
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
“Bharthave , untuk proyek ini. Kamu pegang posisi kepala proyek ya. Rasanya Reza dan Yon terlalu banyak yang di handle. Terlebih ini semua rekananmu. Aku takut Yon dan Reza enggak nyaman pegang poyek itu,” Aurel minta bantuan suaminya meng-handle proyek rekanan Rajev.
“Siapa takut? Asal salary-nya sesuai, aku terima,” sahut Rajev dengan senyum usilnya.
“Salarynya gampang. Kalau kamu enggak terima job ini kamu tidur dikamar tamu,” Aurel pun membalas keusilan Rajev.
“Dengan kata lain kalau aku menerima job ini, salary yang aku dapatkan adalah tetap boleh satu kamar denganmu?” desis Rajev.
“Ya, semua terserah padamu. Take it or leave it,” sahut Aurel dengan nada penuh kemenangan.
“Kamu culas Bharrya, bagaimana mungkin aku sanggup tidur terpisah denganmu?” Rajev tentu akan sulit bila itu yang ia dapatkan.
“Ha ha ha,” Aurel hanya tertawa karena berhasil menjebak suaminya.
****
“Mulai saat ini jadwal pemeriksaan tidak satu bulan sekali ya. Minimal dua minggu sekali. Tapi saran saya, karena kehamilan kembar itu istimewa, anda bisa kontrol satu minggu sekali,” dokter Fitri memberi tahu Aurel dan Rajev. Hari jadwal kunjungan Aurel dan Rajev ke dokter kandungan.
“Kami memutuskan untuk langsung satu minggu sekali saja Dok,” sahut Rajev.
“Walau HPL sudah dihitung, umumnya kelahiran bayi kembar tidak sesuai dengan tanggal perhitungan. Jadi saran saya kalian tak perlu takut bila minggu besok mbak Aurel merasakan kontraksi dan siap melahirkan.” Fitri memberi gambaran bagi Aurel.
“Bisa maju HPL nya Dok?” tanya Aurel meastikan.
“Sangat bisa dan bisa sangat jauh majunya,” sahut dokter Fitri sambil nge-print hasil USG lalu dia berikan pada Rajev.
“Mulai sekarang kita akan bersiap Love,” Rajev memeluk bahu istrinya ketika mereka keluar ruang praktek dokter Fitri.
“Iya. Kamu jangan sampai matikan ponsel bila sedang tidak bersamaku ya Honey,” sahut Aurel. Dia teringat drama kelahiran Darrel. Ponsel Radit sedang dicharge dan Radit sedang meeting sehingga sulit dihubungi.
“Iya, aku akan selalau kontrol daya batere ponsel sebelum pergi keluar rumah tanpamu. Dan kamu pasang alarm kalau kita harus kontrol baby twins tiap minggu,” Rajev akan selelu berupaya menjadi suami siaga.
***
“SAH.”
Akhirnya Yon dan Murti sah menjadi suami istri dalam hukum agama mau pun negara. Aurel duduk di kursi tak seperti tamu lainnya. Dia sulit duduk di lantai karena kondisi baby twins yang membatasi geraknya.
Lusi istri Reza yang juga sedang menunggu waktu melahirkan malah masih bisa duduk lesehan. Kandungan Lusi memang lebih tua dari kehamilan Aurel.
Seperti kehamilan Lusi pertama dulu, Reza juga akan cuti di kehamilan Lusi. Bersamaan dengan Yon cuti menikah. Semua beban sekarang ada di pundak Wina. Murti juga cuti menikah dan Aurel susah bergerak.
Bisa bayangkan beban Wina mulai minggu ini? Dennis yang mengerti kekasihnya sedang dalam tekanan kerjaan yang berat selalu mendampingi. Wina sangat bersyukur. Kadang Dennis membantu di kantor.
Hari ini Dennis dan Wina pertama kali datang ke resepsi sebagai pasangan. Mereka memproklamirkan diri dengan menggunakan batik sarimbit berwarna hijau. Tentu saja karyawan kantor Aurel kaget. Selama ini mereka tak ada yang tahu kalau Wina adalah kekasih dari big bos rekanan Aurel.
Wina tidak datang bersama bulek Ratmi. Sang bulek sudah menginap di rumah Murti sejak tiga hari lalu. Sejak berkenalan saat meninggalnya Ahmad, memang bulek Ratmi dan ibunya Murti langsung akrab.
“Mbak, masih bisa aja duduk di karpet,” Wina menyapa Lusi.
“Iya, alhamdulillah,” sahut Lusi. Tentu dia mengenal semua team yang bekerja dengan Reza dan mereka sering bertemu di acara rumah Aurel sejak masih ada Radit.
“Kamu kapan nikah?” bisik Lusi.
“Doa’in aja segera,” jawab Wina. Dia masih belum memberitahu siapa pun jadwal yang Dennis tetapkan. Wina masih bersitegang dengan Dennis masalah pekerjaan Wina. Sehingga Wina tidak mau menyetujui tanggal sebelum Dennis setuju dia terus bekerja.
Pernikahan Murti memang tidak dilakukan dua kali. Sehabis akad nikah langsung resepsi. Tanpa jeda.
“Selamat ya adikku sayang,” Wina memberi selama pada rekan team yang paling akrab dengan dirinya. Mereka sering bertukar cerita tentang hal pribadi.
“Terima kasih Mbakku. Semoga Mbak cepat nyusul ya?” balas Murti.
“Kamu lewat mana? Nanti aku cari jalan tikus biar bisa nyusul,” goda Wina.
“Kita lewat jalan tol aja Yank, jadi lebih cepat,” Dennis ikut nimbrung.
“Heh, ayo gantian,” tegur Reza.
“Kalian enggak bosan ya ngerumpi terus,” Lusi yang sering ngerumpi dengan Murti dan Aurel dan Wina ikut ambil bagian.
“Kayak mbak Lusi bosan aja ngerumpi dengan kita,” sahut Murti.
“Ha ha ha , iya sih,” Lusi akhirnya bersalaman dengan Murti.
***
'Mohon doanya. Lusi sudah pembukaan empat. Kami sejak tadi sudah di RSIA Kedasih,' Esoknya Reza memberitahu anggota team kalau Lusi siap melahirkan.
Aurel dan Rajev yang sedang periksa kehamilan berjanji akan datang ke rumah sakit ibu dan anak ( RSIA ) tempat Lusi akan melahirkan.
Aurel tiba setelah makan siang dan salat Dzuhur. Dia juga membawa parcel buah dan dan kado bagi baby boy yang Lusi lahirkan.
“Selamat yo Mbak. Seneng sudah sepasang kaya Aira dan Darrel,” Aurel mencium pipi Lusi yang sudah berada di ruang rawat. Anak pertama Reza memang perempuan.
“Iya Rel, seneng banget. Walau udah tahu jenis kelamin sejak di USG. Tapi kan kalau belum lahir tetep aja kepikiran,” sahut Lusi. Bukan Lusi enggak sopan. Tapi dia manggil Aurel langsung nama karena permintaan Aurel sejak dia menikah dengan Radit dulu.
“Bener. Aku juga gitu Mbak. Saat hamil Darrel. Sekarang ini baby twins juga kemungkinan laki semua. Aku berharap satu cowoq satu ceweq. Kalau Rajev sih enggak kepengen apa pun dia sudah sangat bersyukur bisa sehat dan tebar bibit,” jawab Aurel.
“Ha ha ha, bahasamu Rel. Tebar bibit,” Lusi tertawa.
“Itu bahasanya Abang Radit. Dia bilang gitu, kegiatannya bercocok tanam dan tebar bibit. Dan saat bibitnya mulai tumbuh dia malah koma,” Aurel sekarang bisa bercerita tanpa harus ikut terlarut sedih. Dan lagi Aurel sadar saat hamil dia tak boleh membuat baby dalam kandungannya ikut sedih.
‘Abang, barusan pak Reza kasih tau mbak Lusi masuk rumah sakit. Sudah mau melahirkan,’ Wina mengirim pesan pada Dennis. Lama tak direspon karena Dennis sedang bertemu rekanannya.
“Kamu mau langsung kesana?” Dennis langsung menelepon Wina begitu membaca pesan kekasihnya.
“Enggaklah. Aku sendirian di kantor,” Wina tak bisa langsung datang. Hari ini dia jaga gawang sendirian.
“Ya sudah, pulang kerja Abang ke kantormu ya. Kita langsung beli kado dan ke rumah sakit. Jangan lupa khabari bulek Ratmi kalau kamu pulang telat,” Dennis mengerti kondisi Wina.
***
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL TELL LAURA I LOVE HER YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL TELL LAURA I LOVE HER ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta