
Kembali ke masa kini.
"Baiklah tuan saya akan menandatanganinya" jawab raja Yun yang sembari mengambil pena yang berada di sakunya.
"Dia sakit karena mengorbankan meridian miliknya untuk menyelamatkan putri mu saat melahirkan, aku dapat menyembuhkan istri mu tapi, dia tidak akan pernah bisa berkultivasi lagi" ucap Kevin sembari memandang seorang wanita tua yang tidur di atas kursi.
"Itu tidak menjadi masalah yang terpenting dia bisa kembali sehat lagi, aku tidak tahan melihat dirinya menderita" jawab raja yu yang.
"Baiklah bawa di ke istana nanti malam aku akan datang dan menyambungkan istri mu, jika kau tidak mempercayai ku kau bisa mengurus prajurit mu untuk mengawasi ku" ucap Kevin sembari berdiri.
"Saya mempercayai anda" jawab raja Yun yang sembari menunduk.
"Aku akan pergi berkeliling" ucap Kevin.
Sementara itu di kapal paman Qiu.
"Apa kita masih berada di jalur..!" teriak paman Qiu yang tengah duduk di lantai kapal.
"Duaar...!"
"Byur"
Terdengar suara ombak dan petir yang menggelegar pertanda badai sedang terjadi.
"Benar kita berada di jalur yang benar..!" jawab seorang laki laki elf yang memiliki tubuh besar, rambut gimbal berwarna pirang.
"Apa kau yakin...!?" tanya paman Qiu dengan nada kencang agar bisa di dengar.
"Iya aku telah mengikuti kordinat yang telah tercatat di kompas!" jawab paman Bog yang tengah mengemudi kapal.
"Justin, coba kau cek kordinat, senior Bog itu bodoh dan buta map!" teriak paman Qiu sembari menoleh ke arah Elf yang tengah mengikat tali ke tiang.
"Siap laksanakan!" jawab Justin.
"Sial baru beberapa hari berlayar...! kami telah terkena badai yang dahsyat seperti ini" ucap paman Qiu sembari membanting peta.
"Apa yang kau lakukan itu peta kita satu-satunya..!" teriak elf berambut gimbal alias Jhon sembari berlari mengejar peta yang terbang.
"Tenang aku menangkapnya" ucap putih sembari lompat dan mengambil peta tersebut.
"Dasar kalian bodoh, yang ku lempar bukan peta, lebih baik kita fokus bagaimana cara agar kita selamat dari badai ini!" teriak paman Qiu sangat keras.
"Junior tenang saja, aku dapat melihat di ujung telah terang, lagi pula kapal ini tak akan hancur hanya dengan badai sekecil ini" ucap paman Bog.
"Senior yang ku takutkan bukan badai, tapi arah kapal kita, jika kita tersesat kita akan kena hukuman dari tuan muda. dan pasti ia akan kecewa dengan kita" ucap paman Qiu sembari berdiri dan menghampirinya paman Bog.
"Kau tenang saja kita tidak akan tersesat, karena kita memiliki kompas" ucap paman Bog.
"Jhon kita akan sampai di kota apa nanti?" tanya paman Qiu.
"Kita akan sampai ke pelabuhan loseng di sana adalah kota yang memiliki nama yang sama
seperti nama pelabuhan. Raja Bull tinggal di kota huantian. Di kota huantian banyak sekali petarung yang kuat dan juga kota itu sering mengadakan perlombaan harian yang mana peraturan di sana adalah hidup dan mati" jawab Jhon.
"Bagaimana bentuk fisik yang di miliki raja Bull?" tanya paman Qiu.
"Raja Bull adalah seorang ras siluman sapi yang memiliki tinggi tiga meter, tubuhnya sangat berotot, raja Bull terkenal sangat kuat dia memiliki fisik layaknya baja karena tidak ada pedang yang bisa melukai tubuhnya. Raja Bull memiliki kulit berwarna hitam, mata merah, dan juga tanduk di kepala yang berjumlah empat dua menghadap atas dua menghadap bawah" jawab Jhon.
"Bagaimana dengan sifat, kebiasaan, serta kesukaan nya?" tanya paman Qiu.
"Raja Bull terkenal sangat pemarah, dia sangat suka bertarung. Tapi dia juga sangat suka mabuk bahkan dia bisa menghabiskan satu genting besar hanya dalam satu menit saja. Oleh karena kebiasaanya itu ia juga sering di panggil dengan nama dewa mabuk" jawab Jhon.
"Aduh... tuan muda melarang kami untuk mengonsumsi sesuatu yang memabukkan, dan kami tidak menyimpan arak atau yang lainya. Jadi apa yang harus ku lakukan?" gumam paman Qiu.
"Aku pernah mendengar kalau raja Bull itu sangat menghormati seorang petarung sejati, di benua gomu ada seorang panglima perang yang sangat di hormati oleh raja Bull karena berhasil melukai tubuhnya walau hanya sedikit. Dari sini aku menyimpulkan kalau raja Bull itu sangat menghormati orang yang telah mengalahkannya. Jadi kau harus mengalahkannya terlebih dahulu agar mendapatkan kepercayaan dari raja Bull" ucap Jhon.
"Putih apa kau bisa mengalahkan Bull?" tanya paman Qiu.
"Aku tidak tau karena belum pernah bertemu dengannya, tapi kemungkinan Huang bisa melakukanya karena dia berada di ranah mahayana bintang dua" jawab putih sembari berjalan ke arah paman Qiu.
"Ya kemungkinan aku bisa melakukan itu karena, kami memiliki perbedaan ranah dan juga kemungkinan pengalaman ku lebih banyak" ucap Huang yang tiba-tiba muncul di samping paman Qiu.
"Raja Bull memiliki kekuatan yang tidak bisa di remehkan karena sejak lahir ia telah di tuntut untuk selalu berperang oleh kaisar Yun Feng. Dan bahkan ia bisa meratakan dua ribu pasukan klan Tokor waktu masih berada di umur 12 tahun" ucap Jhon.
"Bukanya tuan muda selalu memberikan kita saran setiap bertarung jika kita ingin menang maka kita tidak boleh meremehkan musuh kita walau musuh kita hanyalah seekor semut" ucap paman Qiu.
"Baiklah-baiklah aku yang salah, aku akan mencoba mengalahkannya saat telah tiba nanti" ucap Huang sembari pergi berjalan ke arah kabin.
"Di sini siapa yang masih jomblo?" tanya Jhon.
"Apa kau menghina kami semua!" ucap paman Qiu sembari menatap tajam ke arah Jhon di ikuti oleh paman Bog, Mugi, Tiger, Lion, Jagu, Rus, Beru, dan juga yang lainya.
"Maaf-maaf aku tidak bermaksud menghina kalian, aku hanya bertanya karena raja Bull memiliki putri yang belum menikah, tapi dia telah berumur 40 tahun. Namun karena ia telah naik ke ranah kaisar sejak kecil ia memiliki wajah yang sangat cantik. Dia memiliki tubuh manusia namun dengan tanduk kecil di kepalnya" ucap Jhon.
"Jadi maksud mu kita harus menikahi anaknya agar bisa mendapatkan kepercayaan braja Bull tanpa harus bertaring?" tanya paman Qiu.
"Ya tepat sekali dan menurut ku pasangan yang akan putri pilih adalah diri mu Qiu" ucap Jhon.
"Dasar kau bajing*n beraninya kau menjodohkan aku dengan seorang nenek-nenek!" teriak paman Qiu sembari menginjak-injak Jhon yang tersungkur di tanah.
"Tuan muda apa anda setuju Qiu menikah dengan putri raja Bull?" tanya paman Bog menggunakan telepati.
"Tentu saja boleh, dengan begitu kita akan memiliki aliansi yang memiliki kendali penuh di tangan ku karena kemungkinan besar paman dan yang akan memegang kendali benua gomu jika dia menikah dengan putri raja Bull" jawab Kevin menggunakan telepati.
"Junior Qiu tuan muda mengatakan jika sebaiknya kau menikah dengannya agar benua gomu berada di tangan tuan muda. Bukanya raja Bull hanya memiliki satu putri karena dia telah mandul untuk menguasai kekuatan penguatan tubuh yang baru?" ucap paman Bog.
"Itu benar, 41 tahun yang lalu istrinya hamil dan bersamaan dengan itu ia menguasai teknik penguatan tubuh yang membuatnya tidak bisa menghasilkan ****** lagi" ucap Jhon sembari menahan tendangan dari paman Qiu.
"Qiu bukanya Jhon telah mengatakan kalau putri raja Bull memiliki paras yang cantik. Lagipula sekarang kau hampir berumur 50 tahun jadi apa bedanya kau menikahi putri raja Bull yang masih berumur 40 tahun" ucap paman Bog.
"Ayolah aku bisa membuatkan ramuan cinta karena dulu ayah ku adalah seorang dokter cinta jadi kau tidak perlu khawatir" ucap paman Bog.
"Kalian paksa aku lagi maka aku akan lompat dari kapal" ucap paman Qiu.
"Baiklah cepat kau lompat sana" jawab paman Bog.
Bersambung.Bersambung.
ranah di novel King system.
penguatan tubuh
pengumpulan Qi
kesatria
prajurit
master
grand master
guru
tetua
raja
kaisar
penguatan jiwa dan roh
silver emperor
golden emperor
mahayana.
silver immortal
golden immortal
diamond immortal.
Setiap tingkatan terbagi menjadi tiga tahap yaitu bintang satu sampai tiga.
Tingkatan nanah kultivasi alam semesta.
manusia
immortal
dewa
Setiap ranah alam semesta terbagi menjadi tiga bagian.
Ranah fana
Manusia fana
Penguatan tubuh
Penyempurnaan jiwa dan roh
Ranah immortal.
Immortal
Pengaturan enam Indra
Penyempurnaan raga
Ranah dewa
1.Dewa
2.Dewa perak
3.Dewa emas
setiap ranah di bagi menjadi tiga tahapan sama seperti di dunia Kevin.
Tingkatan ranah kultivasi jiwa.
Jiwa baru
jiwa menyatu
jiwa ahli
jiwa raja
jiwa kaisar