BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
SENYUM MANIS MENGGANTIKAN SEJUTA KATA



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 Jadi saat kemarin ada perempuan yang mengakui sebagai kekasih Rajev, dia sangat perih. Dia tidak bisa berpikir jernih apalagi mencari fakta kebenarannya.


“Itu fakta sebenarnya, sekarang terserah padamu. Aku tidak bisa juga mengharuskanmu percaya kalau memang kau tak bisa percaya,” kembali Rajev menekankan kalau dia tak berbohong.


“Lalu sekarang maumu gimana?” tanya Aurel.


“Kamu bisa cek kebenarannya, kamu tanya dulu ke keluargaku atau teman-temanku. Atau siapa pun yang ingin kamu tanya. Kamu tau sendiri saat bertemu denganmu aku sedang urus surat cerai. Apa saat pernikahan aku berpacaran dengan Aashita? Kalau iya, artinya aku sama saja dengan mantan istriku, tukang selingkuh! Kamu tau aku paling menjunjung tinggi suatu ikatan pernikahan,” jelas Rajev.


“Saat kamu sudah memilih Radit, apa aku pernah mengganggumu untuk memilihku? Padahal hal itu bisa aku lakukan, karena aku dengar semboyan di negerimu kalau janur kuning belum melengkung maka masih bisa kita kejar!” jelas Rajev lagi.


“Apalagi sejak kamu menikah. Apa aku pernah menggodamu? Aku malah akrab dengan Radit. Karena aku berprinsip tak mau nyubit orang, sebab aku tak suka dicubit!” Rajev pasrah atas keputusan Aurel.


Rajev bertekad selanjutnya dia tetap akan berupaya mendekati Aurel pelan-pelan tapi tidak sekarang. Dia akan focus pada Aira saja. Demikian pemikiran Rajev bila memang saat ini Aurel tidak mau mengerti kalau dia beneran tak salah.


“Ya sudah, aku harus kerja,” Aurel berdiri mengambil tas punggungnya. Dia memang hanya bawa tas itu. Berisi laptop, dompet dan semua keperluan urgentnya juga berkas proyeknya. Sambil berdiri dia memegang jemari Rajev dan menariknya untuk berdiri.


Rajev yang masih bingung hanya bengong memandang wajah Aurel. Dan dilihatnya senyum manis kekasihnya, yang sudah menjawab semua tanpa perlu kata-kata. Rajev memasukan note booknya ke ranselnya yang berbeda dengan ransel Aurel. Karena ransel Rajev panjang besar sebab juga berisi baju gantinya. Baju ganti Aurel kan tidak di ransel tapi di koper.


Rajev memakai ranselnya lalu berjalan di sisi Aurel sambil merengkuh bahu kekasihnya menuju kasir karena dia belum bayar makanannya.


“Ke hotel Bahagia di pojok beteng ya Pak,” pinta Aurel pada sopir taksi.


“Njih Bu” jawab sopir taksi sopan.


Rajev tak pernah melepas jemari Aurel, kadang diciuminya jemari tersebut dan kadang dia menciumi kening juga pipi Aurel. Rajev sangat bahagia persoalannya dengan Aurel bisa selesai dengan baik.


“Sudah ah,” tolak Aurel. “Trus kamu mau pulang kapan?”


“Aku pulang bareng kamu aja,” jawab Rajev dengan santainya.


“Ya enggak boleh gitu. Kamu tu pegawai. Enggak bisa seenaknya aja enggak masuk kerja,” jawab Aurel.


 “Aku bisa mengatur waktu kerjaku. Kamu percaya aja sama aku ya. Berapa lama kamu disini? Enam sampai  sepuluh hari lagi?” tanya Rajev.


“Ya seselesainya kerjaannya. Bisa empat hari atau bisa juga lima hari. Tapi aku berharap bisa rampung tiga hari terhitung mulai besok. Karena hari ini waktuku sudah dicuri orang” jawab Aurel.


“Hehe, maafkan aku Love” balas Rajev sambil mempererat dekapannya. Mereka turun di lobby hotel. “Aku sekamar denganmu aja ya,” goda Rajev.


“Apa kau enggak sanggup bayar kamar dihotel seperti ini?” balas Aurel sarkas.


“Ha ha ha,” hanya tawa yang diberikan Rajev, sementara Aurel sedang menghubungi Murti untuk keluar membawakannya kunci kamar dan kopernya.


“Hallo sayangnya Uppa, sudah makan?” Aurel mendengar Rajev sedang menelepon seseorang saat mereka duduk di lobby hotel.


“Wah pintar, tadi belajar apa di sekolah?” tanya Rajev lagi. Mata Aurel langsung terbeliak, wah ternyata Rajev sedang pacaran dengan anaknya. Aurel menepuk lengan Rajev memintanya berbicara.


“Sebentar sayang, ada yang mau bicara dengan Aira, boleh?” tanya Rajev.


“Cantiknya Mama, apa enggak mau bicara dengan Mama?” tanya Aurel.


“Mamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!” pekik Aira yang tak menyangka mamanya sedang bersama uppa.


“Hallo sayang, sudah maem ya. Sekarang main sebentar lalu bobo ya. Nanti malam Mama telepon saat kamu selesai kerjain PR mu,” pesan Aurel. Dia segera memberikan telepon pada Rajev karena Murti sudah datang memberikan kunci kamar dan koper Aurel.


“Ok, saya masukan koper ke kamar dulu. Tiga puluh menit lagi kita berangkat ke lokasi. Minta drivernya siap di lobby ya Mbak,” Aurel menerima kunci dan mengambil kopernya lalu berjalan menuju lift. Di ikuti Murti. Rajev yang kehilangan Aurel di sisinya langsung mengejarnya saat melihat Aurel sudah menuju lift.


“Wait for me,” pinta Rajev.


“Berkas di bawa semua Mbak, jangan ada yang ketinggalan. Kita sampai sore enggak ya? Biar saya prepare jacket,” kata Aurel pada mbak Murti.


“Walau enggak sampai sore, di lokasi mungkin angin Bu. Sebaiknya memang kita pakai jacket mengikuti lokasi aja,” jawab mbak Murti


“Ok. Dua puluh menit lagi ketemu di lobby ya,” balas Aurel saat Murti akan keluar lift, karena kamar mbak Murti satu lantai di bawah kamarnya. Awalnya memang dia bilang tiga puluh menit, tapi waktu kan bergerak, maka sekarang dia minta ketemu dua puluh menit lagi.


“Kamu kenapa enggak pesan kamar dulu?” tanya Aurel saat Murti sudah keluar lift dan mereka sedang menuju lantai kamar Aurel.


“Aku tinggal taruh ransel aja kan? Lalu aku ikut pergi denganmu. Nanti pulangnya baru aku pesan kamar,” balas Rajev penuh percaya diri.


Sampai di kamar Aurel membuka kopernya, mengambil jacket serta mukenanya. Mukena di masukan ke ranselnya. Sementara Rajev langsung masuk ke kamar mandi. Aurel menutup kopernya, dia malas mengeluarkan semua pakaiannya untuk di atur di lemari hotel. Sambil menunggu Rajev, Aurel menancapkan ponselnya untuk di charge agar tidak kehabisan daya. Dia duduk di bed dan bersandar sambil meluruskan kakinya.


“Kamu cape?” tanya Rajev saat melihat posisi Aurel.


“Enggak, cuma memanfaatkan waktu aja. Ayok jadi ikut enggak?” tanya Aurel.


“Jadilah. Sebentar aku sekalian mau laundry baju.” Rajev mengeluarkan baju kotornya. Dia juga mengambil jacket untuk dibawanya. Mereka segera bersiap keluar.


Sebelum membuka pintu kamar Rajev menarik Aurel ke dalam pelukannya. Dia melabuhkan bibirnya ke bibir Aurel dengan lembut. “Miss you so much my sweet heart” bisiknya lalu kembali ******* bibir Aurel. Aurel membalas dengan sadar. Dia tau Rajev tulus padanya. Kedua tangan Aurel meremas rambut Rajev.


“Miss you too babe,” balas Aurel. “Sudah ya, aku harus kerja.” Aurel menyudahi pertempuran mereka.


“I love you, and believe me, I really love you,” desah Rajev.


Tanpa menjawab Aurel mengecup bibir Rajev lalu dia keluar kamar membawa jacket dan ponselnya sedang tas punggung sudah dia pakai.


\===========================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta