BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
JANGAN KANGEN



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI. JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


 Hari berikutnya Dennis malah datang ke kantor Aurel. Membawa banyak buah apel, keripik apel, sirop apel dan makanan lainnya dari Malang.


“Bu Aurelnya enggak hadir hari ini Pak,” Wina memberitahu Dennis kalau boss mereka tak datang. Murti sedang di ruang Reza untuk melaporkan proyek yang dia pegang.


“Sipa bilang saya kesini cari Aurel? Saya kesini karena kangen kamu koq. Kalau telepon kan hanya dengar suaranya. Enggal lihat wajahmu,” jawab Dennis tanpa ragu.


“Bapak ngaco,” jawab Wina serba salah.


“Saya serius, enggak ngaco. Kalau kamu mau terima video call dari saya, baru saya enggak perlu repot nyamperin kamu kalau saya kangen seperti sekarang,” tandas Dennis lagi.


Wina jadi makin serba salah. Mau dia usir, pria didepannya adalah pimpinan sebuah perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan tempatnya bekerja. Enggak diusir, Wina bingung menghadapinya.


“Janji ya, besok-besok mau terima video call?” desar Dennis. Haduh pak Dennis, mimpin perusahaan bisa sukses, tapi ngedeketin ceweq koq enggak ada manis-manisnya sih? Main trabas aja pagar orang.


“Ya enggak gitu juga dong Pak,” Wina akhirnya bisa membantah.


“Kalau jam kerja, atau lagi enggak bisa terima video call kan enggak bisa angkat,” sahut Wina. Tidak berpikir jawabannya menjadi bumerang baginya.


“Artinya … saat jam kerja dan enggak ada halangan buat terima video call, bisa kan? Iya kan?’ desak Dennis dengan memainkan satu alisnya.


“Tau ah,” jawab Wina. Dia salah jawab tadi.


“Reza ada kan?” akhirnya Dennis mengganti topik pembicaraan.


“Ada, lagi diskusi dengan Murti,” sahut Wina.


“Saya ke ruangan Reza dulu ya. Kamu jangan kangen,” Dennis keluar ruangan dan menuju ruang Reza.


‘Kenapa aku jadi deg deg an gini ya?’ pikir Wina.


“Lho sudah selesai laporanmu?” tanya Wina karena Murti masuk ke ruangan mereka.


“Pas aku keluar ruangan, pas Pak Dennis mau ketuk pintu Mbak,” jawab Murti.


“Kita makan bakso beranak yok, ngidam panas pedes nih aku,” Wina mengajak Murti makan siang mereka bakso aja.


“Ayok. Kita salat dulu baru makan siang ya,” Murti menyimpan berkasnya dulu lalu bersiap membawa mukena miliknya. Mereka tak suka menggunakan mukena yang ada di mushola.


***


“Selamat siang Pak,” Murti dan Wina bertemu dengan Dennis dan Reza yang baru akan masuk mushola sama seperti mereka.


“Calon pengantin bawaannya cerah ya?” goda Dennis yang baru tahu kalau Yon dan Murti akan menikah bulan depan.


“Bapak nih yang mau jadi pengantin,” Murti balas menggoda Dennis.


“Saya siap jadi pengantin kalau Mbakmu itu menerima lamaran saya,” tanpa malu Dennis mengatakan hal serius pada Murti dengan menunjuk Wina dengan dagunya.


“Lho … eh,” Murti malah jadi gelagepan mendengar jawaban Dennis yang terlihat tidak sedang bercanda. Tak mau berlanjut bingung, Murti meletakkan barangnya dekat Wina yang telah bersiap dengan mukenanya. Lalu dia keluar menuju tempat wudhu perempuan.


Memang sejak bertemu Reza dan Dennis tadi, Wina langsung menuju arena wudhu dan dia masuk lebih dulu dari Murti.


***


Sejak tunangan, Murti memang full tidak pernah membawa motor lagi. Bahkan sejak Yon kerja disini dan membawa mobil miliknya dari Jogja. Jadilah Murti dan Wina sekarang naik taksol ( taksi online ), karena Wina juga belum beli mobil kembali.


“Eh … pak Reza telepon,” Wina melihat ponsel dalam genggamannya, ada panggilan dari Reza.


“Iya Pak?” tanya Wina.


“Kalian sedang dimana?” tanya Reza.


“Ya sudah,” Reza langsung memutus sambungan itu.


“Jadwal lusa enggak batal kan?” tanya Wina.


“Enggak Mbak. Mas Yon akan berangkat dengan pak Lukman ke Cirebon. Dan pak Reza akan berangkat dengan Syarif ke Cianjur. Aku yang ke Tangerang, tapi belum tahu pak Reza akan kirim aku dengan siapa. Andai kita bisa berangkat berdua ya Mbak. Tangerang kan enggak perlu nginep,” Murti menjawab jadwal kerja lusa.


“Ha ha ha, kita berdua berangkat ke Tangerang dan pas ibu ( Aurel ) masuk kantor? Dia kita suruh kerja sendirian? Kalau ibu pas enggak hamil sih oke lah. Lah kalau sekarang, mana bisa aku tinggalin  dia di kantor sendirian.” Wina tertawa renyah dan Murti pun jadi tertawa akan kebodohannya.


“Ketawa enggak ngajak-ngajak,” suara bariton mengjeda tertawa mereka.


“Eh pak Dennis, pak Reza,” Murti jadi serba salah.


‘Hmmm …, rupanya tadi tanya mau kemana karena ingin nyusul buat makan bareng,’ batin Wina.


Akhirnya makan siang yang rencananya hanya akan diisi obrolan Wina dan Murti, jadi malah berempat. Dan Dennis bisa menggiring pembicaraan menjadi santai tanpa membedakan dirinya dengan Wina dan Murti.


“Eh iy pak Reza, tadi pak Dennis membawakan oleh-oleh dari Malang buat kita. Belum sempat saya buka, masih sibuk,” Wian memberitahu ada oleh-oleh dari Dennis.


“Ada keripik apelnya enggak Win? Istriku pengen itu. Aku tadi lagi cari di toko online saat Murti masuk buat laporan kegiatan,” sahut Reza.


“Kan saya bilang belum saya buka,” jawab Wina jujur.


“Kayaknya ada,” Dennis yang bawa malah bingung.


“Ha ha ha, yang nyiapin istri ya Pak, jadi Bapak enggak tahu isinya apa aja,” goda Murti.


“Kan sudah saya bilang, saya belum ada istri. Calon istrinya kan masih disini,” sahut Dennis garing.


“Ups …,” Murti melihat Wina. Yang jadi sasaran tatapan hanya menunduk. Artinya pasti ada sesuatu antara pak Dennis dan Wina yang dia tidak tahu.


***


Wina dan Murti baru saja membagi oleh-oleh Dennis. Mereka memang menyediakan tas khusus di laci mereka untuk membawa berkas dan ternyata juga berguna membawa oleh-oleh kali ini.


“Ti, ini milikmu dan Yon. Lalu ini kamu antar berkas ini ke ruang pak Reza. Kalau bisa oleh-oleh milik bu Aurel sepulang kerja nanti kamu antar ya. Sayang apelnya bila sampai busuk,” Wina memberi komando.


Secara berkala Wina masih memberikan gula kopi dan teh bagi para satpam. Stok di rumahnya masih sangat banyak. Tapi kalau dikasihkan semua dia takut malah tak berguna. Maka dia berikan satu minggu satu kali.


Kalau stok air kemasan digunakan oelh bulek Ratmi untuk mereka sehari-hari. Galon yang untuk dispenser diisi oleh bulek Ratmi dengan menuang satu persatu air mineral kemasan gelas yang ada. Sedikit repot. Tapi mau dikemanakan juga air ber dus-dus ini? Itu juga sudah digunakan untuk masak belum juga habis.


Dan kadang Wina juga membawa air mineral ke kantor. Dia letakkan di pos satpam dua dus.


“Mbak, istri pak Reza seneng banget dikirimi paket dengan ojek online,” Murti yang baru masuk ruangan memberitahu kalau Lusi istri Reza sudah memberitahu kirimannya sudah dia terima.


Memang tadi Murti ke ruang Reza hanya mengantar berkas, karena oleh-oleh milik Reza sudah dikirim duluan ke rumah Reza.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL   THE BLESSING OF PICKPOCKETING  YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL  THE BLESSING OF PICKPOCKETING  ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta