Mysterious Man

Mysterious Man
Penjelasan Melvin



"Iyaa, sebenarnya aku calon istrinya. Seminggu sebelum kami menikah, Melvin mengalami kecelakaan dan akhirnya pernikahan kami tertunda," terang Veronica seraya tersenyum, "sekarang aku bertanya padamu, siapa sebenarnya dirimu? Kenapa kau bisa ada di sini?"


Sheryn terdiam selama beberapa saat kemudian tersenyum pada Veronica. "Kalau kau mau tahu siapa aku, silahkan tanyakan pada tunanganmu." Sheryn menoleh pada Melvin yang sedang berdiri dengan wajah membeku, "Melvin, silahkan jelaskan padanya, siapa aku."


Melvin bergegas menghampiri Sheryn dengan wajah panik. "Sheryn kau salah paham. Aku akan menjelaskan padamu nanti." Melvin menoleh pada Veronica, "Ini Sheryn, dia adalah calon istriku," terang Melvin seraya menggengam kuat jemari Sheryn.


Veronica terlihat terdiam selama beberapa saat kemudian tersenyum. "Jangan bercanda, Melvin. Ini tidak lucu."


Wajah Melvin nampak serius dan sorot matanya terlihat dingin. "Aku tidak bercanda. Dia memang calon istriku."


Tubuh Veronica langsung lemas dan matanya berkaca-kaca. "Lalu bagaimana denganku? Aku tunanganmu, Melvin. Kita bahkan hampir menikah. Kenapa kau begitu tega denganku?" Buliran bening mulai jatuh ke pipi Veronica.


Ketika melihat Sheryn berbalik, Melvin kembali merain tangannya setelah tadi sempat terlepas. "Sheryn, kau mau kemana?"


Sheryn menoleh dengan wajah dingin. "Selesaikanlah urusanmu dengannya. Aku tidak mau ikut terlibat dengan masalah kalian berdua." Sheryn melepaskan pegangan Melvin lalu berjalan ke arah lift menuju kamar Melvin.


Setelah kepergian Sheryn, Melvin langsung menarik tangan Veronica menuju salah satu ruangan yang berada ujung. "Melvin, sakit."


Melvin melepaskan tangan Veronica lalu berbalik dan berhadapan dengannya. "Kenapa kau bilang pada Sheryn kalau kau adalah tunanganku?" tanya Melvin dengan wajah dingin dan sorot mata tajam.


"Aku memang tunanganmu, Melvin," jawab Veronica dengan suara pelan.


"Sudah jelas hubungan kita sudah lama berakhir, Veronica. Kau sendiri yang sudah mengakhiri hubungan kita. Kau bilang tidak mau menikah dengan pria idiot dan bodoh saat kau tahu kondisiku tidak normal akibat kecelakaan."


Setelah Melvin selamat dari kecelakaan, Dokter mengatakan kalau Melvin mengalami amnesia dan kemungkinan akan sulit untuk sembuh seperti sedia kala. Setelah mendengar itu, Veronica sangat terkejut dan tidak bisa menerima kenyataan itu.


Dia meminta orang tuanya untuk membatalkan pernikahannya dengan Melvin. Dia juga mengatakan pada Melvin kalau dia tidak akan pernah mau menyia-nyiakan hidupnya yang berharga demi pria idiot dan bodoh seperti Melvin.


Banyak pria yang mengingingkannya, tentu saja Veronica tidak mau menikah karena Melvin tidak normal, meskipun Melvin merupakan pria terkaya di negara H, tapi dia tidak mau menjadi bahan ejekan dan hinaan dari semua orang jika sampai dia menikahi Melvin.


"Jadi kau mengingatnya?" tanya Veronica dengan wajah terkejut.


"Tentu saja aku ingat. Aku mengingat semua yang kau katakan padaku. Termasuk saat kau mengatakan kalau kau tidak mau menikah dengan pria tidak berguna sepertiku dan lebih memilih untuk menikah dengan pria lain yang lebih baik dariku."


Melvin meraih dagu Veronica dan mengangkatnya. "Veronica, mulai sekarang, jangan pernah menggangguku lagi. Silahkan kau cari pria lain yang bisa kau bodohi. Hubungan kita sudah lama berakhir."


Melvin berbisik, "aku tahu kau berselingkuh di belakangku saat aku sedang koma. Seharusnya kau tahu kalau aku tidak pernah memaafkan sebuah penghiatan. Menjauhlah dariku. Aku akan menghancurkan hidupmu kalau kau masih berani mengusikku dan Sheryn." Selesai mengatakan itu, Melvin pergi meninggalkan Veronica yang diam membeku.


"Melvin... Tunggu! Maafkan aku, Mevin. Aku memang salah. Tolong maafkan aku. Aku menyesal, Melvin." Melvin mengabaikan teriakan Veronica dan terus berjalan seraya meraih telpon dan menghubungi seseorang.


Setibanya di dalam kamarnya, Melvin melihat Sheryn sedang duduk di dekat jendela kamarnya seraya memadang keluar. "Sheryn, aku ingin bicara denganmu." Dengan langkah pelan, Melvin menghampiri Sheryn dan berdiri di sampingnya.


"Baiklah. Mari kita bicara." Sheryn berjalan menuju sofa panjang lalu duduk bersebelahan dengan Melvin.


"Bicaralah," ucap Sheryn dengan wajah dingin.


"Sheryn, hubunganku dengannya sudah berakhir. Dia memang pernah menjadi tunanganku, tapi dia sendiri yang sudah mengakhiri hubungan kami secara sepihak," terang Melvin dengan lembut.


Sheryn memotong dengan wajah dinginnya. "Jadi, kau menyesal karena dia memutuskan hubungan kalian secara sepihak? Kau bisa kembali padanya Melvin, jika kau memang masih mencintainya. Aku akan mundur."


Melvin meraih tubuh Sheryn, mendudukkan di pangkuannya, setelah itu memeluknya dari belakang. "Melvin!" pekik Sheryn dengan wajah kesal.


"Aku tidak mencintainya, Sayaang. Aku hanya mencintaimu. Aku tidak mungkin membawamu ke sini kalau aku masih memiliki perasaan padanya," ucap Melvin dengan lembut.


Dia tahu saat ini Sheryn sedang marah dengannya, sebab itu, dia berkata dengan lembut untuk menenangkannya, "lagi pula, dia sudah menghianatiku. Aku tidak mungkin kembali padanya lagi."


"Aku takut kau tidak akan mau ikut denganku kalau kau tahu aku sudah pernah bertunangan dengan orang lain, terlebih lagi aku hampir menikah dengannya. Aku memang berniat memberitahumu setelah aku memperjelas hubunganku dengannya," ungkap Melvin.


Sheryn masih terdiam. "Apa kau tahu apa tujuanku membawamu ke sini?" Melvin meletakkan dagunya di bahu Sheryn seraya memiringkan wajahnya ke arah wajah Sheryn.


"Apa?" tanya Sheryn dengan wajah penasaran.


"Untuk menikahimu. Aku ingin segera menjadikanmu istriku." Melvin melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh Sheryn hingga mereka saling berhadapan. "Menikahlah dengan Sheryn. Jadilah milikku selamanya."


Iris mata Sheryn membesar. Dia terlihat sangat terkejut.


"Kau bilang, aku boleh mengatakan itu lagi setelah aku mengetahui makna dari kata menikah. Sekarang aku sudah tahu. Apa kau mau menikah denganku?"


Sheryn tidak menyangka kalau Melvin menganggap serius perkataanya itu. Padahal dulu, dia katakan itu hanya untuk membujuk Melvin agar dia mau tidur sendiri dan tidak memaksanya lagi untuk tidur di kamar yang sama.


"...."


Sheryn nampak belum berkata-kata juga. "Aku segera membawamu ke sini agar aku bisa menikahimu secepatnya," lanjut Melvin lagi, "jadi sekarang jawab pertanyaanku, apa kau mau menikah denganku?"


Sheryn terlihat berpikir selama beberapa detik. "Bagaimana kalau aku menolak menikah denganmu?" tanya Sheryn akhirnya.


Wajah Melvin mengeras dan tatapannya menjadi dingin. "Maka, aku akan menjadikanmu milikku sekarang juga. Aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku." Wajah Melvin terlihat sangat serius.


"Aku akan membencimu selamanya kalau begitu."


Tatapan Melvin yang semula dingin, kini berubah menjadi kecewa. "Jadi, kau tidak mau menikah denganku?"


Sheryn menunduk lalu menggeleng dengan pelan. "A-aku tidak...."


"Sudah cukup! Jangan diteruskan lagi. Aku sudah tahu," kata Melvin dingin. Dia menurunkan Sheryn dari pangkuannya. "Tunggulah di sini. Aku ada urusan. Aku akan meminta pelayan untuk membawakanmu sarapan ke sini."


Sebelum Melvin sempat melangkah, Sheryn mengeluarkan suaranya. "Kau mau ke mana?"


Melvin menoleh. "Ada yang harus aku urus. Mungkin aku akan pulang siang hari. Aku akan meminta Emily untuk menemanimu agar kau tidak kesepian." Melvin kembali berbalik dan melangkah ke arah pintu.


Baru saja dia akan meraih handle pintu, Sheryn sudah memeluknya dari belakang dan itu membuat Melvin menjadi terkejut. "Apa kau marah padaku?" Sheryn bisa merasakan kalau tubuh Melvin menegang ketika dia memeluknya.


"Tidak. Mana mungkin aku marah padamu."


"Lalu kenapa kau mau pergi?" tanya Sheryn dengan suara lembut.


"Ada sesuatu yang harus aku urus," jawab Melvin.


"Apa kau sungguh tidak marah padaku?" tanya lagi.


"Tidak. Aku tidak marah padamu. Aku tidak akan memaksamu lagi, Sheryn. Aku akan menghargai keputusanmu."


Melvin melepaskan tangan Sheryn yang ada di perutnya lalu berbalik. "Kata-kataku yang tadi, jangan pikirkan lagi. Aku pergi dulu."


Melvin mengusap lembut kepala Sheryn lalu berjalan keluar kamarnya.


Bersambung...