BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
UPPANYA ABANG ALLEEEEL



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


"Bharthave, bangun. Kita salat Subuh bareng yok,” Aurel  bergegas membangunkan suaminya untuk salat Subuh bersama.


“Sebentar lagi Bharrya, aku masih mengantuk,” balas Rajev.


“Jangan marah kalau aku salat sendirian,” Aurel meninggalkan Rajev dan masuk ke toilet untuk bersih-bersih sekalian wudhu.


“Iya salat berjamaah. Ini aku bangun,” Rajev tentu tak mau salat sendirian.


Sehabis salat Subuh, Aurel membuat sarapan. Semalam dia membeli roti untuk burger dan juga daging giling. Dia buat daging isi burger lalu dia susun dengan banyak keju dan selada serta tomat. Aurel lupa membeli timun.


“Bharthave, burgernya mau pakai saos sambal tidak?” Aurel bertanya pada Rajev yang sedang menonton berita.


“Pasti pakai dong Bharrya, aku tidak suka bila kurang rasa pedas di burgerku,” tanpa menoleh Rajev menjawab Aurel.


“Ini sarapanmu, bersiap sebentar lagi ditagih berenang oleh si kecil,” Aurel meletakkan burger dan kopi milik suaminya. Dia segera menyiapkan pakaian renang bagi kedua buah hatinya juga bathrobe bagi Aira, Darrel dan Rajev. Dia sendiri tak ingin ikut ke kolam renang.


Dia masukkan ketiga bathrobe dalam satu tas. Ketiganya akan langsung mandi di apartemen, jadi tak perlu dia bawakan peralatan mandi.


Rajev dan Aurel sepakat tidak membangunkan kedua anak mereka. Aurel duduk bersandar pada da-da suaminya sambil makan burger miliknya. Dia pun ikut menikmati berita politik dunia yang sedang Rajev tonton.


“Uppaaaaa,” Darrel memanggil Rajev. Dia turun dari kasur dan mencari sang ayah di ruang tamu. Bagi anak itu hanya Rajevlah ayahnya. Karena saat Radit meninggal dia baru berusia satu tahun.


“Iya sayank, Uppa disini,” jawab Rajev.


“Umma awasssss,” usir Darrel. Dia tak mau berbagi karena Aurel masih bersandar pada Uppanya.


“Ini Uppanya Um’ma,” Aurel malah menggoda dengan memeluk Rajev dan mengambil kedua tangan suaminya untuk memeluknya.


“Uppanya abang Alleeeel,” pekik Darrel.


“Kamu tu ya, malah senang membuat anak marah,” Rajev melepas tangannya dan memeluk Darrel.


“Enggak boleh teriak seperti itu. Uppa itu punya Darrel, Kakak dan Umma. Sama-sama. Bukan cuma punya Darrel sendirian,” Rajev memberi pengertian tentang ‘berbagi’ pada Darrel.


***


Senin pagi, Aira sangat senang berangkat sekolah dari apartemen diantar Darrel, Rajev dan Aurel.


“Nanti Umma enggak bisa jemput ya. Umma pergi kerja. Kita ketemu sore sepulang Umma kerja.” Aurel tak masuk ke sekolah Aira. Dia hanya turun dari mobil dan menciumi putrinya.


“Iya,” jawab Aira. Dia segera masuk kelasnya diantar Darrel dan Rajev.


Sesampai di rumah Aurel memasukkan oleh-oleh untuk semua pegawai kantor dan toko kue ke mobilnya. Dia dan Rajev akan pisah mobil karena Aurel akan keliling ke toko kue sedang Rajev harus kembali bekerja. Tak mungkin mengantar istrinya. Selain itu Aurel juga ingin meninjau pembangunan rumah mereka.


“Aku berangkat ya Love, kamu jangan terlalu cape,” Rajev berangkat terlebih dahulu. Sekarang dia membawa bekal berupa snack bukan makan siang. Aurel membawakan burger.


“Jangan telat makan siang. Snack juga dimakan agar tak terlalu kosong perutmu,” Aurel melepas suaminya diteras bersama Darrel.


“Mbak Wina, hari ini saya belum ke kantor ya. Saya keliling toko kue. Besok baru kita meeting berempat jam sembilan pagi,” Aurel langsung menghubungi tangan kanannya.


“Iya Bu. Akan saya sampaikan ke pak Reza dan Murti,” sahut Wina cepat.


***


Di rumah ini selain ada kamar untuk Aira dan Darrel, Rajev juga sudah mempersiapkan dua kamar untuk calon anak mereka nantinya. Selain itu tentu kamar bu Tarida, para pekerja dan ada tiga kamar bagi para tamu yang menginap.


Rajev tak ingin membangun kamar tambahan bila mereka punya anak, maka semua dibangun sejak awal.


“Masih butuh berapa waktu lagi untuk siap huni?” tanya Aurel. Saat ini dia sudah selesai mengunjungi empat toko kue miliknya dan kunjungan terakhir hari ini adalah bangunan rumah baru miliknya.


“Enggak sampai satu bulan bangunan siap Bu. Itu diluar pembangunan taman,” jawab penanggung jawab pembangunan rumah itu.


“Taman sih enggak perlu dibuatkan. Tanam saja rumputnya. Nanti biar saya tanam sedikit demi sedikit apa yang hendak saya tanam. Jangan lupa bibit pohon buah yang saya minta saja. Nah itu yang perlu ditanamkan ditempat yang sesuai dengan yang saya waktu itu berikan,” Aurel memang memesan beberapa pohon buah untuk ditanam di halaman depan dan belakang rumahnya.


“Tanpa taman, ya satu bulan itu perkiraan terlama sih Bu.”


“Bagus, biar saya akan menyuruh orang-orang di rumah lama untuk mulai packing sedikit demi sedikit,” sahut Aurel.


Aurel senang, sebentar lagi dia tidak akan wira wiri rumah dan apartemen. Dan dia bisa mempersiapkan kehamilannya bila semua kesibukan pindah rumah selesai.


Ternyata Rajev telah sampai rumah saat Aurel tiba. Rajev sedang bermain dengan Darrel.


“Ini teh sore Ibu dan Rajev,” Aurel menyiapkan snack yang dia bawa dari toko untuk teman minum teh sore ini.


“Bu Siti, tolong kasih tau pak Ujang untuk mulai beli kardus besar yang bekas rokok. Yang tebal itu. Juga beberapa kardus lainnya. Mulai besok sedikit-demi sedikit kita mulai packing barang ya. Dan yang wajib diingat, di luar kardus ditulis isinya apa. Sehingga saat kita butuh sesuatu enggak bingung bongkar semua kardus dan bikin berantakan.” Aurel minta pegawai di rumah ini untuk mulai bersiap.


Dia tahu pindah rumah itu butuh tenaga ekstra. Itu sebabnya tak mungkin semua langsung diberesin. Bila isi kardus tak ditulis, tentu akan bingung mencari suatu jenis yang kita butuhkan.


“Baik, nanti saya minta pak Ujang mulai cari kardus dan lakban serta spidol besar,” sahut bik Siti.


Saat Aira dan Darrel sudah tidur. Aurel dan Rajev pulang ke apartemen mereka. Ribet? Pastilah. Tapi itu memang yang harus merekajalani sementara, selama rumah yang mereka bangun belum selesai.


Aurel dan Rajev tak mengeluh, karena itu keputusan mereka berdua. ‘Seberapa berat persoalan tergantung bagaimana kita menghadapinya,’ demikian sudut pandang Rajev.


***


Persoalan dikantor sekarang sedang aman. Aurel berharap selalu seperti ini. Tapi siang ini teamnya Aurel mendapat berita super hot. Semua diawali saat Reza mengetuk pintu ruang big bossnya minta diizinkan masuk ke ruang para asisten big bozz.


Ruang kerja Aurel sudah berubah. Ruang depan terdiri dua meja yaitu milik Murti dan Wina. Lalu ruang dalam hanya ada satu meja deluxe milik Aurel dan dalam ruangan ada sofa untuk menerima tamu. Ada kulkas kecil, kamar untuk istirahat dan kamar mandi didalam kamar tersebut.


\===============================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK YANKTIE YANG BERJUDUL TELL LAURA I LOVE HER  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta