
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Bu, Aurel pamit dulu ya, mas Reza dan mbak Murti sudah menunggu di depan” pamit Aurel pada ibunya.
“Hati-hati ya Rel, kabari Ibu bila ada apa-apa,” balas bu Tarida lirih.
“Iya Bu, Aurel akan hati-hati,” jawab Aurel. “Bik, titip Ibu ya” pinta Aurel pada bik Siti. “Dan jangan lupa siapkan obatnya sehabis makan ya Bik.”
“Beres Non,” jawab bik Siti cepat.
“Untung Abang dapat dia, perempuan lain belum tentu mau susah dan cape mengerjakan perusahaan, toko roti, urus anak dan urus mantan mertua yang sakit,” bu Tarida bicara pada bik Siti yang telah bekerja padanya sejak Radit kelas satu SD.
“Bener Bu. Kakek juga menilai seperti itu waktu Ibu belum sadar,” sahut bik Siti membenarkan pendapat majikannya.
***
‘Kamu sudah berangkat?’ bunyi pesan WA Rajev. Saat ini mulai ada WA fase awal, baru chat saja belum bisa video call.
Aurel langsung menghubungi Rajev dengan meneleponnya, dia tak ingin menulis pesan sambil jalan. “Assalamu’alaykum Kak.”
“Wa’alaykum salam, kamu dimana love?” tanya Rajev lembut.
“Aku sedang berjalan ke depan, mas Reza menunggu di parkiran rumah sakit. Buang waktu bila dia harus menjemputku ke ruangan dulu,” jawab Aurel.
“Kamu serius melarangku?” Rajev masih merajuk karena tak boleh menemani Aurel ke lapangan.
“Kak, aku enggak apa-apa, santai aja ya, kan ada mas Reza. Ni Kakak bicara langsung sama mas Reza, orangnya sudah di depanku dengan mbak Murti.” Aurel menyerahkan telepon genggamnya pada Reza agar bisa menenangkan Rajev yang resah.
Murti yang pernah menemani Aurel yang ditempel terus oleh Rajev saat di Jogja sudah hafal betapa bucinnya pak Rajev pada bu Aurel.
“Assalamu’alaykum Pak” sapa Reza dengan bahasa Inggrisnya yang fasih.
“Wa’alaykum salam, apa benar lokasinya aman untuk Aurel kunjungi?” Rajev langsung mendesak Reza dengan pertanyaan intinya.
“Tenang saja Pak. Lokasi aman, dan kalau pun terjadi sedikit kericuhan Ibu bisa menghadapinya. Apakah Bapak tidak tahu, kemampuan bela diri Ibu diatas saya apalagi Murti? Dia pernah dikeroyok enam orang laki-laki, dihadapi dengan tenang tanpa senjata. Dia menggunakan tangan kosong!” jawab Reza santai.
“Ya, kalau dengan tangan kosong memang kalian bisa bertahan, bagaimana bila menggunakan lawan menggunakan senjata api ( senpi ) atau senjata tajam ( sajam )?” tanya Rajev, walau kaget bila Aurel sangat mahir bela diri tentu kekhawatiran tetap tinggi.
“Kalau sajam mungkin kami masih bisa hadapi, tapi tentu kami tak mampu bila melawan orang yang menggunakan senpi. Tapi apa Bapak bisa melindungi Ibu bila lawannya menggunakan senpi?” Reza mematahkan argumen Rajev yang ingin sekali melindungi Aurel.
“Ya sudah, saya minta kamu kirimkan nomor teleponmu ke saya, biar saya bisa pantau bila Aurel sulit saya hubungi,” akhirnya Rajev mengalah. Tanpa menunda Reza langsung melakukan miss call ke nomor Rajev agar pria India itu tenang.
***
Siang ini Aurel dan team sengaja menengok istri pak Cahyo. Mereka ingin mengajak pak Cahyo bekerja sama menjebak pak Eko dan pak Wisnu. Team sampai di rumah sakit saat jam besuk. Tentu karena perawatan istri pak Cahyo di kelas tiga, tak bisa sembarangan datang menjenguk di luar jam kunjung. Beda dengan ruang perawatan bu Tarida yang VVIP.
“Assalamu’alaykum,” sapa Aurel saat dia dan team sampai di dekat bed istri pak Cahyo.
“Bagaimana perkembangannya kesehatan istrinya Pak?” tanya Aurel pelan.
“Walau lambat tapi ada sedikit peningkatan Bu,” terang pak Cahyo. Lalu mereka berbasa-basi. Dan saat itu juga ada beberapa orang yang datang mengunjungi bu Cahyo.
“Bapak menunggu dengan siapa?” tanya Reza. Dia bertanya demikian karena ingin mengajak pak Cahyo bicara agak lama tapi tidak di ruangan itu karena riskan banyak pasien lain.
“Hari ini ada adik ipar saya, anak muda di sebelah istri saya,” jelas pak Cahyo.
“Bisa kita mengobrol di luar sebentar?” pinta Reza.
“Bisa Pak. Saya akan beritahu adik ipar saya bahwa saya akan bicara dengan Bapak dan Ibu di luar,” balas pak Cahyo tanpa ragu.
Mereka memilih duduk di cafetaria rumah sakit, agar pak Cahyo tidak terlalu lama meninggalkan istri dan adik iparnya.
“Begini Pak, niat kami ke sini, selain tujuan utama menjenguk istri Bapak, kami juga punya tujuan lain menyangkut pekerjaan dan tanggung jawab Bapak di proyek” Reza memulai membuka percakapan.
“Maaf. Saya bersalah kurang bertanggung jawab terhadap proyek yang sedang saya pegang. Saat itu saya pernah mengajukan penggantian posisi dengan membawa semua data pendukung, tapi pak Wisnu mengatakan saya tidak perlu minta penggantian posisi karena dia yang akan mengawasi secara tidak langsung bekerja sama dengan pak Eko. Mereka menjamin semua akan beres dan saya tinggal tanda tangan saja,” pak Cahyo bicara dengan pelan dan menunduk karena dia merasa bersalah kurang bertanggung jawab terhadap tugasnya.
“Saya baru tiga hari lalu tahu, kalau Bapak pernah mengajukan reposisi, tapi saya baru dengar ini kalau pak Wisnu berjanji akan mengawasi berjalannya proyek bekerja sama dengan pak Eko,” Aurel mulai ikut masuk pembicaraan.
“Apa Bapak pernah tahu data yang Bapak tanda tangani berbeda dengan data yang saya dapat secara langsung di lapangan?” Aurel bertanya dengan lugas tapi tetap lembut, karena dia tau pak Cahyo hanya pion yang dimainkan Wisnu dan Eko.
“Wah maaf Bu … maaf … saya sama sekali tidak tahu soal perbedaan data yang Ibu maksud,” pias wajah pak Cahyo mendengar ucapan Aurel
Pak Cahyo tahu kasus Didu yang sampai dilaporkan oleh Aurel ke penjara. Tentu pak Cahyo tak ingin kejadian itu juga menimpanya.
Murti menyerahkan map ke Aurel. “Ini Bapak perhatikan data yang di buat pak Wisnu dan pak Eko yang Bapak tanda tangani. Dan ini data yang saya dapat langsung di lapangan,” Aurel menyerahkan berkas pada pak Cahyo yang semakin pucat melihat selisih angka yang sangat besar.
“Jangan perkarakan saya Bu, sungguh saya tidak pernah mengambil satu rupiah pun dari selisih yang tertera. Saya bersumpah!” suara pak Cahyo bergetar karena takut.
“Posisi Bapak saat ini sedang tidak baik. Maaf, istri anda sedang sakit dan membutuhkan banyak dana. Saya bisa saja mengira Bapak melakukan penyelewengan untuk memenuhi kebutuhan Bapak ini seperti kasus Cinangka dulu. Saya tahu Bapak tidak sekotor itu. Tapi semua bukti akan mengarah pada Bapak. Saya bisa apa?” Aurel sengaja ingin menggiring pak Cahyo marah pada orang yang menjebaknya.
\=================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL WANT TO MARRY YOU YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta