
Perlahan pintu itu pun terbuka dan terlihat samar-samar seorang siluman banteng yang kurus kering tengah duduk di atas singgasana yang terbuat dari gerombolan manusia hidup yang di susun sedemikian rupa hingga menjadi tempat yang nyaman.
"Sungguh biad*b" ucap paman Qiu yang terlihat sangat marah hingga matanya berubah menjadi merah.
"Tolong..! tolong..! selamat kan kami" teriak para manusia yang menjadi singgah.
Saat pintu telah terbuka sepenuhnya terlihat di langit langit mayat bergelantungan, kaki, tangan, kepada menjadi hiasan, dinding ruangan itu di penuhi oleh manusia yang di masukan ke sebuah kurungan besi yang terlihat seperti sangkar burung, seluruh manusia di sana berteriak menangis bahkan ada yang bunuh diri karena tak tahan.
"Ayah...!" teriak Emon yang tiba-tiba berlari ke arah singgasana.
Terlihat siluman itu tersenyum.
"Jangan gegabah" ucap paman Qiu sembari menarik Emon ke belakang.
"Bagaimana bisa kau menyusul ke mari!" teriak paman Qiu.
"Semuanya lari kita di belakang kami ada puluhan monster!" teriak Beru dari belakang yang lainya.
Seketika semua nya menoleh ke arah belakang secara bersamaan.
"Menunduk..!" teriak Huang.
Tiba-tiba Beru dan yang berada di belakang langsung tiarap dengan spontan.
"Tebasan pemusnahan" ucap Huang sembari menarik pedangnya dari sarung pedang.
Seketika tebasan pedang itu mengeluarkan sebuah energi yang berbentuk bulan sabit berwarna biru. Energi itu melaju sangat cepat dan memotong puluhan monster menjadi dua bagian.
Tiba-tiba Mugi melempar sebuah botol kaca ke arah monster yang telah tergeletak di tanah.
"Mereka memiliki kemampuan regenerasi yang sangat tinggi, aku menggunakan racun yang dapat mematikan sel darah putih mereka dan mereka pun tidak bisa melakukan regenerasi lagi" ucap Mugi.
"Kau salah, mereka itu bukan mahkluk hidup melainkan seekor monster yang di bangkitkan. Dan cara membunuh mereka lumayan sulit karena harus membunuh tuan mereka. Dan tuan meraka ada di hadapan kita" ucap paman Qiu.
"Tembok besi" ucap paman Bog sembari memukul palu milik nya ke tanah dan seketika muncul tembok besi yang menutupi jalan belakang.
"Jalan ini memiliki banyak jebakan, aku tidak ingin membuang waktu dengan menganalisis satu persatu dari ubin di lantai" ucap paman Qiu.
"Kita harus membuat jalan di atas untuk, agar kita tak perlu menyentuh lantai" ucap paman Bog.
"Untuk apa melakukan hal yang merepotkan" ucap Huang.
Tiba-tiba Huang menginjak lantai di bagian dalam ruangan tempat singgasana.
"Brak..!" suara lantai yang hancur.
Tiba-tiba Huang berjalan dengan santai masuk ke dalam ruangan itu.
"Kami berbeda, memang kau kira kami ini sama dengan orang bod*h itu yang haus akan harta dan juga tamak" ucap Huang sembari tersenyum dan berjalan dengan santai.
Terlihat siluman sapi itu marah dan menunjuk ke arah Huang dengan niat membunuh yang jelas bahkan bisa di rasakan oleh yang lainya.
"Dasar sapi sial*n..!" teriak putih yang tiba-tiba melompat ke arah siluman itu dan langsung menusuk siluman menggunakan pisau dapur.
"Benar juga dia memiliki fisik yang lemah dan juga umur yang pendek" ucap paman Qiu yang terlihat terkejut.
"Tuan aku akan menyerap seluruh aura gelap yang berada di tempat ini, namun kami memerlukan waktu beberapa hari karena aura gelap di sini sangat berlimpah.
Tiba-tiba mayat siluman itu di tarik dan di makan oleh para manusia yang di tahan itu.
"Cepat lepaskan semuanya. Aku tidak tahan melihat mereka menderita" ucap paman Qiu.
"Tuan.. tolong selamatkan raja Bull terlebih dahulu, ia telah menderita selama puluhan tahun hanya agar kami bisa terbebas" ucap seorang kakek tua yang berada di bagian bawah singgasana dengan suara serak serta pelan.
"Dia ada di mana?" tanya paman Qiu.
"Dia berada di belakang. Kalian tinggal hancurnya dinding itu maka ia berada di sana" jawab kakek itu setelah itu ia mati.
...****************...
Di tempat Qi yu.
"Hei apa kereta ini tidak bisa berjalan lebih cepat" ucap Qi yu yang tengah duduk di dalam kereta dengan wajah kesal karena kereta kuda berjalan terlalu lambat.
"Sabat saja seharusnya kita menikmati perjalanan ini agar lebih rileks" ucap seorang lelaki yang memiliki tampang seperti wanita.
"Tapi ini membosankan, aku bosan hanya melihatnya pohon-pohon berwarna pink sejak kita berangkat" ucap Qi yu.
"Kami juga tidak menyukai ini, tapi ya mau bagaiman kita harus mengikuti aturan agar tidak melanggar peraturan ibu kota" ucap Chen yu.
"Tapi aku merasa di antara kita ada yang merasa senang" ucap Leonel.
"Ya kau benar dari awal perjalanan Las dan juga Himawari terus bergandeng dan juga berpelukan. Aku ingin muntah melihat hal itu" ucap Tenggor yang terlihat kesal.
"Kita hampir sampai kalian sabar saja, lagi pula kita hanya melakukan perjalanan selama seminggu. Ini terbilang sangat cepat di bandingkan aku jika pergi ke ibu kota" ucap walikota Sakamoto.
"Aku sangat menyukai bungan sakura, apa kau bersedia memberi nama salah satu anak kita dengan nama sakura di masa depan nanti?" tanya Himawari yang memeluk tangan Las dengan erat dan bersifat manja.
"Cih untuk apa memberikan nama beban dari tim tujuh, bahkan mendengar nama nya saja sudah kesal. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku harus memanggil nama anak ku dengan nama beban sepanjang hidup ku" gumam Las yang terlihat kesal.
(Jadi Las dan juga Himawari itu beda kereta karena mereka ingin menghabiskan waktu bersama lebih lama sedangkan yang lainya duduk di kereta yang sama namun memiliki ukuran lebih panjang sama seperti bus)
"Bagaimana kita beri nama anak kita nanti dengan nama Sasuke atau Naruto. Oh iya aku memiliki nama yang lebih bagus jika dia adalah wanita. Aku sangat mengagumi dirinya yang besar yaitu stunade saja" jawab Las.
"Tidak...! aku tidak suka dengan nama itu lebih baik kita berikan nama sakura saja" ucap Himawari.
"Hei berhentilah ngebucin di sana...! aku sudah muak mendengar kalian selama seminggu bahkan malam kalian juga berisik!" teriak Tenggor yang terlihat sangat kesal hingga mengeluarkan kepalanya dari jendela.
"Sudah.. sudah.. sabar" ucap Chen yu sembari menarik Tenggor ke dalam.
"Aku juga kesal. Dia melukai perasaan jomblo ku. Padahal aku sudah hidup lebih lama darinya tapi dia yang mendapat cinta terlebih dahulu" ucap Leonel yang terlihat sedih.
"Bagaiman dengan ku" ucap lelaki yang menyerupai wanita alias sudake yang merupakan perwakilan dari kota ke tiga.
"Bajing*n...! aku masih normal!" teriak Leonel sembari menampar sudake.
...****************...
Bersambung
mampir ke novel baru ku ok