
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
Vino dan Myrna janjian makan siang dekat kantor Vino. Memang Myrna yang atur tempatnya agar Vino tak terlalu repot bila harus segera kembali ke kantornya.
“Ada perlu apa?” tanya Vino. Dia dan Myrna -serta almarhum Radit- dulunya adalah tiga sekawan. Tak ada rahasia antara mereka. Tak ada rasa kasih selayaknya perempuan dan pria. Yang ada hanya rasa persahabatan yang begitu kuat.
“Aku ada masalah. Dan sepertinya yang bisa bantu cuma kamu,” jawab Myrna.
“Ya ngomong aja, kalau gue bisa bantu, akan gue bantu,” sahut Vino masih seperti biasa ber elo gue dengan Myrna. Sedang Myrna sejak mereka akhir SMA memang sudah ber aku kamu.
“Ini soal Xella, tiga hari lalu aku dipanggil ke sekolahnya karena dia bermasalah dengan jati diri papanya. Nah aku mau minta tolong, kalau ada kegiatan yang berkaitan dengan peran papa apa kamu bisa bantu?” tanya Myrna.
“Apa lo pikir dia hanya butuh figur papa disetiap kegiatan sekolah aja? Apa elo enggak mikir dia juga butuh papa disemua kegiatan rutinnya?” tanya Vino.
“Aku tahu, semua anak pasti butuh figur papa. Tapi kondisi Xella kan beda. Dia memang enggak punya ayah lagi,” jawab Myrna lirih.
“Coba lah elo cari pengganti A’im. Gue tahu elo masih berduka. Seharusnya elo sudah boleh buka hati karena sudah lebih dari empat puluh hari. Dan nanti kalau masa iddah lo udah selesai, elo bisa nikah,” Vino menyarankan solusi terbaik untuk Myrna.
“Kalau soal jadi figur papa buat Axel dan Xella tanpa elo minta gue pasti sanggup. Lo telepon aja kapan gue harus datang,” lanjut Vino.
“Enggak segampang itu buat aku buka diri mencari pengganti A’im,” sahut Myrna sambil mengaduk juicenya.
“Sekarang yang harus elo pikir bukan cuma elo sendiri. Tapi ada Xella yang harus jadi prioritas lo,” Vino memberi pandangan.
“Sekarang gini,” Myrna menghentikan kalimatnya. Dia menguatkan hati untuk menyampaikan pikirannya pada Vino.
“Gimana?” tanya Vino sambil melihat jam di dinding resto. Hari ini dia agak sedikit longgar. Tak ada meeting lagi sehabis makan siang.
“Kalau aku minta kamu yang jadi papa anak-anak secara legal gimana?” tanya Myrna dengan menatap tajam mata Vino.
“Elo mabok? Kita kenal dari kecil. Kita sahabatan. Apa kita bisa jadi pasangan legal?” tanya Vino kaget.
“Aku ngerti sih. Biar gimana pun statusku janda anak dua. Sorry. Jangan dipikir lagi wacana gilaku. Iya emang aku barusan ngomong enggak pakai mikir,” Myrna akhirnya sadar kalau dia bukan gadis lagi.
‘Siapa yang mau menerima janda anak dua? Aku terlalu naif memikirkan kebaikan Vino selama ini. Sehingga aku berpikir dia mau menerima tawaranku tadi,’ Myrna baru sadar kalau apa yang dia katakan barusan sangat memalukan.
“Bukan gitu maksud gue. Cuma enggak kepikir aja ama gue. Kita yang biasa jadi sahabat tiba-tiba harus terikat jadi suami istri,” Vino serba salah. Biar bagaimana pun memang tak pernah terpikir dia akan menikah dengan sahabatnya sendiri.
***
Wina jadi serba salah saat Dennis minta izin pada Aurel membawa Wina sebentar untuk bicara sehabis mereka selesai meeting dilanjut dengan makan siang bersama.
“Pulangin utuh ya,” goda Rangga.
“Usil lo ah, mentang-mentang udah enggak single lagi,” Dennis tentu aja keqi diledek oleh Rangga.
***
“Kita baru selesai makan. Ngapain lagi ke rumah makan?” protes Wina saat Dennis memarkirkan mobilnya di MASSIMO GELATO.
“Inikan cuma es krim Yank. Enggak ngenyangin kecuali kita beli snack atau makan siang lagi,” sahut Dennis sambil segera keluar mobil dan ingin membukakan pintu untuk Wina.
Wina bukan ingin dibukakan pintu. Dia malah melamun sehingga tak cepat turun dari mobil.
“Ayo Yank,” Dennis mengulurkan tangannya setelah dia membuka pintu mobil untuk Wina.
“Yank,” Dennis kembali memanggil Wina yang no respon.
“Eh …,” sadar dari lamunannya, Wina segera turun tanpa menyambut tangan yang Dennis sodorkan.
“Bingung, pokoknya yang rasa cocho, kopi atau sekitar itu. Jangan rasa buah atau vanilla,” sahut Wina.
Dennis pun memesan yang Wina dan dia mau. Semua porsi medium.
“Yank, aku serius lho sayank ke kamu. Aku bukan anak ABG yang cari pacar,” Dennis langsung to the poin.
“Maksudmu?” tanya Wina juga serius.
“Aku mau kita saling kenal serius. Aku juga ingin kita segera menikah,” Dennis menjelaskan apa tujuannya.
“Mas tahu kan aku janda? Mas bisa terima itu. Tapi belum tentu keluarga Mas terutama orang tua Mas nerima aku. Maaf, aku malas kalau untuk berdebat dan berjuang. Aku hanya mau menerima hubungan serius yang tak ada hambatan.”
“Aku sudah lelah dihina dan diinjak keluarga suami. Dan kedepannya aku tak ingin lagi merasakan hal itu,” Wina pun memberitahu kalau dirinya lelah berjuang.
Wina ingin pasangan yang seperti dirinya saja. Sudah yatim piatu sehingga tidak ribet dengan ketidak sukaan keluarga suami.
“Aku anak sulung dari tiga bersaudara. Adikku kembar lelaki semua. Ayahku sudah meninggal ketika aku masih semester satu di jenjang S1. dan ibuku bukan perempuan yang rewel. Dia akan menerima siapa pun yang jadi pilihan putra-putranya.” sahut Dennis.
“Gini aja. Aku enggak akan kasih jawaban atau janji apa pun sebelum Mas dapat kepastian ibu Mas menerimaku. Kalau itu sudah didapat, baru kita bicara lagi kelanjutan hubungan kita.” Wina juga tak ingin pacaran layaknya anak ABG.
“Maaf, aku angkat telepon dulu,” Dennis minta izin Wina mengangkat telepon dari ibunya.
“Iya, assalamu’alaykum Bu,” Dennis menyapa perempuan lembut yang iya cintai.
“Kata Desta kamu sudah kembali ke Jakarta? Ibu kira masih di Semarang,” sang ibu menanyakan posisi putranya.
“Sejak kemarin sudah di Jakarta. Ibu mau apa?” tanya Dennis lembut.
“Ibu baru akan kembali ke rumah lusa. Cuma kepikiran makanmu aja,” sahut sang ibu.
“Abang enggak usah dipikirin gitu. Sekarang Abang lagi ama calon mantu ibu yang Abang ceritain waktu Abang di Bali itu,” Dennis mengubah panggilan menjadi video call.
Di layar ponsel terlihat wajah ayu perempuan hitam manis seperti kebanyakan perempuan Maluku pada umumnya.
“Hallo Bu, kenalin ini Wina calon mantu Ibu,” Dennis mendekat pada Wina agar mereka berdua terlihat oleh ibunya.
“Assalamu’alaykum,” sapa Wina dengan gugup. Dia tidak siap berkenalan dengan ibunya Dennis.
“Wa’alaykum salam Nak. Besok kalau Ibu sudah sampai Jakarta kamu main ke rumah ya?” dengan ramah ibunya Dennis menyuruh Wina kerumah.
“Dia takut Ibu enggak nerima karena statusnya Bu. Dia kira Abang belum cerita tentang dia ke Ibu,” Dennis langsung nyambar, memberitahu ketakutan wina ditolak calon mertua.
“Auu … sakit Yank,” Dennis protes karena Wina mencubitnya. Melihat itu ibunya Dennis tersenyum. Dia senang akhirnya anak sulungnya mau membuka hati .
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL THE BLESSING OF PICKPOCKETING YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETIN JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL THE BLESSING OF PICKPOCKETING ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta