Mysterious Man

Mysterious Man
Tell Her



Miranda mencoba menenangkan dirinya dan menatap Alice dengan senyuman miris,


"Biar ku ceritakan sebuah kisah untukmu agar kau bisa mengerti.." ucap Miranda yang membuat Alice terdiam.


"Ada seorang sepasang kekasih yang saling mencintai.. Mereka sudah bersama sejak mereka berada di akhir tahun sekolah menengah pertama.." ujar Miranda dengan pandangan yang melambung jauh ke masa lalu.


"Mereka selalu bersama dimanapun mereka berada, dan mereka juga melanjutkan sekolah menengah atas di sekolah yang sama.. sampai-sampai orang di sekitar mereka menjuluki mereka seperti sebuah botol dan tutupnya ataupun julukan konyol lainnya yang mengartikan mereka itu tidak pernah terpisah.." lanjut Miranda dengan senyuman mirisnya.


"Orang-orang selalu berpikir bahwa kedua pasangan itu tidak akan pernah terpisah dan akan berakhir bersama sampai kapanpun.." ucapnya lagi.


"Tapi.. Ternyata sayangnya, apa yang orang-orang itu pikirkan tidaklah benar.. Kedua pasangan itu akhirnya berpisah dengan alasan yang masih tidak jelas" ucap Miranda dengan tatapan kosongnya.


"Setelah si wanita hampir lulus universitas, tiba-tiba si pria memutuskan untuk sekolah militer tanpa memberitahu kekasihnya terlebih dahulu. Padahal.. pria itu pernah berucap akan menikahi sang wanita setelah wanita itu lulus universitas. Tapi.. sayangnya.. dia mengingkari janjinya dan memilih sekolah militernya" ucapnya.


"Si pria berjanji untuk tetap menjaga komunikasi di antara mereka. Dan, si wanita mencoba untuk mulai menerima dan menjalani hubungan jarak jauh itu. Namun... Ternyata itu semua tidak berjalan dengan baik.." lanjutnya tersenyum miris.


"Si pria tidak pernah ada kabar lagi.. Dia tidak pernah memberikan surat lagi.."


"Lalu, orang tua si wanita mengenalkan wanita itu pada seorang pria yang mapan. Orang tua wanita itu ingin menjodohkan putrinya dengan pria tersebut.. Pria yang terlihat begitu tulus dan serius untuk menikahi si wanita itu" lanjutnya.


"Tapi.. wanita itu belum mau menerima lamaran sang pria. Ia masih mengharapkan kekasih yang ia cintai itu untuk tiba dan meminang dirinya. Namun, sayangnya lagi-lagi setelah masuk kuliah militer, pria itu tidak pernah ada kabar"


"Si wanita selalu mengirimkan surat dan berharap kekasihnya itu mau membalas suratnya. Di surat itu ia mengatakan semua pada kekasihnya termasuk perjodohan dirinya dengan pria yang di kenalkan oleh orang tuanya.."


"Saking putus asanya, wanita itu bahkan mengancam di surat berikutnya bahwa jika kekasihnya itu masih tidak membalas, maka ia akan menerima pinangan lelaki yang di kenalkan oleh orang tuanya itu. Dan.. sampai beberapa hari pun sang wanita tidak kunjung mendapatkan balasan dari kekasihnya.." ucap Miranda menahan pedih di hatinya.


"Ia pun akhirnya menyerah, dan menerima pinangan lelaki yang di jodohkan oleh kedua orang tuanya.. Ia beranggapan bahwa kekasihnya sudah tidak mencintainya lagi dan mencampakkannya. Ia akhirnya menikahi lelaki pilihan orang tuanya walaupun ia tidak mencintai lelaki itu dan masih berharap kekasihnya tiba-tiba datang dan membatalkan acara pernikahannya"


"Tetapi.. malangnya.. kekasihnya pun tidak pernah datang.." lanjutnya dengan perasaan sakit hati yang mendalam.


"Sang wanita yang dulu mencintai kekasihnya itu berbalik membencinya.. Ia menganggap kekasihnya itu telah mempermainkan dirinya dan mengingkari janjinya sendiri.. Pria itu.. pria itu telah membuat sang wanita merasakan patah hati yang teramat dalam dan juga rasa benci yang sangat dalam melebihi rasa cintanya dulu pada kekasihnya itu.. Sang wanita bahkan membuat sumpah pada dirinya sendiri, bahwa dia tidak akan pernah memaafkan mantan kekasihnya itu dan tidak akan mau bertemu dengannya bahkan sampai keturunan anak cucunya sekalipun!" ujarnya dengan tatapan yang menyiratkan sebuah luka dan kebencian.


"Ia tidak sudi kembali bertemu dengan pria itu.. pria yang membuat sang wanita merasakan sakit hati untuk pertama kalinya sekaligus rasa benci.." lanjutnya sambil menatap Alice dengan tajam.


"Dan.. sampai sekarang rasa sakit itu belum juga hilang dari hati si wanita ini.." ucapnya lagi.


"Sungguh wanita yang malang bukan?? Dia harus merasakan sakit itu sampai sekarang??" tanya Miranda pada Alice dengan tersenyum miris.


Alice menatap Miranda dan dapat melihat sebuah luka yang terpancar jelas di mata wanita paruh baya itu. Gadis itu menghela nafasnya pelan dan menatap Miranda dalam,


"Jadi.. siapakah mereka??" tanyanya tiba-tiba yang membuat Miranda menatap Alice dan terdiam.


Wanita paruh baya itu tertawa pelan dengan mata yang mulai berkaca-kaca,


"Coba tebak?? menurutmu.. siapakah mereka??" tanya Miranda balik.


Alice terdiam untuk beberapa saat sambil menatap Miranda dengan tatapan yang sulit diartikan,


"Apakah.. ini pengalaman pribadi anda??" tebak Alice tiba-tiba yang membuat Miranda menatapnya dan mematung untuk sejenak.


Ia pun kembali tersenyum miris dan kini air matanya perlahan menetes di pipi wanita paruh baya itu,


Alice sedikit terbelalak saat melihat Miranda yang meneteskan air matanya. Jadi.. apa cerita tadi itu memang pengalaman pribadinya?? pikir Alice dalam hatinya.


Miranda mengangkat wajahnya dan menatap Alice dengan tatapan yang tajam dan juga sakit secara bersamaan,


"Benar.. wanita malang itu adalah aku" ucap Miranda tanpa ragu.


Alice yang terkejut hanya dapat terdiam dan tidak tau ingin berbicara apa. Miranda terlihat jelas sangat terluka dari sorot matanya. Ternyata kisah cinta masa lalu wanita paruh baya itu cukup menyakitkan, pikirnya.


Miranda menghapus air matanya dengan cepat dan tersenyum sinis sambil menatap Alice,


"Apa kau bisa membayangkan, bagaimana perasaanku sekarang?? Jika kau ada di posisiku.. apa kau juga akan bersikap sama sepertiku?? Dan, jika kau berada di posisiku, apa jika kau bertemu kembali dengan pria yang pernah mengisi hatimu sekaligus memberikan luka yang teramat dalam di hatimu.. Apa kau bisa bersikap baik-baik saja?? Apa kau bisa memaafkannya??" tanya Miranda sinis.


Alice terlihat diam dan tidak berani menjawab pertanyaan Miranda. Ia tidak tau bagaimana perasaan wanita paruh baya itu sekarang. Miranda pasti sangat terluka sampai-sampai membawa kebenciannya sampai sekarang.. Itu semua terlihat jelas dari tatapan dan juga air matanya..


Alice menjadi penasaran, siapakah pria yang telah membuat Miranda seperti ini..


Dan, mengapa Miranda mau menceritakan pengalaman pahit kisah cintanya pada dirinya?? pikir Alice.


Miranda menatap reaksi Alice dan tersenyum sinis,


"Aku tau.. kau pasti merasa kasihan padaku bukan??" tanyanya.


Alice hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Miranda. Miranda menegakkan tubuhnya dan tertawa pelan..


Walaupun wanita paruh baya itu tertawa, tetapi terlihat jelas bahwa ia sedang menutupi kesedihan dan kepedihannya..


"Aku yakin.. kau pasti penasaran dengan pria yang ku ceritakan tadi.." ucap Miranda lagi sambil mendelik pada Alice.


Ia menghela nafasnya pelan dan menatap Alice dengan tajam,


"Biar ku beritahu padamu.. siapa pria yang aku ceritakan itu.." ujarnya lagi yang membuat jantung Alice tiba-tiba berdebar.


"Pria brengsek itu.. adalah.." ucap Miranda sambil menatap tajam pada Alice.


"Ayahmu" lanjut Miranda yang membuat Alice terkejut bukan main.


Bersambung..


Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊


Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺


Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..


Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁


Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍