
"Ini berhubungan dengan keluarga dan perusahaanmu."
Sheryn nampak berpikir sejenak, kemudian berkata, "Maaf Tuan Harry, kau tidak perlu ikut campur urusan keluargaku dan perusahaanku mulai sekarang," ucap Sheryn dengan dingin. Meskipun dia penasaran, terpai dia sudah tidak mau terlibat lagi dengan Harry apapun alasannya.
Wajah Harry terlihat kecewa sebelum dia menampilkan wajah kesalnya. "Sheryn, kau tidak akan bisa menyingkirkan Laura tanpa bantuanku. Pengangkatan Laura untuk posisi CEO didukung hampir 40℅ suara dari pemegang saham. Itu artinya sangat sulit bagimu untuk menggantikan ayahmu. Sahammu hanya 3℅ dan yang dimiliki ayahmu hanya 15%, meskipun digabung, kau masih kalah. Aku memiliki saham 15% di perusahaan ayahmu. Jika aku berpihak padamu, kau bisa meyankinkan pemegang saham lainnya untuk berpihak padamu. Asal kau tahu, orang-orang ayahmu sudah digantikan oleh orang-orang Laura agar tidak ada yang mendukungmu. Perlahan semua orang ayahmu akan dibuang olehnya. Jika kau masih menginginkan perusahaanmu, maka bekerjasamalah denganku."
Sheryn mengeraskan wajahnya mendengar informasi dari Harry. Dia tidak menyangka kalau Laura sudah bertindak sejauh itu saat dia tidak ada. Terlebih lagi ketika ayahnya sedang terbaring di rumah sakit.
"Harry, sebenarnya apa maumu?" Sheryn yakin ada maksud lain dari Harry berkata seperti itu padanya.
"Kembalilah padaku, maka, aku akan membantumu untuk merebut perusahaan ini dari tangan Laura. Pikirkan tawaranku." Harry kemudian menambahkan lagi. "Buang juga pria yang pulang bersamamu itu. Aku tidak menyukainya."
*******
Sheryn terlihat berjalan menuju loby setelah pintu lift terbuka. Dia membawa banyak sekali dokumen yang ada di tangannya. Karena tidak mau terlalu lama di kantor bersama dengan Harry, Sheryn memutusan untuk membawanya pulang dan mempelajarinya di rumah.
Sebenarnya alasannya bukan hanya karena itu, tapi karena Laura. Dia tidak mau bertengkar dengannya hanya karena masalah pribadi di kantor. Setibanya di loby Sheryn langsung menaiki taksi ke rumahnya. Waktu menunjukkan pukul 3 sore ketika dia sampai di rumah.
Saat memasuki rumah, Sheryn melihat sekitar rumah sangat sepi. Hanya beberapa pelayan terlihat mengerjakan pekerjaan mereka. Sheryn akhirnya memutuskan untuk naik ke lantai atas, ke kamarnya yang sedang di renovasi.
Kamar Sheryn sudah kembali seperti yang dulu. Hanya saja beberapa orang sedang mengerjakan untuk pembuatan pintu penghubung. Saat melihat pintu tersebut sedang dikerjakan oleh banyak orang, Sheryn merasa puas karena pintu tersebut sudah hampir selesai.
Hanya butuh sentuhan akhirnya agar pintu itu benar-benar jadi. Sheryn sengaja memlih perusahaan kontraktor terkenal untuk merenovasi kamarnya agar pengerjaannya cepat dan rapih.
Selesai melihat kamarnya yang sedang di renovasi, Sheryn memutuskan untuk pergi ke kamar tamu tempat di mana Melvin berada. Dia sengaja meminta pelayan untuk memindahkan Melvin sementara ke kamar lain saat kamarnya dan kamar Mevlin sedang di renovasi.
Saat Sheryn masuk ke kamar yang berada diujung, dia tidak melihat keberadaan Melvin di sana. Sheryn bur-buru pergi ke ruang kerja untuk meletakkan dokumen yang dia bawa kemudian pergi mencari Melvin.
Sebelum berangkat ke kantor, Sheryn sudah berpesan pada para pelayan dan Melvin kalau dia tidak boleh turun ke lantai bawah. Dia hanya boleh berjala-jalan di lantai dua jika bosan. Dia hanya takut kalau Melvin membuat masalah, terutama dengan ibu tirinya.
Sheryn memutukan untuk turun ke bawah dan bertanya pada pelayan yang dia tugaskan untuk menjaga Melvin. "Bibi Sha, ke mana Melvin berada?"
Bibi Sha yang sedang bekerja di dapur, dibuat terkejut dengan kedatangan Sheryn yang tiba-tiba. "Itu... tuan Melvin, dia...." melihat gelagat aneh dari bibi Sha, Sheryn menjadi tidak sabar.
"Bibi Sha, katakan padaku, di mana Melvin berada?"
Sheryn terlihat mulai tidak sabar menunggu Bibi Sha bicara. Dia merasa kalau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dengan Melvin saat melihat tingkah bibi Sha.
"Itu, tuan Melvin sedang berada di halaman belakang bersama dengan Nyonya." Mendengar itu, Sheryn langsung menuju taman belakang tanpa menunggu penjelasan bibi Sha lebih lanjut.
Perasaan tidak enak langsung melanda dirinya. Saat tiba di halam belakang, Sheryn terpaku dengan pemandangan yang dia lihat. Dia terdiam beberapa saat dengan tangan terkepal. Dia dibuat geram oleh ibu tirinya saat melihat Melvin berada di kolam ikan yang airnya sudah keruh dan kotor.
Penampilan Melvin sangat menyedihkan. Bajunya sudah basah dan kotor. Bau amis yang berasal dari kolam renang membuat orang di sekitar kolam menutup hidung, termasuk ibu tirinya. Dengan tubuh tinggi dan wajah bodohnya, Melvin terlihat mengerjakan setiap yang diperintahkan ibu tirinya yang sedang duduk di dekat kolam dengan wajah angkuhnya.
Karena merasa tidak tahan lagi melihat perlakukan ibu tirinya terhadap Melvin, Sheryn melangkah cepat menuju kolam ikan. "Bibi Ruth, apa yang sudah kau lakukan terhadap Melvin?" Sheryn berdiri di dekat ibu tirinya dengan wajah memerah dan tatapan menyala. Dari arah belakang bibi Sha terlihat menyusul Sheryn dan berdiri tidak jauh darinya.
Saat Melvin mendengar suara Sheryn, dia langsung menoleh. Dengan wajah bodohnya dia tersenyum ke arah Sheryn seperti anak kecil yang polos dan itu membuat Sheryn semakin marah pada ibu tirinya.
Ibu tiri Sheryn yang mendengar suara Sheryn juga seketika menoleh dan terkejut saat melihat Sheryn sudah pulang. Dia mengira kalau Sheryn akan pulang sore hari seperti anak dan menantunya. Ternyata Sheryn pulang lebih awal.
"Sheryn, kenapa kau sudah pulang?"
"Aku tanya padamu, apa yang sudah kau lakukan pada Melvin??"
Sheryn bertanya dengan nada tinggi dan wajah geram. Dia sudah tidak bisa menahan amarahnya ketika melihat ibu tirinya dengan tega memperlakukan Melvin seenaknya. Padahal Melvin bukanlah orang normal, seperti pria pada umumnya.
Ibu tiri Sheryn langsung bangun dari duduknya dan berdiri dan nampak salah tingkah. "Ibu... ibu hanya... memintanya untuk membantuku membersihkan kolam. Para pelayan sedang sibuk, itulah sebabnya ibu meminta bantuannya," kilah Ibu tirinya.
"Sheryn, sebenarnya ini tidak sepertu yang kau lihat. Ibu memang memintanta membantu, tetapi dia dengan senang hati melakukannya."
Sheryn terlihat mengabaikan penjelasan ibu tirinya dan memilih untuk berjalan mendekati kolam lalu mengulurkan tangannya ke arah Melvin. "Ayo Melvin, naik ke atas."
Melvin meraih tangan Sheryn lalu naik ke atas dengan senyum bodihnya. Sheryn lalu meminta bibi Sha untuk membawakan Melvin handuk.
"Bibi Sha, bawa Melvin masuk," perintah Sheryn.
"Baik, Nonn." Sebelum melangkah, Melvin menoleh pada Sheryn dengan wajah bingung dan bodohnya.
"Bibi Ruth, aku peringatkan padamu. Jangan pernah lagi kau menyuruh Melvin untuk melakukan hal apapun di rumah ini. Dia bukan pelayan. Dia adalah calon suamiku. Jika kau berani mengusiknya lagi, aku akan melakukan segala cara untuk mengusirmu dari sini," ucap Sheryn dengan lantang dan tegas.
Mata Ibu tiri Sheryn membesar. Dia tidak menyangka kalau Sheryn berani mengancamnya hanya karena pria bodoh dan idiot itu. "Sheryn, kau salah paha...."
"Bibi Ruth, aku tidak bodoh. Ini terakhir kali aku melihatmu memperlakukan Melvin seenaknya. Jika kau masih ingin tinggal di sini, bersikap baiklah padanya. Dia lebih berhak tinggal di sini dari pada kau."
Sheryn kemudian maju dan berdiri tepat di depan ibu tirinya. "Melvin, jangan pernah berani mengusiknya lagi. Seharusnya kau tahu di mana tempatmu berada. Jangan berlagak menjadi Nyonya rumah di rumahku. Kau tidak lebih dari wanita perusak rumah tangga orang. Menikah dengan ayahku, tidak akan membuat derajadmu naik dan menjadikanmu terhormat seperti kami. Aku bisa saja menendangmu dari sini kapan saja aku mau, jadi jangan pernah membuatku kesal dan marah. Aku bukanlah Sheryn yang dulu lagi. Ingat... jangan pernah mengganggunya lagi." Sheryn lalu pergi setelah selesai berbicara.
Ibu tiri Sheryn nampak mengepalkan tangan setelah kepergian Sheryn. "Awas kau Sheryn. Berani sekali kau menghina dan mengancamku. Aku akan membalasmu nanti."
Bersambung...