
Mandy seketika terdiam sambil mengepalkan tangannya dengan kuat saat mendengar cerita Patrick tentang Miranda yang meminta Alice untuk pergi dari kehidupan Jack,
"Wanita itu benar-benar keterlaluan!" ucapnya marah.
"Dia sangat jahat karena memaksa Alice untuk meninggalkan orang yang dicintainya! Dia benar-benar egois karena menyeret Jack dan Alice dalam masalah pribadinya di masa lalu!!" lanjutnya dengan emosi.
Patrick menyentuh tangan sang istri dan mencoba menenangkannya,
"Sudahlah.. aku juga sebenarnya tidak tau alasan apa yang membuat dia berbuat seperti itu. Aku merasa ada suatu kejanggalan tentang surat-surat ku dulu.. Apa, ada seseorang yang mencoba mengadu domba aku dan juga Miranda saat itu??" ucapnya curiga.
Mandy terdiam sejenak dan menatap sang suami,
"Apa menurutmu.. orang tua Miranda yang telah menahan surat-suratmu saat itu, karena mereka tidak merestui hubungan kalian??" tanyanya hati-hati.
Patrick seketika terdiam dan menggeleng pelan,
"Aku tidak tau.. mungkin iya.. mungkin juga tidak. Setahuku, orang tua Miranda tidak pernah ikut campur dengan hubungan kami. Aku pernah bertemu dengan mereka, dan mereka terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada tanda yang menunjukkan bahwa mereka melarang Miranda untuk berhubungan denganku. Buktinya, saat pertama kali aku bertemu dengan mereka, di hari-hari selanjutnya hubunganku dan Miranda masih terus berjalan seperti biasa, tidak ada yang berubah" balas Patrick.
Mandy pun hanya menghela nafasnya pelan,
"Kurasa dia telah salah paham" ujarnya pelan.
Mandy pun terdiam sejenak dan kembali menatap sang suami dengan perasaan yang sulit untuk di ungkapkan,
"Jika.. saat itu kau dan Miranda masih saling mengirim surat.. Apa mungkin.. kalian akan tetap hidup bersama dan menikah??" tanyanya pelan dengan sorot mata yang sayu.
Patrick seketika terdiam dan menatap wajah istrinya dengan sedikit terkejut. Ia pun menghela nafasnya pelan dan menggenggam tangan Mandy,
"Sayang.. Jangan memikirkan sesuatu yang tidak terjadi.. Mungkin aku dan Miranda memang tidak di takdirkan untuk bersama. Walaupun misalnya saat itu kami masih saling mengirim surat, mungkin Tuhan mempunyai cara yang lain untuk membuat kami berpisah. Karena.. memang pada dasarnya aku dan Miranda tidak ditakdirkan untuk bersama" balasnya lembut.
Mandy pun menatap sang suami dan tersenyum pelan. Lalu, tiba-tiba Mandy melihat sebuah taksi yang berhenti tepat di depan pagar rumah Lola.
Ia pun seketika berdiri dan terkejut melihat Alice yang turun dari dalam taksi,
"Alice" ucapnya lalu bergegas berjalan kearah pagar.
Patrick menatap kearah pagar dan mengikuti sang istri yang berlari kecil menghampiri putrinya.
Alice perlahan masuk dengan wajah tanpa ekspresinya. Wajah gadis itu terlihat sedikit pucat dengan mata yang terlihat sembab.
Alice seketika menatap ke depan saat menyadari sang ibu yang menghampirinya. Ia pun mencoba menyembunyikan kesedihannya dan tersenyum pelan,
"Alice, kau sudah pulang??" tanya Mandy dengan khawatir.
Mandy memperhatikan wajah Alice dan seketika merasa sedih menatap sorot mata anaknya yang tidak dapat berbohong. Gadis itu terlihat sangat sedih dan terluka walaupun ia mencoba tersenyum kearahnya,
"Ibu.. maaf aku pulang terlambat" ucap Alice mencoba tersenyum.
Seketika Mandy pun memeluk putrinya dengan perasaan sakit. Ia tau bagaimana perasaan Alice sekarang.. Gadis itu tengah menyembunyikan kesedihannya.
Mandy mencoba menahan air matanya dan tersenyum pelan,
"Tidak apa-apa.." balasnya.
Mandy tidak mau jika Alice mengetahui bahwa dirinya dan Patrick telah mengetahui alasan gadis itu untuk ikut pergi bersama mereka secara tiba-tiba. Mandy tau, Alice tengah menyembunyikan fakta itu dari mereka. Gadis itu berpura-pura tegar walaupun sebenarnya ia sangat terluka.
Mandy perlahan melepaskan pelukannya dan menatap sang putri dalam,
"Alice.. apa, kau benar-benar ingin pergi??" tanyanya hati-hati.
Alice terdiam sejenak dan tersenyum pada sang ibu sambil mengangguk,
"Iya" balasnya pelan.
Mandy pun hanya dapat menghela nafasnya dan mengangguk pelan,
"Baiklah.. kalau begitu, kau bersiaplah, sebentar lagi kita akan berangkat" ucapnya sambil mengusap pipi putrinya itu.
Alice pun mengangguk dan berjalan masuk ke dalam rumah tanpa berkata-kata lagi.
Patrick menatap sang putri dengan prihatin. Ia pun menghampiri Mandy yang terlihat tidak bisa lagi menahan air matanya,
"Kasihan Alice.. aku tau, ini pasti keputusan yang sangat berat baginya" ucapnya tersedu.
Patrick mendekati sang istri dan memeluknya,
"Aku tau.. Ini semua salahku.." bisik Patrick merasa sangat bersalah.
Disisi lain..
Alice pun berjalan ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu pun menutup pintu kamar dan seketika tubuhnya terduduk di atas lantai..
Gadis itu menangis.. lagi-lagi menangis..
Ia kembali teringat dengan sentuhan dan senyuman Jack semalam..
Alice merasa sangat bersalah karena harus meninggalkan Jack. Ia tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan..
Alice tidak ingin Jack harus memilih antara ibunya ataupun dirinya. Ia tidak ingin membuat Jack pergi dan berseteru dengan orang tuanya.
Alice memilih mengalah dan pergi dari kehidupan Jack. Ia berharap.. semuanya akan menjadi lebih baik setelah ia pergi..
Gadis itu menyentuh dadanya dan menangis dalam diam. Hatinya sakit.. sangat sakit..
Tanpa sengaja, tatapan matanya pun mengarah pada sebuah jepitan rambut yang pernah Jack berikan padanya di atas meja.
Perlahan, Alice berdiri dan mengambil jepit itu. Ia pun menggenggamnya dan menaruh jepit itu di dadanya sambil menangis,
"Maafkan aku Jack.." rintihnya dengan perasaan sakit.
Jack menghentikan mobilnya di depan rumah Lola dengan terburu-buru. Ia pun turun dan mendekati pagar rumah Lola untuk masuk.
Namun, sayangnya saat ia mencoba untuk membuka pagar itu, ternyata pagar itu terkunci. Jack pun memencet bel rumah Lola dengan perasaan cemas dan takutnya,
Tingtong..
Tidak ada sahutan dari dalam, Jack pun kembali memencet bel berulang kali. Dan.. sayangnya nihil, Lola ataupun Alice tidak terlihat keluar dan membukakan pintu.
"NENEK!! ALICE!!" teriaknya lagi.
Dengan perasaan kalut, Jack pun memilih untuk menaiki pagar rumah Lola. Ia pun memanjat dan melompat masuk.
Jack berlari kearah pintu dan pintu pun sama-sama terkunci. Bahkan jendela pun tertutup rapat dan tidak terlihat ada tanda-tanda orang di dalam.
Tok.. Tok..
"Nenek, Alice!!!" sahutnya lagi tidak menyerah dengan nafas yang memburu.
Jack yang kalut pun mengeluarkan handphonenya dan mencoba menghubungi Alice kembali. Namun sayang, lagi-lagi nomor Alice masih sulit di hubungi.
Jack mencoba menghubungi nomor Lola ataupun orang tua Alice. Dan sayangnya, lagi-lagi mereka pun sulit di hubungi.
Jack melempar handphonenya dan mengacak rambutnya dengan frustasi,
"Kau dimana Alice.." bisiknya dengan perasaan sedih dan takut.
Jack pun mencoba menenangkan dirinya dan kembali melangkah keluar dari rumah Lola. Pria itu terlihat linglung dan berantakan. Ia menyandarkan tubuhnya di sisi mobil dengan tidak tenang.
Lalu tanpa sengaja seorang wanita paruh baya melihatnya dan menghampiri pria itu,
"Nak Jack??" sapanya yang membuat Jack langsung mengarahkan pandangan padanya.
Jack pun menegakkan tubuhnya dan menatap wanita paruh baya yang ia kenal sebagai tetangga Alice itu,
"Ah.. Nyonya Sera" balas Jack pelan dengan tidak bersemangat.
Wanita paruh baya yang bernama Sera itu tersenyum pelan dan menatap Jack dengan kening yang berkerut,
"Oh iya.. Sedang apa kau disini?? Apa kau tidak ikut mengantar Alice dan keluarganya??" tanyanya lagi tiba-tiba.
DEG!!
Jantung Jack pun seketika berdebar saat mendengar ucapan wanita paruh baya itu,
"Mengantar?? Memangnya.. Alice dan keluarganya pergi kemana??" tanya Jack tidak sabar.
Nyonya Sera pun terdiam sejenak dan menghela nafasnya pelan,
"Ternyata kau tidak tau ya.. Alice dan keluarganya tadi pergi ke Bandara. Mereka akan pindah, begitu juga dengan Lola" jawabnya yang membuat jantung Jack bagai di hantam ribuan batu.
Bersambung..
Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊
Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺
Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..
Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁
Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍