
Keesokan harinya terlihat kevin tengah duduk santai menunggu Dujuan yang masih terlelap tidur dengan pulas layaknya seorang bayi.
"Dujuan memiliki kekuatan yang mengerikan, namun sifat yang ia miliki terlalu kekanak-kanakan, hal ini akan membuatnya menjadi lemah. Aku akan melatihnya agar ia di masa depan tidak membiarkan musuhnya kabur" gumam Kevin sembari meminum teh dan melihat Dujuan yang tertidur lelap.
"Bangun dasar babi, seharusnya waktu tidur mu kau gunakan untuk bermeditasi" ucap Kevin sembari menuangkan tehnya ke wajah Dujuan.
"Hah...!" teriak Dujuan yang terlihat terkejut saat Kevin menyiramnya.
"Bangun kita akan segera berangkat pergi ke tempat ibu mu, memang ibu mu berada di kota mana?" tanya Kevin sembari ia berdiri.
"Ibu ada di kota bjuan, kota itu berada di bagian barat kerajaan ini. Kemungkinan kita akan tiba di sana dalam dua minggu" jawab Dujuan.
"Kita akan segera tiba, ku harap kau akan menerima apa yang akan terjadi" ucap Kevin sembari memegang kepala Dujuan.
"Apa maksud mu?" tanya Dujuan yang terlihat bingung.
Tiba-tiba mereka berpindah di tengah medan perang, di atas tanah yang tandus.
Terlihat ribuan prajurit yang berbaris dari arah yang berlawanan.
"Jenderal ada dua orang aneh yang tiba-tiba muncul di tengah medan perang" ucap salah satu prajurit yang berdiri di depan benteng kota.
"Kalian jemput mereka, aku takut jika mereka adalah para warga yang baru kembali dari hutan" ucap seorang prajurit yang berdiri di garis paling depan.
"Baiklah jenderal saya akan melakukan hal itu" jawab prajurit yang sebelumnya.
Kemudian terlihat dua orang prajurit melaju dengan cepat ke tengah medan perang.
"Kita ada di mana?" tanya Dujuan yang terlihat kebingungan, ia melirik ke semua arah tanpa henti layaknya orang yang ketakutan.
"Kita berada di kota bjuan" jawab Kevin.
"Apa secepat itu, aku bahkan tidak berkedip kenapa kita telah sampai di sini?" tanya Dujuan yang terlihat panik.
"Hei cepat baik ke atas kuda kami, di sini berbahaya lebih baik pergi aku akan mengantar kalian ke dalam benteng!" teriak salah satu prajurit yang mengendarai kuda dengan kecepatan penuh.
"Mereka adalah prajurit kerajaan suan" ucap Dujuan.
"Ayo kita ikuti mereka" ucap Kevin sembari melompat ke atas kuda.
Kemudian Dujuan mengikutinya.
Setelah itu mereka pergi menuju kota.
"Ap ayang terjadi sekarang?" tanya Kevin.
"Saat ini kerajaan Sundan menyerang kota bjuan dan mereka mengerahkan 7000 pasukan. Saat ini di dalam kota hanya tersisa kurang dari 2000 prajurit sisanya terluka dan mati, raja belum mengirimkan pasukan kerajaan Sundan selalu datang dengan membawa pasukan yang banyak. Aku tak yakin kota Sudan akan tetap bertahan" jawab prajurit yang membawa Kevin.
"Di mana jenderal Luan sun, aku ingin bertemu denganya" ucap Dujuan.
"Jenderal tengah menyiapkan strategi lebih baik jangan ganggu beliau. Dia perlu ketenangan untuk menyelesaikan hal itu" jawab prajurit yang membawa Dujuan.
"Dia adalah putra dari Luan sun, dia adalah Dujuan sun, Dujuan merasa sangat merindukan ibu nya karena sudah belasan tahun belum bertemu, aku yakin dia pasti akan sangat senang bila bertemu dengan Dujuan" ucap Kevin.
"Itu benar, ibu pasti akan sangat senang saat bertemu dengan ku. Tolong aku mohon antar aku menemui jenderal Luan sun" ucap Dujuan sembari menggoyangkannya tubuh prajurit yang membawanya.
"Baiklah kami akan membawa kalian ke sana, tapi jangan buat keributan" jawab prajurit yang membawa Dujuan.
...****************...
Singkat cerita sesampainya mereka ke kemah prajurit, Dujuan dan Kevin di antarkan ke sebuah tenda yang besar.
"Apa kalian yakin ini tenda ibu ku?" tanya Dujuan yang terlihat gugup.
"Iya kami yakin, jenderal ada di dalam kalian bisa masuk jika ingin bertemu" jawab prajurit.
Tiba-tiba Dujuan langsung berlari memasuki tenda tersebut.
Seketika langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita yang lemas terlihat sakit parah tengah menulis sesuatu di atas meja.
"Dujuan ibu sangat merindukan mu, ibu tidak bisa menepati janji ibu tidak bisa lepas dari rantai ini. Ibu hanya ingin kamu bahagia kamu harus mencari seorang wanita yang baik dan hidup dengan tenang di masa depan nanti. Kau jangan benci ayah mu ayah mu sangat menyayangi mu nak" ucap wanita itu yang tiba-tiba menangis saat menulis sesuatu.
"Ibu... maafkan aku karena menjadi anak yang tidak berguna. Aku hanya bisa menjadi beban aku hanya bisa membuat ibu menderita" ucap Dujuan sembari berjalan perlahan mendekati wanita yang sebelumnya.
Terlihat Kevin memasuki tenda.
"Dengan cara ini Dujuan akan menjadi orang yang kuat, ia akan menjadikan dendam sebagai kekuatan yang akan membantunya" gumam Kevin.
"Dujuan!" ucap wanita tersebut.
Terlihat air mata menetes secara tiba-tiba dari mata Dujuan, ia langsung memeluk ibunya dengan sangat erat.
"Bu aku sangat merindukan mu bu" ucap Dujuan yang terlihat layaknya seorang anak kecil yang menangis.
"Ibu juga merindukan mu Dujuan" ucap wanita itu alias Luan sun ibu dari Dujuan.
"Dia akan segera mengetahuinya" gumam Kevin.
Tiba-tiba Dujuan ingin memegang kaki Luan sun.
Namun tangannya berhenti ketika ia melihat kaki ibunya.
"Siapa yang melakukan ini!" ucap Dujuan yang tiba-tiba menjadi marah.
Muncul aliran-aliran listrik hitam di tubuhnya serta rambutnya yang mulai melayang.
"Tidak... tidak... ibu tidak apa-apa Dujuan jangan sedih ini cuma luka biasa" ucap Luan sun sembari mengelus kepala Dujuan.
Tiba-tiba Dujuan berdiri dan langsung berjalan tanpa mengatakan apapun.
"Aku akan mengakhirinya bu... kau tenang saja jangan khawatirkan aku" ucap Dujuan saat berada di luar.
Seketika ia terbang sangat cepat sembari ia mengeluarkan Roh penjaganya.
"Wow lihat anak mu, dia keren bukan" ucap Kevin sembari melihat Dujuan yang terbang dengan penuh amarah.
"Hei siapa diri mu..!" teriak Luan sun.
"Eh aku lupa menjelaskan nya kepada mu" ucap Kevin.
...****************...
Sementara itu di medan perang terlihat kedua pasukan masih berbaris saling berhadapan.
"Terimalah kematian kalian...!" teriak Dujuan sembari melempar sebuah batu yang telah di selimuti oleh listrik hitam yang seketika menerbangkan pasukan lawan.
Hujan pun mulai turun.
Dujuan terlihat seperti Thor matanya berubah menjadi putih dan mengeluarkan listrik ia terbang tubuhnya di selimuti oleh listrik.
"Siapa dia, formasi kita hancur hanya dengan sekali serang oleh nya" ucap seorang pria yang berdiri di depan tenda.
"Itu pasti bukan Luan sun, kaki nya telah kau ambil saat pertarungan sebelumnya"
...****************...
Bersambung