BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
KECEMASAN AUREL



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 Akhirnya semua segera pulang, hanya tinggal Bagas dan Rajev yang menemani Aurel. Rajev kembali membuka laptopnya. Sedang Bagas menonton berita di televisi.


“Gas, ini makanan malam sudah dibawakan oleh bik Siti, nanti kalau kamu mau makan tak usah tunggu Kakak ya,” Rajev memberitahu calon adik iparnya untuk makan lebih dulu. Dia ingin mengerjakan laporannya.


“Kita harus makan bersama Kak, kalau tidak, Mbak akan malas makan lagi,” jawab Bagas mengingatkan Rajev perihal kondisi Aurel saat ini.


“Astaga, aku lupa,” Rajev tak ingat Aurel harus dipantau makannya.


“Berarti habis salat Isya nanti kita bangunkan dia, sekarang dia tertidur sepertinya pengaruh obat yang dokter berikan siang tadi, karena tak lama dari minum obat dia langsung tertidur lagi.” Lanjut Rajev sambil memandang Aurel dari kejauhan.


“Iya Kak,  kita terpaksa tidak bisa salat ke mushola, kita salat di sini aja bergantian seperti sore tadi,” balas Bagas membenarkan pendapat Rajev.


Rajev kembali focus pada pekerjaannya di laptop, dia melihat Bagas melakukan salat Maghrib, bersamaan dengan para perawat memeriksa kondisi bu Tarida. Dia mau bertanya tapi berpikir percuma bila hanya sepotong-sepotong yang dia mengerti. Maka dibiarkannya perawat berlalu. Rajev bergegas menyimpan data yang dia kerjakan lalu bersiap salat saat didengarnya Aurel bergumam “Bu!”


“Love, kamu bermimpi?” Rajev menepuk pipi Aurel pelan untuk membangunkan perempuan itu.


“Kenapa Kak?” tanya Aurel kaget karena ditepuk-tepuk pipinya oleh Rajev.


“Apa kamu bermimpi?” tanya Rajev.


“Bangun yok, kita salat Maghrib dulu,” ajak Rajev sambil membantu Aurel untuk duduk di pembaringan.


Aurel mejawabnya dengan anggukan, Rajev berupaya menopang Aurel untuk bangkit dari tidurnya. Rajev mengantar Aurel hingga depan kamar mandi, semua perlakuan Rajev diperhatikan dengan baik oleh Bagas. Rajev memimpin salat Maghrib berjamaah dengan Aurel.


Saat Rajev dan Aurel salat, Bagas sengaja memanaskan sop buntut yang dibawakan bik Siti, walau nasinya dingin, tapi karena kuah panas maka makanan yang akan mereka santap tentu tak dingin semua. Bik Siti hanya membawakan nasi, sop buntut, tempe goreng dan krupuk serta sambal untuk menu makan malam ini.


Dan porsinya juga hanya pas untuk mereka bertiga, karena bik Siti tak ingin banyak makanan terbuang. Bik Siti tahu, kalau penjaga orang sakit malas makan dan di ruang rawat banyak kue dari toko roti milik Aurel.


“Makan dulu Kak, agar Mbak bisa langsung minum obat lagi,” Bagas sengaja ngajak Rajev, bukan ke kakaknya, karena Aurel pasti akan menolaknya dan bilang masih kenyang. Perempuan itu sudah kembali naik ke bed.


“Ayo kita makan,” balas Rajev, dia menyiapkan sepiring nasi dan lauk minus sambal, lalu dia mendekati bed untuk menyuapi Aurel makan.


“Buka mulutmu” perintah Rajev lembut.


“Aku bisa makan sendiri dan aku mau makan di meja saja” Aurel pun beranjak hendak turun dari bed.


Rajev meletakkan piring di meja lalu membantu Aurel turun dan berjalan ke kursi. Rajev mengambil piring yang tadi dia siapkan dan diletakkan di depan Aurel. “Kamu juga makan sekarang Gas,” ajak Rajev.


“Siaaaaaap Kak,” balas Bagas cepat. Dia tahu bila ditemani maka mbaknya akan semangat makan.


Walau sedikit demi sedikit tapi porsi yang diambilkan Rajev dihabiskan oleh Aurel. Dia bertekad tak ingin sakit agar bisa menjaga ibu mertuanya. Rajev tentu senang melihat kekasihnya sudah mulai mau makan.


“Jangan lupa minum obat dan vitaminnya ya,” Rajev mengingatkan Aurel.


Bagas langsung mencuci semua peralatan makan milik mereka pribadi agar besok pagi saat mereka akan gunakan lagi semua sudah bersih. Sedang peralatan makan milik rumah sakit di letakkan dinampannya saja.


“Sofa ada dua yang panjang, kita bisa tidur di masing-masing sofa koq,” jawab Rajev. Dia kembali menyalakan laptopnya untuk mulai bekerja, sementara dilihatnya Aurel mengganti-ganti chanel televisi mencari tontonan yang dia suka.


Beberapa saat Aurel masih belum berhenti memainkan remote, Rajev menyadari rupanya Aurel sedang resah. Dia mendatangi Aurel dan mendekap bahunya dengan lembut. “Kamu kenapa lagi?” tanya Rajev dengan sabar.


“Aku enggak apa-apa koq,” kilah Aurel tak mau mengemukakan isi hatinya.


“Kamu enggak usah bohong … apa yang kamu pikirkan?” tanya Rajev seakan tahu kalau Aurel sedang tidak baik-baik saja.


Aurel langsung melepas remote, memeluk Rajev dan menangis tersedu. “Love, kamu kenapa?” bisik Rajev sabar. Dibiarkannya Aurel menangis sambil sesekali diusap punggung kekasihnya itu. Bagas yang melihat kakaknya depresi menjadi sangat sedih.


“Aku takut ….” Aurel menjawab disela isakannya.


“Ibu akan baik-baik saja, kamu jangan terlalu berpikir buruk. Ingat ada anak-anak menunggumu,” bujuk Rajev.


Akhirnya Rajev memapah Aurel menuju bed penunggu pasien, agar Aurel bisa istirahat. “Rehat ya” bisiknya sambil menutup tubuh kekasihnya dengan selimut dan dia duduk di pinggir ranjang menemani Aurel. Tangannya masih digenggam erat oleh perempuan pujaan hatinya itu seakan-akan takut ditinggalkan.


Aurel persis seperti Darrel yang ketakutan bila dia menutup matanya uppanya akan meninggalkannya karena tak terlihat. “Tidurlah, aku akan menemanimu di sini,” bujuk Rajev. Namun dijawab gelengan kepala yang kuat oleh Aurel sambil kembali terisak.


“Love … love … aku di sini, disisimu,” bisik Rajev. Karena dilihatnya Aurel seakan tak percaya, maka Rajev membaringkan tubuhnya disisi Aurel dan mendekapnya lembut memberikan rasa nyaman pada kekasih mungilnya.


Dikecupnya pipi dan kening perempuan yang sedang depresi itu. “Pejamkan matamu, dan aku berjanji saat kau membuka matamu esok pagi, aku akan tetap di sini, disisimu,” janji Rajev.


Akhirnya Aurel bisa tertidur walau sesekali masih terdengar sisa isaknya. Rajev turun setelah Aurel lelap dan dia mengirim email pada staffnya untuk besok membawa berkas ke rumah sakit, karena dia tak ingin membuat Aurel sendirian di ruangan ini.


“Bagas, kamu besok full enggak?” tanya Rajev sambil berbisik.


“Sampai jam dua siang Kak, sore aku bisa lah sampai sini,” jawab Bagas.


“Pakaianku habis, aku tak berpikir sama sekali tak bisa meninggalkan Mbakmu seperti ini. Dan aku juga perlu ambil berkas di apartemenku,” Rajev memberitahu dia butuh waktu untuk lari sebentar ke apartemennya.


“Kalau Kakak ambil sekarang langsung pulang pergi enggak bisa? Bukankah mbak akan cukup lama terlelap mengingat dia baru minum obat. Bila dia bangun dan mencari Kakak aku akan bilang Kakak keluar sebentar. Karena aku tak yakin besok sore dia akan membiarkan Kakak pulang walau ada aku,” saran Bagas pada calon kakak iparnya itu.


“Tapi sekarang  Kakak sudah lelah dan mengantuk ya. Jangan pulang sekarang. Bahaya!” tukas Bagas, dia takut bila Rajev malah membuat masalah baru bila kecelakaan karena mengantuk .


\======================================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL UNREQUITED LOVE  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta