
Alice telah mencoba beberapa gaun yang di berikan oleh pelayan tadi, dan semua gaun itu rata-rata sangat cocok dan bagus di tubuh Alice. Bahkan pelayan itu pun terlihat kebingungan untuk memilih.
"Nona.. Aku benar-benar sulit memilih. Semua gaun tadi sangat cocok dan pas untuk Nona" ucap pelayan itu.
Ini sudah gaun ketiga yang Alice coba, dan pelayan wanita itu selalu mengatakan gaun yang di pakainya itu cocok,
"Ya ampun.. aku sampai kebingungan" lanjut pelayan itu lagi sambil tersenyum pelan.
"Apakah Nona menyukai gaun ini??" tanya pelayan itu pada Alice.
Alice menatap dirinya di depan cermin dan melihat gaun berwarna pink yang begitu pas di tubuhnya. Gaun ini sangat bagus, tetapi sayangnya Alice tidak terlalu suka dengan warna pink ini. Dan, bagian punggung gaun ini terlalu terbuka untuknya.
Pelayan itu memperhatikan mimik wajah Alice dan memahami bahwa gadis itu kurang suka dengan warna dan potongan gaun yang sedang di pakainya.
Ia pun tersenyum pelan dan mengambil gaun terakhir yang ia pilih untuk Alice. Gaun yang merupakan limited edition di toko tersebut.
Pelayan itu mencoba mencocokkan gaun yang di pegangnya pada wajah Alice dan tersenyum puas,
"Kurasa.. Yang ini sepertinya sangat pas untuk Nona. Gaun ini berwarna tidak mencolok dan lembut, serta potongannya pun tidak terlalu terbuka" ujarnya.
"Aku yakin yang ini pasti cocok untuk Nona.. Silahkan di coba" lanjutnya lagi sambil memberikan gaun itu pada Alice.
Alice menatap gaun yang di pegangnya dan memperhatikan detail gaun itu. Sepertinya yang ini terlihat bagus, pikir Alice.
Ia pun dengan segera membalikkan tubuhnya dan berjalan ke ruang ganti bersama pelayan tadi untuk mencoba gaun terakhirnya.
Setelah beberapa menit, pelayan itu pun memperhatikan penampilan Alice dan tersenyum puas,
"Aku rasa yang ini sangat.. sangat pas dan cocok untuk Nona" ucapnya sambil membalikkan tubuh Alice untuk melihat cermin,
Alice menatap pantulan dirinya di cermin dan seketika bernafas lega. Sepertinya yang ini cocok untuknya dan warna serta modelnya pun terlihat simple tetapi tetap elegan, pikirnya.
"Bagaimana??" tanya pelayan itu dengan senyumannya.
Alice pun tersenyum pelan dan mengangguk,
"Aku suka.. Gaun ini terlihat simple dan tidak terlalu mencolok" jawabnya.
"Aku ambil yang ini saja" lanjut Alice memutuskan.
Pelayan itu pun mengangguk dan tersenyum,
"Pilihan yang bagus.. Gaun ini sangat cocok di pakai oleh Nona" pujinya tulus.
"Baiklah.. Kalau begitu, sekarang Nona ikut aku ke ruang rias" ujar pelayan itu dan membawa Alice menuju ruang rias.
Hari sudah hampir gelap, terlihat Jack sudah berada di lantai bawah butik dengan pakaian yang sudah rapih.
Pria itu duduk di atas sofa dan menunggu Alice yang masih belum selesai di lantai atas.
Selang beberapa menit, seorang pelayan dan Alice pun turun dari arah tangga. Seketika pandangan Jack pun terarah kesana..
Tatapan pria itu terlihat begitu terpesona dengan kecantikan Alice. Secara refleks Jack berdiri dari duduknya dan tersenyum lembut kearah gadis itu.
'Gadisnya benar-benar cantik dan mempesona..' ucapnya mengagumi dalam hati.
Dandanan Alice terlihat natural dan tidak berlebihan. Wajahnya terlihat menjadi berkali-kali lipat lebih cantik, dan gaun yang di pakainya juga terlihat begitu cocok untuknya.
Rambutnya di gulung ke atas dan membuat leher jenjang putihnya terlihat jelas. Gadis itu juga memakai sedikit aksesoris di sisi rambutnya. Anak rambutnya di biarkan tergerai disisi kanan dan kiri wajahnya.
Alice berdiri di hadapan pria itu dan tersenyum dengan sedikit salah tingkah karena tatapan Jack sejak tadi terus menatap kearahnya tanpa berkedip.
Pelayan yang berdiri di samping Alice tersenyum pelan melihat reaksi Jack,
"Bagaimana menurut Tuan?? Nona Alice terlihat pas dengan gaun ini bukan??" tanya pelayan itu.
Jack mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari Alice,
"Iya.. Semua terlihat sempurna" ucapnya jujur.
Jack mengangkat tangan Alice dan mengecupnya cukup lama. Ia memandangi wajah sang kekasih dan berbisik pelan padanya,
"Kau sangat cantik.." ucapnya dalam.
Pipi Alice terlihat sedikit bersemu merah, dan gadis itu pun tersenyum pelan menanggapi pujian Jack padanya,
"Kita berangkat sekarang??" tanya Alice mengalihkan pujian Jack.
Jack pun tersenyum dan mengangguk. Ia pun menggandeng tangan Alice dan menatap pelayan yang masih berdiri di depannya,
"Terimakasih, kami permisi dulu" ujarnya.
Pelayan itu pun tersenyum dan membungkukkan badanya pada kedua pasangan itu..
Sherly menatap pantulan dirinya di depan cermin. Gadis itu masih menatap takjub pada penampilannya yang telah berubah total.
Kacamatanya telah menghilang dan sekarang ia merasa lebih percaya diri dan cantik. Ia memutar tubuhnya di depan cermin dan menatap gaun indah yang telah ia kenakan.
Gaun berwarna nude itu terlihat begitu pas di tubuhnya. Rambutnya pun telah di gerai dengan sedikit bergelombang dan jepitan cantik yang tersemat disisi kiri rambutnya.
Jessica berdiri di belakang sang adik dan tersenyum lembut,
"Kau sangat cantik" pujinya.
Sherly tersenyum dengan pipi yang bersemu merah. Ia membalikkan tubuhnya dan memeluk sang kakak,
"Terimakasih.. Ini semua berkat kakak.. Kakak yang merubah penampilanku dan aku sangat menyukai diriku yang sekarang" ucapnya penuh haru.
Jessica mengusap lembut punggung Sherly dan tersenyum lembut,
"Kau memang harus menampilkan dirimu yang sesungguhnya pada orang lain. Jangan biarkan mereka meremehkan mu.." ucapnya.
"Kau cantik.. Dan, kau harus menunjukkannya pada semua orang" lanjutnya.
Sherly pun tersenyum dan mengangguk pelan. Jessica melepaskan pelukannya dan menatap Sherly dengan lembut,
"Bukankah pria idamanmu juga akan datang malam ini?? Jadi, kau harus terlihat cantik bukan??" tanyanya menggoda.
Seketika pipi Sherly memerah dan menunduk pelan,
"Iya.. Aku mengundang Justin" balasnya malu-malu.
Namun, seketika ekspresi wajah Sherly pun murung saat mengingat sesuatu,
"Tapi.. Bukankah kakak juga mengundang Alice untuk datang??" tanyanya tidak suka.
Jika Alice datang, jelas percuma saja ia berdandan cantik untuk Justin, sedangkan dirinya sangat mengetahui bahwa pria itu menyukai Alice.
"Mengapa kakak harus mengundangnya?? Bukankah jika ia datang dengan Kak Jack, itu sama saja membuat luka hati kakak kembali terbuka??" tanya Sherly serius.
Jessica seketika terdiam mendengar pertanyaan Sherly,
"Aku tau.. Kakak masih menyimpan perasaan pada Kak Jack. Tidak mungkin kakak merelakannya begitu saja untuk wanita lain" lanjut Sherly.
Jessica menunduk dan menghela nafasnya pelan,
"Kau benar.. Tapi.. Jika aku tidak mengundangnya, tentu saja Jack tidak akan datang" balas Jessica.
Sherly pun mengangguk pelan mendengar jawaban Jessica.
Jessica terdiam sejenak dan kembali menatap Sherly,
"Bukankah.. kita mengincar pria yang sama-sama menyukai gadis itu??" tanya Jessica tiba-tiba yang membuat Sherly mengernyitkan keningnya.
Jessica menyeringai pelan dan menegakkan tubuhnya,
"Jadi.. yang harus kita lakukan adalah.. menghilangkan pengganggunya" lanjutnya yang membuat Sherly terlihat sedikit terkejut.
Bersambung..
Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊
Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺
Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..
Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁
Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍