
"Aku tidak peduli dengan status mu, kau berani menyinggung ku maka kematian lh balasan mu" ucap walikota Sakamoto.
"Ayah hentikan ini" ucap seorang anak yang berada di kursi roda terbuat dari kayu.
"Maafkan ayah, ayah tidak akan melakukan ini di depan mu lagi" ucap walikota Sakamoto sembari mengelus kepala putranya.
"Jangan bermain dengannya, bahkan kakak mu saja di bantai seperti itu dengan sangat mudah, kau kini terlihat sangat lemah lebih baik menghindari pertarungan dengannya. Kau akan mengetahui alasan di balik ini semua" ucap Leonel sembari membantu raja Bull untuk berdiri.
"Baiklah terimakasih atas bantuan mu" ucap raja Bull sembari berdiri.
"Siapa dia ayah?" tanya paman Qiu.
"Tunggu ada sesuatu yang familiar dari ayah mu tuan" ucap Rin dan Ron dalam pikiran paman Qiu.
"Tuan ada sesuatu yang familiar di kepala anak mu tuan" ucap suara dalam pikiran Qi yu.
"Aura yang sangat familiar dan sangat ku hapal, namun itu bukan aura dari ayah anda namun dari sesuatu yang berada di kepalanya" ucap Ron dalam pikiran paman Qiu.
"Ada dua aura yang bertolak belakang di dalam tubuh anak mu, ada aura Yin dan Yang yang sangat kuat namun itu seimbang karena di tekan oleh segel kekuatan petir yang sama seperti diri mu" ucap suara dalam pikiran Qi yu.
"Nak apa saja yang terjadi kepada mu selama ini?" tanya Qi yu.
"Tidak ada yang spesial semuanya biasa saja" jawab paman Qiu.
"Lebih baik kita segera pergi menemui ratu Sintia" ucap Huang.
"Baiklah lebih baik kita pergi sekarang, daripada menghabiskan waktu di sini, kita bisa bercerita sembari berjalan" ucap Chen yu.
"Nak aku merasakan sesuatu yang berbeda dari tubuh mu, aku ingin meminta kejujuran mu, apa yang terjadi kepada mu selama ini?" tanya Qi yu.
"Aku baik-baik saja memang apa yang berbeda dari ku, aku masih sama apa masalahmu ayah apa kau sakit?" jawab paman Qiu sekaligus bertanya.
"Kalian jangan berdebat lebih baik kita lanjut pergi saja, jangan membuang waktu yang mulia bisa marah jika kita menunda-nunda pekerjaan" ucap Huang sembari memisahkan paman Qiu dan Qi yu.
"Kenapa kau bersikap kasar terhadap raja Bull?" tanya Chen yu.
"Aku hanya kesal dan merasa jengkel saat melihat darah Yun Feng mengalir di tubuh seseorang" jawab walikota Sakamoto.
"Buktinya kau juga memiliki darah kaisar Yun Feng yang mengalir dalam nadi mu" ucap Chen yu.
"Aku tau tapi dendam yang selama ini aku rahasiakan serta ku tahan kini melonjak tak terkendali" ucap walikota Sakamoto sembari memandangi tangannya.
"Manusia yang paling hebat bukanlah manusia yang membalaskan dendam nya namun manusia yang memaafkan kesalahan orang lain, namun Kaisar ku tidak melakukan itu karena ia akan membunuh yang bersalah agar kejahatan tidak meraja lela" ucap Chen yu.
"Pada awalnya aku tidak ingin membalas dendam, karena aku tau apa yang terjadi pada ibu ku adalah takdir, namun tanpa aku sadari diri ku telah di kuasai oleh api amarah yang muncul dalam diri ku semenjak aku mengetahui latar belakang ku yang lebih tinggi di bandingkan pangeran serta putri Yun Feng" ucap walikota Sakamoto sembari menatap langit dengan tatapan sedih.
"Jika seseorang telah mengalami cobaan yang sangat berat saat masih di umur yang muda niscaya ia akan memiliki tanggung jawab yang besar di masa depan nanti, bukan hanya memiliki keluarga ia memiliki takdir seorang pemimpin sama seperti kaisar kami" ucap Chen yu.
"Memang apa yang di alami oleh kaisar mu?" tanya walikota Sakamoto.
"Aku menjadi semakin penasaran dengan kaisar mu, aku ingin segera menemuinya" ucap walikota Sakamoto.
...****************...
Singkat cerita di aula.
Terlihat pilar-pilar yang besar berbentuk ular berjejer di dekat dinding, terlihat singgasana yang memiliki bentuk seperti ular yang tengah melingkar.
"Tunggu yang mulia ratu akan segera datang" ucap seorang penjaga yang lelaki memiliki setengah badan ular.
"Hei adik durhaka cepat keluar jangan buat kakak mu menunggu!" teriak raja Bull yang terlihat sangat marah dan jengkel.
"Mereka akan mati dan aku akan terbebas, aku akan menjadikan mereka budak yang akan ku siksa dan akan ku turunkan ke keturunan ku, dasar anak lacur sialan" gumam raja Doren yang terlihat sangat lemah duduk terikat dengan luka di sekujur tubuh nya.
"Sintia jika kau tidak keluar aku akan membongkar rahasia mu" ucap raja Bull.
"Tap.! Tap!.." suara langkah kaki dari arah kanan singgasana.
"Kak kau terlalu kasar dengan ku, aku ini adalah adik mu yang lucu seharusnya kau bersikap lembut pantas saja kau selama ini tetap melajang" ucap seorang wanita yang memiliki suara yang familiar di telinga kelompok paman Qiu.
"Aku akan menunggu di luar, kalian saja yang berdiskusi" ucap paman Qiu yang tiba-tiba berjalan keluar aula dengan wajah kesal sembari mengepalkan tangannya.
"Tunggu apa yang terjadi, nak kita harus menyelesaikan ini bersama" ucap Qi yu sembari memegang tangan paman Qiu.
"Aku ingin mencari udara segar dan melihat yang hijau-hijau" ucap paman Qiu.
"Salam semuanya, perkenalkan aku adalah ratu Sintia" ucap seorang wanita yang kini duduk di singgasana, wanita itu memiliki wajah serta suara yang sangat mirip dengan Jingmi.
"Ceritakan apa yang terjadi Bog, hubungan apa yang di miliki anak ku dan wanita itu?" tanya Qi yu.
"Aku tidak tau namun sebelum melawan monster telur kami bertemu dengan wanita yang sangat mirip dengan ratu sintia dan hubungan mereka lumayan dekat hingga saat Sintia menghilang Qiu sampai mencari ke dalam hutan" jawab paman Bog.
"Qiu sangat membenci orang yang membuat nya kecewa, aku tidak bisa memadamkan amarah nya seharusnya kau Sintia yang menjelaskan semuanya atau harus ku panggil Jingmi" ucap Qi yu sembari menatap tajam ke arah ratu Sintia.
"Sintia bunuh semua bajing*n ini mereka menyiksa ku dan juga ibu ku!" teriak raja Doren.
"Diam jika tak ingin ku bunuh" ucap walikota Sakamoto sembari memukul wajah raja Doren.
"Bagaimana orang ini tau kalau Jingmi adalah aku, bukanya aku belum pernah bertemu dengannya. Dan kenapa kak Doren di tahan seperti itu" gumam ratu Sintia.
"Dasar nakal kau mempermainkan perasaan orang lain di wilayah ku" ucap raja Doren
...****************...
Bersambung