
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Saya sarankan ikut test selanjutnya yaitu periksa darah ya Pak,” dokter memberikan formulir untuk Ahmad periksa laboratorium guna tes PSA, setelah melakukan Uji Digital Rectal ( DRE ) pada Ahmad.
Tes PSA adalah tes darah yang mengukur jumlah antigen spesifik prostat atau prostat specific antigen ( PSA ) dalam darah. Antigen ini adalah protein yang diproduksi oleh sel normal di prostat dan oleh sel kanker prostat.
Setelah hasil laboratorium keluar Ahmad direkomendasikan oleh dokter untuk ditest USG transrektal untuk mengevaluasi prostat. Sebuah probe kecil berbentuk seperti cerutu dimasukkan ke bagian *****. Probe ini menggunakan gelombang suara untuk membuat gambar kelenjar prostat.
Selain untuk mendeteksi adanya kanker prostat, metode USG transrektal ini dapat digunakan untuk mengukur besarnya kelenjar prostat yang dapat membantu menentukan kepadatan PSA, juga memengaruhi pilihan pengobatan yang nantinya dilakukan.
Dan semua rangkaian test itu membuat Ahmad tak percaya kalau dirinya sudah terkena kangker prostat stadium IV. Dia sangat lemas dan tak ingin percaya. “Maafkan aku Yank, maafkan aku,” berkali-kali Ahmad berkata lirih. Dia hanya duduk diam di mobilnya. Dia tak tahu bagaimana hendak memberitahu kondisinya pada Wina.
***
“Mas, minggu depan aku akan ditugaskan ke Lampung. Aku berangkat dengan team yang diketuai pak Reza,” Wina sangat senang. Ini adalah tugas keluar daerah pertama yang dia akan jalankan. Selama ini tugasnya hanya mem-back up tugas bu Aurel saja.
“Tumben Yank,” balas Ahmad.
“Iya pak Rajev enggak kasih izin bu Aurel pergi selama dia hamil. Jadi pak Reza yang handle proyek lanjutan di Lampung. Proyek pertama kan masih ditangani langsung oleh bu Aurel,” sahut Wina. Dia baru selesai masak untuk makan malam berdua suaminya.
“Yeeey mateng Mas. Tumis kangkung dan tempe goreng panas kesukaanmu,” seru Wina.
Ahmad mengambil kerupuk sebelum Wina menuangkan nasi di piringnya. Dia lihat ada ikan bandeng presto, tapi dia lebih memilih tempe goreng dan tumis kangkung serta kerupuk.
“Kalau Mas mau ikut ke Lampung bisa lho. Asal kita bayar akomodasi sendiri. Makan dan hotel yang ditanggung perusahaan,” Wina memberitahu Ahmad bila ingin jalan-jalan ke Lampung.
“Kamu berapa lama disana?” tanya Ahmad. Andai bisa, dia ingin berlibur sebelum dia pergi meninggalkan Wina untuk selamanya.
“Biasanya tiga hari pak Reza sudah kembali,” sahut Wina sambil menambahkan sambal pada bandeng presto di nasinya.
“Boleh tu Yank. Aku akan menyusul di hari ketiga ya? Lalu kita liburan dua hari baru pulang,” sahut Ahmad.
“Serius Mas?” tanya Wina seakan tak percaya.
”Serius lah, kapan Mas bohongin kamu?” tanya Ahmad serius.
***
“Makin terlihat ya babies nya. Apa tetap tak ada mual? Pening?” taanya dokter Fitri sambil memperhatikan layar monitor. Rajev tak mau berkedip memperhatikan kedua calon bayinya. Dia masih tak percaya mendapat rizky seperti itu.
Sekarang siapkan ponsel bila ingin merekam denyut jantungnya. Saya akan memperdengarkan denyut jantung mereka,” dokter Fitri memperbolehkan pasiennya merekam suara yang akan dia perdengarkan.
Rajev meneteskan air mata sambil memegang ponselnya dengan posisi record pada layar ponselnya. Denyut jantung kedua bayi miliknya sangat indah terdengar ditelinganya.
Aurel tak menyangka reaksi Rajev sampai seperti itu. Bahkan belum keluar ruang dokter, Rajev sudah mengirim suara detak jantung calon bayinya ke nomor ponsel Ahimsa dan Amishaa.
***
Aurel mengunjungi toko kue milik bu Tarida. Toko kue pertama yang dia kelola lalu dia kembangkan dengan membuat tambahan tiga toko kue lainnya. Toko kue ini yang sekarang wajib mengirimkan satu loyang lapis legit super sejak dia hamil. Satu loyang itu biasanya akan habis tiga atau empat hari. Berikutnya Aurel minta dikirimi lagi.
Memang kehamilan ini Aurel tak boleh lepas dari air rebusan kacang hijau dengan ngemil kue lapis legit. Aurel ingin memeriksa pembukuan toko.
“Aku bingung. Semua terlihat enak,” jawab Rajev.
“Lemper ayam, lumpia atau risol saja. Pokoknya yang bukan rasa manis. Karena aku sudah punya yang sangat manis disisiku,” jawab Rajev sambil mengganti-ganti channel televisi kecil di ruangan itu.
“Raja gombal mulai beraksi,” Aurel terkekeh mendengar jawaban suaminya.
Aurel mulai mengamati data stock bahan, data pembuatan kue serta tabel penjualan.
Data ketersediaan bahan harus pas dengan jumlah kue yang diproduksi. Sedang data penjualan harus sesuai dengan jumlah kue terjual dan kue sisa
“Mas Ridwan bisa ke ruangan saya?” Aurel memanggil penanggung jawab store.
“Selamat siang Bu,” sapa Ridwan ketika sampai di ruang Aurel.
“Delapan tahun saya pegang toko ini sejak serah terima, saya baru lihat ada selisih antara bahan baku dengan jumlah kue yang dibuat. Sudah tiga bulan ini saya amati. Tapi saya masih diam karena saya pikir salah input data. Bisa jelaskan mengenai selisih bahan yang habis tanpa digunakan untuk membuat kue?” tanya Aurel dengan pelan.
“Saya … saya malah tidak teliti Bu. Bisa saya cek sebentar?” Ridwan tak percaya. Dia sudah dua tahun menjadi manager store. Tak pernah dia ingin curang karena banyak seniornya bercerita bagaimana karakter Aurel yang akan mengirim siapa pun ke penjara bila berbuat curang. Belum lagi bossnya ini ahli beladiri.
“Cek sekarang disini. Saya ingin tahu,” jawab Aurel meninggalkan meja kerjanya dan menghampiri Rajev yang sedang menonton berita olah raga..
“Love, aku pengen keripik kentang dan peyek teri,” Rajev merajuk. Suami Aurel ini memang mengalami couvade syndrome. Tidak morning sickness, tapi selalu ingin makan yang tidak biasa dia sukai.
“Keripik kentangnya aku minta belikan di supermarket depan ya. Tapi peyek terinya nanti di rumah. Biar bi Siti bikinkan,” Aurel menjawab lembut.
Aurel segera memanggil seorang pegawainya untuk membeli keripik kentang berbagai merek dan dalam kemasan jumbo. Dia berikan beberapa lembar uang merah agar tidak kurang.
“Bikin kan peyek rebon, teri nasi juga peyek udang ya Bi,” Aurel pun langsung telepon ke rumahnya. Dia tak mau hanya minta peyek teri, takutnya Rajev minta peyek yang lain.
Keripik kentang pun dia minta berbagai merek, karena takutnya lidah ngidam Rajev tak suka merek tertentu.
“Bagaimana mas Ridwan. Saya yang salah lihat atau memang ada kekeliruan?” tanya Aurel. Dua puluh menit dia sudah tinggalkan Ridwan.
“Iya Bu, ada yang salah. Maaf saya kurang teliti,” sahut ridwan gugup.
“Tutup toko, biarkan pembeli tuntas semua. Hentikan produksi dan saya tunggu kalian semua di depan,” Aurel tak akan pernah mentolelir kecurangan.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL WANT TO MARRY YOU YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta