Mysterious Man

Mysterious Man
Rencana Melvin



Melvin duduk dengan malas di sofa yang ada di ruangan kerjanya ketika Stein datang. "Apa kau sudah mendapatkan informasi yang aku inginkan?" tanya Melvin sambil menatap Stein.


Stein mengangguk. "Sudah, Tuan Muda."


"Katakan padaku, apa yang terjadi padanya setelah kepergianku?" Dengan mata tegasnya dan wajah datarnya, Melvin membenahi duduknya.


"Hari di mana Anda pergi, Nona Sheryn di pecat dari perusahaan oleh Nona Laura. Di hari itu juga ayahnya meninggal. Semua warisan jatuh ke tangan Nona Laura dan ibunya. Beberapa minggu kemudian Nona Sheryn diusir oleh ibu tirinya dan Laura tanpa membawa apapun. Kemudian Tuan Harry menampung nona Sheryn di vilanya selama beberapa bulan. Setelah resmi bercerai dengan nona Laura, tuan Harry mengalami kecelakaan dan menyebabkan dia koma. Nona Sheryn menyembunyikan keberadaan Tuan Harry dari semua orang termasuk Nona Laura. Belum diketahui pasti apa penyebab kecelakaan tersebut. Nona Sheryn bekerja keras untuk biaya rumah sakit tuan Harry dan untuk menyewa pengawal serta diam-diam menyewa orang untuk menyelidiki kematian ayahnya," papar Stein.


Wajah Melvin seketika berubah, tapi ekpresi wajahnya tidak terbaca. Hanya terlihat ada emosi dalam sorot matanya.


Sheryn maafkan aku. Kau mengalami begitu banyak penderitaan setelah kepergianku. Wajar saja kalau kau membenciku. Aku akan menebus kesalahanku dari sekarang. Aku akan membalas semua orang yang sudah menyakitimu. Takkan kubiarkan kau menderita lagi. Wanitaku, tidak ada yang boleh mengganggunya.


"Selidiki lagi penyebab kecelakaan yang terjadi pada Harry." Melvin berdiri lalu mendekati Stein, kemudian membisikkan sesuatu padanya asistennya.


"Lakukan dengan cepat dan rahasiakan dari siapapun, termasuk Sheryn. Jangan sampai dia tahu."


Stein membungkuk sejenak. "Baik, Tuan Muda."


Saat aku tidak berdaya, kau melindungiku. Kini, semua berada di genggamanku jadi sekarang aku yang akan melindungimu. Aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu.


********


"Sheryn." Julian memanggil Sheryn setelah melihatnya selesai mengantarkan pesanan untuk pelanggan.


"Iyaaa, Manager Julian. Ada apa?"


"Ada seseorang yang memesan makanan dan minuman dalam jumlah banyak. Aku minta kau yang antarkan ke sana."


"Kenapa aku? Bukankah biasanya Berry yang mengantarkan kalau ada pesanan?"


"Berry tidak bisa dan orang tersebut meminta kau yang mengantarkannya."


Sheryn tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya. Dia tidak mungkin menolak permintaan managernya. "Baiklah. Di mana pesanannya?"


"Ayoo ikut aku." Julian mengajak Sheryn ke arah dapur dan di sana sudah tersusun banyak sekali kotak makanan beserta minuman yang jumlahnya membuat Sheryn membelalakkan matanya.


"Ini semua pesanannya?" tunjuk Sheryn dengan wajah terkejut.


"Iyaaa. orang tersebut sudah membayar sebagian, sebagaian lagi akan dibayar saat pesanan tiba. Kau tidak perlu kembali ke sini lagi setelah mengantarkan pesanan ini."


Sheryn masih syok dengan apa yang dia lihat di depannya. Makanan segitu banyak, apa orang tersebut sedang mengadakan pesta.


"Tapi bagaimana aku bisa membawa semua ini?"


"Naik taksi saja. Biayanya akan masuk tagihan orang tersebut karena dia sendiri yang memintanya. Sheryn, tolong kau beri kesan yang baik pada pelanggan ini. Dia bilang akan menjadi pelanggan tetap dan akan memesan dalam jumlah banyak setiap harinya, jika kita memberikan pelayanan yang baik padanya. Tolong jangan kecewakan pelanggan ini," ucap Julian panjang lebar.


Sheryn kemudian menoleh pada Julian. "Baiklah. Berikan alamat dan nama pelanggannya."


Julian merogoh saku celananya kemudian memberikan secarik kertas pada Claire. "Tuan Anderson?" Sheryn mengerutkan keningnya ketika melihat nama yang tertera di kertas tersebut.


"Cepatlah pergi. Malam semakin larut. Jangan sampai kau terlambat. Dia tidak mau kau terlambat barang sedetikpun."


Sheryn mengantongi kertas itu lalu berjalan mengambil tasnya kemudian berjalan ke depan. Beberapa pegawai cafe pria sedang memindahkan kotak makan dan minum itu ke dalam taksi yang sudah di pesan. Setelah selesai, taksi itu melaju ke tempat yang Sheryn sebutkan.


Lokasi yang dituju terletak di pinggir kota. Itu adalah salah satu kawasan elit yang memiliki pemadangan yang indah. Sheryn mengetahui tempat itu karena Harry pernah mengajaknya ke sana saat mereka masih menjalin hubungan. Kawasan itu jauh dari keramaian dan tidak sembarangan orang bisa masuk ke sana.


Saat tiba di pos penjagaan pertama, Sheryn menunjukkan alamat yang diberikan oleh Julian. Salah satu penjaga di sana terlihat menghubungi seseorang. Sheryn itu harus mendapatkan persetujuan dari orang yang akan dikunjunginya sebelum dia diijinkan masuk ke kawasan elit tersebut.


"Silahkan masuk, Nona," ucap penjaga itu sambil membuka palang pintunya.


Mobil melaju memasuki kawasan elit tersebut. Sejauh mata memandang, tidak ada rumah atau vila yang dia lewati. Hanya ada pepohonan, bunga dan tanah yang luas. Setelah 300 meter barulah dia melihat beberapa bangun besar seperti vila. Hingga akhirnya taksi tersebut berhenti di depan sebuah mansion yang sangat luas dan mewah.


Sheryn memastikan lebih dulu apakah dia tidak salah alamat sebelum turun dari taksi. Sheryn akhirnya turun dari mobil dan bertanya pada orang yang berjaga di depan gerbang. "Permisi Tuan, saya pegawai dari cafe Higgest. Apakah ini benar alamat Tuan Anderson?"


Pria bertubuh tegap itu berkata, "Benar, Nona. Silahkan masuk, kau sudah ditunggu di dalam."


Sebenarnya siapa pria ini? Kenapa dia berlagak sok misterius?


Sheryn mengangguk kemudian meminta supir taksi itu untuk masuk dan berhenti di depan mansion itu. Di depan mansion itu terlihat ada 4 orang yang berjaga. Saat Sheryn baru saja turun, pintu mansion itu terbuka. "Nona, silahkan masuk. Tuan Anderson sudah menunggu, Anda."


"Bagaimana dengan semua pesanannya?" tanya Sheryn sebelum melangkah masuk.


"Biarkan saya yang mengurusnya."


"Nona Sheryn, silahkan ikut saya." Seorang pria mendatangi Sheryn ketika dia tiba di ruang tamu.


Sheryn nampak ragu. "Di mana tuan Anderson?" tanya Sheryn pada pria itu.


"Tuan Muda ada di ruang makan."


Sheryn terpaksa mengikuti pria itu dari belakang sampai dia tiba di ruang makan. Saat dia melihat pria yang sedang berdiri dan yang sedang duduk di ujung meja panjang itu, Sheryn nampak terkejut.


"Jadi kau yang memesan semuanya?"


Pria berkumis tipis dengan kacamata hitam yang bertengger dihidung mancungnya tersenyum sangat tipis saat melihat kedatangan Sheryn. "Nona Sheryn, senang bertemu denganmu lagi."


Apa-apaan pria ini? Kenapa bisa dia lagi? Dan, ada apa dengannya? Saat malam hari begini dia justru mengenakan kacamata hitam.


"Mataku sangat sensitif dengan cahaya, sebab itu aku mengenakan kaca mata hitam pada malam hari," jelas Melvin seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Sheryn.


Dia jelas berbohong. Dia hanya tidak ingin Sheryn mengenalinya. Dia terpaksa menunda untuk mengungkap jati dirinya saat tahu kalau Sheryn membencinya. Dia harus membuat Sheryn tidak membencinya sebelum dia mengungkap identitas aslinya.


Menyadari ketidaksopanan dirinya, Sheryn segera berkata, "Maafkan aku, Tuan. Aku tidak bermaksud berlaku tidak sopan padamu."


"Tidak masalah. Silahkan duduk." Melvin mengarahkan tangannya ke tempat duduk di samping kanannya.


"Tidak perlu tuan Anderson. Aku ke sini hanya untuk mengantarkan pesananmu saja." Sheryn berjalan mendekati Melvin kemudian mengeluarkan kertas yang berisi total yang harus dia bayar. "Ini tagihannya."


Dari arah luar beberapa pria berpakaian jas hitam meletakkan kotak makanan dan minum di atas meja kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Apa kau sudah makan?" Melvin nampak mengabaikan penolakan dari Sheryn.


Sheryn menatap bingung pada pria itu. Semenjak pertemuan pertamanya dengan pria itu, Ada perasaan akrab setiap melihatnya.


"Belum," jawab Sheryn.


Melvin tersenyum tipis. "Kalau begitu temani aku makan."


Sheryn tidak begitu suka berlama-lama dengan pria yang tidak dikenalnya. Maka dari itu dia menolak tawaran pria itu. "Maaf Tuan Anderson. Aku harus pulang. Silahkan bayar tagihannya."


Melihat sikap dingin Sheryn, hati Melvin seperti tercubit. "Apa managermu tidak memberitahumu kalau kau harus menyenangkan aku? Jika kau pergi sekarang, akan kupastikan kau akan dipecat besok." Melvin tidak memiliki cara lain untuk menahan Sheryn lebih lama lagi selain mengancamnya.


"Baiklah. Aku akan menamani Anda makan." Sebenarnya, Sheryn paling tidak suka diancam, tapi karena dia membutuhkan pekerjaan ini, dia terpaksa meredam amarahnya.


"Begitu lebih baik." Melvin tersenyum puas. Meskipun dia tidak bisa meluapkan kerinduannya pada Sheryn, tapi setidaknya dia bisa melihatnya selama beberapa waktu.


Sheryn tidak menjawab, melainkan memasang wajah acuh tak acuh. "Stein, berikan makanan dan minumannya kepada Nona Sheryn."


"Baik, Tuan Muda."


Stein membuka beberapa kotak makanan dan memberikannya pada Sheryn. "Silahkan Nona," ucap Stein dengan sopan.


Sheryn mengangguk dan mulai memakan makanan yang ada di depannya. Bukan karena dia lapar, tapi dia ingin segera pergi dari sana. Dia mengabaikan saat tahu kalau Melvin terus menatap ke arahnya.


"Kenapa Anda tidak makan?" Sedari tadi, Melvin bahkan tidak menyentuh sedikitpun makanan yang ada di depannya.


"Aku sudah kenyang. Hanya dengan melihatmu saja, rasa laparku langsung hilang."


Dasar buaya darat. Aku yakin dia sudah sering menggoda banyak wanita dengan kata-kata manisnya itu.


"Lalu untuk apa Anda memesan begitu banyak makanan jika Anda tidak memakannya?" Semakin lama, Sheryn semakin kesal pada pria itu.


"Karena aku ingin melihatmu."


Benar-benar pria penggoda.


"Karena Anda sudah kenyang dan aku juga sudah selsai makan, jadi aku pamit pulang. Untuk tagihannya Anda bisa mentransfer langsung kepada managerku." Selesai mengatakan itu Sheryn berdiri dan berbalik ingin meninggalkan ruangan itu.


Melihat Sheryn akan pergi, Melvin lansung berdiri. "Tunggu, kau tidak bisa pulang sebelum aku mengijinkanmu." Melvin menahan tangan Sheryn dengan cepat dan menariknya hingga tubuh Sheryn membentur dadanya.


"Jangan pergi, Sheryn. Tetaplah di sini." Pikiran Sheryn seketika kosong saat Melvin memeluk tubuhnya.


Bersambung....