
Saat ini tepat sudah 2 minggu setelah Jack keluar dari rumah sakit..
Tidak ada yang berubah dengan pria itu. Ia memang telah terlihat jarang pergi ke club malam dan mabuk. Tetapi, Jack yang sekarang terlihat jauh lebih dingin dan bisa di bilang tidak mempunyai ekspresi.
Jack terlihat lebih sering pergi ke kantor dan akan pulang cukup larut, dan begitu seterusnya..
Jack semakin sulit diajak berkomunikasi karena pria itu selalu berbicara dingin pada kedua orang tuanya. Tidak hanya pada orang lain, Jack juga tetap bersikap dingin terhadap orang tuanya. Ia pun hanya akan menjawab seadanya jika kedua orang tuanya bertanya.
Miranda merasa frustasi melihat perubahan Jack. Ia sudah berusaha untuk berbicara baik-baik pada putranya itu, tetapi tetap saja respon Jack sangat dingin. Di tambah pria itu lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor daripada di rumah.
Miranda selalu membujuk Jessica untuk mencoba berbicara dengan Jack, tetapi tidak ada hasilnya. Jessica bahkan menyerah untuk berbicara dengan Jack yang sekeras batu. Jessica bahkan tidak berani membuat kesalahan saat bekerja karena ia takut pria itu akan membentaknya seperti karyawan lain.
Sore ini, Tom terlihat baru pulang ke rumah dengan ekspresi kelelahannya. Miranda yang melihat sang suami masuk langsung berdiri dan menghampirinya,
"Kau sudah pulang??" tanyanya yang di balas anggukan singkat dari Tom.
Miranda mengambil tas kerja milik Tom dan duduk di samping suaminya yang tengah memijat keningnya dengan pelan,
"Ada apa?? Kau terlihat tidak baik-baik saja.. Apa ada sesuatu yang terjadi di kantor??" tanyanya.
Tom menghela nafasnya dalam dan menatap Miranda,
"Jack.." ucapnya terhenti sejenak yang membuat Miranda mengernyitkan keningnya.
"Ada apa dengan Jack??" tanyanya lagi.
Tom terdiam sejenak dan kembali melanjutkan kata-katanya,
"Banyak karyawan dan juga para kolega yang mengeluhkan sikap Jack yang sekarang. Satu kesalahan yang ia dapat, maka Jack tidak akan segan-segan langsung membuang laporan mereka bahkan memecat mereka" ucap Tom.
Miranda seketika terdiam dan mencoba untuk tenang,
"Bukankah itu bagus?? Para karyawan pasti menjadi lebih teliti dan bekerja keras" balas Miranda santai.
Tom menatap sang istri dan menggeleng pelan,
"Tentu saja tidak! Banyak karyawan yang memutuskan untuk mengundurkan diri karena tekanan dan sikap Jack" jawab Tom tegas.
Tom pun terdiam sejenak dan kembali menghela nafasnya dengan berat,
"Aku merasa kasihan pada Jack" ucap Tom tiba-tiba yang membuat Miranda langsung menatapnya.
"Dia menjadi seperti ini karena kehilangan Alice.. Aku tau, Jack pasti masih mencari keberadaan gadis itu" lanjut Tom.
Miranda seketika terdiam dan mendelik pada sang suami,
"Apa kau masih mau mengungkit masalah ini?? Sudahlah.. yang pergi biarlah pergi. Jack juga pasti akan terbiasa nantinya" balas Miranda tidak suka.
Tom seketika menatap Miranda,
"Sampai kapan kau mau melihat Jack seperti ini?? Apa kejadian beberapa minggu lalu saat Jack masuk rumah sakit mau sampai terulang lagi??" tanya Tom dengan sedikit frustasi.
"Apa kau mau melihat Jack yang seperti sekarang ini?? Aku bahkan tidak pernah melihat dia tersenyum lagi. Jack sudah seperti manusia tanpa hati! Apa kau mau terus membiarkan anak kita seperti itu??" lanjut Tom yang mulai muak.
Miranda tidak bergeming dan menatap sang suami dengan tajam,
"Lalu apa yang harus aku lakukan?? Mengapa kau sepertinya menyalahkan semua ini padaku??" ujarnya yang juga mulai emosi.
Tom mencoba mengatur nafasnya dan berdiri dari duduknya,
"Sekarang aku bertanya padamu.. Jika kau mau melupakan masa lalumu itu, apa kau bersedia??" tanyanya yang membuat Miranda ikut berdiri dari duduknya dengan perasaan marah.
"Apa maksudmu!! Apa kau menyuruhku untuk melupakan dendamku pada Patrick dan membiarkan putrinya bersama dengan Jack??" tanyanya balik tajam.
"Bukankah kita sudah membicarakan masalah ini sebelumnya?? Dan kau juga menyetujuinya! Mengapa sekarang kau malah menyuruhku untuk melupakan semuanya?? Kau pikir semua itu hal yang mudah??" lanjutnya cukup keras.
"Asal kau tau, selama ini aku hidup dengan rasa sakit yang masih bersarang di hatiku karena masa laluku! Dan sekarang dengan mudahnya kau menyuruhku untuk melupakan itu semua?? Tidak semudah itu Tom!!!" ucapnya lagi marah.
Tom menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan,
"Apa kau masih menyimpan perasaan pada pria itu??" tanya Tom tiba-tiba yang membuat Miranda mematung.
Tom melangkah mendekati Miranda dan menatapnya dengan tatapan yang mengintimidasi,
"Apakah kau marah karena dulu kau tidak pernah lagi mendapatkan surat dari pria itu??" tanyanya tajam.
"Dan.. Apakah sampai saat ini.. kau tidak pernah mencintaiku??" lanjutnya yang membuat Miranda tak berkutik dan langsung memalingkan wajahnya dengan frustasi.
"Cukup Tom!!! Apa maksudmu dengan semua pertanyaan itu!! Kita sedang membicarakan Jack!!" ujarnya sambil kembali terduduk tanpa berani menatap mata Tom.
Tom seketika terdiam dan tersenyum miris,
Pria paruh baya itu pun menghela nafasnya dan mencoba untuk tetap berdiri tegap di tempatnya. Ia terlihat terdiam cukup lama lalu menutup matanya dengan rapat sebelum kembali menatap sang istri yang terduduk di depannya,
"Asal kau tau Miranda.. Saat itu.. Patrick memang selalu mengirim surat untukmu setiap minggu" ucap Tom tiba-tiba yang membuat Miranda langsung menatapnya.
"Apa.. Apa maksudmu??" tanya wanita paruh baya itu dengan hati-hati.
Tom kembali terdiam sejenak dan tersenyum miris sebelum menatap sang istri,
"Iya.. Kekasihmu itu selalu mengirim surat untukmu.. Tetapi.. Sayangnya, ada seorang pria yang telah jatuh cinta padamu dan telah buta nekat mengambil surat itu lalu membakarnya agar tidak pernah sampai padamu.. Begitu juga sebaliknya.. ia juga selalu mengambil surat yang kau kirim untuk kekasihmu agar tidak pernah sampai padanya" jawab Tom tegas.
DEG!!
Seketika jantung Miranda berdegup kencang saat mendengar ucapan Tom tadi. Perasaan wanita paruh baya itu seketika meluap diliputi dengan rasa marah, kecewa dan tidak percaya. Ia pun berdiri dan menatap sang suami dengan tatapan yang menuntut penjelasan,
"Kau.." ucapnya terputus saat Tom mengangguk dengan tegas dan ekspresi putus asanya.
"Iya.. aku yang melakukannya.. aku yang telah mengadu domba kalian dan menciptakan kesalahpahaman diantara dirimu dan Patrick di masa lalu.. dan akhirnya membuatmu menikah denganku" ujar Tom cepat.
Seketika tangan Miranda pun terangkat dan menampar pipi Tom dengan keras,
PLAK!!
"Kau... Kau benar-benar keterlaluan!!!" ujar Miranda keras dengan nafas yang memburu.
Wanita paruh baya itu merasa di permainkan selama ini. Ia merasa telah di jebak oleh Tom.
Tom menyentuh pipinya yang terasa perih dan menatap Miranda dengan senyuman mirisnya,
"Iya.. aku memang keterlaluan" balasnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Mata Miranda mulai berkaca-kaca dan menatap Tom dengan tidak percaya,
"Kau benar-benar jahat.. Kau jahat Tom!!!!" teriaknya.
Tom hanya terdiam dan mengangguk pelan,
"Kau benar.. aku memang pria jahat yang rela melakukan hal apapun untuk membuat dirinya bisa menikah dengan wanita yang ia cintai.." ucap Tom dalam.
"Tapi sayangnya.. wanita itu tidak pernah mencintainya walaupun mereka telah hidup bersama selama puluhan tahun" lanjutnya tersenyum miris.
Miranda tidak bisa lagi menahan air matanya dan mulai menangis sambil terduduk di sofa. Jadi.. selama ini.. dendam yang ia miliki pada Patrick adalah dendam yang tak beralasan?? pikirnya miris.
Ia kembali teringat dengan ucapan Patrick saat di restoran. Wanita paruh baya itu seketika merasa bodoh dan malu.
Selama ini.. dia telah ditipu..
Selama ini dia hidup bersama seseorang yang telah merusak cinta pertamanya. Seseorang yang melakukan cara jahat agar bisa menikah dengannya..
Dan.. seseorang yang telah membuat impian pernikahannya hancur..
"Kau.. benar-benar jahat Tom!" rintih Miranda dengan tajam.
Tom mencoba menguatkan dirinya dan mengangguk dengan senyuman mirisnya,
"Iya, aku memang jahat" bisik Tom.
"Tanpa disadari perbuatanku itu membuatmu terluka.. begitu juga dengan Jack.." lanjutnya lirih.
"Aku telah menyakiti orang-orang yang aku sayangi" bisiknya lagi.
Tom pun mencoba menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Ia menatap Miranda yang masih menangis sambil mengucapkan kata benci pada dirinya.
Tom pun menunduk dan mencoba menguatkan dirinya,
"Sekarang.. aku sudah mengatakan semuanya.. Maafkan aku.. maafkan aku karena aku telah membuat hidupmu dan Jack hancur.." bisiknya pelan.
"Aku pantas mendapatkan hukuman" lanjutnya.
Tom pun terdiam beberapa saat dan perlahan membalikkan tubuhnya,
"Jika.. kau menyesali semua ini.. maka.. kau bisa menceraikanku.." lirihnya lagi.
"Aku tidak akan memaksa orang yang tidak mencintaiku untuk tetap bertahan disini.." lanjutnya.
Bersambung..
Halo, jangan lupa kasih like, vote dan komen di cerita ini ya 😁 Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🙏
Oh iya, jangan lupa ibadahnya ya, baca novel jangan sampai lupa waktu 🤭