
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Aurel sedang diskusi dengan Wina dan Reza saat telepon genggamnya berbunyi. Panggilan dari nomor rumahnya. Aurel sering takut bila menerima panggilan dari nomor rumah, dia takut menerima khabar buruk tentang anak-anaknya.
“Ya ... Assalamu’alaykum,” sapa Aurel pelan.
“Wa’alaykum salam Bu,” balas pak Ujang.
“Ada apa Pak,” tanya Aurel berupaya tetap tenang.
“Barusan rumah sakit tempat nyonya kerja telepon, nyonya pingsan di ruangannya dan sekarang dirawat,” jawab pak Ujang.
“Ya Pak makasih, saya langsung ke rumah sakit. Tolong bik Siti siapkan baju ganti ibu yang kancing depan, pakaian dalam, juga semua alat mandi serta sandal jepit ibu ya. Pak Ujang antar aja ke rumah sakit,” perintah Aurel pada pak Ujang.
Aurel segera memberitahu Wina dan Reza kalau dia akan mengurus bu Tarida di rumah sakit. Dalam perjalan ke rumah sakit, dilampu merah Aurel mengirim pesan pada Bagas, dia tak berani telepon adiknya takut sedang belajar di ruang kuliahnya.
“Assalamu’alaykum Gas,” sapa Rajev, dia kaget, tak biasanya calon adik iparnya menghubunginya.
“Wa’alaykum salam Kak. Kakak bisa ke rumah sakit Ibu sekarang?” tanya Bagas, dia sengaja meminta Rajev datang lebih dulu menemani Aurel.
“Bisa, siapa yang sakit?” tanya Rajev kaget. Dia mengira Aira atau Darrel karena dia diminta ke rumah sakit bu Tarida yang dokter anak.
“Ibu Kak, dia pingsan di ruangannya. Mbak Aurel sedang on the way kesana. Aku masih ada kuliah enggak bisa segera kesana padahal mbak Aurel barusan menghubungiku minta agar aku menemaninya,” cerita Bagas.
Rajev yang sejak tadi sudah menyanggupi sebelum tau siapa yang sakit makin memantapkan hati menuju rumah sakit karena memikirkan Aurel sendirian di sana.
“Hallo, saya ingin tahu ruang rawat ibu Tarida, dokter anak yang bertugas di sini,” tanya Rajev pada resepsionis di rumah sakit yang bertugas siang menjelang sore hari ini.
“Dokter Tarida masih di ruang observasi. Bapak ke lantai dua naik dari lift itu, lalu belok kanan, nanti Bapak akan menemukan petunjuk ruang itu,” jawab petugas di sana dengan ramah.
Rajev segera menuju ruang yang dijelaskan petugas, di depan ruangan dilihatnya Aurel duduk sendirian gelisah. Rajev mendekatinya langsung memeluk wanita yang dicintainya itu “Apa hasil terakhir love?” tanya Rajev pelan.
Aurel yang merasakan dekapan hangat dari Rajev langsung menyandarkan kepalanya di da-da laki-laki itu dan menangis. Setegar apa pun dia, dia tak siap kembali kehilangan sosok ibu yang mengisi kekosongan jiwanya sejak dia SMA dulu..
“Jangan menangis lagi, Ibu pasti enggak apa-apa, kamu harus kuat my love,” bisik Rajev sambil mempererat pelukannya, dia kecup puncak kepala Aurel.
Cukup lama Aurel menangis dalam dekapan Rajev, dia berhenti saat pak Ujang datang mengantarkan keperluan bu Tarida.
“Pak Ujang sudah mengabari kakek?” tanya Aurel masih terisak.
“Belum Bu, saya takut kesalahan. Sebaiknya Ibu saja yang mengabari kakek serta opung di Medan juga mbak Mirna dan mas Vino,” jawab pak Ujang.
“Baik, saya akan mengabari mereka setelah mendapat keterangan dokter agar tidak bingung menjawab pertanyaan mereka bila ditanya apa alasan Ibu sakit,” jawab Aurel.
“Pak Ujang tunggu sini dulu sampai ada keterangan dokter ya. Saya akan pulang untuk mengambil semua keperluan saya karena saya akan full jaga ibu di sini. Kamar saya kan dikunci jadi bik Siti enggak bisa menyiapkan baju saya. Pak Ujang standby di sini selama saya pulang.
Sudah tiga jam sejak pak Ujang menerima telepon dari rumah sakit, tapi dokter belum memastikan apa penyebab bu Tarida pingsan. Barusan dokter mengabarkan akan memindah bu Tarida ke ruang rawat saja. Aurel meminta kelas VVIP agar bebas menunggu, ada kasur untuk penunggu juga ruang makan dan ruang keluarga di kelas itu. Sama dengan saat Radit di rawat dulu.
“Pak Ujang makan dulu,” perintah Aurel memberikan satu bungkus nasi padang ke pak Ujang, satu bungkus untuk ayahnya serta satu bungkus dia serahkan pada Rajev. Tentu satu bungkus lainnya milik Bagas. Dia memakan kentang dan ayam goreng, tapi Rajev menyuapinya nasi dan rendang
“Makan sedikit ya, aku enggak mau kamu sakit,” bujuk Rajev.
“Aku enggak wajib makan nasi, kentang dan ayam ini cukup. Lihat ada banyak kentang dan ayam goreng yang Bagas beli,” jawab Aurel.
Ayah dan Bagas yang mendengar percakapan itu bersyukur karena sejak kedatangan Aurel dari Jogja dua bulan lalu mereka tahu Rajev dan Aurel tak bertegur sapa walau berada diruangan yang sama.
“Aku tau, tapi isi empat suap ya,” bujuk Rajev tak putus asa.
Aurel pun membuka mulutnya menerima suapan Rajev. Sebaliknya tanpa sadar dia balik menyuapi Rajev potongan ayam yang sudah dicelup ke saos sambal. Dia tahu Rajev paling suka fried chicken walau tak terlalu suka french fries atau kentang goreng.
“Cukup, barusan sudah lima suap” protes Aurel saat Rajev kembali menyuapinya.
“Siapa bilang, baru tiga suap koq” bantah Rajev tak mau kalah.
Akhirnya Aurel pasrah menerima kembali suapan dari Rajev. Sehabis mereka salat isya Aurel bersiap pulang untuk mengambil baju-baju gantinya. Dia bersiap full menjaga ibu seperti saat dia menjaga Radit dulu.
“De, antar Mbak pulang ambil baju di rumah yok,” ajak Aurel pada Bagas.
“Siyaaaaaaap,” jawab Bagas tanpa komentar apa pun. Dia tak mau kakaknya marah bila dia mengusulkan Rajev yang antar kakaknya. Mereka segera keluar ruangan meninggalkan pak Ujang, ayahnya dan Rajev di sana.
“Yah, saya juga pulang dulu ya. Saya ingin menemani Aurel di sini. Saya butuh ambil baju ganti juga,” Rajev meminta izin pada calon ayah mertuanya.
“Baiklah, silakan. Aurel memang butuh teman kalau malam hari. Dulu Bagas yang menemaninya saat dia full menjaga Radit yang sedang koma,” ayah Aurel tentu setuju dengan gagasan Rajev.
***
“Assalamu’alaykum,” sapa Bagas saat kembali tiba di ruang rawat bu Tarida, dilihatnya Ayahnya dan Rajev sedang menonton berita dengan suara pelan, takut mengganggu ibu.
Aurel langsung membongkar perbekalannya, dia membawa kopi sachet, sereal sachet, cemilan, susu coklat bubuk miliknya dan ada beberapa bungkus mie instan dan telur juga kalau suatu waktu dia kepengen mie rebus.
Tak lupa dia membawa water heater. Walau di ruangan ini ada dispenser cold and hot. Tapi tentu tak bisa untuk membuat mie rebus dengan telur setengah matang.
“Wa’alaykum salam. Kita langsung pulang Gas?” tanya ayahnya.
\==============================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta