
Alice membuka pagar di depannya dan seketika terkejut saat melihat sang nenek yang telah berdiri di balik sana dengan pipi yang basah karena menangis.
Gadis itu terlihat terkejut dan seketika terdiam menatap Lola yang tengah menatap kearahnya dengan sedih,
"Apa.. Apa semua itu benar??" tanya Lola pelan.
Alice menatap sang nenek dan mencoba untuk bersikap seperti biasa. Ia takut, neneknya akan berpikiran sama seperti Sherly. Ia takut, neneknya juga berpikir bahwa dirinya yang telah membuat hubungan Jack dan Jessica berakhir..
"Alice.. bisakah kau jujur pada nenek??" tanya Lola lembut.
Wanita tua itu menghapus air matanya dan melangkah mendekati Alice. Ia menatap sang cucu dengan tatapan lembutnya,
"Katakan pada nenek.. apa semua yang nenek dengar tadi itu benar??" tanyanya lagi.
Alice yang mencoba untuk bersikap dingin seperti biasa pun mulai terlihat goyah dan menatap sang nenek dengan mata yang berkaca-kaca,
"Iya nek... Semua itu.. benar" jawab Alice pelan.
"Aku dan Jack.. telah memiliki hubungan" lanjutnya.
Lola pun seketika terdiam dan tidak dapat berkata-kata..
Alice menatap sang nenek dengan perasaan sakitnya,
"Apa.. nenek juga akan menyalahkan ku?? Dan menganggap aku telah menjadi penyebab berakhirnya hubungan Jack dan Kak Jessica??" tanya Alice pelan.
Lola menghela nafasnya dan menggeleng pelan,
"Tidak.. Tentu saja tidak.." ucapnya dengan suara yang bergetar.
"Nenek percaya padamu.. Nenek sangat percaya padamu" lanjutnya.
Seketika air mata Alice pun tak dapat terbendung lagi. Gadis itu dengan segera menghampiri sang nenek dan memeluknya.
Lola pun memeluk cucu satu-satunya itu dengan erat. Air matanya kembali mengalir di pipi. Ia mengusap punggung Alice dengan lembut untuk menenangkan gadis itu.
"Menangislah.. Kau tidak perlu menahannya Alice" bisiknya pelan.
"Nenek percaya padamu" lanjutnya yang membuat Alice semakin menenggelamkan wajahnya dalam pelukan sang nenek.
Tubuh Alice bergetar, ia menangis di dalam pelukan sang nenek. Gadis itu tidak bisa lagi menahan air matanya yang ia pendam sejak tadi. Ia lelah bersikap dingin dan seakan tidak memperdulikan apapun..
Setelah beberapa lama ia menangis, Alice pun akhirnya melepaskan pelukannya dan menatap sang nenek yang tersenyum lembut padanya,
"Merasa lebih baik??" tanya sang nenek lembut.
Alice pun hanya mengangguk menanggapi pertanyaan sang nenek. Lola menghapus air mata di pipi Alice dan tersenyum pelan,
"Lebih baik kita masuk dulu ke dalam.. Nenek siap mendengarkan ceritamu" ucapnya lembut.
Alice pun kembali mengangguk dan mulai melangkah masuk ke dalam rumah bersama sang nenek.
"Jadi.... seperti itu.." ucap Lola yang telah mendengar semua cerita Alice.
Gadis itu telah menceritakan semuanya pada sang nenek.
Cerita pertemuannya dan Jack yang tidak masuk akal, sampai pertemuannya kembali dengan pria itu setelah tersadar dari komanya.
Tidak ada yang Alice tutup-tutupi dari Lola. Ia menceritakan semuanya pada sang nenek secara detail. Walaupun ia berpikir sang nenek pasti menganggapnya hanya berdongeng dan bercerita yang tidak masuk akal.
Gadis itu menatap Lola dengan tatapan ragunya,
"Apa.. nenek percaya dengan semua yang aku ceritakan??" tanyanya pelan.
"Semua itu memang tidak masuk akal.. Tetapi, aku tidak berbohong!" lanjutnya lagi.
Lola terdiam sejenak dan menatap Alice dengan tatapan yang sulit di artikan,
"Tentu saja.. Nenek percaya" ucapnya lembut.
Alice pun menghela nafasnya pelan,
"Apa nenek tidak berpikir semua ceritaku itu tidak masuk akal??" tanyanya lagi.
Lola terlihat kembali terdiam dan tersenyum pelan,
"Jika berpikir secara logika, memang semua cerita itu sangatlah mustahil dan tidak masuk akal.. Tetapi.. Nenek percaya dengan ceritamu. Kau tidak mungkin berbohong.. dan nenek tau itu" ucapnya lembut.
Alice menghela nafasnya lega dan tersenyum pada sang nenek,
"Terimakasih, karena telah percaya padaku" ujarnya tulus.
Lola tersenyum lembut dan menggenggam tangan Alice sambil menatapnya dalam,
"Alice.. Terlihat kuat dan dingin itu memang bagus dan membuat kita merasa disegani. Tetapi.. terlihat seperti itu untuk menutupi semua yang kau rasakan di dalam hatimu itu tidak selamanya bagus.." ucapnya pelan.
"Kau juga berhak mengutarakan isi hatimu dan meluapkan segala emosi yang kau rasakan. Dan itu sangat manusiawi.." lanjutnya.
Ia mengusap lembut pipi Alice yang terlihat mulai berkaca-kaca,
"Jangan memendam apapun seorang diri, dan.. biarkanlah hatimu mengekspresikan apa yang ia rasakan" ucapnya lembut.
Alice pun mengangguk pelan..
Selama ini, ia memang selalu memendam semuanya seorang diri. Ia selalu mencoba terlihat datar tanpa ekspresi untuk menutupi kelemahannya. Ia selalu mencoba menjadi dingin agar ia tidak merasakan kekecewaan dan kesedihan.
Tapi.. Ternyata menjadi seperti itu untuk waktu yang lama bukanlah hal yang bagus. Dan, ia tidak ingin terus menutupi dan memendam lagi apa yang ia rasakan..
Lola tersenyum lembut dan mengusap rambut Alice dengan lembut,
"Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Semuanya akan berjalan dengan baik-baik saja" ucapnya lembut.
"Istirahatlah, kau pasti sangat lelah" lanjutnya.
Alice pun mengangguk pelan dan mulai melangkah ke lantai atas untuk beristirahat.
Setelah Alice pergi, Lola pun berdiri dari duduknya dan melangkah kearah sebuah rak buku yang berada di sudut ruangan.
Ia mengambil salah satu buku yang terlihat sudah cukup tua. Senyuman lembut pun terpancar di wajahnya sambil menatap sebuah halaman di dalam buku itu yang memperlihatkan foto seorang pria yang terlihat sudah cukup usang.
Ia membelai lembut foto itu dan menatapnya dengan penuh arti,
"Ternyata.. Cucu kita juga mempunyai takdir yang sama seperti kita" bisiknya penuh arti.
Sebuah mobil berhenti tepat di halaman sebuah rumah. Sherly dengan segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah dengan perasaan kecewa.
Ia masih tidak menyangka dengan semua yang telah terjadi. Ia masih tidak menyangka, sahabat yang ia percaya dan ia kagumi ternyata telah menusuknya dari belakang.
Sherly menggeleng cepat sambil meremas rambutnya. Ia tidak mau lagi mengenal gadis itu. Ia akan melupakan Alice dan menganggap bahwa selama ini ia dan Alice tidak pernah bertemu.
Gadis itu seketika berhenti melangkah saat melihat mobil sang kakak yang telah terparkir di halaman rumah,
'Apa kakak sudah pulang??' pikirnya.
Dengan segera ia pun melangkah masuk ke dalam rumah untuk menemui Jessica.
"Kakak!! Kakak!!" sahutnya.
Sherly pun berpapasan dengan seorang pelayan yang tengah membersihkan ruang tamu,
"Apa Kak Jessica sudah di rumah??" tanyanya pada pelayan itu.
Pelayan itu pun membungkuk pada Sherly,
"Sudah Nona.. Nona Jessica sudah di rumah sejak satu jam yan lalu" jawabnya.
Sherly pun mengangguk pelan dan mulai melangkah kearah tangga untuk menuju kamar sang kakak.
Ia berdiri di depan sebuah kamar dan mengetuknya,
Tok..
Tok..
"Kak!! Kakak!!" sahutnya.
"Kak, ini aku! Apa kakak di dalam??" lanjutnya.
Tidak ada sahutan dari dalam. Sherly pun kembali mengetuk pintu dengan sedikit tidak sabaran,
"Kakak!!!" sahutnya lagi.
Tangannya pun meraih ganggang pintu dan mencoba membukanya,
CKLEK!!
'Hah, tidak di kunci' ucap Sherly dalam hatinya.
Ia pun mulai masuk ke dalam dan menatap sang kakak yang tengah tertidur terlentang di atas tempat tidur.
Sherly menatap iba dan mendekat kearah tempat tidur untuk mendekati sang kakak.
Namun..
Saat ia mendekat, seketika matanya pun terbelalak lebar dengan terkejut saat melihat darah yang berada di pergelangan tangan Jessica dan sebuah pisau kater yang tergeletak di sampingnya,
"KAKAK!!!!!!!!!!!!!!!!!!" teriaknya histeris.
Bersambung..
Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊
Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺
Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..
Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁