BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
NYAMAN TERLELAP DALAM PELUKMU



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Ayok, Ayah sudah ngantuk ya. Ayok pak Ujang kita pulang,” Bagas mengajak pak Ujang juga segera  meninggalkan ruangan itu agar Aurel dan Rajev bisa istirahat.


“Pak, besok enggak perlu antar sarapan ya, kan saya enggak sedang hamil seperti saat nunggu bang Radit. Tunggu telepon saya aja apa yang ibu butuhkan,” perintah Aurel pada pak Ujang.


“Baik Bu” jawab pak Ujang patuh. “Permisi” lanjutnya


“Ayah pulang ya, kabari semua perkembangan tentang Ibumu,” ayahnya mencium kening Aurel saat pamit.


“Nak, titip Aurel ya,” Ayah Aurel berpesan pada Rajev tanpa ragu.


“Iya Yah,” jawab Rajev sambil mencium tangan lelaki itu.


“Aku pulang Kak, Mbak,” pamit Bagas sambil mencium punggung tangan kakaknya lalu memeluk erat Aurel.


“Kamu enggak pulang?” tanya Aurel saat di ruangan hanya tinggal dia dan Rajev selain ibu tentunya.


“Aku akan menginap di sini terus menemanimu. Aku akan berangkat kerja dari sini,” jawab Rajev santai.


“Bagaimana mungkin? Jam berapa kamu pulang ke apartemen untuk bersiap lalu ke rumah untuk antar Aira baru ke kantor? Kamu tak perlu melakukan semua itu,” tolak Aurel. Selalu seperti itu, Aurel tak ingin merepotkan orang lain.


“Aku tak perlu tiap pagi pulang karena tadi aku sudah ambil baju . Tiap pagi aku akan langsung ke rumah untuk antar anakku sekolah. Mungkin hanya tak akan sarapan dengan gadis kecilku karena aku akan menemanimu sarapan di sini,” jelas Rajev dengan pasti.


Aurel terbelalak mengetahui Rajev sudah mengambil baju ganti juga. Dia tak  memperhatikan ada baju Rajev di lemari saat dia merapikan bajunya. Dia pikir itu baju ibu.


Karena tak enak hati, Aurel segera masuk kamar mandi untuk sikat gigi sebelum tidur. Selepas dari kamar mandi Aurel menyiapkan selimut dan bantal di sofa untuk Rajev tidur. Lalu dia tidur di bed penunggu pasien yang sebenarnya cukup untuk berdua karena size bednya 120 CM, bukan single bed ukuran 90 CM.


Rajev yang ditinggal tidur oleh Aurel segera menuju kamar mandi untuk sikat gigi, saat dia keluar kamar mandi sudah memakai training dan kaos longgar untuk tidur. Dilihatnya Aurel sedang berdiri di pinggir ranjang ibu. Rupanya saat Rajev masuk kamar mandi datang suster untuk mengganti infus serta menyuntikkan obat.


“Apa masih lama ibu sadar Sus?” tanya Aurel pelan.


“Seharusnya malam ini dokter Tarida sudah sadar. Karena beliau belum juga sadar maka setiap jam kami akan memantaunya. Kalau Ibu dan Bapak tak mau terganggu istirahatnya tirai ini bisa ditarik. Kami akan berupaya tidak berisik karena hanya mencatat suhu, tensi dan denyut jantung saja,” jawab perawat itu dengan ramah. Dia tahu Aurel adalah menantu dokter Tarida yang sudah dianggap anak sendiri.


Aurel berupaya istirahat, dia membaringkan tubuhnya menghadap ke arah bu Tarida terbaring. Dia bertekad tak ingin sakit, karena banyak hal yang ada dipundaknya. Dilihatnya Rajev membuka laptopnya.


‘Tumben dia bawa laptop batin Aurel. Pasti banyak kerjaan yang membutuhkan data dari DVD,’ pikir Aurel. Karena lelah Aurel akhirnya tertidur.


Saat dua perawat masuk saat Aurel sudah terlelap, Rajev masih sibuk bekerja ditemani secangkir kopi yang dia bikin sendiri. Sehabis perawat keluar Rajev menarik tirai agar Aurel tak terganggu setiap perawat memeriksa ibu.


Rajev segera menyelesaikan pekerjaannya, menyimpan data lalu mematikan laptopnya. Disimpannya laptop dalam ransel laptop lalu dia berbaring di sebelah Aurel. Dia tau Aurel sudah menyiapkan bantal dan selimut di sofa, dia tak peduli. Dipeluknya tubuh kekasihnya dan dia pun terlelap.


Aurel bangun saat akan salat Subuh, dia sedikit kaget karena berada dalam pelukan Rajev. ‘Pantas aku merasa semalaman tidur nyaman, rupanya aku tidur dalam pelukannya. Aku bahkan tak pernah dengar para perawat yang tiap jam masuk memantau perkembangan kondisi ibu,’ pikir Aurel.


Saat mereka satu kamar di hotel Jogja, Aurel sudah pernah merasakan kenyamanan tidur dalam pelukan hangat Rajev. Maka tak heran dia tahu kalau rasa nyaman yang semalam dia rasakan karena tidur dalam pelukan lelaki asal India itu.


Akhirnya Aurel berhasil, dia segera ke toilet dan juga sekalian wudhu. Saat dia keluar kamar mandi dua perawat kembali masuk untuk mengecek kondisi ibunya. Aurel sengaja menunggu kedua selesai memeriksa “Bagaimana perkembangannya Sus?” tanya Aurel pelan.


“Nanti jam tujuh dokter akan visite Bu, Ibu langsung tanyakan pada beliau saja agar lebih akurat,” jawab seorang suster. Mereka tentu takut salah bicara.


Aurel bergegas mengenakan mukenanya, dia menggoyangkan lengan Rajev untuk membangunkannya. Tentu saja dia tak menyentuh kulit Rajev karena sudah wudhu.


“Kak, salat Subuh bareng enggak?” tanya Aurel pelan.


Rajev bangun, dia melihat Aurel sudah menggunakan mukena, dia mengagumi wajah bidadari di depan matanya. “Kamu curang, mbangunin aku sudah pakai mukena. Enggak ingin memberi morning kisses dulu padaku?” godanya.


“Mau jadi imam enggak? Kalau enggak ya aku akan salat sendiri,” jawab Aurel tanpa menjawab godaan Rajev, walau memang benar yang Rajev katakan. Dia sengaja sudah wudhu duluan agar tak ada ritual morning kisses, bukan morning kiss kalau sama Rajev, karena tak akan cukup satu kali.


“Jangan suka ngambeg gitu, okey aku akan segera wudhu,” jawab Rajev dengan cepat.


Mereka berdoa dengan khusyuk sehabis salat Subuh, terutama mendoakan kesembuhan bu Tarida. Sehabis itu Aurel membuat kopi untuk Rajev, sedang untuknya dia membuat minuman sereal coklat serta membuat roti yang dia bawa dari rumah. Aurel tak tahu semalam ayahnya mengisi menu apa untuk sarapan penjaga pasien.


“Nanti jam tujuh dokter akan memberitahu perkembangan ibu. Kamu bisa di sini?” pinta Aurel. Dia secara tidak langsung meminta Rajev menemaninya menerima penjelasan dari dokter tentang kondisi ibu mertuanya.


“Ok, aku akan menemanimu love, aku akan mengabari Aira pagi ini tak bisa mengantarnya ke sekolah tapi nanti aku akan menjemputnya,” jawab Rajev.


Rajev tahu Aurel ketakutan mendengar keterangan yang akan dokter beritahu. Tunangannya itu butuh teman saat dokter memberitahu kondisi bu Tarida yang sebenarnya.


“Wa’alaykum salam Mbak,” jawab Aurel ketika panggilan teleponnya di respon oleh mbak Nah yang sedang mengurusi Aira untuk berangkat sekolah.


“Mbak, pagi ini pak Rajev tidak bisa mengantar sekolah Aira. Jadi Mbak antar lalu mbak langsung ke rumah sakit untuk membawakan saya kompor camping milik bang Radit, juga panci dan wajan teflon kecil ya,” Aurel memberitahu mbak Nah apa yang perlu dia bawa pagi ini.


Aurel ingin memanaskan makanan yang akan dia makan agar ada selera makan. Karena kalau makan lauk dingin Aurel suka malas makan.


***


\=========================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL WANT TO MARRY YOU  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta