BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
KAMU BOHONG!



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Tolong saya pak Reza, bu Aurel, jangan penjarakan saya. Bagaimana nasib anak-anak saya, sedang sekarang saja mereka saya ungsikan ke rumah mertua saya karena saya focus menjaga istri disini. Kalau saya di penjara, dari mana nafkah untuk mereka?” rengek pak Cahyo sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di-dada memohon pada Reza dan Aurel.


“Kami bisa membantu pak Cahyo asal Bapak bisa bekerja sama dengan kami,” jawab Reza santai. Dia bisa tau arah yang diambil Aurel.


“Iya Pak, saya janji akan bekerja sama dengan Bapak untuk membuktikan saya tidak menggelapkan dana itu,” pak Cahyo antusias menjawab tawaran Reza.


“Baik. Dengarkan saya baik-baik,” perintah Aurel, sekarang gilirannya yang bicara.


“Pertama Bapak harus mencari orang untuk menjaga istri Bapak selama Bapak berangkat kerja, minimal untuk waktu satu minggu hingga semua persoalan terbongkar.  Saya tidak ingin Bapak tak bisa focus bekerja karena kepikiran masalah istri di rumah sakit.”


“Kedua Bapak kembali ke proyek secara tiba-tiba tanpa memberitahu pak Wisnu mau pun pak Eko. Lalu tanpa alasan apa pun Bapak seakan-akan ingin tahu semua perkembangan proyek selama Bapak tinggal. Bapak buat pendataan dadakan di lapangan semua stock bahan dan perkembangan pembangunan proyek. Cek juga kualitas barang apakah sesuai spec awal atau ada penyimpangan. Cocokan juga dengan kwitansi yang diberikan supplyer.”


“Ketiga, selama di proyek Bapak jangan pernah sendirian, nanti akan ada tenaga yang selalu disamping Bapak untuk menjaga keamanan Bapak, mereka akan bekerja sebagai  tenaga harian sehingga tidak terlalu mencolok mata. Bahkan ke kamar mandi pun Bapak harus bersama mereka.”


“Kalau Bapak bisa menyelesaikan dalam waktu tiga hari, ya Bapak langsung hubungi pak Reza sehingga Bapak bisa kembali ke rumah sakit lagi. Namun kalau harus satu minggu ya silakan, semakin cepat Bapak membuat laporan akan semakin cepat Bapak bisa kembali full mengurus istri Bapak,” demikian rincian tugas dari Aurel untuk pak Cahyo.


“Jelas enggak Pak?” tanya Reza memastikan perintah Aurel bisa dimengerti oleh pak Cahyo.


“Jelas Bu, Pak,” balas pak Cahyo lega karena dia tidak akan diperkarakan dan mengganti nilai kerugian yang sangat besar seliisihnya itu.


“Bapak kabari saja kapan Bapak bisa mulai ke lapangan, agar saya bisa menyiapkan tenaga yang akan melindungi Bapak di sana. Bapak hubungi saya saat Bapak siap. Dan hubungi saya juga apabila setelah ini pak Eko minta tanda tangan laporan lagi,” jelas Reza.


“Baik Pak, saya akan bicarakan dengan keluarga saya masalah yang bertugas  menemani istri saya selama saya bekerja,” janji pak Cahyo.


“Namun ingat, jangan sampai rencana Bapak kembali ke proyek secara tiba-tiba ini bocor. Apabila bocor, maka saya tidak akan mengampuni Bapak terhadap selisih yang tertera di laporan yang sudah Bapak tanda tangani,” ancam Aurel.


Aurel tentu saja tak ingin ada keluarga pak Cahyo yang tidak bisa menutup rahasia.


“Baik Bu, saya akan minta keluarga saya tutup mulut, kalau mereka membocorkannya mereka yang harus menanggung penggantian kerugian itu, karena saya tak sanggup dan memang saya tidak mengambilnya sama sekali,” pak Cahyo berjanji sungguh-sungguh akan menutup rapat rencana kerja mereka.


“Kalau begitu cukup pertemuan kali ini, kami pamit Pak,” Aurel segera berdiri untuk pamit, tak lupa dia memberikan amplop sebagai bantuan pada pak Cahyo secara pribadi, karena yang dari perusahaan sudah diberikan oleh Reza tadi di ruang rawat.


“Terima kasih Bu, Pak,” pak Cahyo menangkupkan kedua telapak tangannya dan mengangguk berkali-kali karena bersyukur bisa terhindar dari perkara pelik yang akan menjeratnya tanpa dia ketahui.


“Bu, pak Rajev sejak tadi bertanya apa Ibu sudah selesai,” Reza menyampaikan pesan Rajev yang sejak tadi datang bertubi-tubi tapi belum dia balas.


“Jawab saja kita masih di rumah sakit tempat istri pak Cahyo dirawat, belum ke lapangan,” jawab Aurel.


“Lalu turunkan saya di kantornya, nanti saya pulang dengan dia,” perintah Aurel. Saat ini mereka baru saja sampai di parkiran.


“Eh, ini kita melewati toko kue saya, mampir ya mas Reza, kita ambil kue untuk di kantor dan kantor pak Rajev,” tetiba Aurel sadar, kalau jalan yang mereka lewati akan melewati salah satu toko kue nya.


Aurel meminta dibungkuskan kue untuk Wina, untuk Reza, untuk Murti dan untuk staf resepsionis serta satpam. Untuk di kantor Rajev pun dia membawa beberapa kotak, selain untuk Rajev dan anak-anak, juga untuk para staff nya.


Jam 14.09 Aurel turun di parkiran kantor Rajev, dilihatnya mobil tunangannya ada di sana. Dia langsung memasuki lobby dan menuju lantai tujuh. Di lantai tujuh Aurel langsung memberikan satu box untuk para staff di sana juga para pegawai front office.


“Terima kasih Bu, lama tidak ke sini,” sapa seorang pegawai yang menerima box dari Aurel.


“Ada sedikit kesibukan sehingga tidak bisa sering main kesini” balas Aurel ramah.


“Bapak ada?” tanya Aurel berbasa-basi.


“Ada Bu, langsung masuk saja,” jawab petugas itu.


Aurel langsung masuk, sengaja tanpa mengetuk, dia ingin mengetahui apa yang sedang dikerjakan oleh laki-laki yang super posesive padanya itu. Dibukanya pintu dan di dengarnya Rajev sedang bicara menggunakan telepon kantornya sambil memandangi data dilayar laptopnya.


“Assalamu’alaykum,” sapa Aurel tanpa suara, hanya gerak bibir saja saat Rajev melihat ke arahnya. Senyum mengembang dibibir Rajev saat melihat perempuan idamannya masuk keruang kerjanya.


Lama Aurel menunggu Rajev menyelesaikan pembicaraannya ditelepon, Aurel mendengarkan pembicaraan itu mengenai pekerjaan Rajev di Bontang, minggu depan Rajev jadwal berangkat ke Bontang.


“Wa’alaykum salam,” balas Rajev saat telah selesai berbicara ditelepon, dia langsung menghampiri kekasihnya yang duduk di sofa di ruangan itu. Dikecupnya kening Aurel, lalu sekilas mengecup bibirnya.


“Kejutan yang manis,” cetus Rajev sambil duduk di sisi Aurel. “Bagaimana tadi pekerjaanmu Love?” cecarnya.


“Aku hanya ke rumah sakit saja koq, enggak kemana-mana!” Aurel memberi tahu apa yang tadi dia telah lakukan.


“Serius?” tanya Rajev tak percaya.


‘Bagaimana mungkin persoalan pelik begitu hanya diatasi dengan menengok orang sakit saja. Tak mungkin Aurel keluar dari ruang rawat ibunya bila tak ada yang urgent,’ pikirnya.


“Kamu sudah makan?” tanya Aurel, dia hafal Rajev pria yang malas makan. Rajev hanya menjawabnya dengan senyuman.


“Kamu kebiasaan deh. Kamu bilang sayang aku, sayang anak-anak, tapi kamu bohong!” protes Aurel.


\=====================================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL  TELL LAURA I LOVE HER  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta