BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
BERTEMU AIRA DAN WINA DI CAFE



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


Sudah jam sembilan malam dan Aurel belum juga kembali pulang. Nomor ponselnya tak bisa dihubungi. Rajev sudah menceritakan permasalahan yang terjadi di kantor Aurel tadi sore pada bu Tarida. Bu Tarida sudah menghubungi besannya, menanyakan keberadaan putri mereka. Namun ayahnya Aurel juga tidak tau dimana Aurel, karena memang Aurel tak datang ke rumahnya.


Kring … kring … telepon rumah Aurel berdering pukul21.34.


“Assalamu’alaykum,” sapa Aurel lirih


“Wa’alaykum salam,” jawab bik Neng yang mengangkat telepon tersebut.


“Ibu sudah tidur belum Bik?” tanya Aurel hati-hati.


“Belum Mbak, masih menemani pak Rajev,”  jawab bik Neng jujur.


“Saya ingin bicara dengan Ibu, tolong panggilkan ya Bik?” pinta Aurel.


“Assalamu’alaykum Rel, kamu dimana sayang?” tanya sang ibu langsung, dia cukup cemas, baru kai ini menantu yang sudah dianggapnya anak itu pergi tanpa mengabarinya.


Memang waktu bayinya Aira, Aurel juga pernah pergi karena marah dengan Radit, tapi saat itu tanggung jawab terhadap Aurel masih ditangan Radit, tidak seperti saat ini. Aurel adalah anaknya, tanggung jawabnya penuh.


“Wa’alaykum salam Bu. Ibu enggak perlu khawatir saya dimana. Titip Aira dan Darrel saja ya Bu, nanti saya pasti akan kembali,” Aurel langsung memutuskan sambungan telepon dengan ibu mertuanya. Dia lalu menghubungi ayahnya, memberitahu dia berada di tempat aman dan tak perlu khawatir.


“Dia bilang ada di tempat aman dan dia titip Darrel dan Aira sementara waktu,” jelas bu Tarida pada Rajev. “Yang Ibu tau Aurel itu Ibu sejati, dia sangat mencintai Aira dan Darrel. Dia tak ingin anak-anak terluka. Kalau saat ini dia sampai marah seperti ini, Ibu yakin dia bertindak karena takut anak-anak terluka.”


“Ibu berpendapat, dia menyesal membiarkanmu dekat dengan anak-anak, kalau tau anak-anak akan terluka seperti sekarang!” jelas bu Tarida.


“Mengapa anak-anak terluka Bu? Saya mencintai mereka dengan tulus. Bahkan kalau syarat menikahi Aurel saya tidak boleh punya anak dengannya pun akan saya penuhi,” balas Rajev tak mengerti.


“Tentu saja anak-anak terluka karena mereka sudah dekat denganmu tapi kalian tidak jadi menikah karena kamu punya perempuan lain!” tegas bu Tarida.


“Tapi perempuan itu bukan kekasih saya Bu. Kami pacaran saat saya masih kelas dua SMA, lalu putus karena dia memilih selingkuh dengan teman saya. Saya baru melihatnya lagi hari ini di mall sesudah berpisah sembilan tahun,” bantah Rajev.


“Ibu tahu dari sisimu, tapi apa kamu bisa berpikir dari sisi Aurel? Saat dia mendengar perempuan di depannya memerintah agar cepat memanggilkan kekasihnya serta mengancamnya akan melaporkan pada kekasihnya seperti yang kita lihat barusan di rekaman CCTV kantor?” desak bu Tarida.


“Kamu bisa rasakan pedihnya hati Aurel saat mengingat Aira akan patah hati lagi?” bu Tarida mulai terisak, dia sudah mendengar cerita Aira minta ditemani Rajev masuk kelas agar dia bisa pamer memiliki ayah seperti teman lainnya.


Rajev terpekur, dia membenarkan pendapat bu Tarida. Dia bisa merasakan pedihnya hati Aurel saat ini. Dia bingung karena tidak bisa lagi memundurkan jadwal keberangkatannya ke Cilacap karena kemarin malam sudah me rescedulle keberangkatannya.


“Baiklah Bu, ini sudah teramat larut, saat ini saya tidak bisa kembali memundurkan keberangkatan saya karena kemarin malam saya sudah menundanya. Saya mohon pada Ibu beritahu perkembangan yang terjadi. Saya bersumpah, saya tak pernah ingin menyakiti hati anak Ibu atau mempermainkannya. Sepulang dari Cilacap saya akan segera menyelesaikan persoalan ini,” Rajev pun terpaksa pamit, saat ini sudah jam 23.40 dan jam 5 pagi besok dia harus sudah ada di bandara.


“Baiklah, kamu hati-hati,” nasehat bu Tarida. Dia tahu Rajev serius mencintai putrinya. Tapi hati perempuan mana yang tak sakit hati bila kekasihnya memiliki perempuan lain?


***


Bukan kehilangan Rajev yang dia sesali, dia hanya memikirkan kejiwaan Aira yang sudah sangat bangga memamerkan Rajev sebagai ayahnya. Andai tadi pagi Aira belum pamer, mungkin dia tidak akan sesedih ini.


Andai saja tadi pagi dia mengajak Bagas untuk Aira pamerkan sebagai ayahnya. Sekarang dia merasa ada seribu penyesalan yang membuat dadanya sesak.


Akhirnya Aurel tertidur karena kelelahan menangis. Di ruangan ini ada dua stel baju yang sengaja dia tinggal juga mukena, sehingga dia tidak akan kerepotan untuk ganti pakaian. Jam 07.45 Aurel baru terbangun karena mendengar suara para pegawainya yang mulai beraktivitas. Dia segera mandi lalu ikut nimbrung sesaat di dapur sebelum dia mulai sarapan. Dia memeriksa pembukuan ke empat tokonya sambil mendengarkan musik


Jam sembilan pagi Aurel menelepon rumah menanyakan Aira dan Darrel. Lalu dia meminta bik Siti membungkuskan empat stel baju kerja, ditambah pakaian dalam juga tiga baju tidur. Dia minta di kirim ke Wina dikantornya.


Dia tidak ingin orang rumah mengetahui posisinya. Ponsel BB nya masih off. Dia belum ingin berbicara dengan siapa pun. Dia juga meminta mbak Nah membawa Aira bertemu dengannya di cafe setelah Aira pulang sekolah. Sengaja dia tidak meminta mbak Nah yang membawakan bajunya karena takut mbak Nah repot karena harus full menjaga Aira.


Jam sebelas Aurel menghubungi Wina di nomor kantor, sehingga tidak ketahuan posisinya. Aurel minta mereka bertemu di cafe dekat kantor. Wina diminta membawakan baju yang di kirim dari rumah juga berkas yang harus dia tanda tangani.


Saat akan keluar ruangan untuk bertemu dengan Aurel telepon kantor kembali berdering. Wina segera mengangkatnya.


“Selamat siang, dengan Wina disini” sapa Wina.


“Siang Win, apa Aurel sudah masuk kerja?” tanya Rajev.


“Belum Pak, sepertinya bu Aurel tidak akan masuk kantor. Karena saat ini saya di minta mengantar berkas yang harus di tanda tangani oleh ibu di cafe,” jawab Wina jujur. Sekretaris Aurel ini mengerti bagaimana terlukanya Aurel melihat perilaku Aashita.


‘Andai bu Aurel bersabar dan melihaat bagaamana marahnya pak Rajev pada perempuan itu,’ batin Wina.


“Sampaikan salam saya untuk Aurel ya Win” pinta Rajev.


“Baik Pak” lalu Wina segera berangkat ke cafe yang diminta pimpinannya. Sampai disana dilihatnya Aurel sedang menyuapi Aira.


Sehabis Aira makan, Aurel meminta mbak Nah membawa putrinya pulang karena dia akan kerja. Aurel serius membahas semua persiapan yang kemarin belum selesai karena terganggu oleh kedatangan kekasih Rajev.


Wina tidak berani menyampaikan salam dari Rajev karena dia lihat raut wajah bossnya masih sangat keruh. Matanya bengkak.


\==========================================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta