
"Tidak mungkin dia adalah ahli jiwa terkuat dari klan tokor" gumam jenderal belius.
"Kalian semua percepat para tentara kita ke benua ini. Agar saat dewa kita datang kita telah menjadikan tempat ini menjadi tempat yang indah" ucap jenderal belius.
"Siap yang mulia" teriak semua ras ikan yang berada di sana.
...****************...
Sementara itu di alam kamar Kevin.
Terlihat Kevin sedang makan bersama niana.
"Apa kau bahagia tinggal di kota Guang?" tanya Kevin.
"Tentu saja aku bahagia" jawab niana.
"Apa kau memiliki sebuah permintaan?" tanya Kevin.
"Aku hidup berkecukupan dan untuk saat ini aku tidak memiliki keinginan" jawab niana.
"Tok tok tok" suara ketukan pintu.
"Papa ini Eira" ucap Eira sembari mengetuk pintu.
"Iya tunggu papa bukakan pintu" jawab Kevin sembari berjalan ke arah pintu.
"clik" suara pintu yang di buka.
"Apa yang Eira inginkan?" tanya Kevin sembari berjongkok di hadapan Eira.
"Papa Eira takut apa Eira boleh tidur bersama mu malam ini" jawab Eira.
"Baiklah mari tidur bersama ku" ucap niana yang tiba tiba di samping Kevin.
"Benarkah terima kasih" ucap Eira sembari tersenyum.
"Kalian masuklah aku ada sebuah urusan aku akan akan segera kembali" ucap Kevin sembari keluar kamar.
"Baiklah kerjakan apa yang mau kau lakukan kami akan menunggu mu" jawab niana sembari berjalan ke arah ranjang.
"Baiklah" ucap Kevin sembari berjalan pergi.
"Aku harus memberi tahu apa yang terjadi tadi pada yang lainya" gumam Kevin.
"Leonel sedang membuat senjata di bangunan tempa, sepertinya aku harus ke sana dan melihat" gumam Kevin sembari terbang.
...****************...
Sesampainya di sana Kevin pun langsung masuk ke dalam ruangan yang di penuhi asap.
"Leonel!.." teriak Kevin.
"Ada apa" jawab Leonel dari kejauhan sembari berjalan cepat.
"Aku ingin melihat hasil kerja mu selama ini" ucap Kevin sembari melipat tangannya ke belakang.
"Kami telah membuat 367 pedang tingkat tinggi dalam waktu satu minggu" jawab Leonel.
"Bagaiman dengan senjata rahasia yang telah ku berikan sketsa serta teknik nya pada mu" tanya Kevin sembari tersenyum kecil.
"Aku telah membuat satu pedang itu dan telah sempurna, aku menunggu dirimu untuk mengunjungi ku agar aku bisa menunjukan itu pada mu" jawab Leonel sembari berjalan.
"Sekarang aku di sini tolong tunjukan itu pada ku" ucap Kevin sembari berjalan mengikuti Leonel.
Sesampainya mereka di tempat menyimpan senjata, kemudian mereka pun berjalan ke arah gagang pedang berwarna hitam yang di taruh di dalam lemari kaca.
"Ini dia pedang yang telah ku buat dengan rancangan serta teknik yang kau berikan pada ku saat itu" ucap Leonel sembari membuka lemari kaca.
"Ini terlihat indah" ucap Kevin sembari memegang gagang pedang.
"Tapi aku masih bingung cara kerja pedang ini. Dan aku berfikir itu hanya sebuah gagang saja" ucap Leonel.
"Itu benar pedang ini hanya dapat di aktifkan dengan darah" ucap Kevin sembari meneteskan darah ke gagang tersebut.
Dan seketika gagang itu menyerap darah Kevin dan seketika muncul bilah pedang berwarna putih bercampur emas.
Bagian tengah berwarna putih bagian pinggir berwarna emas.
"Pedang ini bernama sadiq!... Pedang ini dapat memberitahu sifat dan kekuatan yang ia miliki" ucap Kevin sembari mengangkat pedang itu ke langit.
"Di bagian tengah menggambarkan sifat dan juga jiwa yang ia miliki sedangkan bagian pinggir menggambarkan kekuatan yang ia miliki" ucap Kevin.
Tiba tiba bilah pedang itu menghilang.
"Tolong kau buatkan 10 pedang sepeti ini lagi" ucap Kevin sembari memberikan kembali gagang pedang itu pada Leonel yang terlihat sangat terkejut hingga membuat mulutnya menganga.
"Aku telah mengingat cara membuat pedang ini jadi aku tidak memerlukannya lagi" jawab Leonel sembari memberikan kembali gagang pedang pada Kevin.
"Baiklah jika begitu aku akan membawa pedang ini" ucap Kevin sembari menerima gagang pedang.
"Kau teruskan pekerjaan mu aku akan pergi dan kau harus ingat. Berhati hatilah" ucap Kevin sembari berjalan meniggalkan Leonel.
...****************...
Singkat cerita setelah Kevin memberitahu apa yang terjadi padanya ia pun kembali ke kamar.
"Clik" suara Kevin membuka pintu.
"Sepertinya mereka telah tidur" gumam Kevin sembari berjalan ke arah sofa.
"Huh hari ini lumayan melelahkan" ucap Kevin sembari melepaskan jubahnya serta bajunya dan kini Kevin hanya menggunakan celana panjang.
"clik" suara pintu kamar mandi yang terbuka.
Dan terlihat niana keluar hanya dengan handuk.
Spontan mendengar pintu kamar mandi yang di buka Kevin pun menoleh ke sana dan tanpa sengaja ia melihat tubuh niana.
"Dia memiliki tubuh yang sangat indah dan juga mulus" gumam Kevin sembari terus menatap niana.
"Na na na na na na na" suara niana yang menyanyi terdengar sangat indah dan lembut, sembari membuka handuknya.
Lalu niana berjalan ke arah lemari pakaian dan ia melihat Kevin dari cermin yang sedang memandangi seluruh tubuhnya.
"Gas ajalah Kevin mumpung ada rezeki di depan mata" ucap Red dalam fikiran Kevin.
[Ayo tuan semangat silahkan beli obat kuat.]
Seketika Kevin memalingkan wajahnya dan ia pergi berjalan ke luar.
"Tubuh yang bagus" ucap Kevin sembari membuka pintu kamar dan keluar.
Terlihat niana hanya diam terpaku dengan wajah malu memerah dan tersenyum.
"Dasar kau sialan, berhentilah menjadi seperti setan" ucap Kevin sembari berjalan dan menyalakan rokok.
"Lagi pula tidak dosa melakukan itu bersama istri itu adalah ibadah. Kecuali kau melakukan itu dengan orang lain yang bukan istri mu" ucap Red dalam fikiran Kevin.
"Tapi jika aku melakukan itu tanpa persetujuannya maka sama saja aku memperkosa" ucap Kevin sembari duduk di atas batu dekat kamarnya.
"Itu terserah pada mu. Oh iya besok kau akan di latih oleh Blue yu" ucap Red dalam fikiran Kevin.
"Tunggu apa kalian bisa melihat apa saja yang aku alami" tanya Kevin.
"Tidak kami hanya bisa merasakan perasaan mu dan dari perasaan mu kami dapat menyimpulkan keadaan yang terjadi" jawab Red dalam fikiran Kevin.
Tiba tiba ada seseorang yang memegang pundak Kevin.
"Apa yang kau inginkan niana" tanya Kevin sembari menoleh ke belakang.
"Bagaimana kau tau kalau itu aku?" tanya niana sembari duduk di samping Kevin.
"Tentu saja aku tau karena aku adalah kultivator" jawab Kevin sembari mematikan rokok.
"Soal yang terjadi tadi..." ucap niana dengan malu malu.
"Apa kau marah pada ku" tanya Kevin.
"Maksud ku..." ucap niana.
"Baiklah aku minta maaf" ucap Kevin.
"Bukan itu aku tidak keberatan kau melihat ku seperti tadi" ucap niana yang terlihat malu hingga wajahnya memerah.
"Di luar dingin sebaiknya kau masuk ke dalam" ucap Kevin sembari memakaikan jaket pada niana.
...****************...
Bersambung.