
Melvin mengetuk pintu kamar Sheryn beberapa kali saat tidak mendengar jawaban dari dalam. Setelah menunggu selama 2 menit, pintu kamar Sheryn akhirnya terbuka. Tanpa menunggu Sheryn mempersilahkannya masuk, Melvin dengan wajah acuh tak acuh berjalan melewati Sheryn masuk ke dalam kamarnya.
"Tuan Anderson, kenapa kau ...."
Belum selesai Sheryn bicara, dia sudah di sudutkan di tembok dekat pintu olrh Melvin. "Jangan pernah memanggilku seperti itu lagi. Kau adalah kekasihku. Sebentar lagi akan menjadi tunanganku. Aku tidak suka kau memanggilku seperti itu," ucap Melvin dengan suara berat dan dingin. Dia mengurung Sheryn dengan kedua tangan yang bertumpu pada tembok.
"La-lalu aku harus memanggilmu apa?"
Sheryn terlihat gugup. Bola matanya terus bergerak tidak tentu arah. Meskipun Melvin menggunakan kaca mata hitam, tapi Sheryn bisa merasakan kalau dia sedang menatap tajam di balik kacamata hitamnya.
"Panggil Erson atau ...." Melvin mendekatkan wajahnya pada Sheryn lalu tersenyum mengggoda. "Sayang."
Wajah Sheryn terlihat linglung dan bingung selama beberapa detik, kemudian dia mendorong tubuh Melvin dengan lembut saat menyadari wajah mereka sangat dekat. "Tidak. Aku tidak mau," tolak Sheryn cepat, "aku akan memanggilmu dengan Erson saja."
Saat Sheryn menyebutkan nama Elvin, dahinya berkerut sebentar. Ada perasaan samar di dalam hatinya. "Pada akhirnya, kau juga akan memanggilku sayang saat kita menikah nanti," ucap Melvin dengan yakin.
Sheryn memutar bola matanya sambil mendengus. "Siapa juga yang mau menikah denganmu." Saat Sheryn akan melewati Melvin, tangannya diraih oleh Melvin dan tangan kanannya melingkari pinggang Sheryn dan merapatkan tubuh Sheryn padanya.
"Kau pasti menikah denganku karena dari awal kau sudah ditakdirkan untuk menjadi istriku." Melvin tersenyum misterius pada Sheryn lalu melepaskan tangannya dari pinggangnya kemudian berjalan menuju tempat tidur dan berkata, "Sheryn, aku akan pergi ke negara B dua hari lagi. Ikutlah denganku."
"Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku saat ini," tolak Sheryn cepat.
Melvin duduk dengan santai seraya menatap Sheryn. "Ajukan cuti saja. Kau harus ikut denganku."
Sheryn terlihat menatap heran Melvin. "Kenapa aku harus ikut denganmu?"
"Aku akan mengenalkanmu pada seseorang."
"Siapa?" tanya Sheryn dengan wajah penasaran.
"Kau akan tahu nanti."
Sheryn berpikir sejenak. "Hanya beberapa hari saja kita di sana. Ini sangat penting. Setelah dari negara B. Aku akan langsung ke negara H," sambung Melvin lagi saat melihat Sheryn nampak enggan untuk ikut dengannya.
Kelopak mata Sheryn terangkat dengan mata yang sedikit membesar. "Tujuanmu ke negara H, apakah untuk menjemput Melvin?" tanya Sheryn.
Melvin mengangguk pelan. "Maka dari itu, aku ingin menghabiskan waktu selama beberapa hari bersamamu sebelum ke negara H."
Tanpa berpikir panjang, Sheryn langsung nenyetujuinya. "Baiklah." Demi Melvin dia akan melakukan apapun.
********
Malam harinya, saat sedang bersantai di kamarnya, Sheryn melihat berita yang sangat mengejutkan baginya. Berita mengenai kehancuran Aric dan perusahaan keluarganya. Aric ditangkap dan perusahaan terancam bangkut. Sahamnya turun hingga tidak bernilai. Banyak pemegang saham menjual saham mereka dan investor membatalkan investasi pada perusahaan Aric.
Aric juga dilaporkan atas penggelapan dana perusahaan, memanipulasi laporan keuangan perusahaan hingga memindahkan dana taktis perusahaan ke akun bank pribadinya yang berada di luar negeri demi kepetingan pribadinya yang nilainya sangat besar. Tidak hanya itu, Aric juga dilaporkan karena sudah membuat laporan palsu terhadap Melvin.
Setelah selesai melihat berita di televisi, Sheryn meraih ponselnya lalu membuka satu persatu berita mengenai Aric. Beritanya menjadi tranding topic di berbagai media. Banyak komentar yang jahat dan menghujat yang ditujukan untuk Aric dan keluarganya. Sheryn masih tidak menyangka kalau ada yang berani menyinggung keluarga Aric hingga membuatnya keluarga Aric berada di titik terendah saat ini.
Jangankan membalas dan bangkit dari keterpurukan, bertahan saja mereka sudah tidak bisa. Satu persatu tindakan ilegal, kejahatan dan kecurangan keluarga Chen mulai terungkap. Semua yang orang mengenal keluarga Chen perlahan menjauh karena takut terbawa masalah juga. Tidak ada satu orang pun yang berani membantu keluarga Chen lagi.
Aric bahkan tidak bisa lolos dari jerat hukum kali ini. Segala usaha yang dilakukan untuk menyelamatkan diri gagal. Aric sangat frustasi karena keluarga Chen sudah tidak memiliki apapun. Perusahaannya hancur, keluarganya terlilit hutang besar, keluarganya terusir dari rumah mewah mereka. Saat mengetahui semua itu, Sheryn merasa senang. Akhirnya, Aric mendapatkan balasan atas semua perbuatannya di masalalu.
Melvin yang sedang duduk di atas tempat tidur seraya memegang ponselnya, seketika dia mengangkat kepalanya saat Sheryn memasuki kamarnya. "Ada apa?" tanya Melvin setelah Sheryn berdiri tidak jauh darinya.
Sheryn terlihat ragu untuk sesaat, dia memainkan jemari tangannya seraya berkata, "Aku baru saja melihat berita mengenai Aric."
"Lalu?" tanya Melvin dengan wajah datarnya.
"Runtuhnya keluarga Chen, apakah ini ada hubungannya dengamu?" tebak Sheryn ragu-ragu.
Melvin meletakkan ponselnya di atas nakas kemudian menghampiri Sheryn. "Bukankah ini yang kau harapkan?" tanya Melvin seraya menunduk menatap lekat mata Sheryn dari balik kacamata hitamnya, "melihat kehancuran Aric?"
"Iyaa, tapi aku tidak menyangka kau akan membuatnya sampai hancur seperti itu."
Melvin tersenyum lalu berbalik ke arah jendela kamarnya. "Dia memang pantas mendapatkanya." Kemudian menatap lurus ke depan dan berkata lagi, "aku sudah membersihkan nama Melvin, juga sudah memberikan hukuman pada Aric, selanjutnya kau tidak lupa dengan janjimu, bukan?" tanya Melvin seraya menolehkan kepalanya pada Sheryn.
"Janji?" ulang Sheryn dengan suara pelan.
"Ya, janji untuk menjadi tunanganku."
Sheryn hampir saja melupakan janjinya itu. Dia sebenarnya tidak ingin bertunangan dengan tuan Anderson, hanya saja saat tahu kalau Melvin hidup sendirian di negara H, hatinya terasa nyeri dan tidak tega. Pria itu tidak bisa hidup sendiri. Dia sudaj terbiasa hidup bersama dengannya. Entah bagaimana dia menjalani hidupnya di negara H.
Dahulu banyak sekali orang yang mengolok-olok Melvin karena ketebatasannya, jadi Sheryn berpikir mungkin Melvin mengalami hal sulit selama hidup di negara H dan tidak ada yang melindunginya. Itu sebabnya Sheryn menyetujui syarat dari tuan Anderson asalkan dia bisa membawa Melvin kembali padanya.
"Kau tenang saja. Aku masih ingat janjiku. Selama kau bisa membawa Melvin ke sini. Aku akan memenuhi janjiku."
Melvin kembali menatap keluar jendela dengan senyum misteriusnya. "Bagus. Itu baru wanitaku."
Mendengar tuan Anderson menyebutnya sebagai wanitanya, Sheryn sedikit kesal. Dia sama sekali tidak menyukai tuan Anderson, tapi pria itu selalu mengganggu dan memaksanya. Sheryn sebenarnya heran, kenapa tuan Anderson menyukainya. Mereka belum lama mengenal. Wanita yang lebih darinya juga banyak, terlebih lagi dengan statusnya yang tinggi sangat mudah baginya mendapatkan wanita yang diinginkan.
Apa yang membuat tuan Anderson tertarik padanya, Sheryn pun tidak mengetahuinya dengan jelas. Mungkin tuan Anderson hanya penasaran dengannya atau mungkin memang menyukainya. Kalaupun dia memang menyukainya, hanya butuh waktu sampai dia bosan lalu dia akan dibuang seperti kata Aric jadi Sheryn hanya bisa menunggu sampai tuan Anderson yang tidak menginginkannya lagi.
"Erson, sebelum ke negara B, aku ingin menjenguk Harry terlebih dahulu. Aku juga ingin mendengar penjelasan dari Dokter mengenai kondisi Harry yang terbaru."
Melvin berbalik dan menghampiri Sheryn. "Baiklah. Aku akan menemanimu."
Sheryn langsung melambaikan tangannya pada Melvin. "Tidak perlu. Aku bisa ke sana sendiri," tolak Sheryn dengan senyum kakunya.
Tatapan Melvin berubah menjadi dingin. "Kenapa aku tidak boleh ikut denganmu? Apa kau takut diganggu olehku? Jangan-jangan kau masih memiliki perasaan pada mantan kekasihmu itu?"
"Dari mana kau tahu kalau Harry mantan kekasihku?" tanya Sheryn dengan wajah terkejut.
Selama ini, Sheryn tidak pernah mengatakan pada tuan Anderdon kalau Harry adalah mantan kekasihnya jadi Sheryn sedikit terkejut mendengar tuan Anderson mengetahui hubungannya dengan Harry.
Wajah Melvin semakin dingin. "Sudah aku bilang, aku mengetahui semuanya," jawab Melvin, "sekarang jawab pertanyaanku dengan jujur. Apa kau masih memiliki perasaan terhadapnya? Ucapanmu yang mengatakan kalau kau menyukai pria idiot itu, apakah hanya kebohongan belaka untuk membuatku mundur dan untuk melindungi Harry?"
Wajah Sheryn langsung menegang kala mendapatkan pertanyaan dari Melvin.
Bersambung...