Mysterious Man

Mysterious Man
Mengerjai Sheryn



Melvin tersenyum. Senyuman yang sangat tipis sampai Sheryn tidak menyadari kalau Melvin sempat tersenyum. "Kau cemburu dengan Xena?" Melvin mengurung Sheryn dengan kedua tangannya yang bertumpu pada tembok.


"Tidak, aku hanya takut kau marah sehingga kau berubah pikiran dan tidak jadi membawa Melvin kembali ke negara ini," jawab Sheryn dengan tegas seraya menatap berani pada Melvin.


"Benarkah? Kau tidak keberatan kalau aku dekat dengan wanita lain?" Melvin bertanya seraya mendekatkan wajahnya pada Sheryn dan otomatis Sheryn juga memundurkan wajahnya hingga kepalanya membentur tembok.


"Tentu saja," jawab Sheryn dengan yakin.


Melvin mengamati wajah Sheryn sejenak dari balik kacamata hitamnya. "Baiklah." Melvin menjauhkan tubuhnya dari Sheryn dan memasukkan kedua tangannya ke saku celananya, "kembalilah ke hotel dan beristirahatlah di kamarku sementara."


Saat Melvin akan melangkah pergi, Sheryn menarik ujung lengan bajunya. "Aku sangat lapar. Aku belum makan seharian ini."


Melvin berbalik lagi. "Baiklah, kita pulang sekarang. Aku akan menemui Xena dulu. Kau tunggu saja di mobil."


Entah Sheryn tidak mendengar ucapan Melvin atau tidak, tetapi dia terus mengikuti langkah kaki Melvin. "Kenapa kau mengikutiku?" Melvin kembali berbalik saat menyadari kalau sedari tadi Sheryn mengikutinya.


"Memangnya tidak boleh?" tanya Sheryn dengan wajah acuh tak acuh.


"Kau takut aku berselingkuh dengan Xena atau kau... "


Sheryn segera memotong dengan cepat. "Berselingkuh apanya, kau yang sudah memaksaku untuk menjadi kekasihmu."


Wajah Melvin terlihat sangat tenang, tapi berubah serius kemudian. "Kalau begitu jangan ikuti aku. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Xena."


Semakin dilarang, Sheryn semakin penasaran apa yang ingin dibicarkan Melvin dengan wanita tadi. "Kalau aku tidak mau bagaimana?" tantang Sheryn dengan wajah berani.


Melvin tertegun selama dua detik kemudian mendekatkan wajahnya ke arah telinga Sheryn. "Jika tidak, aku akan menciummu."


Melvin menjauhkan wajahnya dari Sheryn kemudian melangkah meninggalkan Sheryn yang nampak mematung, tapi baru saja Melvin melangkah beberapa langkah, Sheryn kembali mengikutinya.


"Sheryn, sepertinya kau tidak menganggap serius ucapanku."


Melvin mendekati Sheryn, meraih pinggangnya dengan tangan kanan lalu dengan tangan kirinya menyentuh dagu Sheryn dan menyatukan bibir mereka berdua. Di tengah pesta diantara kerumunan orang, Melvin mencium bibir Sheryn danmelu-mat bibirnya dengan lembut.


Awalnya hanya orang di sekitar mereka saja yang menonton mereka, tapi tidak lama setelah itu, semua orang nampak fokus pada mereka berdua setelah mendengar suara riuh saat melihat Melvin mencium Sheryn begitu mesra di depan semua orang.


Sheryn seperti terhipnotis dan tidak bergerak sama sekali. Dia tidak sadar kalau mereka berdua sedang menjadi sorotan semua orang hingga dia baru tersadar ketika Melvin menyudahi pagutannya.


"Sheryn Venessa Giffin, mulai saat ini, kau tidak akan bisa lari dariku," ucap Melvin seraya tersenyum tipis.


Semua orang nampak bersorak dan bertepuk tangan. "Kenapa kau menciumku di depan banyak orang?" Sheryn menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.


Melvin tersenyum, melepaskan tuxedonya lalu menyampirkan ke tubuh Sheryn. "Tunggulah di mobil. Aku tidak akan lama," ucap Melvin seraya menunduk, menatap Sheryn yang juga sedang menatapnya.


"Tapi aku tidak tahu di mana letak mobilnya. Stein membawaku kemari dan memberikan kunci mobilnya pada petugas valet," jawab Sheryn seraya mengangkat kepalanya.


"Jadi, tadi kau mengikutiku karena tidak tahu di mana letak mobilnya? Bukan karena ingin mengujiku?"


"Tentu saja. Aku belum menjelaskan, tapi kau sudah menciumku lebih dulu." Sheryn berbicara dengan suara pelan dan dia tidak berani menatap ke arah lain karena semua orang masih memperhatikan mereka.


"Maafkan aku, aku kira...." Melvin berhenti sejenak, "sudahlah. Ikut aku dulu."


Melvin membawa Sheryn menjauh dari kerumunan. Melvin terlihat sangat acuh tak acuh ketika dia membelah kerumunan orang yang menghalangi jalannya. Setibanya di depan gedung tersebut, Melvin menghubungi asistennya. Menunggu selama 5 menit, akhirnya Stein datang menghampiri mereka berdua.


"Stein, bawa Sheryn ke mobil. Aku ingin berbicara dengan Xena sebentar."


Sheryn nampak duduk dengan gelisah di dalam mobil. "Kenapa Elvin lama sekali? Sebenarnya apa yang dia bicarakan dengan wanita itu hingga belum kembali?" tanya Sheryn seraya menatap lurus keluar.


"Ini baru lima menit, Nona."


"Benarkah?" Sheryn terus menatap ke arah luar seperti tidak mendengarkan ucapan Stein, "tapi kenapa aku merasa seperti sudah satu jam menunggu di sini?"


Stein hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Sheryn. Setelah menunggu selama kurang lebih 15 menit, Melvin akhirnya kembali. Mereka kemudian menuju ke hotel tempat Melvin menginap.


"Stein, kau boleh kembali ke kamarmu?" Melvin menoleh sekilas pada Stein lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Baik, Tuan Muda."


"Lalu bagaimana denganku?" Sheryn mengikuti langkah Melvin masuk ke dalam kamarnya saat melihat pintu akan tertutup.


"Kau akan tidur di kamar ini bersamaku," jawab Melvin dengan enteng seraya berjalan menuju kamar mandi. Sebelum dia mencapai kamar mandi, Sheryn sudah lebih dulu menghadangnya.


"Apa maksudmu aku tidur di sini bersamamu? Kau tidak sedang bercanda, bukan?" Eskpresi wajah Sheryn terlihat bingung sekaligus cemas.


"Kamar di hotel ini semuanya penuh. Jika kau tidak tidur di sini, maka kau akan tidur di mana?"


Mata Sheryn membulat. Dia seharusnya mananyakan kamarnya saat dia tiba di hotel tadi. Sudah malam dan kemungkinan kamar di hotel itu sudah penuh.


"Kalau kau tidak percaya, silahkan hubungi bagian receptionist," lanjut Melvin.


Sheryn seketika menyesali keputusannya untuk datang ke negara B. "Menyingkirlah, jika tidak, aku akan menarikmu ke dalam dan tidak akan melepaskanmu."


Ketika kata-kata Melvin jatuh ditelinga Sheryn, dengan gerakan cepat dia langsung menyingkir dari hadapannya. "Dasar me-sum." Sheryn menggerutu dengan wajah kesal.


Melvin yang mendengar itu hanya bisa tersenyum tipis lalu masuk ke dalam kamar mandi. Selesai mandi, dengan wajah acuh tak acuh Melvin hanya dengan handuk yang terlilit dipinggangnya. Sheryn sepertinya mulai terbiasa dengan hal itu, dia hanya mengalihlan pandangan ke arah lain saat Melvin berjalan ke arah lemari di mana kopernya berada.


"Erson ini sudah malam, kenapa kau tidak juga melepaskan kacamata hitammu? Apa matamu tidak sakit mengenakan kacamata hitam terus?" tanya Sheryn ketika melihat Melvin masih mengenakan kacamata hitamnya.


Melvin meraih pakaiannya setelah itu menoleh pada Sheryn. "Mataku sangat sensitif dengan cahaya, jadi aku tidak bisa melepasnya jika keadaan terang seperti ini." Melvin berjalan ke arah kamar mandi meninggalkan Sheryn yang masih terduduk di sofa single dekat jendela.


Beberapa saat kemudian, Melvin keluar dari kamar mandi setelah mengenakan kaos polos berwarna putih dan celana hitam selutut. Dia kemudian berjalan ke arah tempat tidur dan meraih sesuatu di laci nakas di samping tempat tidurnya.


"Sheryn, kemari." Melvin duduk dengan santai di atas tempat tidur seraya manggil Sheryn.


"Ada apa?" Sheryn menghampiri Melvin dan berdiri tepat di depannya.


"Ini kunci kamarmu." Melvin mengangkat tangannya dan menyodorkan sesuatu pada Sheryn.


Sheryn menatap kartu akses yang ada di tangan kanan Melvin selama beberapa saat. "Kau bilang kamarnya sudah penuh? Kau membohongiku, ya?" ujar Sheryn dengan wajah kesal.


Dia sudah pasrah dan berpikir kalau kamar di hotel itu sudah penuh, tapi ternyata Melvin mengerjainya. "Kamarnya memang sudah penuh, jika kau memesannya sekarang. Aku memesan kamar ini setelah kau menelpon dan bilang akan menyusul ke sini."


Wajah Sheyn terlihat masih kesal. "Kenapa eskpresi wajahmu seperti itu?" Melvin berdiri lalu menunduk, "apa jangan-jangan kau berharap kita tidur di kamar yang sama?" Melvin tersenyum menggoda pada Sheryn.


"Aku tidak keberatan sama sekali kalau kau ingin tidur bersamaku."


Bersambung....