi tanpa membayar.


Melihat itu, Laura dengan cepat membayar taksi lalu mengejar Melvin yang berjalan terhuyung-huyung. Beberapa pengawal terlihat menghampiri Melvin, tapi buru-buru Laura memegang lengan Melvin. "Biar aku yang membawanya ke dalam."


Karena melihat bos mereka datang bersama Laura, mereka jadi membiarkan Laura masuk ke dalam mansionnya. Kesadaran Melvin nampaknnya sudah menipis hingga dia tidak lagi mengenali Laura. "Di mana kamarmu?" Laura terlihat masih memegang lengan Melvin seraya membantunya terus berjalan.


Mendengar suara lembut wanita, Melvin kemudian menoleh ke sebelah kiri. "Sheryn, akhirnya kau kembali." Melvin memeluk tubuh Laura dan itu membuat Laura sangat senang, meskipun dia juga kesal karena Melvin mengira dirinya adalah Sheryn.


Mendengar itu, Laura mengepalkan tangannya dengan wajah penuh amarah. Dia mengira kalau hubungan Melvin dan Sheryn sudah sangat jauh hingga mereka tidur di kamar yang sama.


"Iyaa, aku lupa." Laura terlihat mengedarkan pandagannya ke sekitar, "sekarang beritahu aku, di mana kamarmu?"


Melvin terlihat menatap Laura dengan seksama lalu tersenyum aneh. "Sheryn, calon istriku memang sangat cantik."


Mendengar Melvin memuji Sheryn, dada Laura serasa terbakar. "Sepertinya kau sudah mabuk berat." Laura memapah Melvin dan kembali berjalan masuk ke dalam hingga berhenti tidak jauh dari ruangan keluarga. Tidak jauh dari sana, ada sebuah ruangan yang Laura yakini itu sebuah kamar.


"Ayo cepat."


Laura kembali berjalan sembari memapah Melvin ke ruangan yang dia lihat tadi. Melvin terlihat menurut saja dan jalan terhuyung-huyung. Tiba di depan kamar itu, Laura meraih handle pintu lalu membukanya lalu menghidupkan lampunya. Ruangan itu memang kamar, tetapi bukan kamar Melvin. Kamar itu terlihat seperti kamar tamu.


Tidak mau banyak berpikir, Laura memapah Melvin masuk ke dalam kamar itu lalu membaringkan Melvin dengan susah payah di tempat tidur. Laura memegang pinggangnya yang terasa sakit akibat memapah Melvin.


Saat melihat Melvin nampak tidak sadar, Laura berjalan ke arah pintu lalu mengunci pintunya, setelah itu dia mematikan lampu kamar itu dan menyalakan lampu tidur. Pencahayaan di kamar itu terlihat redup dan minim cahaya.


Laura kemudian duduk di tepi tempat tidur dan mulai melepaskan kancing kemeja Melvin satu persatu. Setelah melepas semua kancing bajunya, Laura tersenyum jahat. Laura kemudian mengambil ponsel di tasnya lalu meletakkan di atas nakas dengan posisi vidio merekam dan mengarah pada mereka berdua.


Laura lalu berbaring di sebelah Melvin dan mulai meraba dadanya seraya berbisik. "Melvin, bangun. Bagaimana kalau malam ini kita melakukannya? Aku sudah lama menginginkanmu," bisik Laura dengan suara yang mende-sah.


Laura berusaha memancing has-rat Melvin dengan cara meraba tubuhnya atasnya. "Kau cukup diam saja. Aku yang akan me-muaskanmu." Setelah mengatakan itu, Melvin terlihat mulai bergumam.


"Sheryn, aku sangat merindukanmu." Laura menatap dengan seksama wajah Melvin. Matanya masih tertutup. Itu berarti Melvin hanya mengingau akibat mabuk berat.


Laura kemudian membalas ucapan Melvin. "Aku juga sangat merindukanmu. Malam ini, aku akan menyerahkan diriku padamu."


Selesai mengatakan itu, Laura tersenyum licik lalu menurunkan tangannya ke arah pinggang Melvin kemudian menyentuh ikat pinggangnya. Dengan gerakan sangat pelan, Laura membuka ikat pingganya dan saat itu juga, Melvin kembali meracau dan memanggil nama Sheryn.


"Melvin aku di sini. Aku tidak akan ke mana-mana."


Laura bangun dari tidurnya lalu duduk di atas paha Melvin. "Malam ini akan menjadi milik kita berdua. Aku akan menyenangkanmu, Sayang."


Bersambung....