
"Itu terlalu lama, system tidak bisa mengerti di harap untuk mengganti topik" ucap system yang tiba-tiba berputar-putar serta tubuhnya mengeluarkan asap.
Terlihat Kevin menoleh ke arah dupa yang hampir habis dan segera mati.
"Anak itu menjadi lebih cepat di banding sebelumnya" ucap Kevin sembari berdiri dan memadamkan dupa tersebut.
"Berapa lama waktu yang di perlukan untuk pergi ke kota Samanda jika menggunakan kereta kuda?" tanya Kevin.
"Di perlukan 2 bulan untuk tiba di kota Samanda, dan kereta kuda tak sanggup untuk melakukan perjalanan selama itu serta medan yang akan kau lewati akan sulit karena harus melewati sungai yang memiliki arus yang sangat kuat" jawab system.
"Apa hal ini menjadikan kota Samanda menjadi kota tempat berkumpulnya para buronan alam atas?" tanya Kevin sembari berjalan ke arah air terjun.
"Pertahanan yang di buat pemimpin kota sangat kuat dan tidak bisa di tembus, jika ada seorang master yang terbang maka otomatis ia akan mati karena di hisap darahnya oleh pemimpin kota Samanda. Hal ini yang membuat kota Samanda menjadi tempat berkumpulnya para buronan" jawab system.
"Semua buron tunduk di bawah kepemimpinan pemimpin kota Samanda, hal ini sangat baik karena mereka pasti dapat memberikan keuntungan yang lebih besar di banding mempekerjakan orang baik"ucap Kevin.
"Kau benar, para buronan itu telah menyerahkan kesetiaan mereka kepada pemimpin kota, dan pemimpin kota menjadi salah satu orang yang memiliki kedudukan yang dapat di sandingkan dengan seorang raja walau wilayah yang ia pimpin tidak memiliki jarak yang luas" ucap system.
Terlihat Kevin mengarahkan tangannya ke kanan, seketika angin bertiup sangat cepat dari arah kanan.
"Aaaaaaaa...!" terdengar teriakan Dujuan dari kejauhan.
"Bruk..! bruk...!" suara pohon yang terus menerus tumbang di samping Kevin.
"Sub..!" terlihat Dujuan telah terkapar di tanah karena tubuhnya terluka saat menghantam ratusan pohon hingga hancur.
"Kau semakin hebat, bahkan kau bisa menarik seseorang hanya dengan niat mu" ucap system.
"Siapa yang kau tolong?" tanya Kevin.
"Aku tidak tau, dia terlihat sangat lemas dan sekarat aku tidak bisa meninggalkan nya sendiri, jadi aku memberikan ia air" jawab Dujuan sembari berdiri.
Terlihat Kevin tersenyum sembari berjalan ke arah pepohonan yang roboh.
"Asal kau tau orang yang kau selamatkan adalah orang yang selama ini ku cari dan ingin ku temui" ucap Kevin.
"Sudah ratusan tahun kita tidak bertemu, kita mati bersama dan hidup bersama lagi" ucap Kevin.
"Apa yang kau bicarakan..? aku tidak mengerti" tanya Dujuan sembari berjalan mengikuti Kevin.
"Progres misi utama telah bertambah, tuan di minta untuk mencari 2 belahan jiwa" ucap system.
...****************...
Singkat cerita saat malam hari.
Terlihat di samping air terjun Kevin dan dujuan tengah makan di depan api unggun.
"Apa yang terjadi..?" ucap seorang pria sembari membuka mata, pria itu berada di belakang Kevin ia tidur dengan di selimuti kulit beruang.
"Kau sudah bangun" ucap Kevin sembari menghadap belakang.
"Tunggu suara ini terdengar familiar" ucap pria yang tertidur di belakang Kevin sembari mencoba untuk bangun.
"Beristirahat lah, tubuh mu masih lemah seperti biasanya" ucap Kevin sembari melempar tulang ke dalam api unggun.
"Di bawah sinar bulan yang terang, di sana kami tertidur lelap" ucap Kevin.
Seketika pria di belakang Kevin berdiri dan langsung menendang Kevin sangat keras.
"Duak..!" suara kaki pria itu yang patah.
"Kau tidak akan bisa melukai ku, sama seperti dulu" ucap Kevin sembari berdiri dan berbalik.
Terlihat pria tersebut terjatuh memaku saat memandang wajah Kevin.
"Knp kau menunjukkan wajah mu kembali, kau yang membuat semua ini terjadi!" teriak pria tersebut.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" gumam Dujuan.
"Jika saja kau tidak menginjak perangkap, maka kita semua akan selamat!" teriak pria itu.
"Apa kau lupa yang menginjak perangkap itu diri mu, aku berlari menjauh agar bisa menyelamatkan kalian" ucap Kevin.
"Oh aku lupa, kejadian itu telah berlalu selama 21 tahun, aku bahkan tidak mengingat kronologi sebenarnya apa yang terjadi, aku hanya bisa mengingat wajah mu dan juga wajah tim kita" ucap pria itu.
...****************...
Saat Arjun masih hidup di bumi.
Di sebuah perkemahan militer, terlihat ratusan prajurit tengah berbaris sembari memegang senjata dan peralatan yang lengkap layaknya ingin berperang.
"Tap...! tap...!" suara langkah kaki seorang pria yang memiliki badan tegap memiliki tinggi di atas semua prajurit di sana.
Pria itu berjalan sembari menghisap cerutu ia menuju ke hadapan para prajurit.
"Hormat......! gerak!" teriak salah satu prajurit.
Lalu semuanya memberi hormat kepada pria yang sebelumnya.
"Tegap....! gerak.!" teriak prajurit yang sebelumnya saat melihat pria tadi mengangguk.
"Komandan Surya semua pasukan siap menyerbu pasukan pemberontak OTM, kami siap membasmi dan memberantas mereka demi tanah air kami..!" ucap seorang prajurit.
"Kalian jangan mengambil keputusan dengan terburu-buru, diriku telah mengirim satu tim yang dapat membasmi para OTM dengan mudah. Kalian pergi awasi desa di sekitar lokasi rawan penyergapan OTM" ucap pria sebelumnya alias komandan Surya.
"Maaf lancang komandan, memang siapa yang anda kirim memang ada yang lebih baik dari kami" tanya prajurit yang sebelumnya.
"Heheheh... Tentu saja ada, mereka memiliki personil empat orang, mereka memiliki kekuatan tempur setara dengan seribu pasukan, identitas mereka sangat di rahasiakan oleh negara berbeda dengan kalian yang selalu di pertunjukan dan di perlombakan" jawab komandan Surya sembari tertawa.
"Pemimpin tim itu adalah seorang pemuda, yang kuat dan juga cekatan serta memiliki sejuta rencana, tangan kanannya ada seorang penembak jitu yang memiliki pengelihatan yang tajam dan juga pendengaran yang tajam. Tangan kirinya adalah sang dewa penjinak bom bahkan ia dapat mematikan bom waktu hanya dalam beberapa detik. Dan yang terakhir pelindung mereka semua adalah seorang peretas yang sangat handal selama ia bekerja belum pernah gagal meretas apapun" ucap komandan Surya.
"Mereka di sebut the great warrior" ucap komandan Surya.
...****************...
Di sebuah hutan belantara.
Tanah yang lembab serta daun-daun yang masih menjatuhkan air saat tertiup angin pertanda habis turun hujan.
"Target di temukan, 15 orang prajurit OTM berjaga di depan gua yang tak lain adalah markas utama mereka" ucap seorang pria yang tengah tiarap sembari membidik menggunakan sniper.
Pria itu tiarap di samping batu yang besar dan ia menutupi tubuhnya dengan rumput untuk kamuflase.
"Ujung, lalu aku masuk" terdengar suara yang familiar dari radio yang di bawa pria tadi.
"Siap laksanakan" jawab pria itu.
"Duar!" suara tembakan sniper yang terdengar seperti angin yang berhembus dan tikus yang menciut.
Sekejap dua orang penjaga yang berdiri dengan senjata di depan gua tumbang, sontak hal itu membuat rekan di sekitar nya panik dan mereka mulai siaga.
"Stup!"
...****************...
Bersambung....