Mysterious Man

Mysterious Man
Menahannya Sejenak



"Jangan pergi, Sheryn. Tetaplah di sini." Pikiran Sheryn seketika kosong saat Melvin memeluk tubuhnya.


Melihat pemadangan di depannya, Stein langsung meninggalkan ruangan itu agar tidak mengganggu kebersamaan bosnya dengan Sheryn.


Ketika kesadaran Sheryn kembali, dia mendorong Melvin dengan kuat. "Tuan, mohon jaga sikapmu. Aku bukanlah wanita yang bisa kau sentuh seenaknya."


Dari dalam kaca mata hitamnya, sorot mata Melvin menampilkan kekecewaan, tapi dalam sekejap dia rubah menjadi sosok yang dingin dan arogan. Kepribadian Melvin yang sesungguhnya bukanlah pria yang lembut. Hanya pada Sheryn dia bersikap seperti itu.


"Aku tidak akan minta maaf untuk hal itu." karena kau memang milikku. Melvin berbalik dan kembali duduk dengan wajah arogan.


"Jika kau kembali sekarang, aku akan bilang pada managermu kalau kau membuatku kecewa dan akan kuminta dia untuk memecatmu dari cafe besok," ancam Melvin.


Jika cara lembut tidak bisa, maka Melvin terpaksa menggunakan kekuasaannya untuk membuat Sheryn tetap di dekatnya.


Kemarahan Sheryn bertambah setelah mendengar ucapan Melvin. "Silahkan saja. Aku tidak takut." Selesai mengatakan itu, Sheryn berbalik ingin pergi.


"Nona Sheryn, sepertinya kau melupakan sesuatu. Kau tidak bisa keluar dari sini tanpa persetujuanku. Kau bisa datang sesukamu, tapi kau tidak bisa keluar dari sini tanpa seijinku. Penjaga di depan akan menangkapmu. Tempat ini, bukanlah tempat yang bisa didatangi oleh sembarang orang."


Langkah Sheryn langsung terhenti. Baru kali ini dia bertemu dengan orang yang sangat arogan. Sheryn berbalik menghadap Melvin dengan wajah geram.


"Silahkan coba kalau kau tidak percaya," lanjut Melvin lagi dengan wajah santai.


Sheryn menggertakkan giginya karena menahan amarah. "Sebenarnya apa mau?"


"Temani aku makan."


Dia bilang sudah kenyang dan sekarang dia memintaku untuk menemani makan. Aku rasa dia agak gila.


"Jika kau hanya ingin ditemani makan, kenapa tidak meminta teman wanitamu saja yang menemanimu? Aku rasa tidak akan ada yang menolakmu."


Jika dilihat dari lokasi mansion dan besarnya mansion tersebut, Sheryn bisa menebak kalau pria di depannya itu bukanlah orang biasa. Harry juga pernah mengatakan kalau orang yang tinggal di kawasan itu hanyalah orang yang memiliki kekuasaan tinggi dan kekayaan yang tidak terhitung banyaknya.


"Yang aku inginkan hanya dirimu. Aku tidak mau yang lain." Sheryn bisa merasakan hawa dingin menyergap tubuhnya saat pria di depannya berbicara.


Sheryn tidak berdaya. Dia tidak akan bisa melawan pria di depannya dengan statusnya yang sekarang. "Tuan Anderson. Aku hanyalah pegawai cafe biasa. Aku takut kau justru tidak berselera makan jika ada aku di sini."


Melvin menyandarkan punggungnya di kursi lalu menyilangkan kakinya. "Itu hanya asumsimu, bukan aku." Melvin lalu berdiri dan menarik tangan Sheryn.


"Kita mau ke mana?" Sheryn nampak terkejut ketika Melvin tiba-tiba menariknya.


"Aku lapar. Aku belum makan dari siang. Aku ingin makan masakanmu."


Apa-apaan pria ini? Dia kira aku pelayannya?


"Aku tidak bisa memasak. Minta saja orang lain untuk memasak untukmu."


Melvin tidak memperdulikan penolak Sheryn dan tetap menariknya hingga ke dapur. Entah kenapa saat dia berkontak fisik dengan pria di depannya itu, Sheryn tidak bisa menolak sama sekali. Sepert saat dia tiba-tiba memeluknya dan seperti saat ini, dia hanya menuruti ke mana pria itu menariknya.


"Aku ingin makan nasi goreng Singapore dan jangan pedas," ucap Melvin setelah mereka tiba di dapur.


Sheryn tertegun untuk sesaat. Makanan itu mengingatkannya pada Melvin. Itu adalah makanan kesukaan Melvin ketika mereka masih tinggal bersama. Melvin sering kali memintanya untuk membuatkan nasi goreng Singapore dan tidak pedas karena Melvin tidak bisa makan pedas.


"Nona Sheryn, kenapa kau malah melamun?" Melvin melambaikan telapak tangannya di depan wajah Sheryn sehingga membuat lamunannya buyar seketika.


"Tuan Anderson, kau bisa memesan di restoran jika kau ingin makan nasi goreng. Aku takut kau tidak akan sakit perut jika makan masakanku."


"Kau boleh pulang setelah membuatkanku nasi goreng dan setelah menemaniku makan. Jika tidak, maka kau harus menginap di sini."


Pria ini benar-benar membuatku kesal.


Karena tidak punya pilihan lain, maka akhirnya Sheryn menyetujuinya. "Baiklah, tapi setelah itu kau harus membiarkanku untuk pulang."


Dengan wajah kesal, Sheryn mulai membuka lemari pendingin dan melihat semua bahan sudah tersedia di sana. Sepertinya dia sudah mempersiapkannya dari awal.


Melvin hanya duduk sambil memandangi Sheryn yang sedang sibuk mempersiapkan bahan-bahannya. Dulu, ketika mereka masih tinggal bersama, Melvin juga selalu duduk sambil menatap Sheryn saat dia sedang memasak.


Diam-diam Melvin tersenyum saat melihat wajah kesal Sheryn.


Kau sudah menggunakan dapur ini, selanjutnya kau akan menempati kamar utama mansion ini kemudian menjadi pemiliknya. Kau harus membiasakan diri mulai sekarang agar kau tidak terkejut saat kau menjadi bagian dari kehidupanku nanti. Tunggu saja sampai aku menjadikanmu Nyonya Melvin Anderson.


Saat sedang mengiris wortel, tidak sengaja Sheryn melukai tangannya dengan pisau. "Awww."


Mendengar itu, Melvin dengan langkah cepat mendekati Sheryn. "Apa kau tidak bisa berhati-hati sedikit?" ujar Melvin dengan suara tinggi ketika melihat jari telunjuk Sheryn berdarah.


"Maaf, aku sedang melamun tadi."


Melvin langsung membawa Sheryn menuju wastafel lalu meletakkan jari tangan Sheryn di bawah guyuran air keran sambil sedikit menekan area yang terkena pisau hingga darahnya berhenti mengalir.


"Kau tunggu di sini." Melvin berjalan cepat keluar dari dapur dan kembali setelah beberapa menit membawa kotak obat. "Kemarikan tanganmu." Melvin mengulurkan tangannya ke hadapan Sheryn.


"Tidak perlu, ini hanya luka kecil," tolak Sheryn.


"Jangan membantahku Sheryn!"


Dengan cepat Sheryn mengulurkan tangannya pada Melvin. Meskipun Melvin mengenakan kaca mata hitam, tapi Sheryn merasa kalau pria di depannya itu sedang menatap tajam padanya.


Dengan hati-hati, Melvin menempelkan plester pada jari tangan Sheryn. "Sudah." Melvin mengangkat kepalanya dan melihat Sheryn sedang menatap wajahnya tanpa berkedip. "Apa sebenarnya yang sedang kau pikirkan Nona Sheryn sehingga kau melukai tanganmu sendiri."


Sheryn kembali tersadar. " Tidak ada. Aku hanya kelelahan saja," jawab Sheryn sekenanya.


Berada di dekat pria di depannya itu membuat pikiran Sheryn selalu tertuju pada Melvin. Mungkin karena suaranya sangat mirip dengannya, maka dari itu, dia merasakan perasaan akrab setiap berada di dekatnya.


"Kalau begitu tidak usah memasak untukku."


Bayangan Melvin kembali muncul ketika pria di depannya itu berbicara.


"Aku tidak apa-apa. Aku akan memasak. Lagi pula, ini tidak akan lama." Sheryn menghentikan tangan Melvin ketika ingin menariknya keluar dari dapur.


Melvin terlihat ragu sejenak. "Kau tunggu saja di meja makan, aku akan memasak dengan cepat," ucap Sheryn sambil melepaskan tangannya dari Melvin.


Dia tidak bisa berkonsetrasi jika pria itu ada di dekatnya, maka dari itu, dia menyuruhnya untuk pergi dari dapur.


"Baiklah."


Tidak butuh waktu yang lama, nasi goreng pun jadi. Sheryn kemudian membawakan ke ruang makan dan meletakkn di depan Melvin.


"Kenapa hanya satu?" tanya Melvin ketika melihat Sheryn hanya membawa satu piring nasi goreng.


"Aku hanya memasak untukmu saja." Sheryn kemudian duduk di kursi yang tadi dia duduki.


Melvin berdiri lalu mengambil dua kotak makanan dan meletakkan di depan Sheryn. "Kalau begitu habiskan ini. Jika tidak, jangan harap kau bisa pergi dari sini."


Sheryn menatap makanan yang ada di depannya dengan mata yang membesar.


Apa dia ingin membuatku ma*ti kekenyangan?


"Aku tidak bisa menghabiskan semua ini, Tuan."


Melvin mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. "Kalau begitu, kau tidak bisa pulang dari sini malam ini," ucap Melvin dengan wajah acuh tak acuh.


Bersambung