
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Oke, nanti akan ada beberapa orang baru di sana yang Bapak belum kenal. Bapak perhatikan ada tiga orang yang akan berkenalan dengan Bapak dengan langsung menyebut kata sandi lebah madu nah sejak besok kemana pun Bapak pergi harus di ikuti mereka ini ya.” Reza langsung memberitahu kata sandi bagi operasional mereka kali ini
“Semua untuk keamanan Bapak. Ingat ke toilet atau mushola sekali pun Bapak tidak boleh sendirian. Besok mereka juga akan membayangi Bapak hingga sampai ke rumah atau rumah sakit,” demikian Reza menjelaskan ketentuan pengamanan bagi pak Cahyo sejak besok.
Aurel mau pun Reza dan Jenderal memang sangat mengantisipasi kebocoran info. Mereka ingat hari-hari terakhir Radit di Bandung yang selalu dibayangi orang tak dikenal. Maka pak Cahyo harus benar-benar mereka jaga.
***
Sore ini di rumah sakit ada khabar baik, lusa hari Jumat bu Tarida sudah boleh pulang, karena hari Kamis pagi masih terapi. Tentu saja kabar baik ini segera disebar luaskan oleh Aurel kepada semua kerabat bu Tarida.
“Obatnya Bu,” Aurel menyerahkan mangkok obat pada bu Tarida beserta gelas air putih sehabis ibu makan malam. Sementara Rajev sedang membereskan barang-barang yang mulai besok sedikit demi sedikit akan dibawa ke rumah sekalian dia mengantar Aira ke sekolah. Barang-barang itu tadi sudah dipisahkan Aurel saat mendengar keputusan dokter tentang kondisi bu Tarida.
***
“Bi, besok begitu kami sampai rumah, saya buka pintu kamar ibu, bibik berdua langsung bersihkan kamar, ganti sprey dan juga bersihkan kamar mandi di kamar ibu ya. Siapkan juga makan malam bagi beberapa orang. Takutnya karena sudah saya kabari, banyak yang datang ke rumah. Jangan lupa stok buah diperbanyak karena ibu tidak boleh telat makan buah,” Aurel langsung menghubungi nomor telepon rumah yang diangkat oleh bik Siti.
“Sussu bubuk ibu masih cukup enggak?” tanya Aurel lagi padahal perintah tadi belum di jawab oleh bik Siti.
“Besok pagi saya ke pasar, beli bahan masakan buat makan siang dan malam para tamu. Juga susuu opung dan stock buah Non,” jawab bik Siti.
“Cukup enggak uang cash dapur buat beli semua itu?” Aurel takut dana dapur tak cukup.
“Lebih dari cukup koq Non,” bik Siti bukan pekerja baru. Dia sangat jujur. Tak ada yang dia curangi. Jadi ketika disuruh belanja ya dia tidak memanfaatkan untuk keuntungannya pribadi.
“Kalau begitu saya titip bikinkan semur Bandeng ya. Kepengen banget makan semur ikan bandeng,” Aurel memesan jenis lauk yang dia inginkan. Memang jarang yang masak ikan bandeng dengan bumbu semur. Dulu Aurel pertama kali merasakannya ketika bundanya di rawat di rumah sakit dan ada menu itu.
“Baik Non, besok saya tambahkan satu lauk untuk makan siangnya,” jawab bik Siti. Dia akan segera mengabarkan semua pekerja di rumah ini kalau nyonya besok akan kembali pulang ke rumah.
***
“Makan dulu Kak, ni sudah siap,” Aurel mengajak Rajev berhenti beres-beres dulu dan bersama dengannya makan malam. Dia sudah memanaskan lauk dan nasi untuk mereka makan berdua kali ini.
Bu Tarida sudah tertidur, Rajev dan Aurel baru saja selesai makan, Aurel sedang mencuci peralatan makan milik pribadi saat ponselnya berbunyi. “Kak … tolong angkat dulu, aku akan cuci tangan,” pinta Aurel.
Rajev melihat panggilan dari Reza. Dia menggeser tombol telepon untuk menerima panggilan Reza, “Assalamu’alaykum,” sapa Rajev lebih dulu.
“Wa’alaykumsalam, bu Aurelnya ada Pak?” tanya Reza, dia cukup terkejut karena yang menerima panggilannya adalah Rajev.
“Sebentar, dia sedang mencuci tangan,” balas Rajev sopan.
“Iya Assalamu’alaykum mas Reza,” sapa Aurel membuka pembicaraan dengan Reza
“Ada perkembangan baru Bu … besok pak Cahyo mulai bisa ke lapangan. Namun inti pembicaraan saya dengan Ibu malam ini bukan tentang itu, melainkan tentang bu Wiwin istri pak Eko” Reza menarik napas dulu.
“Bu Wiwin sekarang sudah berhubungan erat dengan sus Meylan dan teh Ifa,” jelas Reza.
“Siapa mereka?” tanya Aurel, karena nama-nama itu asing baginya.
“Teteh Ifa adalah istri siri pak Didu bendahara proyek Cinangka yang sekarang sedang di penjara bersama dengan pak Binsar. Sedang sus Meylan adalah sepupunya. Dan mereka setiap minggu mengunjungi Yulia, dalang pertemuan Ifa dan Didu yang menghancurkan proyek Cinangka Bu,” jelas Reza, melaporkan kerja Murti ke lapas perempuan.
“Astagaaaaaaaaaa, jadi sekarang juga berkaitan dengan ular berbisa itu. Bukankan dia di penjara, mau apa lagi?” tanya Aurel tak percaya.
“Target mereka menggembosi proyek Pondok Cabe adalah untuk mengeruk dana, agar ketika Yulia bebas nanti dia tidak kekurangan Bu. Karena pak Binsar kan hukumannya 17 tahun sedang pak Didu kena enam tahun penjara,” Reza kembali memperjelas temuan mereka.
“Apa kita dapat bukti kalau semua adalah suruhan Yulia?” tanya Aurel, karena percuma semua data bila tak ada bukti.
“Besok hari kunjungan Bu, semoga Murti bisa membuat rekaman, selain itu Murti juga meminta seorang tahanan di sana agar bisa mengorek keterangan dari Yulia,” Reza memaparkan proram kerja yang dia limpahkan pada Murti.
“Baik saya tunggu hasilnya ya mas Reza. Hari Jumat ibu sudah boleh pulang. Semoga hari Senin saya bisa full kerja seperti biasa ya. Kita ketemu hari Minggu sekalian selamatan 3 tahun meninggalnya Ayah, dan syukuran sembuhnya Ibu. Tolong kasih tau Wina dan Murti jadwal hari Minggu di rumah saya!” Aurel memutus pembicaraan mereka dengan perintah pada teamnya untuk berkumpul hari Minggu. Saat itu akan hadir kakek, agar bisa sekalian melaporkan perkembangan perusahaan.
Aurel segera menyelesaikan mencuci piring yang tadi tertunda, dia juga langsung masak air untuk bikin kopi. Dilihatnya Rajev sedang sibuk kerja. Rajev yang seharusnya hari Senin lalu berangkat ke Bontang menundanya menjadi Senin depan.
“Kopinya sayank,” Aurel meletakkan kopi Rajev di meja makan yang juga dipakai kerja selama di rumah sakit.
“Makasih Love,” balas Rajev tulus. Aurel mendekat dan mengecup pipi kiri Rajev, “Aku tidur duluan ya,” pamitnya.
“Kamu enggak sehat?” tanya Rajev khawatir, karena tidak biasanya Aurel berlaku seperti itu. Biasanya dia akan menunggu hingga Rajev selesai bekerja sambil menonton TV.
“Aku enggak apa-apa koq, jangan khawatir, aku hanya ngantuk,” Aurel berkilah, berupaya menenangkan Rajev.
Sesungguhnya dia sedang sangat bingung dengan apa yang dirasakan, entah marah atau sedih atau apa ketika mendengar Yulia kembali ingin mengusik kehidupannya. Itulah alasan dia ingin segera tidur agar bisa menghilangkan perasaan gundah kali ini.
“Kamu enggak jujur padaku,” Rajev mendesak Aurel untuk jujur. Dia mematikan laptopnya dan merapikan berkasnya lalu menyimpan di tas kerjanya.
\===========================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta