
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Kamu enggak perlu khawatirkan aku, yang aku minta kamu harus selalu menjaga kesehatanmu agar kamu enggak ambruk, karena aku, anak-anak dan ibu membutuhkanmu. Kami semua membutuhkanmu,” tegas Rajev.
Aurel tersentuh dengan kata-kata Rajev. Dia membalas ungkapan itu dengan kecupan di bibir kekasihnya itu. Walau masalah Aashita belum pernah mereka bahas tuntas, tapi saat kondisi seperti ini Aurel bersyukur Rajev menemaninya melalui masa-masa sulit ini.
***
“Bawa ke rumah sakit aja Mas” jawab Aurel saat menerima telepon dari Reza mengenai berkas yang harus dia tanda tangani. Lalu Aurel memberi tahu kamar rawat bu Tarida.
Aurel juga mengatur jadwal toko kue nya memberikan laporan mingguan sekalian mereka membawa kue pesanan Aurel seperti saat Aurel menunggu Radit sakit. Aurel akan meminta satu kotak kue basah untuk ruang perawat, satu kotak kue basah untuk ruang dokter dan satu kotak special sesuai keinginannya untuk dia dan penunggu di ruang rawat. Kali ini Aurel hanya minta dua roti isi daging serta roti isi keju.
Siang ini suami Mirna datang, dia mengatakan Mirna tak bisa meninggalkan bayinya yang agak rewel karena habis imunisasi. “Mohon doanya aja Kak agar ibu bisa segera pulih,” pinta Aurel pada suami Mirna.
Siang saat ibu akan diperiksa jantungnya, ayah, Bagas, Reza, kakek datang untuk menemani Aurel yang sejak tadi sudah sangat ketakutan. Saat bankar ibu di dorong untuk dibawa ke ruang evaluasi Aurel terjatuh pingsan.
“Love ….” pekik Rajev saat dia merasakan berat badan Aurel bertumpu penuh dibadannya. Semua yang sedang berjalan mengikuti brankar ibu langsung menoleh dan melihat Rajev sudah menggendong Aurel yang pingsan.
“Bawa ke IGD aja Kak” Bagas menemani Rajev, dia mengambil handphone Aurel yang terjatuh.
Bagas yang mendampingi Rajev untuk mentranslate keterangan dokter pada calon kakak iparnya itu. “Dokter bilang mbak Aurel stress Kak, tensi jadi tinggi, dia juga kelelahan. Tapi sebentar lagi juga sadar. Kita boleh bawa Mbak tidur di ruangan ibu aja daripada di sini.”
Mereka pun membawa Aurel ditemani dua orang perawat yang mendorong brankar Aurel dan memindahkannya ke kasur penunggu di ruangan bu Tarida.
“Bisa minta tolong belikan bubur? Atau minta ke rumah untuk bikin bubur?” tanya Rajev. Dia ingin menyuapi Aurel bubur bila kekasihnya sadar nanti.
“Aku akan cari di depan, tapi aku juga akan minta dikirim bubur sumsum dari rumah Kak” jawab Bagas sambil keluar ruangan, sebelumnya dia menyerahkan ponsel Aurel pada calon kakak iparnya.
Rajev menggenggam erat jemari Aurel yang terasa amat dingin. “Bangun love, aku tahu kamu kuat,” bisik Rajev sambil menciumi jemari wanita pujaannya.
‘Kamu wanita baik Mbak, maka Allah memberimu bang Radit dan kak Rajev yang sangat mencintaimu,’ batin Bagas yang melihat kesedihan Rajev karena Aurel belum juga sadar.
Masuk ke ruangan itu Bagas langsung membuat dua gelas kopi untuk dirinya dan Rajev, tadi di depan sambil beli bubur ayam dia juga membeli gorengan untuk teman ngopi. Walau di ruangan banyak kue dan roti dari toko kakaknya, tapi kenikmatan gorengan tentu tak ada yang tak suka.
“Kopinya Kak”, Bagas menawarkan kopi pada lelaki yang seakan tak tahu dia sudah berada di sana sejak tadi.
Rajev kaget, dia lalu menelepon ummanya, memberi khabar kondisi bu Tarida dan Aurel yang sedang tak sadarkan diri. Tentu umma kaget, setelah selalu memantau perkembangan hubungan Aurel yang belum ada titik terang, sekarang malah ada musibah sakitnya calon besannya itu.
“De” panggil Aurel lirih melihat adiknya duduk dekat tempat tidurnya.
“Mbak sudah sadar, mau minum?” tanya Bagas cepat.
“Iya,” jawab Aurel, pandangannya memutari ruangan, dilihatnya Rajev sedang salat. Bagas langsung bergegas membuat teh manis hangat agar bisa langsung diminum oleh kakaknya
“Semua masih nungguin ibu?” bisik Aurel.
“Iya, aku dan Kak Rajev saja yang sejak tadi di sini,” jelas Bagas.
“Mbak makan ya, tadi dokter pesan begitu sadar Mbak harus segera makan, karena selain lelah dan stress, Mbak juga telat makan sehingga pingsan,” jelas Bagas.
Rajev yang baru selesai salat langsung menghampiri Aurel di tempat tidurnya. “Sudah sadar my love? Makan ya biar kamu bisa kuat. Kamu ingat kan, Aira, Darrel, ibu dan aku membutuhkanmu?”
Rajev mengambilkan bubur yang baru saja dihangatkan Bagas. Dia menyodorkan sesuap bubur ayam ke mulut Aurel sambil berbisik. “Kalau kamu enggak mau makan dengan aku suapi pakai sendok, aku akan menyuapimu dengan mulutku walau di depan Bagas sekali pun!”
Aurel makan perlahan hingga bubur habis dua pertiga mangkok karena dia tau ancaman Rajev tak main-main.
“Cukup Kak, aku kenyang,” rengek Aurel.
“Baik, ini obatmu,” Rajev menyiapkan obat yang tadi diberikan dokter untuk Aurel .
Bu Siti datang mengantarkan bubur sumsum dan paket makan malam untuk semua yang menunggu di rumah sakit.
“Kalau non Aurel enggak sehat, Non pulang aja, biar bibik yang nunggu nyonya di sini,” usul bik Siti.
“Aku sehat koq Bik” kilah Aurel. Tentu dia tidak mau meninggalkan ibu tanpa dia temani.
“Kalau Mbak sehat, Mbak ga bakal pingsan,” jawab Bagas.
“You right Bagas,” cetus Rajev, dia mulai banyak mengerti tapi masih sulit untuk bicara dengan bahasa Indonesia.
“Kalau kamu enggak mau disuruh pulang kamu harus sehat dan banyak makan,” pesan Rajev.
Jam lima sore ibu sudah didorong kembali ke ruangan, diantar oleh dua suster yang mendorong brankar ibu. Ayah, kakek, serta Seno suami Mirna berjalan dibelakang suster. Tampak juga Vino yang datang ke rumaah sakit saat Aurel sedang pingsan tadi.
“Bagaimana hasilnya Yah? Kek?” tanya Aurel penasaran.
“Besok jam sembilan pagi dokter minta kita menemuinya,” jawab kakek lirih.
“Kakek jangan kecapean, biar aku dan mbak Aurel aja yang nemuin dokter” saran Bagas
“Kakek lihat besok aja, sekarang Kakek akan pulang, biar bisa salat maghrib di rumah dan istirahat agar besok pagi Kakek bisa nemuin dokter berdua Bagas, Aurel biar tak usah ikut” kakek memutuskan. Maksudnya pulang adalah ke rumah miliknya yang ditinggali bu Tarida di Jakarta. Bukan pulang ke Cisarua Bogor.
“Kalau besok Kakek enggak bisa baru Aurel berdua dengan Bagas, yang lain lanjut kerja masing-masing aja,” lanjut kakek lagi. Gaya ketegasannya sebagai jenderal sangat dominant kali ini.
“Baik Jenderal,” sahut Aurel tanpa bisa membantah perintah kakek kali ini.
\=======================================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL TELL LAURA I LOVE HER YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta