BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
AIRA SAKIT



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\=========================================================================


“Aurel sudah hopeless Yah, ibunya Aira bilang Aurel cuma ibu tiri yang enggak ber hak urus Aira,” adu Aurel memelas.


“Ayah sudah mendengar rekaman yang kamu kirim untuk ibu. Pagi tadi kamu mampu beragumen dengan sangat baik saat berhadapan dengan Yulia, mengapa di belakangnya kamu malah seperti kalah perang?” pertanyaan ayah mertuanya membuat Aurel terdiam tanpa bisa menjawab.


“Asal kamu tau, ibu dan ayah juga sayang pada Aira, terlepas dia anak Radit atau bukan. Kami sudah merawatnya sejak dia lahir karena Yulia sama sekali enggak pernah nyentuh dia. Untuk itu ayah dan ibu juga enggak akan melepaskan Aira apa pun alasannya. Siang tadi ayah bicara dengan Radit dan baru tadi ayah memberitahu Radit kartu As yang akan membuat Yulia enggak akan bisa mengambil Aira. Bahkan ibu pun baru tahu barusan,” senyum kecil terlihat di bibir pak Iskandar, membuat Aurel mempunyai sedikit harapan.


“Apa itu Yah?” tanya Aurel antusias.


“Besok kamu dan Radit mengajukan adopsi Aira secara hukum, karena Yulia pernah menandatangani penyerahan hak asuh Aira pada ayah. Jadi sebenarnya selama ini yang mempunyai hak asuh Aira secara hukum adalah ayah, bukan Radit,” jelas pak Iskandar setelah dia menceritakan bagaimana Yulia dengan suka rela dan senang hati menyerahkan bayinya pada pak Iskandar dengan menukarnya dengan uang Rp 150 juta.


“Serius Yah, Aurel bisa mengadopsi Aira?” tanya Aurel dengan sangat bahagia. Plong sudah hatinya. Dia tak takut kehilangan Aira.


***


Selesai berbicara dengan ke dua mertuanya Aurel langsung menghampiri kamar Aira, dia berniat membawa Aira tidur ke kamar atas seperti biasanya. Saat dia menyentuh badan Aira, dirasakannya suhu tubuh Aira sangat tinggi.


Aurel membangunkan mbak Nah yang memang tidur di kamar itu, tapi beda kasur. “Mbak tolong ambilkan alat kompres instan Aira, juga thermometer,” perintahnya saat mbak Nah sudah terbangun. Dia langsung berlari ke kamar kedua mertuanya untuk memberitahu kondisi Aira.


Suhu tubuh Aira 38,2. Aurel meminta mbak Nah menyiapkan beberapa baju ganti Aira dan dia akan ke atas untuk mengambil kunci mobilnya.


“Biar ayah aja yang antar, ayok kita berangkat,” pak Iskandar sudah memegang kunci mobil. Tanpa memberitahu Radit, pak Iskandar,  bu Tarida dan Aurel disertai mbak Nah berangkat ke rumah sakit. Bu Tarida yang dokter specialis anak sampai ikut blank saat cucunya sakit.


Radit penasaran mengapa sejak tadi Aurel tidak segera masuk ke kamarnya, dia turun namun dilihatnya ruang keluarga kosong dan bi Siti baru saja menutup pintu depan rumah mereka “Pada kemana Bik, koq enggak ada orang di ruang tengah?” tanya Radit.


“Tuan dan nyonya serta mbak Aurel pergi membawa Aira ke rumah sakit,” jawab bik Siti.


“Apaaaaaaaaaaaa??” pekik Radit “Kenapa enggak ada yang ngasih tau saya?”


Radit segera berlari ke kamarnya yang terletak di lantai atas untuk mengambil kunci mobilnya, dia juga mengambil jaket untuk dirinya dan Aurel, dihubunginya HP ayahnya, ibunya juga HP Aurel namun tidak ada satu pun yang menerima panggilannya.


Di rumah sakit Mekar tempat ibunya bekerja Radit langsung bertanya ke suster IGD, ibunya berada dimana “Dokter Tarida sedang di poli anak mas Radit, tadi dokter langsung bawa non Aira kesana, enggak ke IGD,” jawab seorang suster yang cukup mengenal dokter Tarida.


“Aira kenapa Bu?” tanya Radit saat masuk ruangan dan melihat Aurel sedang memegangi Aira yang terbaring lemas ditempat periksa. Dia lihat ayahnya duduk di kursi depan meja kerja ibunya yang sedang menghubungi seseorang dengan telepon rumah sakit dimejanya.


“Aira kenapa Mam?” tanya Radit lirih pada Aurel karena tak bisa menunggu ibunya selesai bicara ditelepon.


“Aku enggak tau,” jawab Aurel lirih sambil mengecupi pipi batita itu. “Mama minta maaf ya, sesorean enggak ngurusin kamu, Mama bikin kamu sakit gini,” bisik Aurel ditelinga Aira sambil terisak. “Mama bukan ibu yang baik buatmu, cepat sembuh ya cantiknya Mama,” bisiknya lagi.


“Kamu jangan nangis Rel, kamu harus kuat. Ini bukan salahmu. Ayok kita bawa ke ruang inap yang sudah disiapkan untuk Aira, nanti Ibu pasang infus disana aja,” bu Tarida menegur sekaligus menegaskan kalau sakitnya Aira bukan kesalahan Aurel.


Aurel menggendong Aira untuk dibawa ke ruang rawat inap yang sudah tersedia. ‘Sini Papap aja yang gendong Aira,” pinta Radit.


“Enggak usah, aku bisa,” tolak Aurel.


“Jangan bersikeras gitu Mam, sini kasih Papap, biar Papap yang gendong Aira,” desak Radit.


Aurel yang sedang sensitive merasa Radit mengatakan itu karena menegaskan Aurel bukan siapa-siapanya Aira. Dia hanya ibu sambungnya yang tidak punya hak seperti Radit. Maka dengan berat hati Aurel menyerahkan Aira pada Radit.


Mbak Nah dan pak  Iskandar yang berjalan di belakang bu Tarida tidak menyadari akan kericuhan yang terjadi antara Radit dan Aurel. Saat menerima Aira dari tangan Aurel, Radit langsung bergegas mengejar ketinggalan langkahnya dari ke tiga orang di depannya.


Aurel yang merasa tersisih langsung berbalik badan, dia keluar rumah sakit dan menyetop taksi. Dia tidak bawa dompet dan ponsel. Dia meminta sopir taksi mengantarkannya ke rumah ayahnya. Bagas yang membukakan pintu untuk kakaknya tentu saja terkejut.


“Dek bayarin ongkos taksi itu dan kalau ada telepon dari siapa pun tanya Mbak datang kesini kamu bilang aja Mbak enggak datang!” Aurel langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.


“Aurel mana?” tanya bu Tarida setelah selesai memasang infus pada tangan kiri cucunya. Radit baru tersadar kalau sejak tadi dia tidak melihat istrinya mengikuti mereka ke ruang rawat inap ini.


“Tadi waktu aku ambil Aira dari gendongannya dia dibelakangku” jawab Radit.


“Dari tadi hanya kamu yang masuk kesini, Aurel enggak,” pak Iskandar mulai merasakan ada yang tidak beres. “Kamu yakin Aurel ngikutin kita kesini?” tanyanya lagi untuk memastikan.


“Mbak Aurel dari tadi enggak ke sini koq,” mbak Nah memastikan.


“Astagaaaaaa, ada apa lagi ini?” gumam Radit bingung.


“Apa kamu tadi membentaknya atau kata-katamu menyinggungnya saat kamu minta Aira?” tanya bu Tarida.


“Ibu kan tau, Abang enggak pernah bentak Aurel sama sekali,” keluh Radit dia mencoba menghubungi ponsel Aurel.


“Kami bertiga enggak ada yang bawa ponsel,” beritahu pak Iskandar. “Kami tadi panik, jadi asal berangkat saja, saat di mobil kami ingin menghubungimu baru kami sadar kalau kami bertiga enggak bawa ponsel.”


“Pantas tadi Abang telepon enggak ada yang angkat,” balas Radit. Dia lalu menghubungi nomor rumah.